Se connecterRenata mengangkat tangannya. Dia ingin memukul, tapi Abimana segera menangkapnya dan meremas pergelangan tangannya hingga lukanya kembali berdarah.Renata meringis kesakitan. Abimana merasa sesuatu yang lengket di tangannya. Dia pun melepaskan tautannya. Mata yang bergelora langsung padam saat melihat pergelangan tangan Renata kembali basah. Abimana merasa menyesal, dia pun mengumpat ."Sial!!!"Pria itu bangun dan mengambil perban dan obat. Dia duduk di tepi ranjang dan kembali membalut lukanya. Abimana juga sempat meniupnya beberapa kali agar lukanya tidak terlalu sakit. Pria Itu menunjukan kasih sayangnya. Namun Renata tidak lagi tersentuh karena sudah mati rasa. Alasan Renata mati rasa karena kebiasan Abimana, menyakiti lalu mengobati.Setelah selesai, Abimana menaruh kotak obat di atas nakas."Aku mandi dulu."Abimana mengelus kepalanya. Sudut mata Renata memerah bukan karena terharu tapi karena merasa dirinya begitu bodoh.Cintanya memang terlalu besar, tidak setara dengan c
Renata tersenyum getir dan berkata lirih, "Kalau aku mati, kamu mau lepasin aku kan?"Abimana tercekat. Sudut matanya memerah.Pertanyaan itu seperti mata pisau yang menyayat hatinya. Pedih sekali!Dengan tatapan tajam, suara dingin Abimana mengalun. "Jangan mimpi!!!"Renata terhenyak. Dia seperti jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar. Matanya pun dipenuhi kekecewaan.Di sisi lain. Reino keluar dari ruang kerja dan ingin pergi ke dapur untuk membuat kopi, tapi dia malah menginjak sebuah benda. Saat menunduk matanya langsung melebar dan rasa kantuknya menghilang saat melihat sebuah pisau lipat berlumuran darah. Dia pun mengikuti tetesan darah sambil mengeluarkan senjata api dari saku mantelnya untuk berjaga-jaga.Saat di tangga dia mendengar auman Abimana, dia pun segera berlari.Kamar tuannya terbuka dan saat masuk matanya langsung melebar, "Tuan!! Apa yang terjadi?"Pemandangan yang Reino
Renata bergeming. Dia tidak tersentuh atas perlakuan lembut mantan suaminya itu. Dia justru semakin tertekan. Renata tidak kaget jika Abimana mengalihkan topik. Tapi tujuannya nekat turun lewat balkon karena memang ingin menghindarinya."Abi ... kamu bisa nggak lepasin aku? Kita kan sudah cerai. Aku mohon, Abi. Lepasin aku ... ya. "Suara Renata terdengar bergetar dan air matanya mengalir. Ini pertama kalinya dia memohon dan memperlihatkan kelemahannya. Wanita itu bahkan bersujud di tanah.Wanita itu benar-benar putus asa.Hati Abimana terasa tertindih gunung. Dia terduduk di tanah dengan lesu.Bagaimana tidak? Tekad Renata untuk meninggalkannya sangat kuat. Wanita sombong dan penuh percaya diri sepertinya bahkan mau bersujud. Semua demi berpisah darinya.Di sisi lain ada Reino dan para pengawal. Mereka seperti sedang menonton drama rumah tangga yang mengharu biru dan penuh ketegangan. Mereka ingin sekali meli
Renata tidak menyahut dan tidak bergerak. Abimana tidak berpikir aneh-aneh. Dia naik ke atas ranjang dan mengangkat tangannya tapi di turunkan kembali. Abimana tidak jadi memukul pantat wanita itu. Dia takut wanita itu marah lagi. Dia pun akhirnya berbaring di sisinya dengan tenang."Besok pagi aku tidak akan melepaskanmu."Nada suara Abimana terdengar lembut. Saat akan memejamkan mata, Abimana merasa kedinginan, padahal penghangat ruangan sudah dinyalakan. Ternyata udara dingin itu masuk dari pintu balkon yang sedikit terbuka. Abimana mengernyit. Dia merasa ada yang aneh. Hingga dia tersadar ada yang hilang yaitu kain gorden. Wajah Abimana menggelap, pria itu menyibak selimut. Dan hanya ada bantal yang disusun."Dasar rubah!"Auman Abimana menggelegar, membuat Renata yang sedang bergelantungan menegang. Karena kaget, Renata hampir saja melepaskan pegangannya. Abimana langsung loncat dari ranjang dan berlari
Bulu mata Abimana terangkat, mata pria itu berkabut dan penuh nafsu. Pria itu berkata, "Kemari!" Suara Abimana terdengar serak dan berat, seperti sedang menahan sesuatu. Renata tercekat dan berjalan mundur. Di bawah tatapan panas Abimana, Renata bergidig ngeri. Dia sudah bersumpah tidak mau lagi berhubungan intim dengan pria tidak setia itu. Dia juga tidak akan plinplan lagi. Renata langsung lari ke kamar mandi. Namun saat pintu akan tertutup, sebuah kaki mengganjalnya. Renata yang panik langsung mendorong pintu dengan kuat, tapi Abimana lebih kuat lagi. Pria itu akhirnya masuk dan mendorongnya ke dalam. Tubuh Renata terhuyung. Abimana berjalan mendekat sambil menyeringai, "Kamu ingin melakukannya di kamar mandi ya?" Renata tercengang. Wanita itu mendengus dingin. Renata benar-benar tidak menyangka dengan sikap Abimana yang semakin tidak tahu malu. Dulu saat remaja, Renata berpikir Abimana seperti sosok Garuda. Burung mitologi yang gagah dan agung. Tapi ternyata, dia lebih layak
Abimana tersenyum sinis, "Kalian berdua dalam pengawasanku sekarang. Jika kalian terlibat dengan konspirasi ini?" Abimana menggantung ucapannya lalu menyeringai. Dengan jarinya, Abimana melakukan gerakan seperti memotong lehernya. "Kalian akan segera berakhir!"Dokter dan perawat itu langsung berlutut."Ampuni kami!""Tolong Tuan, ampuni kami!" "Tergantung sikap kalian!"Abimana malas meladeni dua orang itu jadi dia pergi setelah membuat orang lain merasa ketakutan.Setelah Abimana pergi, perawat itu langsung terduduk lesu dan menangis.Dokter yang sudah tua itu memegang dadanya. Dia hampir terkena serangan jantung.***Di vila.Renata tidur meringkuk seperti bayi. Dia membungkus tubuhnya seperti kepompong.Tanpa Renata tahu, Abimana sedang berdiri menatapnya dengan perasaan berkecambuk. Setelah beberapa saat pria itu pergi ke kamar mandi dan melepaskan semua pakaiannya dan membuangnya ke tong sampah.Abimana menyalakan kran dan berdiri di bawah guyuran air dingin. Dia pikir air din
Reino tersedak ludahnya sendiri, sedangkan sang supir merasa merinding.Sejak kapan Abimana berubah menjadi anak senja? Dia kan pria yang kaku dan kejam.Apakah karena kerinduan terhadap istrinya?Mereka berdua saling memandang, Reino pun bertanya, "Tuan baik-baik saja?"Abimana hanya diam, dia ber
Dua pria itu melepaskan cengkramannya. Renata langsung menyingkir sambil mengelus lengannya yang sakit.Salah satu pengawal memberikan alat kejut listrik kepada Abimana. Pria dengan wajah datar itu mengambilnya dan langsung melemparnya ke arah Renata tanpa aba-aba.Brak!Renata reflek berjongkok sa
Reino menoleh, wajahnya tampak tegang, "Kita sedang menuju vila. Sekarang Tuan Abimana tinggal di luar kota. Kita butuh sekitar dua jam."Renata menegang, dia menggertakan giginya, "Apa? Aku ga mau! Aku mau kembali tinggal di apartemen. Jaraknya terlalu jauh!""Dasar cerewet!" ujar Abimana dengan a
Abimana mungkin sudah gila, dia tersenyum dan mencengkram dagunya dan mengoyangkannya, "Saat itu kamu sangat polos dan sekarang kamu sangat nakal dan binal!" cibirnya.Ucapan pria itu sangat menusuk.Renata menatap wajah Abimana tanpa berkedip, ekspresinya tampak rumit dengan mata mulai memanas, "S







