แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: L.S
Setelah menyelesaikan semua urusannya, Sinta benar-benar sudah tidak sanggup lagi dan akhirnya tertidur di sofa.

Tak lama kemudian, suara gemerisik yang lirih membangunkannya dari tidur.

Dia membuka mata dan melihat Fajar masuk.

Fajar berkata dengan nada yang tak biasanya lembut, "Maaf. Semalam ada urusan mendadak, jadi aku tidak sempat pulang."

Seusai berkata, dia menyerahkan bunga segar.

"Ini bunga yang kamu minta."

Sinta tidak menerimanya.

Karena bunga itu adalah bunga krisan putih yang dipadukan dengan bunga gypsophila putih.

Sinta perlahan-lahan duduk dan berbicara dengan suara serak,

"Fajar, apa kamu tidak tahu kalau bunga krisan putih itu diberikan kepada orang yang sudah meninggal?"

"Aku belum mati. Jadi, apa maksudmu?"

Mendengar itu, Fajar langsung tercengang.

Dia menundukkan kepala dan melihat bunga di tangannya, lalu mengerutkan alisnya. Tanpa banyak berpikir, dia langsung membuang bunga itu ke tempat sampah.

"Maaf, aku tidak tahu. Bunga ini bukan aku yang memilih ...."

Sinta tersenyum polos.

"Ratna yang memilihnya, 'kan?"

Mata Fajar yang setenang danau itu sedikit berkilat, bahkan ekspresinya yang tenang pun perlahan menghilang.

"Kamu sudah tahu?"

Dia mencondongkan badannya ke depan, suaranya pun menjadi tergesa-gesa.

"Jangan salah paham, kami tidak punya hubungan apa-apa dan tidak pernah terjadi apa pun."

"Mantan suaminya punya kecenderungan melakukan kekerasan dalam rumah tangga, sekarang kondisinya sangat buruk."

"Dia mengalami depresi dan juga mengidap penyakit jantung. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja."

"Kamu tidak bisa meninggalkannya,” ujar Sinta dengan nada sedikit gemetar sambil menatap matanya. "Jadi, kamu memilih untuk meninggalkanku di peringatan hari pernikahan kita?"

Ekspresi Fajar menjadi dingin. Kemudian, dia berkata dengan tenang,

"Peringatan hari pernikahan bisa dirayakan setiap tahun. Tapi, nyawa manusia cuma ada satu."

Melihat mata Fajar yang dingin dan garis rahangnya yang tajam, Sinta tiba-tiba merasa sangat lelah.

Lima tahun sudah berlalu, dia tetap tidak sanggup menggoyahkan hatinya yang tegas dan juga tidak bisa mendapatkan kelembutannya.

"Tidak akan ada lagi."

Sinta menertawakan diri.

"Mulai sekarang, tidak akan ada lagi peringatan hari pernikahan kita."

Wajah Fajar sedikit memuram. "Apa maksudmu?"

Sebelum Sinta sempat menjawab, ponsel Fajar tiba-tiba berdering.

Begitu mengangkat telepon, terdengar suara seorang perawat.

"Doter Fajar, penyakit jantung Nona Ratna kambuh lagi, sekarang dirawat di ruang gawat darurat rumah sakit. Anda segera datang ke sini untuk melihat kondisinya!"

Wajah Fajar seketika menjadi pucat dan tubuhnya sedikit terhuyung.

Sinta melihat Fajar menutup telepon dengan tergesa-gesa dan sibuk mencari kunci mobilnya di mana-mana.

Dia belum pernah melihat Fajar yang begitu panik.

Setelah menikah selama lima tahun, Fajar selalu tenang dan tidak pernah menunjukkan kegelisahan.

Ternyata bukan karena dia tidak pernah panik.

Namun, kepanikannya tidak pernah disebabkan olehnya.

Hidung Sinta memerah dan matanya berkaca-kaca.

Dia tidak ingin menangis di depan Fajar, jadi pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

Namun, kedua kakinya terasa begitu lemas hingga tidak bisa berdiri.

Kepalanya terasa berat, pelipisnya berdenyut-denyut, sementara tubuhnya terasa dingin dan panas.

Sinta memegang dahinya sendiri, ternyata sangat panas.

Kemungkinan sudah masuk angin.

"Fajar." Sinta memanggilnya.

"Kamu mau pergi ke rumah sakit, ya? Bawa aku sekalian, sepertinya aku demam."

Mendengar kata-kata itu, Fajar menoleh ke belakang.

Dia melirik Sinta.

Tidak ada sedikit pun kehangatan dalam tatapan itu.

Hanya ada ketidaksabaran yang tidak disembunyikan, seolah-olah sedang menatap seorang anak kecil yang tidak tahu diri.

"Sinta, kalau kamu ingin mengawasiku, kamu tidak perlu mengarang alasan yang begitu buruk."

"Bisakah kamu punya kesadaran sebagai pasangan seorang dokter?"

"Aku pergi ke sana untuk bekerja, bukan untuk melakukan hal-hal kacau seperti yang ada di pikiranmu."

Sinta membuka mulutnya dan ingin mengatakan sesuatu. Akan tetapi, Fajar sudah membuka pintu dan berjalan keluar.

Terdengar suara serak yang dingin dari kejauhan.

"Asalkan kamu tetap tahu diri dan tidak melanggar batas, kamu akan selalu menjadi istriku. Jangan berpikir yang aneh-aneh dan terus mencari masalah."

Terdengar suara hantaman pintu yang keras.

Sinta terbaring sendirian di sofa.

Sinar matahari di siang hari menyinari tubuhnya, sehingga terasa hangat.

Namun, tubuhnya justru terus menggigil.

Kesadarannya mulai mengabur.

Dia mengambil ponsel dan memanggil ambulans.

Setelah menutup telepon, air mata yang sudah lama ditahan akhirnya mengalir keluar dan menetes ke layar ponselnya.

Sebelum kehilangan kesadaran, dia membuka ruang percakapan dengan Fajar dan mengirimkan tiga kata:

[Kita cerai saja.]

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pada Akhirnya, Kau Menyia-nyiakan Kami   Bab 20

    Wajah Sinta semakin merah.Saat ini, dokter berjalan keluar dari ruangan dan melepaskan maskernya."Lukanya sudah ditangani, tidak ada masalah besar.""Pasiennya sudah sadar dan meminta untuk bertemu dengan Sinta.""Siapa di antara kalian yang bernama Sinta?"Sinta menghela napas lega dan segera masuk ke bangsal.Melihat Gilbert yang menatapnya tanpa mengedipkan mata, dia langsung memasang wajah dingin sambil bertanya, "Kamu sengaja, 'kan?"Gilbert tersenyum polos. "Sengaja apa?""Sesuai kemampuanmu, kamu pasti bisa menahan Ratna dengan satu tangan. Kenapa kamu malah menggunakan tubuhmu sendiri untuk melindungiku?"Mata Sinta langsung memerah."Kamu ingin membuatku khawatir. Kamu sengaja, 'kan?"Gilbert tergagap. Dalam waktu lama, dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.Sinta menepuk dahinya. "Aku tidak sesulit itu untuk dikejar. Lain kali, jangan mempertaruhkan nyawamu seperti ini."Gilbert menggenggam tangannya. "Jadi maksudmu … aku sudah berhasil mengejarmu?"Sinta tidak menja

  • Pada Akhirnya, Kau Menyia-nyiakan Kami   Bab 19

    Mata Sinta langsung memerah. Dia langsung memeluk Gilbert dengan panik."Jangan bicara sembarangan! Kamu tidak akan mati! Kamu pasti tidak akan mati!"Tim medis segera berlari kemari."Anggota keluarga pasien, mohon minggir dulu."Sinta terpaksa melepaskan pelukannya dan mundur ke belakang.Sinta melihat mereka segera menangani lukanya dan mengangkatnya ke atas tandu.Sinta kembali teringat adegan malam itu, ketika Gilbert diangkat keluar dari reruntuhan dalam kondisi kritis, nyawanya berada di ujung tanduk.Hatinya kembali menegang. Dia pun mengikuti mereka, sampai ke rumah sakit.Gilbert sudah tidak sadarkan diri dan langsung dibawa ke ruang gawat darurat.Sinta menunggu di luar.Tak lama kemudian, terdengar suara sepatu hak tinggi dari ujung lorong.Sinta pun mengangkat kepalanya.Terlihat seorang wanita berjalan menghampirinya. Wanita itu berambut pendek, sementara bentuk alis sedikit menyerupai Gilbert.Begitu melihat Sinta, pupil mata wanita itu langsung menyusut."Ternyata kamu.

  • Pada Akhirnya, Kau Menyia-nyiakan Kami   Bab 18

    Sinta tidak menjawab dan terus naik ke pesawat.Dia tahu dengan sangat jelas bahwa dirinya tidak akan pernah memaafkan Fajar.Pria itu telah membuatnya terluka, menyesal dan terus kehilangan sesuatu yang berharga.Kalau sampai memaafkannya, itu berarti mengkhianati dirinya sendiri.Mungkin suatu hari nanti, dia akan melupakan semuanya dan juga melepaskannyal. Akan tetapi, dia tidak akan pernah memaafkan Fajar.Tidak membalas dendam kepadanya sudah merupakan bentuk belas kasih terbesar yang bisa dia berikan.Pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan.Di balik jendela pesawat, landasan Negara X, ruang tunggu yang kelabu dan bayangan pohon-pohon palem melesat cepat ke belakang.Sinta tetap tidak menoleh ke belakang.Dalam penerbangan selama lebih dari sepuluh jam, Sinta pun tertidur sejenak.Namun, begitu turun dari pesawat, dia langsung tertegun.Di area penjemputan ternyata ada sekelompok orang yang memegang papan bertuliskan 'Sinta'.Papan-papan itu dibuat dengan sangat teliti. Tepi

  • Pada Akhirnya, Kau Menyia-nyiakan Kami   Bab 17

    Paru-paru kiri Gilbert mengalami cedera dan memerlukan perawatan rehabilitasi dalam jangka panjang. Karena itu, pihak militer pun menyuruh pulang untuk memulihkan diri.Surat penugasan baru untuk Sinta juga datang tepat di hari yang sama ketika pemberitahuan pemulangan Gilbert disampaikan.Serangkaian laporan Sinta dari Negara X telah dikutip ulang oleh berbagai media besar di dalam negeri lebih dari dua puluh juta kali.Terlebih lagi, liputan langsung yang dia kawal selama tiga hari tiga malam itu dinilai oleh kalangan profesional sebagai 'liputan perang paling menghidupkan suasana tahun ini'.Setelah melakukan rapat, stasiun tempat Sinta bekerja memutuskan untuk memanggilnya pulang dan mengangkatnya sebagai wakil kepala Departemen Komentar Berita.Dia menjadi wakil kepala departemen termuda dengan karier yang nyaris tak terbatas.Pada akhirnya, Sinta dan Gilbert pulang ke tanah air dengan penerbangan yang sama.Sesaat sebelum naik pesawat, Sinta melihat keberadaan Fajar.Pria itu sen

  • Pada Akhirnya, Kau Menyia-nyiakan Kami   Bab 16

    Operasi berlangsung selama lebih dari sepuluh jam.Pada pukul empat dini hari, tirai tenda dibuka dari dalam. Fajar pun berjalan keluar.Langkahnya tampak agak sempoyongan. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak sangat jelas.Begitu melihat Sinta, dia memaksa diri untuk mengeluarkan sebuah senyuman."Semua serpihan peluru sudah dikeluarkan. Dia kehilangan banyak darah, tapi banyak orang yang datang mendonorkan darah, jadi transfusinya bisa dilakukan tepat waktu. Untuk saat ini, tanda-tanda vitalnya sudah stabil.""Terima kasih," ujar Sinta dengan tulus.Terlepas dari semua persoalan di antara mereka, dia selalu mengagumi kemampuan profesional Fajar sebagai seorang dokter."Tidak perlu berterima kasih. Aku adalah seorang dokter. Ini memang sudah menjadi tugasku."Fajar tahu bahwa dia seharusnya berbalik dan berjalan pergi.Namun, begitu melihat wajah Sinta yang dipenuhi kecemasan, dia tanpa sadar tidak bisa melangkahkan kakinya.Dia berdeham sebelum bertanya, "Apa hubunganmu dengan Kap

  • Pada Akhirnya, Kau Menyia-nyiakan Kami   Bab 15

    Kapten yang dinyatakan hilang adalah Gilbert.Sinta berdiri di sebelah mobil siaran, kemudian menggenggam mikrofon sambil melaporkan perkembangan terbaru di depan kamera.Selama ini, dia sudah berkali-kali terjun meliput berbagai bencana.Banjir, gempa bumi, konflik, hingga serangan udara.Setiap kali, dia selalu menggenggam mikrofon dengan stabil dan menjaga suaranya tetap tenang.Berita tidak membutuhkan air mata seorang wartawan.Namun, kali ini adalah pertama kalinya ada sahabatnya sendiri yang berada di tengah bencana.Dia menyampaikan jumlah korban tewas dan luka-luka, perkembangan pencarian dan penyelamatan, serta tanggapan dari masyarakat internasional.Suaranya tetap stabil, setiap kata terucap dengan jelas, tidak ada bedanya dengan setiap laporan yang pernah dia laporkan.Namun, sekarang hanya dirinya sendiri yang tahu bahwa jantungnya sedang berdebar sangat kencang.Setiap kali dia mengucapkan kata 'orang yang hilang', hatinya terasa sangat sakit.Begitu kamera berhenti mere

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status