ANMELDENJantung Danu seolah berhenti berdetak ketika mendengar ucapan Edo barusan. Jelas ia tak mau mempertaruhkan seorang wanita yang tak ada hubungannya dalam persaingan mereka. Bahkan sebenarnya Danu enggan bersaing dengan siapapun. Ia juga malas meladeni Edo yang pasti tidak akan ada habisnya itu. Danu memilih pergi. Langkahnya mulai jauh dari pria itu, tapi berhenti ketika disindir lagi. “Kalau nggak berani, pasti udah tahu kalah, sih!” Edo mulai memprovokasi. Danu tersenyum kecut, lalu ia balik badannya untuk kembali tatap pria itu. “Terserah. Jika kau kalah—”“Aku akan berlutut cium kakimu!” Edo mengatakan itu sendiri dengan kesadaran penuh dan didengar oleh semua orang yang ada di tempat itu.Danu hanya diam, ia gelengkan kepala dan kemudian pergi darinya. Setelah agak jauh dari tempat itu, Stela datang menghampiri Edo dan memberi nasehat padanya. Ini hanya sebagai peringatan dari orang yang sudah berpengalaman.“Apa mau kamu sebenarnya, Do?” tanya Stela dengan suara yang bertaha
Daus masuk dengan wajah malu malu. Silvy sudah rebah di brankar untuk USG, dan ia justru duduk di kursi kecil yang ada di pojok ruangan itu. "Eh, Mas! Ngapain di sana? Kamu suaminya dia?" tanya perawat yang sejak tadi menangani. Daus bingung, dan Silvy lebih bingung plus malu. "I-iya, Sus. Saya suaminya," angguk Daus ragu ragu. "Oh, gitu? Daritadi ke mana aja? Baru nongol temenin istrinya. Sini! Nggak usah takut lihat istri diperiksa. Bikin kemaren sama sama," sindir perawat itu padanya. Silvy semakin tersipu malu sampai wajahnya merah merona bagai delima. Apalagi saat Daus mendekat dan area perutnya sudah dibuka. "Ini, lihat bayinya udah berbentuk. Ini kakinya kecil, ini tangannya." Dokter memperlihatksn gambaran bayi mereka yang ada di dalam sana. Daus menatapnya dengan seksama, dan ia tampak sangat terharu melihat hasil karyanya di dalam perut Silvy itu. "Jenis kelaminnya, sudah tahu, Dok?" tanya Daus dengan suara yang terdengar gugup. "Wait... Kita cek dulu." Dokter menga
Edo melotot, dan hatinya sakit sekali diledek seperti itu oleh Danu. Apalagi saat mereka tertawakannya."Awas kamu, Pak Tua!" geram pria itu.Bimbingan berlanjut, dan mereka tenang dengan semua yang diajarkan. Sampai tiba waktunya makan siang, para staf hotel mengantar makanan berupa nasi kotak ke ruangan tersebut."Terimakasih," ucap Fatma pada petugas yang memberi nasi kotak untuknya."Yah, ayamnya paha. Fatma nggak suka, maunya dada." Gadis itu cemberut sedikit.Tapi kemudian Danu membuka miliknya, ia berikan bagian dada yang ia punya dan tukar dengan paha ayam Fatma.Tersipu malu gadis itu dibuatnya. Danu yang terlihat cuek itu, diam diam perhatian hingga membuatnya berdebar bahagia."Kenapa gitu?" tanya Danu."Eng-enggak, nggak papa. Makasih ayamnya," ucap Fatma dengan suara yang begitu lembut.Kali ini, Stela dan yang lain tidak bis mendekat. Hanya bisa makan di tempat masing masing dan menatap Danu dari kejauhan. Mereka terkadang iri dengan keakraban Fatma pada pria itu.Ting!
Pagi itu di kost. Silvy terlihat duduk di ruang tamu rumah Danu, dan terlihat merenung sendirian. Harusnya ia bersiap untuk segera pergi ke Rumah sakit untuk kontrol kehamilan, tapi entah kenapa dia jadi bingung sendiri."Vy! Ya ampun, kamu malah diem gitu?" omel Amy yang datang menghampiri."My, Vy bingung mau bawa apa aja. Ini... Pertama kali, karena selama ini yang periksa, Ane." Ia menjawab dengan tatapan yang memang bingung.Amy menarik napas, menepuk kening dengan pelan. "Ya ampun, Vy. Bawa aja buku hamil, terus suray kontrol.""Biayanya? Nanti untuk konsul sama tebus vitamin, mahal." "Vy, Bapak bayi itu kan ada!" Amy terpancing kesal. Tapi ia kemudian tak enak hati saat Silvy menundukkan kepala dan terlihat sedih."Oh... Maaf, Vy. Maksud aku, bukan gitu." Amy duduk di sebelahnya dan genggam tangan kurus itu."Ya, nggak papa. Cuma... Vy masih canggung, masih malu kalau harus minta duit secara langsung." Suara Silvy terdengar lirih, bibirnya berat ketika berucap dan matanya s
Danu kembali ke kamar setelah pertemuan itu, dan ia masih tidak menyangka jika bertemu mereka berdua."Dunia ini sempit. Giliran nggak ketemu, sampai 20 tahun blas nggak ada ketemu. Giliran udah ketemu, tiap hari ketemu terus." Danu bergumam sembari ngudud di rooftop kamar itu.Fatma sengaja mencarikannya kamar yang memang bisa untuk perokok karena Danu sangat aktif. Jika tidak sehari saja, mungkin dia pening.Dalam diamnya itu, Hp Danu berdering. Lily memanggil seolah tahu kegalauannya saat itu."Halo, Nduk?" Danu menyapa tanpa menurunkan cerutunya."Pakde, lagi apa?" tanyanya dengan suara yang begitu manja."Pakde lagi duduk sore, sembari menikmati hari yang sudah nyaris gelap." Puitis sekali."Ciyee, Pakde! Macam orang galau saja!" ledek Lily padanya.Tapi Danu tak berani cerita kalau ia bertemu dengan mama dan papa tirinya. Takut jika Lily kepikitan atau bahkan penasaran nanti. Repot Danu dibuatnya."Kamu lagi apa, Nduk? Gimana kost?" tanya Danu."Baik, Pakde. Semua terkontrol sam
Hari sudah sore, dan sesuai jadwal mereka akan duduk menyambut pengisi materi mereka yang akan datang. Semua orang sudah berkumpul di lobi, dengan Stela yang membawa kalung bunga sebagai tanda penghormatan. “Memangnya, nanti ada berapa orang yang datang?” tanya Fatma yang membantunya, karena para wanita lain sedang caper dengan Danu. “Tiga orang. Ini cukup, kok.” Stela menjawabnya dengan santai. “Bu Stela, kok lehernya ada merah merah?” tanya Tasya mendadak datang pada mereka. Stela langsung panik dan mengusap tanda itu, yang pasti dibuat oleh Danu tadi. Ia terlihat gugup dan mulai berusaha memberi alasan. “Oh. Ini, anu… tadi digigit nyamuk,” jawabnya. “Nyamuk? Emang, di hotel mewah gini ada nyamuk?” tanya Fatma, tapi ia kemudian melirik ke arah Danu dengan tatapan sedikit curiga. “Nggak mungkin, kan?” fikirnya, galau. “Iya, nyamuk. Soalnya, tadi siang saya ketiduran di kursi balkon. Saya itu paling nggak bisa gatel. Pasti saya garukin sampai korengan terkadang.” Stela menjelas
“Selamat pagi, Pakde. Rajin bener, pagi-pagi udah beberes.” Salah satu anak kost Melati menyapa Danu di pagi hari sambil berjalan keluar gerbang.Danu tengah bersenandung sembari menyapu halaman kostnya tempatnya mencari nafkah. Ia sangat rajin saat bekerja, akrab juga dengan para penghuni kost yan
“Apa kamu bilang, Mas? Kamu berani tolak aku, Mas?” tukas Tina pada suaminya itu.Wanita dengan tubuh cukup berisi tapi padat itu tampak meradang mendengar penolakan yang diberikan oleh sang suami. Wajahnya terlihat sangat marah dan tangannya mengepal sejak tadi.Saat tahu Tina akan masuk, Silvy m
Pagi harinya, Danu bangun dari tidur dengan tubuh yang sudah mendingan Untungnya para gadis itu merawatnya dengan sangat baik hingga sakit yang ia rasakan tidak semakin menjadi.Sejak meminum obat yang diberikan oleh Ane tadi malam, ia tenang dan tidur sangat nyenyak. Hingga saat bangun, ia juga l
Danu mengangkat kedua tangannya saat itu, berusaha untuk tak balik memeluk Amy yang tengah ketakutan. Ia menarik napas beberapa kali sembari terus melirik kanan kiri.Entah bagaimana Danu harus menyikapi hal ini. Harusnya ia sedih, tapi justru mendapat rejeki nomplok. Bergemuruh di hati Danu. Takut







