LOGINMutia yang menjadi TKI di luar negeri memberi kejutan pada suami yang telah menikah lagi dan menelantarkan anak mereka. Lalu, bagaimana pembalasan Mutia pada keluarga suaminya?
View More< Serena >
Paintings.
I always love them. Whenever there was an art show near Manhattan, I make it a point to go, check the artworks and possibly buy one. Or two. Or three of them.
What I look for in a painting are the strokes the painter uses, the use of colors and how they blend in with the picture in general, and of course, the drawing.
I’m a sucker for fantasy-inspired paintings. Fantastical landscapes, still pictures, mythical creatures, men and women wearing weird clothing, oh yes. I collect them all. They always reach out to a part of my soul that I had been guarding since I lost my parents. They always call out to a part of me that I’m not sure what.
Maybe, my parents as painters could be a reason. They influenced my tastes after all. But deep inside me, I knew there was always something special about these type of paintings that I couldn’t quite figure out.
One rainy day, I ran across an antique shop in downtown Manhattan about to be closed by the bank for bankruptcy. The different antique displays were spread all over the street in the hopes that some passers-by would still buy them.
I caught sight of a beautiful painting of a landscape. Breathtaking it was and purely, for lack of a better word, out-of-this-world. The painting showed a mountain range with its slopes covered in autumn trees. In the center of this mountain range, just nestled on top the hill, was a silver castle. The details were extraordinary. Magical even. I couldn’t resist its call, so in the end, I bought it. Plus, I didn’t want it to be wet with the rain. I wanted to give it a home.
The antique shop owner, an old lady probably in her late sixties, was gracious enough to give me a discount considering the painting had smudges on the edges due to its aged state. I was kind enough to refuse it. If she was in bankruptcy, at least my full payment of the painting would help her in some way.
"May the magic be with you always,” she said with a smile as we parted.
I just shrugged, not thinking much about her words. I didn’t know at that time they had meaning.
The first night the painting was with me, I dreamed about magical creatures: behemoths in the sky, beautiful mermaids swimming in the ocean, and fairies hiding in the woods. The dream was lovely. I didn’t want it to end.
The second night, I dreamed about the castle on the hill. It was beckoning me, wanting me to go there. I woke up in the middle of the night panting. Not knowing exactly what got me so worked up.
The third night, my dream brought me inside the castle. It was enormous with arched roofs and glass walls. In a blink of an eye, I was sent to a bed chamber. The sheets were covered with an embroidery of an insignia: a profile of what looked like an animal—a wolf—and around it were curves, lines and symbols I have never come across. It was beautifully colorful.
But what really captured my attention was the one lying on it. It was a man and from the looks of it, the king of the castle as he had a crown on top his head screaming almighty powerful.
Of course, that wasn’t the only thing that made my eyes pop.
It was a certain body part of his that stood like a rod as if saying hi to me. It was located down south. Really, really down south. Lower than his waist and just between his thighs.
His right hand, oh yes, it was on a fist, wrapping securely that body part of his like it was its second skin.
The thing that woke me up from that weird dream was when he decided to start pumping his hand and groaned like it was the best fucking masturbation he had.
I had to take in deep breaths just to calm myself down. One, two, three. One, two, three. But I knew I was fooling myself. I felt wet, hot and bothered by it and I stayed like that for the whole day until the fourth night came.
The dream didn’t start with anything magical or downright erotic really. It was just me inside my bed, lying like a log, unmoving, yet inside my head, I heard an ethereal voice—a woman’s voice—calling out to me to stand up and touch the painting.
And like a puppet, I did. The next thing I knew, I was waking up inside that castle’s majestic bed chamber with the said King on top me.
"Bagaimana kabar kamu Bude?" Tanya Mutia ramah. Meskipun dalam hatinya sedang menyimpan bara kemarahan akibat rencana Bu Win yang ingin mencelakai sang putri. "Baik. Kamu kok bisa sampai kesini Ia? Terus kenapa saya harus bertemu dengan kamu?" Ika yang duduk di samping Bu Win hanya bisa menghela nafasnya. "Tolong jelaskan maksud kedatangan anda ke rumah ini Bu Mutia. Apapun keputusannnya akan saya katakan setelah anda menjelaskan semuanya." Mutia menganggukan kepala lalu mengeluarkan ponselnya. Jarinya menggulir layar ponsel lalu memperlihatkan isi pesan Tiara yang di kirim Tiara padanya. Termasuk foto milik Pak Yanto yang sedang berada di kantor polisi. "Sa, saya sama sekali tidak terlibat dengan rencana ini Nyonya Besar. Tolong percaya pada saya." Bukannya memberikan klarifikasi pada Mutia, Bu Win justru menjatuhkan tubuhnya ke lutut sang majikan. Derai air mata Bu Win berjatuhan di wajah tuanya. Ia tidak menyangka jika rencananya bisa ketahuan secepat ini. Dalam hatinya Bu Win
Karena teriakan si penguntit, Yani keluar dari rumah dengan tergopoh-gopoh. Untung saja Tiara sudah mencopot mukena yang baru saja dia pakai. Jadi, Yani tidak akan ikut pingsan saat melihat Tiara masih memakai mukenanya.“Ada apa Ra? Siapa yang teriak tadi?” Tiara menunjuk si penguntit yang sudah jatuh dari motor.Taira berjongkok di samping orang yang memakai seragam ojol itu. Untunglah tidak ada luka serius. Bahkan orang itu masih bisa berdiri dengan tegak. Yani segera mengambil sapu untuk berjaga-jaga. Sedangkan Tiara memegang tali yang tadi mengikat tubuhnya dengan erat.“Beraninya kamu?” Pria itu melepaskan helm yang di pakainya. Helm itu sudah di banting ke tanah hingga menimbulkan bunyi yang keras.“Sekarang Yan.” Teriak Tiara berusaha memukul pria paruh baya yang sudah menguntitnya. Sedangkan Yani memukul pria itu sambil berteriak meminta pertolongan dari warga sekitar.“Tolong ada orang jahat. Tolong kamiiii.” Teriak Yani berulang kali.Pria itu berusaha untuk meraih tubuh Ti
Jarum jam baru menunjukkan pukul dua dini hari saat Mutia masuk ke dalam mobil. Zaki ikut dengannya untuk emngantarkan Mutia menuju bandara. Sementara itu, ada saudara dekat yang menginap di rumah Zaki untuk menjaga Bu Surti. Mutia hanya membawa satu buah koper kecil. Ia menyusul ke Jakarta bukan hanya untuk mengunjungi sang putri. Tapi, juga menangkap Bu Win yang merupakan dalang dari rencana penculikan Tiara.Drttt… Suara dering ponsel dari dalam tasnya membuat Mutia mengambil hp yang ia simpan. Ada pesan masuk dari Saka. Jarinya menggeser layar ponsel untuk membuka aplikasi pesan.[Aku sudah bertanya pada Rudi. Rupanya Bu Win bekerja di rumah adik ipar majikan tempat dulu Rudi bekerja. Entah bagaimana caranya Rudi tahu. Saka juga mengirimkan foto-foto Bu Win yang tengah memasak di dapur mewah.[Datanglah ke alamat ini. Majikan Bu Win sudah tahu apa yang terjadi. Beliau hanya perlu memeriksanya. Mereka yang akan menangkap orang suruhan Bu Win.] Mutia menghela nafas lega karena suda
Pagi harinya, Tiara bangun seperti biasa. Hari ini dia ada jadwal kuliah jam sepuluh pagi. Tapi, karena kejadian kemarin, Tiara lebih memilih untuk menutup pintunya. Seakan-akan ia sudah berangkat kuliah. Pagi ini juga dia terpaksa tidak menerima pesanan jahit dari para tetangga di rumah kontrakannya. Tiara fokus menyelesaikan pesanan jahit dari dua hari sebelumnya.Setelah selesai menjahit, Tiara mengirim pesan pada Yani untuk datang ke rumahnya sebelum merkea berangkat bersama menuju kampus. Yani menyanggupi hal itu walaupun Tiara belum menjelaskan tentang kejadian tadi malam dan permintaan Mutia untuk menginap di rumah kos milik Yani.Saat ini, Tiara sedang berada di depan jendela. Memperhatikan jalan besar di depan rumah kontrakannya. Lalu lalang orang yang berjalan ataupun naik kendaraan seperti motor dan mobil. Ada banyak juga pengendara ojol yang lewat. Sayangnya Tiara tidak dapat melihat wajah mereka karena tertutup helm.“Aku sudah hafal motor dan wajahnya kemarin. Apa hari i
Bu Jarmi dan Ana membicarakan tentang pondok pesantren yang di tuju Tiara untuk menimba ilmu. Karena sistemnya adalah pondok pesantren modern, di sana juga akan di ajarkan minat para santri yang ingin belajar tentang teknologi. Selama Ibunya dan Ana memberikan penjelasan, Saka hanya bisa diam. Peras
“Apa buktinya? Kalau cuma rekaman CCTV itu bisa di rekayasa tau.” Sekar berdiri dengan angkuh di depan Mutia. Wanita itu mengeluarkan bukti visum dan ponsel. Rekaman di sekolah kemarin kembali berputar. Sampai Dini yang tahu kehadrian Mutia berlari ketakutan.“Rekaman ini pasti palsu kan. Aku nggak
“Tiara tunggu di luar dulu ya. Sekarang gantian Ibu yang melakukan pemeriksaan kesehatan.” Tiara menganggukan kepala lalu keluar dari ruangan dokter. “Bagaimana keadaan anak saya dok?” Dokter mengarahkan hasil visum ke hadapan Mutia. “Untuk luka jambakan rambut dan sikunya yang berdarah, tidak ter
Sekar menjerit tidak terima karena perkataan suaminya itu. Ia memukul tangan Saka hingga Saka jatuh tersungkur. Mutia hanya diam saja melihat pertengkaran suami dan adik madunya itu."Sudah belum bertengkarnya? Tanya Mutia bosan. Saka kembali memegang tangan Mutia dengan wajah mengiba.“Aku tidak
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews