Se connecterMemiliki keluarga sedarah yang terbilang mampu, tidak menjamin akan menolong saat berada dalam kesusahan. Namun, roda kehidupan terus berputar. Bagaimana jika mereka yang selalu menghina berada di posisi kami?
Voir plus프롤로그 — 골목
리아 보스
모스크바, 울리차 아르바트 — 아르바트 거리
학교 정문 앞에서 2시간 넘게 기다렸다. 손에 쥔 휴대폰은 엄마 매켄지에게 계속 전화하느라 따뜻해져 있었다.
스물세 번.
모든 전화가 음성사서함으로 넘어갔다.
황혼이 도시를 더럽혀진 금빛으로 물들였고, 모스크바의 거리는 희미하고 멍든 것처럼 변했다. 차가운 바람이 얇은 재킷을 뚫고 들어와 죽은 낙엽을 내 낡은 운동화 주위로 흩날렸다. 발이 욱신거렸다. 배고픔이 위장을 할퀴었다. 그리고 분노 — 날카롭고, 익숙하고, 지치게 하는 그 분노 — 만이 나를 일으켜 세우는 유일한 것이었다.
또다시.
기다림이 걷는 것보다 더 고통스러워지기 시작한 어느 순간, 나는 그냥 떠났다.
집은 멀었지만, 지름길을 알고 있었다. 평소에는 두 번 생각도 없이 피하던, 낡은 바 뒤편의 좁은 골목. 그날 저녁, 짜증이 대신 선택을 해주었다.
그건 내 인생 최악의 실수였다.
모퉁이를 돌자마자 모든 것이 바뀌었다.
일곱 명의 남자.
그중 다섯은 총을 들고 있었다.
골목은 싸구려 담배 연기, 썩은 오줌, 그리고 금속성의 무거운 냄새로 가득했다 — 내가 한 박자 늦게 알아차린 그 냄새. 온몸이 뒤쪽의 축축한 벽돌 벽에 얼어붙었다.
첫 번째 총성이 천둥처럼 골목을 가로질렀다.
두 남자가 거의 동시에 쓰러졌다. 피가 얼어붙은 돌 위로 뿜어져 나왔고, 희미한 가로등 불빛 아래서 검고 번들거렸다. 그들이 쓰러질 때 내는 소리가 속을 뒤집었다. 고함이 이어졌고, 웃음소리가 터졌다. 차갑고 무심한 웃음.
그리고 더 많은 총성.
도망쳐야 했다.
하지만 움직일 수 없었다.
혼란을 뚫고 한 목소리가 날카롭게 울렸다 — 낮고, 통제된, 절대적인 목소리.
“끝내라.”
나는 그를 바라보았다.
키가 크고, 어깨가 넓었다. 관자놀이에 희끗한 검은 머리카락, 깔끔하게 다듬은 수염에도 같은 강철 같은 회색이 섞여 있었다. 40대일 수도, 더 많을 수도 있었다. 그의 눈은 반쯤 어두운 빛 속에서 무색처럼 창백했고, 그 안에는 모스크바의 바람보다 더 차가운 무언가가 있었다.
그는 목소리를 높일 필요가 없었다.
그래도 모두가 들었다.
카포.
그의 옆에 세 명의 젊은 남자가 서 있었다. 모두 같은 잔인한 틀에서 깎아낸 듯했다 — 같은 단단한 이목구비, 같은 경계하는 고요함, 같은 표면 아래에 도사린 폭력. 형제일지도 몰랐다. 그들의 양복은 어둡고 완벽했으며, 그런 장소에는 너무 비쌌다. 그들은 결코 결과를 두려워한 적 없는 남자들의 자신감으로 움직였다.
그중 한 명이 나를 가장 먼저 알아차렸다.
회청색 눈. 온기가 전혀 없는 미소.
“오늘 밤은 운이 없었네, девочка.” 그가 말했다. “골목을 잘못 골랐어.”
나는 돌아서서 달리려 했다.
한 걸음도 채 떼기 전에 손이 나를 붙잡았다.
나는 숨을 헐떡이며 뒤로 끌려갔고, 철 같은 팔이 허리를 감싸 단단한 가슴에 나를 고정시켰다. 총구가 관자놀이에 눌렸다. 차가워서 타는 듯했다. 숨이 너무 세게 막혀서 아팠다.
“하지 마.” 거친 목소리가 귀 옆에서 중얼거렸다. “더 나빠질 뿐이야.”
눈물이 떨어지기도 전에 시야가 흐려졌다. 손이 떨렸다. 무릎이 풀릴 것 같았다.
그 모든 상황 속에서도, 나는 다시 그 카포를 바라보았다.
그는 이미 나를 보고 있었다.
아무렇지도 않게, 짜증스럽게, 심지어 놀라움조차 없이.
그의 시선은 무서운 확신을 담아 나에게 머물렀다. 마치 내가 그 골목에 나타난 것이 단순한 불편함을 넘어선 무언가가 된 것처럼. 마치 심장 한 번 뛸 시간에, 그는 이미 다음에 일어날 일을 결정한 것처럼.
“제발…” 내가 속삭였다. “제발 놓아주세요.”
그가 한 걸음 더 다가왔다.
가로등 불빛이 그의 얼굴 가장자리를 비추며, 그의 이목구비를 그림자와 뼈로 새겼다. 그에게는 어떤 친절도, 부드러움도 없었다. 그는 자비라는 것이 한 번도 그의 마음을 스친 적 없고, 살아남은 적도 없는 남자처럼 보였다.
“그건 안 되지, malen'kaya.” 그가 조용히 말했다. “너는 너무 많이 봤어.”
또 다른 젊은 남자가 다가왔다. 다른 형제들보다 머리카락이 밝은, 어둠 속에서 표정을 읽기 힘든 남자. 그는 나를 오랫동안 바라보았다. 무서워하는 소녀가 아니라, 문제를 저울질하는 듯 차분하고 무감정하게.
“증인이다.” 그가 말했다.
“입 닥쳐, Noah.” 나를 붙잡고 있던 남자가 쏘아붙였다.
순간, 카포가 손을 들었다.
침묵.
그것은 빠르고 완전하게 내려앉았다. 눈이 내리는 것처럼 무겁게.
그는 내 바로 앞에 멈춰 섰다. 그의 시선이 구겨진 교복, 떨리는 다리, 더 이상 숨길 수 없는 공포를 훑었다. 다시 내 눈을 마주했을 때, 그의 눈 속에 무언가가 날카롭게 빛났다.
욕망이 아니었다.
결정이었다.
“너는 우리와 함께 간다.”
나는 그때 발버둥쳤다 — 본능, 두려움, 절박함. 아무 소용없었다. 누군가 내 손목을 잡았고, 축축한 천이 입과 코를 덮었다. 달콤한 화학 냄새가 너무 빨리 나를 덮쳐 머리가 핑 돌았다.
“안 돼— 기다려— 제발—”
골목이 기울었다.
마지막으로 본 것은 카포가 나를 내려다보고 있는 모습이었다. 어둠이 밀려올 때 그는 조용히 지켜보고 있었다. 그의 표정은 변하지 않았다.
하지만 나는 그 안에서 무언가를 분명히 이해했다.
의심도, 연민도 아니었다.
약속이었다.
그리고 세상이 사라지면서, 마지막 생각이 이미 선고된 형처럼 내 안을 울렸다.
내 인생은 다시는 내 것이 되지 않을 것이다.
"Harapan pasti ada. Tapi kami semua tahu seberapa besar kesalahan Mas Gani terhadap Mbak Feli. Jadi, nggak mungkin kami memaksa," jawabku jujur, atas pertanyaan Mbak Feli."Sudah makan siang belum, Mbak?" tanya Aina mengalihkan."Belum." Mbak Feli lalu beralih pada Bang Faiz yang masih saja melamun. "Iz, Mbak ingin nagih janji!"Bang Faiz benar-benar tidak mengindahkan panggilan Mbak Feli. Padahal, dia berteriak cukup keras."Bang!" panggil Aina sedikit lebih keras dari Mbak Feli."Eh, iya, kenapa Ai?" Bang Faiz gelagapan seperti orang bingung."Ditagih janji sama Mbak Feli. Janji traktiran waktu itu!""Sekarang, ya? Saya kan waktu itu janjinya mau traktir sekalian sama Mas Gani ....""Jangan bahas yang lalu, deh!" sungutnya kesal. "Maaf ya, Ndra ....""Santai saja, Mbak. Aku nggak apa-apa."Mau bagaimana lagi? Ini semua memang kesalahan Mas Gani sendiri. Dia yang sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Mbak Feli."Iz, pacarmu orang mana?"Duh, Mbak Feli, kenapa harus membahas hal itu?"Sa
Setibanya di rumah Adel, aku melihat mobil Niko terparkir di depan pagar. Entah bagaimana caranya dia bisa membawa kendaraan dalam keadaan mabuk.Sementara Niko sendiri, dia duduk bersandar di depan pintu rumahnya saat masih bersama Adel dulu."Niko, ngapain malam-malam di sini?" tanyaku seraya berusaha membangunkannya.Niko bangkit, lalu duduk di bangku teras. Sementara Aina tetap mengekor di belakangku. Dia memang takut setiap kali melihat orang mabuk."Saya ingin bertemu Adel dan Azka, Mas!""Nggak seperti ini, Niko. Sidang perceraian kalian sedang berjalan. Adel bisa saja lapor RT karena merasa terganggu dengan kedatangan kamu dengan keadaan mabuk begini. Tapi dia nggak mau kamu malu, Niko! Pulang dan kembali lagi besok setelah kamu sadar dari pengaruh minuman!" Niko lalu mengusap-usap wajahnya beberapa kali. Saat dia sedang tidak fokus begitu, Aina mengambil kesempatan untuk membuka pintu dengan kunci cadangan yang pernah diberikan Adel."Saya ingin rujuk dengan Adel, Mas ... sa
Hari ini, aku dan Bang Faiz kembali membuka kios. Sedangkan Dani tidak bisa berjualan hari ini. Kabar bahagia yang kami terima, Zema kini tengah berbadan dua. Ngidam yang cukup parah membuat Dani memutuskan untuk libur berdagang untuk sementara waktu. Ketika sedang sibuk-sibuknya kami menyiapkan dagangan, seorang pelanggan yang pernah memesan banyak waktu itu, kembali datang. "Mas, saya pesan minuman sama paket nasi ayam untuk besok, bisa?" tanya wanita itu. "Berapa porsi, Mbak?" "Seratus lima puluh porsi. Bisa, kan?" "Insya Allah bisa, Mbak ... kalau boleh tahu, untuk acara apa, ya?" tanyaku penasaran. Jujur saja, aku merasa heran. Melihat penampilannya, kalau untuk acara resmi, bisa saja dia memesan makanan di tempat lain yang lebih mewah. Bukan makanan kaki lima pinggir jalan seperti ini. "Maaf, tapi saya nggak bisa bilang, Mas. Oya, toko rotinya nggak buka hari ini, ya?" Wanita itu melirik kios Dani. "Libur hari ini, Mbak. Memang mau pesan juga? Bisa saya sampaikan nanti. K
"Karena Azka sudah lahir, aku mau minta dukungan kalian untuk mengajukan gugatan perceraian di pengadilan," ungkap Adel hari itu, saat kami semua berkumpul di rumah Bapak yang kini dihuni Mas Gani bersama Siska. Sejak dia kehilangan salah satu kakinya, rumah ini memang menjadi tempat berkumpul kami. Selain karena kondisi Mas Gani, Siska juga sedang mengandung."Pikirkan lagi baik-baik, Del. Kasihan Azka. Bukankah bayi ini adalah bayi yang kalian nantikan selama ini?" kata Bu Asti sambil menimang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu."Iya, Del. Nggak mudah menjalani hidup sendiri. Lagipula, bukannya Niko sudah berjanji akan menceraikan Findri?" sambungku.Niko memang berjanji akan menceraikan Findri. Setelah Azka lahir, barulah timbul perasaan bersalah yang begitu dalam. Niko menyesal dan ingin kembali pada Adel."Nggak semudah itu untuk aku bisa menerima dia lagi, Mas. Coba lihat Mbak Feli, dia juga melakukan hal yang sama saat tahu Mas Gani selingkuh." Ucapan Adel sangat lanca
Dengan terpaksa, kuserahkan ponsel itu pada Aina agar dia tidak berpikir macam-macam.Perlahan raut wajahnya mulai berubah ketika dia mulai membaca satu persatu pesan-pesan yang ada di grup. Meski aku sudah keluar dari sana, aku lupa menghapus pesan yang telah dipulihkan."Kenapa Mas nggak pernah c
"Ini kebetulan saja, lho, Mas. Kalau aku masih dendam, untuk apa repot-repot datang kesini?" Kuberikan alasan yang tepat agar Mas Gani tidak curiga.Bersamaan dengan itu, Adel datang dan langsung bergabung bersama kami."Coba sama Adel, Mas!" saranku cepat."Apanya?" tanya dia sinis."Uangnya, lah!
"Apa Mas sudah telepon yang lain?" tanyaku kembali memastikkan."Sudah, tapi nggak ada yang jawab.""Saya nggak berhak, Mas, itu uang Aina. Nanti saya tanya dulu. Maaf, bukannya tabungan Mas banyak? Lagipula, Mbak Feli, kan, sudah mau lahiran, apa Mas nggak ada persiapan?" sindirku halus, seperti y
Andraina 1Diteruskan[Dik, Mas pinjam uang 200.000. Mas ada keperluan mendadak yang sangat penting.]Pesan yang kukirimkan lima menit yang lalu, kini sudah masuk ke grup keluarga.Batinku mencelos. Kenapa Dani tega berbuat demikian? Padahal, ini kali pertama aku beranikan diri meminjam uang dariny


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires