MasukDewi, seorang anak yang berbakti pada keluarga. Tapi sayangnya, sering kali dianggap benalu oleh ibunya. Hanya karena ia memilih pria miskin untuk menjadi suaminya. Ia selalu melakukan pekerjaan rumah layaknya seorang pembantu. Tak dianggap dalam keluarga, dikucilkan, dihina, adalah hal yang biasa untuk mereka. Rupanya ada rahasia besar yang disembunyikan rapat-rapat oleh sang ibunda hingga suatu ketika rahasia itu terkuak bersamaan dengan insiden buruk yang menimpa adiknya. Bisakah Dewi dan Aris melewati semua ujian rumah tangganya? Akankah pernikahannya langgeng saat diuji dengan kemiskinan?
Lihat lebih banyakNormal life—that's what I only wish for my life to be—where I can walk out of my house freely and hang out with my friends—that's what I've wished for all through my life. I wonder when will that day come.
I felt someone grabbing me by my hair and dragging me down the stairs, and as I opened my eyes, I saw a bunch of men in the living room almost breaking everything in the house, and mom was standing there at the corner trying to get away from the hands of those two men who were holding her by her arms. I looked in front of me, and I was shocked to see a man with a knife. He approached me and began to brush it through my arms, piercing them. Blood was dripping from my arms. I cried out in pain, as Mama was crying and begging them to leave me, but the man with the knife continued his torture, and just as he was about to stab the knife deep into my arm, my uncle John ,who is a cop, came in.
"How dare you hurt my family? Dad shouted angrily.
Mom was able to free herself and came running towards me, pushing the man who stabbed me and holding me tight.
"You all are under arrest; you can't escape now, Uncle John said.
"So you think you can put us all in lockup, but don't you think the police station will be a bit too much for the whole society, and even if you put us in, we will eventually come out one day, and when that day comes, we will do the worst until we kill and tear her into pieces," he threatened. "And Erica, remember, we will torture you until you are dead, he said with a smirk.
Upon hearing that I cry harder under mom's neck, she hugged me tightly, rubbing my back and comforting me."Enough of your bullshit, and don't you dare ever try to lay a hand on my daughter. I am warning you all," dad said angrily before he put his hand on my back.
After that, Uncle John and his team took them away. Even if they took them away,I still kept sobbing, thinking about what had happened, what the man said, and whether they would come back or not. Those thoughts kept me scared, and after sobbing for more than an hour, I fell asleep.
********
When I opened my eyes, mom and dad were sitting there looking after me, and just as they laid their eyes on me,mom approached me and cupped my face with her right hand. Sweety, are you alright? she asked worryingly, to which I just nodded.
"Are you hungry, sweety?" dad asked.
I shook my head, though I am hungry like hell. I was too scared to even eat or drink water.
"Sweety, at least have these fruits; you haven't eaten or drunk anything, please, she said pleadingly.
But again, I just shook my head.
"Sweety, please drink this for your mom and my sake, please, he said with a sad smile.
When it comes to my parents sake, I can't say anything, and so I took the glass, and before drinking, I asked, "will they come back again to kill me?"
"No, sweety, they won't. I will never ever let them touch you ever again,I promise, he said.
I nodded and began to drink the milk.Bab 526 bulan berlalu ...Alhamdulillah, aku sangat bersyukur, bayiku sudah lahir dengan normal dan sempurna. Seperti yang dibilang dokter, bayi mungilku perempuan. Sekarang usianya sudah dua bulan. Bayi perempuanku yang cantik diberi nama Ayudisa, sesuai dengan parasnya yang ayu.Teringat kembali saat persalinan waktu itu, Mas Aris menemaniku dengan kesabaran dan penuh perhatian. Rona bahagia terpancar di wajahnya. Setelah bayi mungilku lahir. Dia langsung mengadzaninya. "Dek, bagaimana kalau Mas kasih nama Ayudisa Candramaya."Aku tersenyum mendengarnya. Bukankah itu nama yang sangat cantik?"Bagus, artinya apa, Mas?""Kurang lebih artinya dewi nan cantik seperti bulan purnama. Mas cuma berharap, agar kelak dia tetap bersinar dimanapun dia berada, seperti cahaya bulan, walaupun gelap dia akan terus menyinari.""Wow, nama yang sangat indah dan juga cantik.""Seperti kamu. Terima kasih ya dek, sudah memberikan kado yang terindah lagi dalam hidup Mas," ujarnya sembari membelai lembut
Bab 51Season 2 Part 11"Hueek ... Hueek ..."Pagi-pagi sekali, aku merasa pusing dan mual. Entah kenapa kehamilan kali ini membuatku sedikit kepayahan. Padahal dulu, waktu hamil Aryan dan Reza, aku tak merasakan mabuk seperti ini."Hueek ... Hueek ..."Aku kembali memuntahkan isi perutku yang hanya berisi cairan. Seketika saat membalikkan tubuh, Mas Aris sudah berada di hadapanku dengan tatapan khawatir."Kamu gak apa-apa, dek? Kita ke dokter ya?" ajaknya dengan nada khawatir.Aku menggeleng perlahan. "Kemarin kita udah ke dokter, masa ke dokter lagi sih mas. Kata dokter juga ini normal, kamu gak usah khawatir begitu ah," jawabku lirih."Tapi mas gak tega lihat kamu kayak gini terus."Aku hanya tersenyum. Suamiku itu, dari dulu memang begitu, selalu mengkhawatirkan aku dan anak-anak."Mas, inilah perjuangan seorang istri. Makanya ...""Sudah pasti mas akan selalu menyayangimu, menjagamu, melindungimu dengan sepenuh hati. Begitu pula dengan anak-anak yang sudah kau kandung. Terima ka
Bab 50Season 2 Part 10"Ingat ya Zaky, sampai kapanpun ibu takkan pernah menganggap dia sebagai menantu!" ketus ibunya lagi, kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan pasangan muda yang masih labil itu."Mas, aku ingin pulang ke rumah ibu. Biarkan aku tinggal di rumah ibu saja. Aku gak mau disini," ujar Arin dengan nada suara yang lirih.Zaky menoleh, ia menatap istrinya dalam-dalam."Kamu gak betah tinggal disini?" tanya Zaky.Arin menggeleng."Apa karena sikap ibuku?"Arin mengangguk ragu."Apa yang dilakukan ibu padamu? Apa kau disuruh mengerjakan semuanya?"Arin terdiam."Ah, sekarang aku paham, kenapa bibi dan mamang tukang kebon diberhentikan dari pekerjaan, ternyata karena alasan ini," ujar Zaky pada dirinya sendiri.Zaky meraih tangan Arin. Tangan yang dulu mulus kini terasa kasar dan memerah. Arin meringis kesakitan."Tanganmu kenapa?""Ini, waktu megang gunting rumput, karena aku gak bisa pakainya, jadi malah bikin tangan lecet," jawab Arin."Apaa??! Kamu bersih-bersih ke
Bab 49Season 2 Part 9Sementara di rumah orang tua Zaky"Riin... Ariiinn...!" teriakkan ibu mertua mengagetkan Arin. "Hei, jangan malas kamu! Dasar menantu tidak tahu diri!" bentaknya lagi.Arin berlari tergopoh-gopoh menghampiri ibu mertuanya. Dia menunduk, hatinya begitu sakit. Padahal ibunya sendiri tidak pernah memperlakukannya seperti itu."Tuh, cucian piring numpuk!" pekik ibu mertua lagi sambil menunjuk ke arah westafel, banyak tumpukan piring kotor disana. Padahal tadi sudah dia bersihkan sebelum Mas Zaky berangkat bekerja. Kenapa sekarang jadi banyak lagi?"Tapi bu, tadi sudah saya bersihkan. Tapi kenapa....""Jangan membantah! Kau lihat sendiri, bukan?" tunjuk ibu mertuanya begitu culas.Arin hanya mengangguk dan menuruti perintah ibu. "Kalau mau tinggal disini, jangan seenaknya sendiri okang-okang kaki! Kerja! Semuanya gak gratis!" hardik ibu mertuanya lagi.Arin menyesal melihat perlakuan sang ibu mertua yang tak menganggap dirinya sebagai seorang menantu. Baru beberapa
Bab 47"Dek, pelan-pelan... Uuh..." ucapnya lirih sambil meringis kesakitan."Tahan dikit lagi ya, mas," sahutku sembari mengobati luka di kaki suamiku. Dia tersenyum. Senyuman yang hangat dan menyejukkan. Mas Aris kembali meraih tanganku, menggenggamnya dan menciumi punggung tanganku."Makasih ya dek,
Bab 46Malam harinya, kami berkumpul di meja makan. Sekarang sudah ada anggota baru, yaitu Zaky, dia duduk disamping Arin."Bu, mbak, mas, aku minta izin akan bawa Arin tinggal bersamaku" ucap Zaky membuka percakapan."Iya nak, tadi Arin sudah bilang. Yang penting kau bertanggung jawab pada anak ibu, j
Bab 45Arin masih berada dikamarnya dengan balutan kebaya putih. Riasan wajahnya terkesan natural justru membuatnya semakin ayu. Wajahnya yang putih bersih tak perlu mendapat banyak polesan. Ya, dia memang secantik itu, hidungnya juga mancung. Rambutnya yang panjang sepunggung membuatnya mudah untuk
Bab 44Aku masih menunggu mas Aris pulang di teras depan rumah. Rasa khawatirku semakin membuncah. Apakah aku terlalu berlebihan?"Mbak... Mbak Dewi..." teriak suara seseorang mengagetkanku. Pak Samin terlihat berlari tergopoh-gopoh menghampiriku."Mbak... Itu mbak..." nafasnya terdengar ngos-ngosan."A












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan