"Benar, apa yang dikatakan Putra Mahkota memang tepat. Kali ini bukanlah pertempuran yang bisa dihadapi hanya dengan perang gerilya."Orduk juga mengernyitkan alisnya. Negara Darmo yang tangguh laksana elang perkasa, tak boleh sampai hancur di tangannya."Hubidon, apa pendapatmu?"Selama puluhan tahun, leluhur mereka hanya mengganggu perbatasan dan mengambil keuntungan lalu pergi, sehingga tetap bisa hidup berdampingan tanpa masalah besar. Namun sekarang, mereka bertemu dengan Luis yang membuat mereka menderita kerugian besar selama bertahun-tahun.Kini, Luis telah naik takhta dan dia mengirimkan 200 ribu pasukan menyerang perbatasan mereka. Hal ini sama sekali di luar dugaan.Hubidon menggenggam kedua tangannya dan berkata, "Ayahanda, ada pepatah dari negara mereka yang mengatakan, 'Selama masih hidup, selalu akan ada kesempatan.' Saat ini kita harus memulihkan kekuatan dan mengajukan perdamaian.""Perdamaian?"Semua orang saling memandang dan berbisik-bisik. Ada yang mendukung, tetap
"Terima kasih, Raja."Jelita dan Yasa segera menyampaikan syukur, lalu pergi bersama Khisar.Keduanya saling bertukar pandang. Setelah bersembunyi hampir tiga tahun, akhirnya kesempatan yang mereka tunggu pun tiba. Malam di padang rumput, bintang-bintang tampak begitu terang dan angin padang rumput bertiup membuat tubuh terasa nyaman.Jelita dan Yasa berbaring di atas rerumputan, Yasa berkata, "Walaupun begitu, kita ini cuma orang-orang kecil, mana mungkin melawan Negara Cakrabirawa yang begitu kuat?""Kalau nggak mampu melawan, apakah artinya kita harus menyerah?" Jelita berkata dengan dingin, lalu menoleh pada Yasa. "Kalau kita nggak melawan, apa arti hidup ini?"Tangannya meraba untaian tulang jari di pinggangnya. "Keluarga Suharjo cuma tersisa Anggi, Luis, dan anak-anak mereka .... Kudengar bahkan sepasang kembar laki-laki dan perempuan."Dengan tawa dingin, Jelita berkata, "Kenapa mereka bisa hidup bahagia, sementara aku harus hidup dalam penderitaan? Setiap malam, ibuku selalu me
Akhirnya setelah 15 menit, suara tangisan bayi yang lemah terdengar. Semua orang pun menghela napas lega.Hanya bidan yang tampak panik melihat bayi yang wajahnya membiru karena sesak dan menangis sangat pelan. Jelita segera menggendongnya, lalu menjulurkan tangan untuk mengeluarkan kotoran dari mulut bayi itu. Tak lama kemudian, tangisan sang bayi terdengar semakin keras.Setelah bayi dibungkus rapi, bidan itu menggendongnya untuk memberi kabar gembira kepada Orduk, Raja Negara Darmo. "Selamat, Raja. Bayinya seorang pangeran kecil."Orduk tertawa terbahak-bahak dengan kedua tangan yang berkacak pinggang. "Langit menganugerahkan aku seorang pangeran kecil. Pasti akan memberkati negaraku. Gelar pesta kambing, rayakan kelahiran pangeran kecil ini!""Selamat, Raja, selamat." Sorak sorai bergema di padang rumput yang luas itu, suaranya terbawa angin hingga tersebar jauh.Setelah ruang bersalin dibereskan, Orduk melangkah masuk. Dia lebih dulu menatap sang permaisuri yang lemah, lalu mengge
Di dalam istana, para dukun dan bidan saling menatap. Mereka merasa Permaisuri tak akan bertahan lama.Sang Raja, Orduk, mondar-mandir, marah tak jelas. Dia bahkan merasa kesulitan yang dialami oleh istrinya disebabkan tekanan dari Negeri Cakrabirawa."Raja, semua tabib sudah dipanggil." Seseorang melapor."Cepat suruh mereka masuk dan lihat.""Baik."Tak lama kemudian, semua tabib datang. Sesuai urutan, tabib menanyai bidan dan dukun tentang kondisi Permaisuri. Selain memberi ramuan ginseng untuk mempertahankan nyawa, mereka tidak bisa mengeluarkan solusi lain.Orduk melihat ada seorang tabib wanita di tengah kerumunan, lalu bertanya, "Apa tabib wanita ini punya kemampuan?"Semua orang menatap Jelita. Jelita bersujud. "Hamba bersujud kepada Raja, hamba akan mencoba sekuat tenaga.""Apa kamu bisa menyelamatkan Permaisuri?" tanya Orduk dengan cemas."Hamba bisa mencoba." Jelita bersujud lagi."Baik, kamu masuklah, cepat periksa Permaisuri."Orduk merasa karena adalah tabib wanita, pasti
Ini adalah ramalan yang menguntungkan untuk membuka peperangan.Harfi meninggalkan Paviliun Rembulan, lalu kembali ke kamarnya sendiri dan mulai menelaah kembali semua yang dipelajari selama beberapa tahun terakhir. Kemudian, dia mengurung diri di kamarnya.Hingga malam tiba, Harfi baru keluar dari kamar. Dia buru-buru menuju Paviliun Rembulan, lalu berkata dengan penuh semangat, "Ramalan menunjukkan pertempuran ini bisa dimulai."Aska tersenyum mengangguk. "Bagus, tuliskan hasil ramalanmu, serahkan kepada Kaisar.""Baik." Harfi menanggapi.Dia melihat wajah gurunya terlihat lebih segar dibanding tiga tahun lalu. Gejala takut dingin dan panas juga berkurang. Saat ini adalah awal musim semi yang cukup dingin, tetapi Aska hanya memakai baju tipis dan hanya menggunakan beberapa baskom es. Tubuhnya tak lagi berkeringat.Keesokan harinya saat sidang pagi resmi dimulai, Luis mengumumkan hasil ramalan Biro Falak ke hadapan publik. Para pejabat terbagi antara yang faksi mendukung perang dan ya
Zahra bersorak girang, menarik Torus menuju luar istana. Anggi memandang Zahra yang riang, tak bisa menahan pikirannya pada Ishaq. Dia bertanya-tanya berapa banyak kesulitan yang harus dialami Ishaq bersama Cahyo dan Keswan di luar sana."Cuma seekor tikus, biarkan dia dirawat dalam kandang," kata Anggi sambil menatap ke luar pintu.Luis hanya mengangguk pelan, lalu menarik Anggi duduk di atas dipan.Anggi menyerahkan surat yang diterima hari ini kepada Luis. "Ini dari Junaidi. Yang ini tulisan Ishaq, bertanya kabar orang tuanya.""Benar juga, baru tiga tahun, tapi tulisannya sudah jelek begini." Luis mengenang. Ketika dirinya tiga tahun dulu, dia sudah bisa menghafal banyak puisi kuno dan tulisannya cukup rapi."Orang biasa pun belum tentu bisa menulis di usia tiga tahun. Kamu menuntut terlalu tinggi.""Dia bukan orang biasa. Dia pangeran, calon kaisar," tegas Luis.Calon kaisar ....Anggi merasa khawatir. "Kalau dia nggak mau kembali dari jalan Buddha, bagaimana?"Luis berkata, "Jang