Masuk"Candy, Papa minta maaf ... Papa datang terlambat ....""Papa sudah cari kalian selama lima tahun, tapi baru sekarang nemu kalian. Ini semua salah Papa ...."Aku berdiri di samping sambil menutup mulutku dan menangis tanpa suara.Anakku ... akhirnya punya ayah ....Wajah mungil Candy menampilkan keterkejutan, kebahagiaan, lalu berubah menjadi kesedihan yang mendalam. Akhirnya, dia tidak tahan lagi untuk menangis keras. Ekspresi sombong kedua guru itu kini berubah menjadi ketakutan.Polisi sama sekali tidak memedulikan permohonan mereka. Dia langsung membawa mereka kembali untuk ditahan.....Rayden bergerak sangat cepat, hari itu juga dia mengajukan gugatan terhadap kedua orang itu.Tim pengacaranya juga sangat efisien. Mereka langsung menemukan riwayat kekerasan terhadap anak yang pernah mereka lakukan sebagai bukti tambahan. Kasus ini menjadi besar dan seluruh masyarakat ikut memperhatikan."Anakku juga pernah dipukul sama Bu Lia. Dia ancam anakku bakal kunci dia di ruangan gelap kal
Aku menutup telinga putriku. Tatapanku ingin sekali mencabik-cabik mereka berdua saat itu juga. Semua orang dibuat gemetar karena marah, bahkan Rayden juga tidak terkecuali.Giginya bergemeretak dan hampir saja dia kembali menerjang. Namun, saat melihat tatapan ketakutan Candy, tanpa sadar dia menarik tangan Candy dan menempatkannya di belakang tubuhnya."Kalian berdua ingat baik-baik apa yang kalian katakan hari ini, karena ke depannya aku akan membuat kalian menanggung semuanya! Masuk penjara saja terlalu ringan untuk kalian!"Aidil mencibir, lalu berkata dengan sombong, "Cuma karena kamu kaya, kamu pikir kamu hebat? Sudah kuduga kamu akan sengaja menargetkan kami dan memaksa kami mengaku! Makanya waktu kamu memukulku tadi, aku sudah merekamnya dan mengirimkannya dari ponselku!""Kalau sampai terjadi sesuatu sama aku atau Bu Lia, orang pertama yang akan dicurigai adalah kamu!"Lia mengangguk. "Benar, meskipun kami hanya rakyat biasa, kami juga punya koneksi sendiri. Kalau masalah ini
"Tolong ... bawa aku cari Mama, ya? Mama di mana? Kenapa dia belum datang jemput aku pulang? Aku mau Mama ...."Polisi pria menarik napas dalam-dalam, lalu akhirnya berkata dengan hati-hati, "Candy, Mama kamu capek. Sekarang dia perlu pergi ke tempat yang sangat, sangat jauh, untuk beristirahat lama. Nanti waktu kamu sudah berusia 18 tahun, dia akan kembali."Putriku tertegun, suaranya berat karena tangisan. "Nggak mungkin ... Mama sayang sekali sama aku .... Dia nggak akan meninggalkanku ....""Nggak .... Dia nggak bakal ninggalin aku ...."Rayden langsung memeluknya dan menepuk-nepuk punggungnya perlahan. "Candy jangan takut, Om ada di sini."Kehangatan dari tubuh pria itu perlahan menenangkan Candy. Sementara itu, aku hanya bisa menangis tanpa suara di samping."Rayden, tolong ... tolong bantu anak kita. Paling nggak ... jangan biarkan dia tumbuh sendirian di panti asuhan ...."Candy menangis lama di pelukan Rayden, sampai akhirnya karena kelelahan dia tertidur lelap saat fajar meny
"Pa ... Om, jangan khawatir ... aku nggak sakit ...."Melihat luka di tubuh putriku, hatiku terasa sangat perih.Padahal Candy paling takut sakit. Aku sudah terbiasa ingin meniup lukanya untuk menenangkannya, tapi Rayden malah lebih dulu menunduk dan meniup lembut pergelangan tangan putriku.Seolah menyadari apa yang dia lakukan, ekspresi Rayden sedikit kesal.Candy menarik lengan bajunya, lalu bertanya, "Om, kamu tahu ke mana perginya mamaku? Kenapa dia belum datang jemput aku?"Rayden terdiam.Padahal dia tidak pernah peduli dengan urusan orang lain, tapi setiap gerak-gerik Candy malah menarik perhatiannya.Padahal Candy adalah anakku dengan orang lain, tapi melihat wajah yang mirip denganku, dia tidak bisa mengabaikannya.Padahal dia sudah membenciku selama lima tahun, tapi saat mendengar kabar kematianku, pikirannya langsung kosong.Karena itu, dia tanpa sadar mengajukan pertanyaan yang selama ini mengganggunya, "Kenapa kamu nggak telepon ayahmu?"Candy mengernyit, lalu menggeleng
Sekarang, tubuhnya tampak kotor berantakan dan terkulai lemas di pelukan polisi. Meskipun bukan anaknya, setiap kali memikirkan apa yang dialami anak itu, hati Rayden tetap terasa sakit.Saat itu juga, guru wanita berteriak sambil berlari masuk dan berdiri di depan Aidil, "Apa hak kalian memukul orang?"Begitu mendengar suara guru itu, Candy tanpa sadar menyusut ke dalam pelukan polisi wanita.Tangannya yang mungil mencengkeram lengan polisi itu erat-erat. Saat dia bergerak sedikit, tampak jelas luka memar di pergelangan tangannya."Candy, bilang ke Tante, kenapa bisa ada luka di tubuhmu?"Guru wanita itu melirik Candy di pelukan polisi, lalu memalingkan wajah dengan rasa bersalah. Candy menundukkan kepala dan menggigit bibirnya erat, air matanya terus menetes.Rayden berjongkok dan mengusap kepala Candy dengan lembut. "Candy jangan takut, aku teman ... Mama kamu.""Kalau kamu nggak mau Mama khawatir, kamu bisa bilang ke Om ...."Candy mengedipkan matanya yang berkaca-kaca, lalu diam-d
Semua orang bergegas masuk ke dalam sekolah. Jeritan itu semakin jelas, jantung Rayden pun berdebar kencang. Saat mendengar suara yang begitu familier, hatinya seperti diremas kuat. Dalam hatinya terus berdoa, "Jangan Candy ... jangan sampai Candy ... jangan dia ...."Tangisan serak anak kecil bercampur dengan tawa puas seorang pria, bergema di lorong kelas yang kosong.Saat polisi mendobrak pintu, Rayden melihat pemandangan di depannya dan seluruh darah di tubuhnya seakan membeku. Tidak peduli bagaimana gadis kecil itu meronta dan memohon, dia tetap dikurung erat dalam pelukan pria menjijikkan itu.Aku hampir kehilangan akal. Aku menerjang maju bagaikan orang yang kehilangan akal, lalu memukul dan menendangnya. "Bajingan! Binatang! Bahkan jadi hantu pun aku nggak akan melepaskanmu!"Rayden berlari maju dengan panik dan menarik pria itu menjauh. Saat dia melihat jelas wajah Candy di pelukannya, jantungnya seolah berhenti berdetak.Tinju keras langsung menghantam wajah Aidil."Bajingan!
"Cuih!"Melihat tatapan terkejut putriku, mata guru wanita itu semakin ganas. Sepatu hak tingginya menendang keras dada putriku."Lihat apaan? Dasar anak haram! Ibumu saja sudah nggak mau kamu!"Putriku terjatuh kesakitan di lantai. Darah keluar dari mulutnya, tapi dia tetap membantah dengan keras k
"Aku paling benci anak-anak nakal seperti kalian, menjijikkan."Putriku memeluk lututnya sendiri dan menangis sampai suaranya serak.Di kantor, Rayden tiba-tiba merasakan nyeri di dadanya. Dia mengerutkan kening, lalu tatapan dinginnya langsung menyapu bawahan yang berdiri di sampingnya."Masih belu
Dia meletakkan telepon, lalu mengambil krayon yang tadi dibuang guru dan bersiap melanjutkan menggambar. Namun, perutnya tiba-tiba berbunyi keroncongan.'Lapar sekali,' pikirnya.Candy membuka tas sekolah kecilnya, tidak ada makanan. Dia mencari di laci, tetap tidak ada. Akhirnya, pandangannya berhe
Setelah ayahku bangkrut, aku memutuskan Rayden, pria paling tampan di sekolah kedokteran yang sudah kubiayai selama tiga tahun, dengan alasan bahwa aku sudah bosan padanya. Malam itu, dia berlutut di tengah hujan deras. Matanya merah saat memohon padaku selama delapan jam penuh.Sementara itu, aku b







