เข้าสู่ระบบini bab kedua pagi ini Selamat Beraktivitas (◠‿・)—☆
Ryan menatap Corwin Samian yang sudah kehilangan ketenangannya. Teriakan pemuda itu masih menggema di arena, tetapi Ryan sama sekali tidak menunjukkan reaksi selain mengangkat Pedang Feralrot perlahan.“Tumbang?” tanyanya datar. “Corwin Samian, kau salah memahami satu hal.”Corwin menatapnya dengan mata memerah.Ryan melanjutkan, “Yang seharusnya kau harapkan sekarang bukan supaya aku tumbang. Kau seharusnya berharap dirimu menjadi lebih kuat.”Esensi pedang yang selama ini memenuhi tubuh Ryan perlahan mengendap. Anehnya, ketenangan itu justru membuat tekanan di sekelilingnya terasa semakin berat, seolah sesuatu sedang dipadatkan sampai mencapai batas.“Cukup kuat sampai kau tidak kalah dariku.”Wajah Corwin menegang.Ryan mengangkat pandangannya dan berkata, “Kau tadi bilang aku tidak layak berdiri di jalanmu. Tapi menurutku, kaulah yang belum cukup kuat untuk membuatku berdiri di jalanmu.”Begitu kalimat terakhir terucap, esensi pedang yang tadinya tenang mendadak membumbung ke la
Tak seorang pun di tribun bisa lagi memandang Ryan Pendragon seperti sebelumnya. Tubuh pemuda itu sudah dipenuhi luka, auranya terus menurun, tetapi semangat bertarung yang terpancar darinya sama sekali tidak melemah. Justru semakin lama pertarungan berlangsung, sorot matanya terasa semakin tajam.Mereka sudah berhenti bertanya apakah Ryan merasakan sakit. Darah yang membasahi tubuhnya sudah menjadi jawaban paling jelas.Yang sulit mereka pahami adalah bagaimana ia masih sanggup terus mengangkat pedang.Bahkan beberapa murid angkatan ketiga yang sejak awal hanya menonton dengan tenang kini mencondongkan tubuh ke depan. Tidak peduli siapa yang akhirnya memenangkan Tantangan Akademi ini, Ryan sudah membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar murid tahun pertama yang kebetulan memiliki beberapa kartu truf.Di udara, Quinton Greaves juga tidak mengalihkan pandangan dari arena. Ia sebelumnya sudah menilai Ryan sangat tinggi, tetapi pertarungan hari ini membuatnya sadar bahwa penilaiannya ma
Ryan langsung menggeleng.“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.”Quillon Wynn tidak membujuknya lagi.Ia tahu Ryan bukan menolak karena gengsi.Jika hanya ingin memenangkan pertandingan, meminjam kekuatan Quillon memang jalan tercepat. Namun kemenangan semacam itu tidak akan memberikan apa yang sejak awal dicari Ryan.Teknik Pedang Pemenggal Langit sudah berada di ambang terobosan.Ryan bahkan dapat merasakan bentuk tebasan berikutnya di dalam benaknya.Masalahnya, tebasan itu belum utuh.Masih ada sesuatu yang kurang.Jika dipaksakan sekarang, kekuatannya tidak akan berbeda jauh dari serangan-serangan sebelumnya.Karena itu, Ryan masih membutuhkan Corwin.Dan untuk mendapatkan bagian terakhir dari pemahaman itu, ia harus terus bertahan.'Datanglah.'Ryan menggenggam Pedang Feralrot semakin erat.'Perlihatkan semuanya.'Naga darah Corwin kembali menerjang.Cakar raksasanya turun bersama gelombang esensi pedang merah.Ryan menghindar setengah langkah, lalu membalas.CLANG!Pedang Feralrot me
Corwin Samian tidak memberi Ryan kesempatan untuk bernapas.Begitu melihat tebasan Ryan mampu mendorong wujud naga darahnya mundur beberapa meter, ia langsung mengubah ritme pertarungan.Tidak ada lagi jeda.Tidak ada lagi serangan untuk menguji.Ia harus mengakhiri semuanya sekarang.“ROOOAR!”Naga darah itu meraung.Esensi pedang yang memenuhi arena mendadak tersedot kembali ke tubuhnya. Kabut merah di sekelilingnya berputar liar, lalu memadat menjadi pusaran yang membuat udara bergetar.Ryan menyipitkan mata.'Dia mulai terburu-buru.'Puluhan berkas pedang merah darah terbentuk di udara.Masing-masing hanya setebal lengan, tetapi tekanan yang dipancarkannya jauh lebih tajam daripada serangan sebelumnya. Bahkan dari balik tabir pelindung, beberapa murid di tribun merasa kulit mereka seperti ditusuk jarum.Corwin tidak memberi waktu untuk berpikir.“Tebas!”Berkas-berkas itu melesat serempak.Ryan langsung mengaktifkan pertahanannya.Bayangan Unicorn Naga muncul di belakang tubuhnya.
Begitu wujud naga darah Corwin Samian benar-benar terbentuk, tekanan mengerikan langsung menyapu seluruh lapangan latihan.Beberapa murid berkultivasi rendah di tribun depan spontan menahan napas.Sisik merah darah di tubuh naga itu tampak terlalu nyata untuk disebut sekadar manifestasi energi. Setiap gerakan cakarnya membuat udara bergetar, sementara esensi pedang yang menyelimuti tubuhnya seperti hendak mencabik apa pun yang mendekat.Bahkan beberapa pengajar di tribun atas mulai memasang wajah serius.Corwin sudah tidak lagi menahan diri.Ryan Pendragon berdiri dengan Pedang Feralrot di tangan, matanya mengikuti setiap perubahan pada wujud naga tersebut.Tekanan itu memang berat.Namun justru inilah yang ia butuhkan.Pemahamannya terhadap Teknik Pedang Pemenggal Langit masih belum sempurna. Jika ia ingin menembus batas berikutnya, ia membutuhkan lawan yang cukup kuat untuk memaksanya melihat sesuatu yang tidak bisa ia pahami melalui latihan biasa.Dan Corwin adalah lawan seperti it
Wajah murid angkatan kedua itu semakin masam setelah mendengar pertanyaan Xander Jett.Ia ingin membalas, tetapi pemandangan Ryan Pendragon yang masih berdiri di arena membuat kata-katanya tertahan.Akhirnya ia hanya mendengus. “Dia cuma beruntung. Serangannya sendiri tetap kalah dari Corwin Samian.”“Kalian masih belum paham juga.” Xander menggeleng pelan.Zane Stern dan Thea Waxler bahkan sudah tidak tertarik menanggapi. Perdebatan seperti ini tidak akan menghasilkan apa pun.Sebentar lagi hasil pertarungan akan membuktikan semuanya.Karena itu, mereka kembali memusatkan perhatian ke arena.**Ryan menatap Corwin dari balik kobaran api ungu yang menyelimuti tubuhnya.Tebasan sebelumnya memang berhasil ia tahan, tetapi itu tidak berarti serangan Corwin lemah. Jika bukan karena Immortal Divine Body dan kekuatan fisiknya, tubuhnya mungkin sudah terbelah.Namun justru setelah menerima serangan ta







