เข้าสู่ระบบ“Selamat pagi, Nona Ariana.” Jemmy—asisten pribadi Jason tersenyum ramah namun dengan nada formal.
“Ayo, kita punya banyak agenda hari ini,” ajaknya kemudian.
Ariana hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil dan duduk dengan canggung di kursi penumpang.
Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, dia hanya diam dan matanya memandang keluar jendela.
Kepalanya dipenuhi pikiran campur aduk—tentang dirinya yang kini akan menjadi pemuas nafsu dari seorang duda beranak satu, tentang dia yang sudah tidak akan lagi suci begitu Jason menyentuhnya.
Bukan pria yang dia cintai, atau kehormatannya yang selama ini dia jaga dengan baik, harus dia gadaikan untuk menyelamatkan rumah keluarganya.
Lima belas menit kemudian. Mobil berhenti di depan sebuah mall yang tampak sangat mewah. Jemmy segera turun dan membukakan pintu untuk Ariana.
“Pertama, kita ke lantai tiga. Ada butik tas dan sepatu yang sudah menunggu. Kita akan belanja kedua benda itu terlebih dahulu.”
Ariana menelan ludah saat mendengarnya. “Untuk apa semua ini?” tanyanya dengan pelan.
Jemmy hanya tersenyum samar. “Instruksi Tuan Jason. Mulai hari ini, Nona Ariana akan mengantar dan menjemput Ethan sekolah. Penampilan Nona harus … representatif.”
“Karena Tuan Jason sudah memberitahu bahwa Anda adalah calon istrinya, meski semua itu hanya formalitas, tapi tetap harus berpenampilan menarik,” sambung Jemmy.
Ariana hanya bisa menghela napasnya. Dia hanya gadis desa yang biasa memakai sandal jepit dan baju polos, bukan gaun mahal dengan sepatu hak tinggi.
Di butik pertama, Ariana hampir tak percaya saat seorang pegawai dengan setelan rapi menawarinya deretan tas kulit asli dengan harga yang cukup untuk membeli motor di kampungnya.
Jemmy dengan tenang memilihkan beberapa model, lalu menyuruhnya mencoba. Begitu juga dengan sepatu—hak tinggi, wedges, bahkan sneakers bermerek.
Setiap kali Ariana mencoba, Jemmy mengangguk puas. “Bagus. Kita ambil ini.”
Pegawai butik mencatat semuanya tanpa menanyakan harga. Ariana bisa merasakan tatapan orang-orang di dalam butik itu, sebagian mungkin mengenal Jason dan penasaran siapa dirinya.
Setelah dua jam, tangan Ariana sudah penuh dengan kantong belanja berlogo merek-merek terkenal.
Tapi ternyata itu baru permulaan. Jemmy membawanya ke lantai berikutnya—sebuah salon kecantikan premium.
Ariana diminta duduk di kursi empuk, lalu dikelilingi tiga penata rambut sekaligus.
Rambutnya dicuci, dipotong, dan diberi warna halus yang membuat wajahnya tampak lebih cerah.
Setelah itu, seorang penata rias merapikan alisnya, mengoleskan foundation tipis, dan menambahkan sedikit warna pada bibirnya.
Saat semua selesai, Ariana hampir tak mengenali dirinya sendiri di cermin.
Gadis dengan kulit bersih, rambut berkilau, dan bibir merah lembut itu … bukan Ariana yang biasa menjemur pakaian di halaman belakang rumah ibunya.
Dia menelan ludahnya saat menatap dirinya di pantulan cermin. “Aku … terlihat seperti orang lain.”
Jemmy tersenyum tipis. “Bukan orang lain. Hanya versi dirimu yang Tuan Jason inginkan.”
Hatinya sedikit berdebar mendengar kalimat itu.
Mereka keluar dari salon, tapi langkah Jemmy tidak menuju pintu keluar mall. Ia berbelok ke sebuah butik lain—lebih kecil, tapi dengan pencahayaan redup dan dekorasi intim.
Begitu Ariana membaca papan namanya, darahnya terasa berhenti mengalir.
Itu adalah butik khusus lingerie.
Ariana langsung membola matanya. “Tuan … ini—”
Jemmy menatapnya dengan ekspresi profesional, seolah-olah ini hal yang sangat biasa.
“Ada dalam daftar belanja yang dibuat Tuan Jason. Katanya, Nona Ariana perlu beberapa set untuk keperluan pribadi beliau.”
Ariana merasa wajahnya panas. Dia berdiri terpaku di pintu masuk, tapi pegawai butik yang tersenyum lebar sudah menyambutnya dan membimbingnya masuk.
“Silakan lihat-lihat. Kami punya koleksi terbaru dari sutra dan renda,” kata pegawai itu sambil membuka tirai salah satu rak, memperlihatkan lingerie tipis dengan renda halus berwarna merah muda pucat.
Ariana ingin sekali menolak, tapi ingatan tentang cek yang sudah dia terima melupakan semuanya.
Dia mencoba beberapa set lingerie di ruang pas. Dia merasa seperti terperangkap dalam cermin yang memantulkan dirinya dalam versi yang terlalu sensual untuk diakui.
Setiap kali dia keluar dari ruang pas, pegawai butik itu memuji, “Sangat cocok,” dan Jemmy hanya mengangguk sambil mencatat pilihan.
Setelah hampir satu jam, mereka keluar dengan kantong belanja tambahan yang Ariana sembunyikan di balik tas besar agar orang tidak melihat isinya.
**
Langit sore mulai meredup ketika mereka kembali ke rumah Jason. Ariana masih belum sempat meletakkan semua belanjaan ketika suara langkah berat terdengar dari arah pintu utama.
Jason berdiri di sana, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku.
Tatapannya langsung menyapu tubuh Ariana dari ujung kepala hingga kaki, seolah menilai hasil “transformasi” yang dia biayai.
“Bagus,” katanya singkat. “Mulai sekarang, kau akan terlihat seperti ini setiap hari. Untuk Ethan … dan untukku.”
Ariana hanya bisa mengangguk sambil menundukkan kepala.
Jason berjalan mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah.
Dia menundukkan sedikit tubuhnya, matanya menatap langsung ke mata Ariana. Suaranya turun menjadi nada rendah yang membuat Ariana merinding.
“Malam ini … jam sepuluh. Datang ke kamarku.”
Hari itu, kota padat itu seolah berhenti berdetak untuk menyaksikan “Pernikahan Abad Ini”.Gereja katedral dihias dengan ribuan bunga bakung putih impor yang aromanya memenuhi udara, menciptakan ilusi suci yang menipu.Cassandra berdiri di depan cermin besar ruang rias, menatap bayangannya sendiri.Dia mengenakan gaun pengantin lace karya desainer ternama Paris yang nilainya cukup untuk membeli sebuah kompleks perumahan.Jika ada yang melihatnya, Cassandra adalah definisi pengantin yang diimpikan setiap wanita.Namun, di balik kerudung transparan itu, matanya kosong. Ia merasa seperti domba kurban yang sedang didandani sebelum diserahkan kepada sang predator.Pesta pernikahan di hotel mewah berlangsung seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi orang awam.Ribuan tamu bersulang untuk kebahagiaan mereka. Ethan berdiri di sampingnya, tampak sangat tampan dan berwibawa dalam balutan tuksedo hitam yang dijahit sempurna.Sepanjang acara, Ethan bertindak layaknya suami yang paling penuh perh
Suasana meriah di aula utama masih terdengar lamat-lamat, namun di dalam ruang transit VIP yang kedap suara, ketegangan yang tercipta jauh lebih menyesakkan daripada ribuan kamera di luar sana.Cassandra berdiri dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram kain gaun emerald-nya hingga kusut.Di depannya, Ethan Lubis berdiri dengan santai, melepas kancing tuksedonya seolah baru saja menyelesaikan tugas ringan, bukan baru saja meledakkan bom informasi di depan publik.“Kau gila, Ethan,” desis Cassandra. Ini pertama kalinya dia memanggil pria itu tanpa sebutan formal.“Apa yang kau lakukan tadi? Kau menarikku ke atas panggung, mengumumkan hal yang mustahil. Kau melakukan itu hanya untuk membuat Tuan Jason berhenti menjodohkanmu, kan? Kau butuh tameng, dan kau memilihku karena aku ada di sana?”Ethan terdiam, namun matanya menatap Cassandra dengan intensitas yang membuat wanita itu ingin mundur.“Kita tidak akan benar-benar menikah, kan?” tanya Cassandra lagi, suaranya mulai bergetar. “
Malam puncak perayaan ulang tahun Lubis Corp ke-50 diubah menjadi sebuah simfoni kemewahan yang tak tertandingi. Grand Ballroom hotel bintang lima milik keluarga Lubis didekorasi dengan nuansa emas dan hitam, memancarkan aura kekuasaan yang absolut.Ratusan tamu dari kalangan elit, mulai dari pejabat tinggi, konglomerat lintas negara, hingga selebriti papan atas memenuhi ruangan, berbisik-bisik tentang masa depan imperium bisnis tersebut.Di atas panggung utama, Jason Lubis berdiri dengan gagah mengenakan tuksedo hitam klasik.Di sampingnya, Ariana Lubis tampak mempesona dalam gaun couture berwarna perak yang berkilauan di bawah lampu kristal.Mereka adalah definisi pasangan penguasa yang sempurna. Setelah menyampaikan pidato keberhasilan perusahaan yang menggetarkan, Jason mencondongkan tubuh ke mikrofon dengan senyum penuh teka-teki.“Malam ini, di tengah perayaan emas ini, saya juga ingin mengumumkan babak baru bagi keluarga kami,” ujar Jason dengan suara yang berat dan berwibawa
Keesokan siangnya, udara di lantai lima puluh terasa lebih berat daripada hari-hari sebelumnya.Bukan karena volume pekerjaan, melainkan karena kehadiran sosok legendaris yang jarang sekali menampakkan diri di kantor sejak pensiun total.Jason Lubis, sang “Iblis Senior”, melangkah masuk ke ruangan CEO dengan langkah mantap yang masih mengintimidasi, meski rambut di pelipisnya telah memutih.Cassandra, yang sedang meletakkan nampan berisi teh earl grey di meja kerja Ethan, seketika membeku.Dia merasakan tatapan sepasang mata elang yang sangat mirip dengan milik Ethan sedang membedahnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Sekretaris baru?” tanya Jason dengan suara berat yang berwibawa, memecah keheningan ruangan.Ethan, yang sedang meninjau laporan di tabletnya, tidak mendongak. “Ya, Dad. Namanya Cassandra.”Jason tidak segera duduk. Dia justru berjalan mendekat ke arah Cassandra, membuat wanita itu menunduk sopan sembari menahan napas.Jason menatap tanda pengenal di leher Cassandra
Malam itu, kota itu seolah sedang ditenggelamkan oleh langit.Hujan deras mengguyur kota dengan amukan yang membuat jarak pandang menjadi terbatas, menyisakan suara hantaman air yang konstan pada dinding kaca gedung Lubis Corp.Di lantai lima puluh, suasana sunyi merayap di setiap sudut koridor yang gelap, kecuali di ruangan CEO. Cahaya lampu temaram dari dalam ruangan itu menjadi satu-satunya tanda kehidupan di menara pencakar langit tersebut.Cassandra masih duduk tegak di meja kerjanya yang berada tepat di depan pintu masuk ruangan Ethan.Jemarinya menari di atas papan ketik, mencoba menyelesaikan revisi laporan merger yang diminta Ethan tepat satu jam yang lalu.Matanya terasa panas, namun dia tidak berani beranjak. Di dalam ruangan sana, sang bos masih terjaga.Pintu kaca besar itu terbuka perlahan. Ethan muncul, namun kali ini dia tidak mengenakan jasnya.Kemeja putihnya sudah tidak dikancingkan di bagian kerah, dan lengannya digulung hingga siku, menampilkan sisi yang lebih san
Minggu pertama Cassandra di Lubis Corp bukan sekadar tantangan profesional; itu adalah ujian ketahanan mental.Baginya, setiap pagi terasa seperti melangkah masuk ke dalam sangkar singa yang sedang dalam suasana hati buruk.Ethan Lubis tidak hanya mewarisi takhta ayahnya, ia juga mewarisi kemampuan untuk mengintimidasi siapa pun hanya dengan keheningan.Ethan adalah seorang perfeksionis yang kejam. Ia tidak pernah memberikan instruksi dua kali. Baginya, pengulangan adalah bentuk kegagalan komunikasi, dan dia tidak menoleransi kegagalan.Setiap kali Cassandra melintasi pintu jati besar itu untuk menyerahkan laporan atau sekadar mengonfirmasi jadwal, atmosfer di dalam ruangan seolah mendadak turun beberapa derajat.Suhu pendingin ruangan terasa lebih tajam, dan suara detak jarum jam di dinding terdengar seperti hitungan mundur menuju sebuah ledakan.Pagi itu, jam menunjukkan pukul delapan lewat dua menit.Cassandra masuk membawa nampan kecil berisi secangkir kopi hitam tanpa ampas, pesa







