ログインNamun, wanita yang mengenakan gaun emas hanya menunjukkan perubahan tipis. Alisnya sedikit terangkat, sementara tatapannya menjadi lebih tajam seolah sedang menilai Joko. Berbeda dengan wanita berpakaian formal. Sorot matanya seketika berbinar, dan semburat merah perlahan menghiasi kedua pipinya."Nyonya, siapa pria tampan ini?" tanya wanita berpakaian formal dengan nada sedikit genit."Nona Nadya, Nona Sonya, perkenalkan ini Joko! Seorang ahli yang bisa mengalahkan puluhan orang sekaligus," ucap Tante Riana.Tatapan wanita berpakaian emas semakin lekat. Wanita berpakaian formal pun menjadi serius, semua ekspresi genitnya terhapus.Tante Riana melirik Joko. Dia menunjuk ke arah wanita berpakaian emas. "Jo, ini Nona Nadya." Dia menunjuk wanita berpakaian formal. "Dan ini Nona Sonya, asisten Nona Nadya."Joko tersadari, dia buru-buru bangkit. Kemudian, dia melemparkan senyuman dan anggukan kecil. "Nona Nadya, Nona Sonya," sapa Joko.
Dia perlahan menatap Tante Riana. "Tante, kalau boleh tahu... jadi pengawalnya itu harus sekuat apa?" Joko tak ingin gegabah. Meski dia cukup percaya diri dengan kekuatannya sekarang. "Temanku bilang, dia butuh pengawal yang kekuatannya bisa mengalahkan puluhan orang biasa. Kalau bisa, harus lebih kuat!" balas Tante Riana. Joko mengangguk-angguk. "Jangankan orang biasa, kalau aku melawan puluhan ahli di ranah pendekatan tahap awal pun ~ aku pasti mengalahkan mereka dengan mudah," gumam Joko di dalam hati. "Kalau kamu gak sanggup, lupakan saja!" ucap Tante Riana. "Aku sanggup!" tegas Joko. "Kamu serius Jo?" Tante Riana sedikit terkejut. Joko mengangguk. "Aku cukup kuat. Yah... kekuatanku sekarang ~ cukup untuk bertarung sama 100 orang," balas Joko. "Ka-kamu serius?" Tante Riana merasa ragu dengan ucapan Joko. Tadinya dia mengira Joko hanya sebatas mampu melawan beberapa orang. "Tentu saja serius! Ngapa
Keesokan harinya, Joko pergi ke kota sendirian. Karena hari ini, dia mendapatkan informasi dari sales dealer mobil jika plat nomor mobilnya sudah jadi. Tadinya sales itu menawarkan untuk mengantarkan plat itu, tapi Joko memutuskan untuk mengambilnya sendiri. Karena sekalian, dia ingin menemui Tante Riana di tokonya. Karena tadi pagi wanita itu mengirim pesan, menyuruh Joko datang ke tokonya jika ada waktu luang. Sampai di kota, Joko pergi mengambil plat nomor mobilnya terlebih dahulu di dealer. Selama proses pengambilan, sales yang kemarin terus menerus memberikan godaan kepada Joko. Namun, kecantikan sales itu belum cukup menggoyahkan Joko, jadi dia mengabaikannya. "Hmm... Tuan ini ternyata sangat sulit di rayu," gumam Sales itu dengan ekspresi sedikit cemberut. Jika sales itu datang pas Joko belum banyak mencicipi wanita cantik, pasti Joko akan langsung menerkamnya. Setelah semua proses selesai, dia pergi dari dealer ~ melajukan mobilnya menuju Mal. Tiba di sana, Joko tidak la
Joko tak langsung memosisikan batangnya, dia menyentuh area inti wanita itu dengan jarinya terlebih dahulu, untuk mengecek kondisi di sana. Tubuh Ririn menegang, saat jari Joko menyentuh area intinya. Pertanda, kalau wanita itu sangatlah sensitif. "Kamu sudah becek banget ternyata, sudah siap di tusuk," ucap Joko sambil mengelus area itu. "Ahh... ahh," desahan manja keluar dari mulut Ririn dengan tubuh yang sedikit bergetar. "Ahh... Tuan, ahh... aku sudah gatal banget!" ucap Ririn dengan nada manja. Joko narik jarinya, lalu membuka paha Ririn sedikit lebih lebar. Setelah itu, dia memosisikan batangnya di apem wanita itu. Joko menggesekkan ujung batangnya itu terlebih dahulu, sampai ujungnya basah oleh cairan wanita itu. "Nikmati yah, aku masukin nih!" ucap Joko sambil mendorong pinggangnya ke depan. Terlihat batang besar itu perlahan masuk ke dalam celah apem yang cukup tembem dan berair. Tubuh Ririn menegang, saat merasakan sensasi tusukan itu. "Ahhh... Tuan..." desah
Wajah Ririn tampak semakin nakal. Senyumannya itu tampak lebih lebar dan sorot matanya semakin panas. Tangan Ririn yang asalnya hanya diam di dada Joko, mulai bergerak ~ memberikan elusan. "Nyonya... kamu lagi pengen yah?" tanya Joko dengan nada main-main. Tangannya hinggap di pinggang wanita itu, lalu mengelusnya sampai ke pahanya. "Iya nih... Tuan mau gak? Mumpung yang lain sudah tidur!" ucap Ririn dengan nada genit. Wanita itu tidak tampak malu sama sekali, meski dia baru kenal dengan Joko. Tangan Joko bergerak ke atas, lalu hinggap di buah semangka besar wanita itu. "Punya kamu bersih gak? Kalau sering di jamah banyak pria ~ aku gak mau," ucap Joko sambil meremas semangka besar itu. "Ahhh..." wanita itu mendesah manja dengan kepala yang mendongak. Tubuhnya menegang dan sedikit bergetar. "Punya aku bersih kok! Cu-cuma suamiku sama Pak Kades saja yang pernah masuk," ujar Ririn. "Kalau cuma dua, gak masalah," ucap Joko. Dia mengangkat baju ketat wanita itu sampai ke dadanya.
Wanita berpakaian merah menghampiri Joko sambil memasang ekspresi genit. "Tuan, aku akan kasih imbalan sama kamu. Kapan pun Tuan butuh teman di ranjang, kasih tahu saja aku," ucap wanita sambil menyentuh dada Joko. Joko menatap wajah wanita itu, lalu turun ke dadanya. "Wanita ini memang cantik! Tubuhnya juga bagus banget!" gumam Joko di dalam hati. Beberapa wanita lainnya datang mendekati Joko. Mereka semua mengatakan hal yang sama seperti wanita berbaju merah. Dari beberapa wanita itu, ada beberapa yang membuat hasrat Joko terpancing. Meski begitu, Joko tidak memberikan kepastian kepada para wanita itu. "Sudah... ayo kita pulang dulu!" ajak Joko, lalu dia naik ke dalam mobilnya. Para wanita itu buru-buru mengikuti. ====Mereka semua, termasuk para korban Pak Kades, pulang ke rumah Lana. Sebelumnya, mereka sudah meminta izin kepada keluarga dengan alasan menginap di rumah teman.Sampai di rumah, Joko langsung di ta
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia







