แชร์

Bab 261 Cuma Gesek Saja

ผู้เขียน: Tristar
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-30 20:35:49

Di ibu kota, di rumah Tuan Muda Rico.

Rico sedang duduk dengan punggung bersandar di sandaran tempat tidur. Tangannya melingkari pinggang seorang wanita muda berpakaian seksi yang memiliki wajah cukup cantik.

Keduanya sedang menikmati anggur, bisa di lihat dari tangan mereka yang memegang gelas berisi anggur.

"Kenapa belum ada kabar juga yah?" gumam Tuan Muda Rico sambil meraih ponselnya.

Dia berniat menelepon bawahannya yang di kirim untuk menangkap Nadya. Namun, saat dia hendak menelep
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 430 Pemuda Dari Vila Bintang

    Seminggu setelah malam di kediaman Jery, ruang tamu Vila Bintang berubah menjadi gudang. Parsel buah, keranjang anggur impor, kotak teh mahal, guci keramik, bahkan sebuah lukisan besar berbingkai emas berjajar di sepanjang dinding. Semuanya datang dengan kartu ucapan dari keluarga-keluarga yang namanya bahkan belum pernah Joko dengar. Mona berdiri di tengah ruangan dengan tangan di pinggang, menatap tumpukan itu dengan wajah masam. "Sayang, ini mau ditaruh di mana lagi?" tanyanya, mengangkat sebuah kartu. "'Keluarga Prawiro mengucapkan selamat atas keberhasilan Tuan Muda Joko.' Selamat apa? Kamu gak ulang tahun." Joko yang duduk di sofa sambil membaca laporan Bintang Farma hanya tertawa. "Bagikan ke tetangga, ke anak buah Darto, ke panti asuhan. Sisakan anggurnya buat kita." "Anggurnya sudah diambil Bella duluan," gerutu Mona. Dari dapur, terdengar suara Bella menyahut santai, "Aku cuma mengama

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 429 Wanita Yang Bebas

    Lorong basemen Lintang Medika remang. Lampu darurat berkedip di ujungnya. Satpam berbadan gemuk berdiri di depan ruang jenazah, wajahnya pucat. Saat melihat Dokter Clara datang bersama Joko, dia langsung membungkuk berkali-kali. "Saya cuma ke toilet lima menit, Dokter. Waktu balik, pintunya sudah terbuka. Gak ada yang lewat pos saya, sumpah." "Kamu gak salah," ucap Clara, menepuk lengannya singkat. "Tunggu di sini." Joko masuk lebih dulu. Udara di dalam ruangan itu dingin, jauh lebih dingin dari yang seharusnya. Laci pendingin nomor empat setengah terbuka. Jasad Tuan Besar Jery masih terbaring di dalamnya, utuh, kainnya tak bergeser sedikit pun. Clara memiringkan kepala jasad itu dengan tangan gemetar. Lalu dia menarik napas tajam. Di pangkal tengkuknya, tepat di bawah bekas jarum Joko, ada sayatan kecil. Rapi, bersih, nyaris tanpa darah. Seperti hasil pisau bedah di tangan orang

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 428 Laboratorium Lantai Sembilan

    Punggung Dokter Clara menempel di pintu. Napasnya pendek-pendek. Joko tidak langsung menciumnya. Dia menatap wajah wanita itu dari jarak sejengkal, memperhatikan bulu matanya yang bergetar dan bibirnya yang setengah terbuka. "Detak jantungmu berapa sekarang, Dokter?" bisiknya. Dokter Clara menelan ludah. Lalu dia mengangkat dagu, berusaha tetap terdengar tenang. "Seratus sepuluh. Kurang lebih." "Kurang lebih?" Joko tersenyum nakal, lalu menyentuhkan dua jarinya di leher wanita itu, tepat di nadinya. "Dokter jenius kok gak akurat." "Karena ada orang yang terlalu dekat dan bikin aku gak bisa menghitung," balas Dokter Clara ketus. Joko tertawa pelan. Lalu dia menunduk dan menciumnya. Kali ini tidak ada canggung. Dokter Clara membuka bibirnya, dan lidah mereka saling melilit, pelan lalu semakin dalam. Tangannya mencengkeram kaus Joko, menariknya lebih dekat, seolah takut pria itu ber

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 427 Simpul Di Pangkal Tengkuk

    Ruang otopsi di basemen Lintang Medika dingin dan sunyi. Lampu putih menyala terang di atas meja baja, menerangi tubuh kurus kering yang tertutup kain sampai dada. Joko berdiri di samping meja itu. Di seberangnya, Dokter Clara mengenakan jas putih, masker, dan sarung tangan karet. Verona berdiri agak jauh di dekat pintu, wajahnya pucat, satu tangan menutupi hidung. "Kamu yakin gak mau tunggu di luar?" tanya Joko, menoleh ke arah Verona. "Ini rumah sakitku," balas Verona dengan suara teredam di balik telapak tangannya. "Aku harus tahu apa yang ada di dalamnya." Dokter Clara tidak menghiraukan percakapan itu. Dia menunjuk layar besar di dinding yang menampilkan hasil pemindaian. "Usia selnya," ucapnya datar, "setara orang berumur seratus sepuluh tahun. Organ dalamnya mengerut. Tulangnya rapuh seperti kapur. Semua itu terjadi dalam hitungan menit." Dia menoleh ke arah Joko. "Tiga titik yang kamu tusuk hangus dar

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 426 Pulang Lapar

    Pukul dua belas lewat, tiga mobil memasuki gerbang Vila Bintang. Lampu teras masih menyala. Begitu juga lampu ruang makan. Joko turun dengan langkah pelan, satu tangan menekan rusuk kirinya. Kausnya robek di beberapa bagian, debu marmer masih menempel di rambutnya. Di belakangnya, Darto mengulurkan tangan untuk membantu Nyonya Desi turun. Wanita itu menepisnya, lalu berjalan sendiri meski langkahnya sedikit pincang. Pintu depan terbuka sebelum mereka sampai di teras. Sonya berdiri di ambang pintu. Rambutnya tergerai, matanya sembap, lehernya masih merah. Dia menatap Joko dari ujung kepala sampai kaki, lalu berjalan cepat dan berhenti tepat di depannya. "Kamu pulang," ucapnya. Suaranya bergetar. "Aku sudah janji." Joko tersenyum, meski sudut bibirnya masih berdarah. "Ngomong-ngomong, ancamanmu masih berlaku? Soal gigit-menggigit itu?" Sonya menatapnya beberapa detik. Lalu dia mena

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 425 Tiga Jarum

    Tuan Besar Jery tertawa. Tawa serak yang menggema di aula gelap itu. "Bocah sombong." Dia melesat. Joko tidak mundur. Kali ini dia maju, menyongsong serangan itu dengan Langkah Bayangan. Tubuhnya menghilang tepat sebelum tinju merah itu menghantam, lalu muncul di belakang punggung Tuan Besar Jery. Jarum pertama melesat dari jemarinya. Titik di belakang jantung. Tapi Tuan Besar Jery lebih cepat dari dugaannya. Pria tua itu memutar tubuhnya, dan jarum perak itu hanya menggores bahunya sebelum jatuh berdenting di lantai marmer. Lalu tinjunya menghantam perut Joko. Joko terlempar, menghantam meja panjang di tengah aula. Tubuh Rico terguncang di atas kain putih itu. Tuan Besar Jery membeku sejenak, menatap jasad cucunya. Wajahnya berubah. Kemarahan yang tadi sudah membara kini meledak tak terkendali. "Jangan sentuh dia!" Dia

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 7 Ada Yang Cemburu

    Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 3 Goda Wanita Bersuami

    Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 2 Memiliki Hasrat Besar

    Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 1 Pangkalan Baru

    "Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status