Share

118. PPPN

Penulis: Callme_Tata
last update Tanggal publikasi: 2026-05-17 23:38:50

Degh!

Melihat pemandangan taman rumah sakit tersebut, mata Satria spontan melotot lebar.

Bagaimana tidak?

Di taman rumah sakit itu, dua orang perawat dan seorang dokter sedang menenangkan seorang wanita yang tak lain adalah Nyonya Laras.

Wanita separuh baya yang mengalami gangguan jiwa itu sedang mengamuk pada para perawat dan dokter yang sedang berusaha membujuknya.

"Kita pulang ke dalam yuk, Nya. Nanti kita cari Tuan muda Mandala lagi!" kata Dokter, membujuk Nyonya Latar yang tantrum, ta
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   126. PPPN

    Rain yang berada di seberang panggilan video itu, dibuat geleng-geleng kepala mendengar gelak tawa dan perkataan absurd yang keluar dari mulut Satria. Wanita hamil itu tak menyangka jika mulut Satria lebih bocor dari yang ia bayangkan selama ini. Tak ingin menganggu waktu Satria bersama Tono, Rain yang sempat sange itu memutuskan untuk mengakhiri panggilan video itu dan mengirimkan pesan pada sang kekasih. "Sayang, aku matiin teleponnya. Besok kalau gak sibuk, pulang ke apartemen ya, bayinya beneran pengen dijengukin." Pesan dengan emoticon kiss itu dikirimkan Rain pada Satria, lalu ia beringsut dan memakai pakaiannya. Setelah itu, Rain keluar dari kamar dan turun ke lantai dasar, menghampiri Tasya dan kedua orang tuannya yang berkumpul di ruang tengah. Di ruang tengah itu, tampak Tasya dan kedua orang tuanya sedang asik mengobrol. Rain yang menghampiri langsung di sambut oleh senyuman mereka. "Rain, kenapa? Katanya mau istirahat? Pengen sesuatu?" tanya Tasya pada sahabat sekal

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   125. PPPN

    Tuk, tuk, tuk! "Astaga... siapa sih yang dateng?" Buru-buru Satria menarik dan memakai kembali celananya yang sudah melorot sampai ke paha. "[Sayang, kenapa?]" tanya Rain yang menampilkan tubuh telanjangnya di seberang panggilan video tersebut. "Ada yang ngetuk pintu, Sayang. Mute bentar, terus tutupin badan kamu!" kata Satria, meminta Rain untuk menonaktifkan suara panggilkan itu dan juga menyelimuti tubuhnya. Mendengar perkataan Satria, mengerucut bibir Rain. Menyebalkan, padahal lubang miliknya sudah mulai basah dan becek. Namun, wanita hamil itu tetap menurut pada Satria. Ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang telanjang bulat. Sedangkan Satria, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Berusaha menahan gejolak hasrat yang membuat napasnya memburu serta batangan di balik celana boxer itu mengeras dan menonjol. Tuk, tuk! Dengan langkahnya yang malas, Satria melangkah menuju pintu dan membukanya, melihat siapa yang mengganggunya. Begitu pintu terbuka,

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   124. PPPN

    Jam menunjukkan pada pukul tujuh malam, Rain yang saat ini berada di kediaman utama, tepatnya rumah peninggalan mendiang orang tuanya itu tampak berbaring di atas ranjang king size kamarnya. Wanita yang saat ini sedang hamil muda itu memegangi ponsel yang layarnya menyala di tangannya. Layar terang benda pipih itu menunjukkan nomer Satria. "Kemana sih? Kok di telepon jam segini gak diangkat. Apa iya dia udah tidur?" gerutu Rain dengan bibirnya yang maju-maju. Beberapa hari tak melihat wajah Satria, rasanya begitu rindu pada sosok pemuda pemuas hasratnya itu. "Jangan-jangan dia lagi sama cewek lain sekarang makanya teleponku gak di angkat?" Pikiran-pikiran buruk itu mulai menyerang otak Rain. Ia berpikiran negatif pada Satria yang baru beberapa jam tak merespon chatnya. Beberapa saat kemudian, ponsel di yang ada di dalam genggaman tangannya berdering nyaring, menampilkan panggilan dari Satria.Bibir Rain seketika tersenyum. Dengan cepat ia menggeser tombol hijau yang ada di layar

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   123. PPPN

    "Sa-sa-satria, ka-ka-kamu...." Satria yang mencengkram lengan adiknya, menatap ke arah wanita berpakaian kurang bahan yang menyebutkan namanya dengan kalimat tergagap. Wanita itu adalah Nabila, gadis yang beberapa waktu lalu bertemu dengan Satria di toko buku. Dan, gadis itu juga yang membuat Satria tak jadi mencari buku yang dibutuhkannya untuk bekal kembali kuliah. "Sa-sa-satria, di-di-dia si—" "Dia adik saya," jawab Satria. Memotong cepat kalimat Nabila sebelum sempat di selesaikan. Mendengar jawaban Satria, gadis bermulut bau itu meneguk ludah dengan kasar. Jika tahu remaja dekil itu adalah adik dari Satria, mana mungkin ia akan bersikap kasar dan memakinya."Be-be-beneran dia adik kamu?" tanya Nabila, menunjuk Atika yang nyaris menangis di samping Satria. Satria mengangguk, lalu menatap wajah adiknya yang memerah. "Kamu dipukul, kenapa?" Atika yang ditanya, menggigit bibir dan menggeleng pelan. Ia menunduk, takut dimarahi oleh abangnya itu. "Tika, Abang tanya sama kamu!

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   122. PPPN

    Keluar dari rumah sakit, Satria benar-benar mengajak ibu dan ketiga adiknya berbelanja ke supermarket."Kalian boleh ambil apa yang kalian mau, asal gak berisik dan gak bikin masalah!" Satria yang mendorong kursi roda Bu Yohana, berbicara pada adik-adiknya yang berjalan di depannya. Mendengar perkataan Satria, ketiga bocah itu tersenyum dan mengangguk dengan kompak. Mereka pun melangkah memasuki supermarket dan berkeliling, memilih makanan dan barang yang mereka inginkan sesuai dengan perkataan abang mereka. "Bang Danu, Ayu mau ice cream, snack dan coklat yang itu!" Ayu yang berjalan di belakang Danu, menunjuk ke dalam lemari pendingin. "Abang juga mau ice cream dan yang itu!" Kedua bocah itu asik memilah dan memilih jajanan yang mereka inginkan. Sedangkan Atika melangkah menuju rak yang berisi barang-barang kosmetik dan kecantikan. Gadis itu mengambil liptin dan juga cream wajah, serta minyak wangi yang harganya terjangkau. Meskipun hidup pas-pasan, ia ingin terlihat cantik se

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   121. PPPN

    Satria yang pergi dari area taman, menyusuri lorong rumah sakit dengan langkahnya yang lebar, menuju ruangan VIP tempat ibunya berada dan ketiga adiknya yang sudah menunggu sejak tadi. Tiba di depan ruangan VIP, Satria mendorong pintunya perlahan dan melangkah masuk. Baru saja melangkah masuk, pemuda gigolo privat itu langsung di sambut oleh pertanyaan adik tertuanya. "Dari mana aja, Bang? Katanya cuman sebentar, kok lama banget?" Atika bertanya sembari menatap Satria yang melangkah mendekat. "Ketemu temen dan bahas kerjaan," kata Satria berdusta. Pemuda itu melangkah mendekati ibunya yang duduk bersandar di atas ranjang pasien, lalu mencium lembut pipinya. Cup! "Ibu kangen gak sama aku?" tanya Satria pada Bu Yohana sambil mendaratkan bokongnya di pinggiran ranjang pasien. Bibir pemuda itu tersenyum kecil, membuat Bu Yohana ikut-ikutan tersenyum. "Kangen dong, Ibu kangen kalian semua dan juga kangen rumah," jawab Bu Yohana. Suaranya yang pelan, kini sudah benar-benar jelas.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status