แชร์

13. PPPN

ผู้เขียน: Callme_Tata
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-04 14:44:34

Di toilet rumah sakit, di sanalah kini Satria berada. Ia menyandarkan punggungnya di tembok, sedangkan kepalanya mendongak, menatap langit-langit toilet tersebut.

"Ssttt, huh...."

Pemuda itu menghisap ujung rokoknya, lalu menghembusnya dengan kasar, hingga membuat asapnya mengepul di udara.

Wajahnya saat terlihat kusut, sedangkan sepasang matanya memerah, menunjukkan jika ia habis menangis.

Beberapa jam lalu, Satria yang dipanggil oleh pihak rumah sakit, diminta untuk menyiapkan biaya perawa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Irsan Tac
Sangat menarik... ...
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   205. PPPN

    "Argh... anakku, tolong anakku. Jangan biarkan dia kenapa-kenapa! Tolong selamatkan Narendra-ku!"Nyonya Laras yang terduduk di lantai, menjerit histeris sambil memegangi kepalanya. Wanita paruh baya itu menangis, meminta tolong agar putranya diselamatkan.Terkejut, Tuan Arya segera merengkuh dan memeluk tubuh istrinya. Ia berusaha menenangkan sang istri yang panik ketakutan."Laras, tenang... jangan panik kayak gini. Anak kita baik-baik aja dan sekarang lagi dalam masa pemulihan," kata Tuan Arya sembari mengusap punggung istrinya yang bergetar."Aku gak mau kehilangan Naren. Anakku gak boleh mati kayak Mas Beni... jangan sampai mereka nyakitin anak kita lagi!" kata Nyonya Laras.Degh!Mendengar perkataan Nyonya Laras yang menyebut nama 'BENI', Tuan Arya semakin terkejut. Dalam hati ia berpikir, apakah kesadaran istrinya sudah membaik dan kembali?"Mas, ada apa? Mbak Laras kenapa?"Pak Anjas dan Bu Karina yang ikut terkejut, memasuki ruangan rawat tersebut. Pasangan suami istri itu me

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   204. PPPN

    Di dalam ruangan VVIP tempat Satria dirawat, Rain duduk di kursi samping ranjang pasien. Dengan setia, wanita hamil itu menemani calon suaminya yang mengalami koma, bahkan tak henti mengajak pemuda itu berbicara, berharap Satria bangun dan merespons perkataannya."Kalau kamu gak kecelakaan, harusnya besok hari pernikahan kita. Tapi sekarang, kamu malah tiduran di sini," ucap Rain. Suaranya pelan dan bergetar, menunjukkan jika ia begitu sedih melihat keadaan calon suaminya.Bibir wanita hamil itu berbicara, sedangkan tangannya bergerak mengusap lembut lengan Satria yang terasa begitu dingin.Wajah pucat Satria yang penuh luka, dibalut perban di bagian kening dan kepala, membuat perasaan Rain terasa begitu sakit. Dalam waktu beberapa bulan terakhir, sudah berapa kali Satria masuk rumah sakit tersebut. Dan kali ini adalah yang terparah."Kamu tahu gak, Sayang? Semalam aku tidurnya gak nyenyak, selalu kepikiran kamu," kata Rain, mengadu jika ia tak dapat beristirahat dengan tenang lantara

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   203. PPPN

    Andrean yang tak sengaja melihat Rain mendatangi rumah sakit di pagi hari tersebut, memutuskan untuk membuntuti lantaran merasa penasaran.Pria itu ingin tahu, siapa orang yang dikunjungi oleh mantan istrinya di pagi buta tersebut."Rain, ngapain lagi dia ke sini? Kemarin pulang malam dan sekarang pagi-pagi banget udah datang lagi ke rumah sakit ini," gumam Andrean yang begitu penasaran.Saking penasarannya, Andrean mengikuti langkah Rain sampai ke depan ruangan VVIP.Melihat Rain berhenti di depan ruangan tersebut dan berbincang-bincang dengan Tuan Arya dan orang tua angkatnya, kening pria itu berkerut."Bukannya orang itu Arya Mandala, pemimpin Mandala Prima Grup. Kenapa bisa deket sama Rain?" kata Andrean yang bersembunyi.Rasa penasaran pria itu semakin meletup-letup. Ia menjadi kepo dengan segala urusan mantan istrinya.Penyesalan karena bercerai dari Rain kini semakin besar dan membuatnya bersikeras ingin memiliki wanita itu lagi."Ada hubungan apa Rain sama Tuan Arya Mandala da

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   202. PPPN

    Pagi-pagi sekali, Rain yang sudah membersihkan diri dan berpakaian rapi, melangkah menuju kamar Tasya. Ia membangunkan sahabat sekaligus saudaranya yang terlelap di balik selimut tebal."Sya, bangun. Anterin aku ke rumah sakit," kata Rain. Tangannya bergerak menarik selimut yang menutupi tubuh Tasya yang agak bulat seperti bola sepak yang agak kempes.Tasya yang benar-benar masih terlelap, menggeliat kecil tanpa membuka matanya sedikit pun. Bahkan, tubuh gadis tua itu semakin meringkuk di atas tempat tidur."Sya, buruan bangun! Atau aku pergi sendiri, biar kamu dimarahin Ayah dan Bunda!"Berulang kali membangunkan Tasya, tetapi wanita itu tak juga membuka mata, hingga Rain menjadi kesal dibuatnya.Di pinggiran tempat tidur tersebut, Rain menghela napas kasar. Lalu kembali menutupi tubuh Tasya yang tidur dengan posisi meringkuk.Setelah itu, ia pun memesan taksi online dan minta diantarkan ke rumah sakit. Menunggu Tasya bangun, yang ada tengah hari baru berangkat."Emang bener-bener si

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   201. PPPN

    "Rain, ngapain malem-malem di sini? Kamu sakit?!"Rain dan Tasya yang berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit, seketika menghentikan langkah mereka dan menatap ke arah sumber suara.Melihat wajah orang yang menyapa dan bertanya padanya, Rain menghela napas pelan dan membuang muka, tak mau melihat orang itu lebih lama.Sedangkan Tasya, seketika mencebikkan bibirnya. Menunjukkan jika ia tak suka dan sangat malas melihat wajah menyebalkan orang tersebut.Andrean yang baru keluar dari ruangan rawat ibunya, tersenyum kecil saat melihat wajah Rain yang dirindukannya beberapa minggu terakhir."Rain, kamu sakit?"Tak dipedulikan oleh Rain dan Tasya, Andrean kembali bertanya sembari melangkah mendekati mantan istrinya tersebut.Namun, baru saja mendekat, Tasya sudah lebih dulu menghalangi. Wanita bertubuh agak pendek itu menarik tubuh Rain, tak membiarkan Andrean mengganggunya."Rain lagi gak enak badan, jadi gak usah deket-deket," kata Tasya dengan mode julid on.Sepasang mata gadis tua i

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   200. PPPN

    "Akhirnya... aku dapet donor darah buat Satria!"Suara heboh Tasya yang katanya menemukan pendonor untuk Satria membuat Pak Anjas, Bu Karina, Rain, dan Bu Yohana langsung menatap ke arahnya.Mereka semua menatap serempak, hingga Tasya yang menyadari jika saat ini berada di rumah sakit langsung menutup mulutnya dan menyengir kuda."Hee, maaf. Aku dapet donor darah buat Satria ini," kata Tasya sambil menunjuk layar ponselnya yang menyala."Kamu serius, Sya? Gak lagi bercanda, kan?" tanya Rain memastikan. Matanya yang memerah dan sembab menatap serius wajah sahabatnya.Ditanya, Tasya yang memang sedang serius dan tidak bercanda itu pun menganggukkan kepalanya dengan cepat."Hmm, aku serius. Ini ada dua bersaudara yang punya golongan darah O negatif dan bersedia donor. Tapi ada syaratnya, mereka minta bayarin semua biaya rumah sakit ibu mereka yang menderita gagal ginjal dan dirawat di Rumah Sakit Sido Mulyo!""Setujui, cepat setujui. Bukan cuma biaya rumah sakit yang akan kulunasi, ibuny

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   72. PPPN

    Malam itu, Satria yang turun dari motornya, segera memasuki gedung apartemen gold dan melangkah menuju lift dengan begitu tergesa-gesa. Pemuda itu menekan tombol lift yang akan membawanya menuju unit apartemennya dan Rain berada. "Semoga aja dia belum pulang kerja." Di dalam lift, Satria be

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   68. PPPN

    Di sebuah kursi, tepatnya di depan meja rias, Rain yang duduk tak hentinya tersenyum. Sepasang matanya menatap pada Satria yang sedang membantunya menyisir rambut melalui cermin di hadapannya. "Kamu kok telaten banget sih? Udah kayak cowok slay yang kerja di salon!" Merasakan bagaimana telaten

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   66. PPPN

    Tuk, tuk, tuk! Siska yang berbaring di kamarnya dan menikmati masa-masa menjadi penganggurannya, menghela napas saat mendengar ketukan pintu kontrakannya yang tiada henti. Tuk, tuk! "Sebentar!" sahut Siska dari dalam kamar. Dengan kesal, wanita mantan karyawan butik Rain itu beranjak dari posis

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   65. PPPN

    "Dari pada kamu mikirin semua uang yang udah aku keluarin, lebih baik pikirin cara buat bikin aku hamil secepatnya!" Kali ini, Rain berbicara dengan santai, bahkan bibirnya tersenyum. Tetapi, kalimatnya justru terdengar seperti peringatan bagi Satria yang duduk di hadapannya. "Dihitung-hitung, s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status