FAZER LOGIN"Masuklah sendiri."Nadine menoleh bingung pada Lingga yang menghentikan mobil di depan lobi apartemen. Saat biasanya mereka langsung menuju parkiran basement. "Pak Lingga bagaimana?" tanya perempuan itu sambil membuka pintu mobil."Aku masih ada urusan. Mungkin baru pulang tengah malam." Nadine menatap langit yang kembali mendung dari kaca samping. Kemudian mencebik kecil begitu menyadari gerimis masih turun.Sepertinya akan hujan lagi. Bukankah Lingga bilang berbahaya menyetir saat kondisi jalanan licin begini? Apa urusan penting yang membuat sang jaksa harus pergi lagi? "Kalau belum bisa pulang, kenapa harus mengantarku dulu?" tanya Nadine tidak enak hati."Hanya sebentar." Lingga merespon singkat.Padahal, mereka jelas berteduh cukup lama di pertengahan jalan tadi. Waktu sang jaksa yang berharga malah disia-siakan untuk mengantar Nadine pulang. Padahal, pria itu bisa istirahat di ruang kerja pribadinya yang jauh lebih nyaman."Kenapa diam saja? Turunlah!" tegur Lingga menyadari
Nadine menggambar acak kaca jendela mobil yang berembun karena hujan. Perempuan itu bersandar suntuk membelakangi kursi kemudi.Mengabaikan Lingga yang sedari tadi juga tidak mengajaknya bicara. Langit sudah tampak mendung sejak pukul empat sore tadi. Gerimis kecil bahkan mulai jatuh begitu tiba waktu pulang kerja. Sehingga sang jaksa buru-buru mengajaknya untuk pulang.Namun, hujan justru menderas saat mereka belum sampai setengah perjalanan. Meski menggunakan mobil, Lingga bahkan tetap memilih menepi di parkiran sebuah minimarket."Kenapa kita tidak langsung pulang saja, Pak?" Setelah lama saling diam, Nadine membuka suara. Meski tetap enggan melihat wajah sang lawan bicara. Tentu saja dia masih belum lupa kejadian malam tadi.Nadine bahkan bisa dibilang cukup gila. Karena dia masih punya nyali untuk tetap tinggal di rumah sang jaksa."Bahaya. Jalannya licin. Jarak pandang juga terbatas." Lingga menjawab datar.Nadine sontak melirik kegiatan pria itu dari ekor mata. Rupanya, sang
"Kita lanjutkan setelah istirahat makan siang." "Baik, Pak!" Ketiga petugas penyidik itu menyahut kompak. Sedangkan sang jaksa yang baru saja mengakhiri diskusi segera bangkit berdiri dan berjalan menuju ruangannya lagi."Pak, saya dan yang lain berencana makan di luar. Apa Anda mau ikut bergabung?" Rion mengajak pria yang sudah nyaris membuka pintu itu sopan.Hingga Lingga sontak menoleh. Dan Nadine sontak mengalihkan pandangan begitu tatap mereka bertemu."Kalian lanjut saja," tolak Lingga singkat."Kenapa tidak ikut, Pak? Kita bisa lanjut diskusi di sana sambil makan." Genta menimpali kelewat inisiatif.Nadine diam-diam melirik pria itu sinis. Bukankah dia bilang tidak bisa mencerna makanannya dengan benar jika berada di dekat atasan galak mereka? Kenapa sekarang Genta malah seolah memaksa Lingga untuk ikut?"Tidak perlu. Pergilah bertiga." Untungnya, sang jaksa tetap menolak.Namun, lagi-lagi pria itu menatap Nadine. Kali ini cukup lama."Nadine, makanlah dengan tenang." Setelah
"Jangan bergerak."Nadine menunduk menatap Lingga yang kini berjongkok di depan kakinya. Pria itu memungut pecahan gelas yang tadi dijatuhkan Nadine.Namun, mengabaikan perintah sang jaksa, perempuan itu segera bergerak mundur. Hingga telapak telanjangnya tanpa sengaja menginjak serpihan gelas yang berserakan."Akhh ...."Perempuan itu mengerang sakit sambil mengangkat sebelah kaki. Lingga hanya mendongak memandangi perempuan itu dengan helaan pelan."Aku tahu ini bukan di kantor, tapi apa susah sekali mematuhi ucapanku?" tanya sang jaksa sambil bangkit berdiri.Meminggirkan sejenak pecahan gelas yang berhasil ia kumpulkan, pria itu kemudian mendekati Nadine. Dan perempuan itu serta-merta memekik terkejut begitu Lingga membopong tubuhnya. "Tunggu di sini!" peringat sang jaksa setelah menunkan Nadine di sofa.Kali ini, Nadine mengangguk patuh. Ia memandangi Lingga yang menuju laci di bawah TV kemudian mengeluarkan sebuah kotak P3K. Setelahnya, sang jaksa kembali duduk di sampingnya."
"Apa dia tidak pulang malam ini?" Nadine menyandarkan dagu di antara lipatan lengan dan lutut. Perempuan itu menatap suntuk televisi yang menyala ribut nan terang. Hingga ruang tengah unit apartemen sang jaksa menjadi temaram.Nadine sudah mengganti pakaian. Perempuan itu bahkan sudah mandi selepas Lingga tiba-tiba pergi dari kamarnya. Tubuhnya sudah segar dan bersih dalam balutan gaun tidur satin bertali tipis.Namun, rasanya ada yang belum tuntas.Padahal, dadanya sudah luar biasa membaik setelah dibantu Lingga. Rasanya, sang jaksa seolah menghisap habis cairan ASI-nya. Hingga Nadine tidak lagi merasa ngilu apalagi nyeri.Masalahnya ... ada reaksi lain di tubuhnya yang mati-matian ia sangkal. "Sialan ... kenapa aku jadi begini...?" Nadine merutuk pelan sambil menggigit kuku jemari. Fokusnya tidak lagi ada pada film laga menegangkan di layar. Atau mungkin ... sejak awal ia memang tidak pernah fokus pada tontonannya.Ada yang lebih tegang di balik kain satin merah mudanya. Dan jema
"Pak, lampunya belum dimatikan ...."Nadine menegur gelagapan begitu jemari besar Lingga merambat menuju punggungnya. Pria itu melepas pengait bra di belakang sana dengan cekatan.Hingga dalam sekejap, tubuh atasnya berakhir telanjang."Tidak perlu." Dan respon singkat Lingga membuat mulut perempuan itu terkatup sempurna.Ia tidak lagi berani membantah. Apalagi menyadari ekspresi sang jaksa yang tampak berbeda dari biasanya. Pria itu seolah bisa memakannya jika kali ini Nadine berbuat salah. Rupanya, imajinasi liar perempuan itu pun tidak salah juga.Bibir semi tebal pria itu kini sudah melahap dada kanan Nadine. Lalu, acapkali ia mendesis karena nyeri dan belum terbiasa, bibir sang jaksa langsung berpindah menuju sela dada dan ceruk lehernya."Hnghh---"Menjilat dan menghisap di sana. Begitu liar dan asal. Hingga Nadine bisa merasakan jejak basah dari saliva Lingga yang tertinggal di sepanjang sela dada hingga telinga. Kenapa malam ini sang jaksa bertindak begitu berani? Bahkan ta







