LOGIN"Tolong, aku butuh uang sekarang untuk operasi ayahku. Haruskah aku menambahkan jadwal kerjaku menjadi asistenmu?" Vanesha harap-harap cemas menanti balasan Radit, aktor yang ditanganinya dan terkenal arogan. Namun siapa sangka pria tampan itu mengangguk? "Baiklah. Tapi sebagai gantinya, kau harus menjadi 'asisten' penurut padaku, termasuk di ranjang." Deg! Apakah Vanesha akan menerimanya?
View MoreA R I A N A
I sat in the doctor’s office, my fingers tapping nervously against my thigh. The room was too quiet, too cold and I was tensed. The white walls and the smell of antiseptic made my stomach twist. I had been here for what felt like hours, waiting for Dr. Bennett to come back with my results. What if something’s wrong with me? I’ve been feeling off lately, lots of morning sickness and fatigue, it was becoming disturbing. So I finally decided to go for a check up. The door creaked open, and Dr. Bennett walked in, a small smile on her face. My heart pounded so loud I was sure she could hear it. "Ariana," she said, sitting across from me. "Your results are in." I held my breath. "You’re pregnant." The words hit me like a wave. Pregnant. I’m pregnant ? A baby. Angelo’s and my baby finally after years of trying finally I was going to have a baby? My hands flew to my stomach, tears burning my eyes. "Really?" My voice was barely a whisper. Dr. Bennett nodded. "Yes. About six weeks along. Everything looks perfect." I couldn’t stop smiling as a tear rolled down my eyes. A baby. After all this time, after all the months of hoping, it was finally happening. Angelo was going to be a father. I can only imagine how happy he’d be, just as much as I was, if anything he was going to be happier. “Thank you very much” I appreciated getting up. I marched outside the hospital letting out a breath I didn’t know I was holding. Angelo had been… distant lately. Ever since he got that promotion at work, he’d been buried in files, late-night meetings, and stress. He barely had time for me anymore and it was disturbing even though I was the reason behind his promotion but it hurt that I didn’t get all his attention like I use to. But maybe, just maybe a baby would bring him back to me… to us. Tonight was our four-year anniversary. I had planned everything perfectly. Dinner at La Rosa, the most exclusive restaurant in the city. The one my parents owned. The one where I would finally tell Angelo the truth. The truth I had been hiding for years. I wasn’t just Ariana Lopez, the simple girl he fell in love with in college. I was Ariana Melendez. The heiress to the Melendez fortune. My family owned half the city hotels, restaurants, even a few tech companies. But I had hidden it all because I wanted Angelo to love me for me, not for my last name or my money. But now… now it was time. I would tell Angelo two life-changing things: 1. We were having a baby. 2. I was a Melendez. I just prayed he wouldn’t hate me for lying. I really do. My phone ringing snaps me out of my train of thoughts. I slipped it out from my purse the name on the screen flashing to my eyes. It was Bella my best friend. “Hey! Where have you been, I’ve been trying to reach you…” I cut her off before she would begin ranting, “I’m Pregnant” I annouced palming my mouth. She paused. For about a minute before yelling, “What! What did you say?” I nodded as though she could see me with tears in my eyes. “Yes! I’m going to have a baby… Angelo and I are finally going to be parents” I add. “WOW! Congratulations… I’m so happy for you, oh my god I’m going to be a godmother” she yelled in excitement. “Alright Bella I’ll call you later, okay? I have something to attend to” I say as the restaurant I reserved came through. They called to confirm the dishes they’d be preparing and after that I headed home to go get ready. — I stood in front of the mirror in the entrance of the restaurant smoothing down my red dress. It hugged my curves perfectly, the fabric soft against my skin, my dark hair fell in loose waves down my back, and my makeup was light but glowing. Perfect. The table at La Rosa was reserved. I have the chef strict instructions, Angelo’s favorite dishes, the most expensive wine. And at the end of the night, when the moment was right, I would hand him a small box. Inside? A onesie that said "Hello, Daddy." And then… then I would tell him everything. My phone buzzed. A text from Angelo. "Running late. Work stuff. Be there soon." I sighed. Of course. Lately, it was always work. But tonight, I wouldn’t let anything ruin this. I let out a breath heading to the table. “Mrs Melendez would you like anything?” The waiter asked with a polite smile. I shake my head checking the tin, it’s been an hour now and Angelo is still not here, I’ve been trying his line but it’s unreachable, I’ve sent him countless of text asking where he was but no response. I was starting to get worried… was he okay? Did something happen? Letting out a breath I reached for my phone deciding to call Marcus my personal assistant to ask if Angelo had left the office. “Hello?” “Yes boss?” “Has Angelo left the office?” I asked concerning irking up. “Yes, he left by 5pm” he answered. My heart dropped. Angelo left that early and he told me he was working and would be running late? Why would he lie to me? Something was definitely wrong. “Are you sure?” I asked my brows furrowing. “Yes Mrs Melendez… I saw him sign out” he affirmed. “Okay thank you very much.” I say before cutting the call. I looked at the time and it was already 11pm and Angelo was still not here. Tears accumalted at the brim of my eyes every piece of my heart broken, he ruined the night I gave my all to plan. Angelo better have a good reason for ruining our anniversary dinnerSudah dua minggu sejak Raditya mengutarakan perasaannya pada Vanesha, dan masih tidak berubah pikiran. Malahan, dia semakin manja dan bergantung pada Vanesha, setiap menit.“Permisi, dengan nona Vanesha?” seorang kurir menghampiri Vanesha yang sedang menunggu Raditya syuting.“I-iya? Itu aku?”“Ini, pesanan makanannya. Semuanya sudah dibayar, tinggal diterima saja.”“Oh iya, terima kasih Pak.” Setelah menerima pesanan yang ternyata isinya makanan, Vanesha melihat Raditya. Pria itu, melambaikan tangan dan tersenyum padanya.Karena disuruh untuk istirahat, Raditya datang dan menghampiri Vanesha, duduk disampingnya, dan menyandarkan kepala dibahunya, “Hah…”“Tuan, makanan ini, apa anda mau langsung memakannya?”“Sudah aku bilang jangan panggil aku ‘Tuan’. Aku kan sudah melarangmu.”“Mana bisa saya melakukan itu. Namanya tidak sopan.”“Kan aku yang suruh. Pokoknya, aku akan marah kalau kau melakukan itu lagi.”“Tapi-“Makanannya sudah datang kan? Tapi, kenapa tidak kau makan? Sampai sudah
Keadaan Sulastri sudah semakin membaik. Dia sekarang berbaring diranjangnya, dan Radtiya juga Vanesha masih disana untuk menjaganya. Raditya mulai bisa menyentuh dan dekat dengan ibunya, padahal sebelumnya belum pernah bisa berdiri dengan jarak yang dekat.Karena ibunya sudah tenang dan tidur, Dokter Ivan mengajak mereka berdua untuk pergi dan membiarkan Sulastri beristirahat sendiri.“Saya terkejut, karena hari ini, nyonya Sulastri lebih ramah dari sebelumnya. Walau sempat tadi dia mengamuk dengan pak Surya. Tapi saya tidak menyangka dia akan luluh dengan anda.” Kata dokter Ivan memberi pujian.“Tentu saja dok. Namanya juga hubungan ibu dan anak, darah itu pasti mengalir dan saling mengenal.” Kata Vanesha.“Sayang sekali, pak Surya sudah pergi karena katanya ada urusan yang harus dia kerjakan.”“Aku tidak perduli!”“Tuan..” Vanesha menegurnya pelan.“Kalau begitu, saya akan meninggalkan kalian dulu, permisi ya.”Sekarang hanya tinggal Vanesha dan Raditya.“Tuan, anda juga harus dioba
Beberapa hari kemudian. Surya merindukan mantan isterinya, Sulastri. Dia pun berniat untuk pergi lagi ke rumah sakit jiwa, padahal sebelumnya dia sudah menemui Sulastri walau mantan isterinya tidak mengetahuinya.“Dimana dokter Ivan?” tanya Surya pada rekan dokter Ivan karena dia tidak menemukan dokter yang biasanya mengurus Sulastri.“Dokter Ivan sedang mengantarkan dua orang untuk menemui pasien.”“Apa? Dua orang? Siapa mereka?”“Maaf Pak, saya tidak tahu. Hanya itu saja pesan dari dokter Ivan.”“Ya sudah, terima kasih.” Tapi, Surya sendiri yang akan pergi menemui Sulastri, juga dia tahu dimana tempatnya.Tap!Langkah kakinya berhenti ketika dekat dengan Sulastri, dan dua orang yang dia kenal, “Raditya?” dia memanggil nama puteranya.“Pak Surya?” tapi Vanesha yang merespon Surya, sedangkan Raditya hanya melihatnya saja.Surya mendekati mereka, disana juga ada dokter Ivan.“Apa yang kau lakukan di sini, Radit?”“Kau sendiri? Kenapa kau datang ke sini?” pertanyaan ketus dari Raditya.
“Mmm… Tuan, apa yang kita lakukan di dapur ini?” Vanesa curiga.‘Apa sebentar lagi dia akan mencumbuku di sini? Selera yang aneh. Tapi… ah, biarkan sajalah. Yang penting hutangku berkurang dan dia tidak marah-marah.’“Buatkan nasi goreng untukku.”“Ya saya akan melakukan selera aneh anda…. Eh? Ma-maksudnya…. Nasi goreng?”‘Maksudnya gaya ‘Nasi goreng’ kah? Ba-bagaimana gaya itu ya?’Cetak!“Auuchh…” Vanesha memegang keningnya yang dijentik pelan oleh Raditya.“Apa yang kau pikirkan? Aku bilang, buatkan aku nasi goreng. Kau sudah banyak makan kan? Apa kau pikir aku tidak lapar?” Raditya berpangku tangan menunggu pergerakan Vanesha.“Nasi goreng… beneran nasi goreng kan? Beras yang sudah jadi nasi, lalu di goreng di penggorengan pakai garam-“Iya! Bawel banget sih. Cepat buatkan aku nasi goreng, dan harus enak. Telurnya dua, yang di mata sapi kan satu, lalu yang di orak-orek satu. Pedasnya sedang, dan jangan terlalu banyak minyak dan garamnya.”Vanesha masih bingung, “Dengar gak?” tanya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.