ログインAmanda bertemu dengan Steve di sebuah pesta ulang tahun mantan temannya. Sebuah kesalahan baginya karena membiarkan kesadarannya hilang hingga tanpa sadar telah mencium sembarang pria. Sayangnya, Steve bukan sembarang pria. Dia pewaris sebuah perusahaan besar dengan aset kekayaan berlimpah. Dalam semalam, statusnya berubah dari pria yang hampir menikah menjadi pria brengsek yang berselingkuh. Dan itu semua hanya karena seorang wanita asing yang sialannya menarik. Tentu saja, pria itu tidak akan membiarkan siapapun yang mengganggunya bebas begitu saja. Itu pasti.
もっと見る"Layla! Bangun Nak!" Suara itu terdengar tergesa, membelah sunyi malam yang belum sepenuhnya pergi. Tirai kamar masih bergoyang pelan diterpa angin dingin dari luar, ketika sosok wanita masuk dengan napas terengah.
"Enghh? Ibu?" Dengan setengah tersadar, Layla mulai bangun dari posisi tidurnya. Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajahnya. Ia menatap sang ibu yang tampak gelisah dan terengah-engah, napasnya tidak beraturan seperti baru saja berlari jauh. "Ibu ada apa? Kenapa ibu terlihat panik?" "Ssst! Kamu jangan banyak tanya dulu!" potong sang ibu cepat, suaranya bergetar namun tegas. Tangannya langsung meraih pergelangan Layla, lalu menariknya turun dari tempat tidur tanpa memberi waktu untuk berpikir. "Yang penting sekarang, kita harus kabur dari sini?" "Kabur?" Alis Layla berkerut dalam kebingungan. Kakinya hampir terseret saat mengikuti langkah ibunya yang terburu-buru. "Kenapa, Bu? Apa ada hal buruk terjadi?" "Ibu tidak bisa menjelaskan secara detail ke padamu, Layla." Suara itu terdengar lebih pelan, tapi jelas dipenuhi tekanan. Ia terus berjalan cepat menyusuri lorong rumah yang gelap. "Tapi intinya, ayahmu sudah tertangkap oleh prajurit Kesultanan, dan mereka juga akan menangkap kita kalau kita tidak segera kabur." "Apa?!" Layla membelalak, jantungnya seolah luruh setelah mendengar jawaban itu. Ia bahkan hampir tersandung kakinya sendiri saat dipaksa berlari. "Kenapa ayah bisa ditangkap, Bu? Apa yang Ayah lakukan?" Sang ibu berhenti tepat ketika mereka akan mencapai pintu belakang. Tangannya masih menggenggam erat tangan Layla. Ia menoleh perlahan, menatap putrinya dengan sorot mata yang sulit dijelaskan—antara takut, sedih, dan putus asa. "Ayahmu tidak bersalah." "Lalu kenapa dia ditangkap? Dan kenapa kita juga harus kabur?" "Ayahmu dituduh menggelapkan dana Kesultanan. Dan sesuai hukum istana semua keluarga si pelaku harus dihukum." Suasana seketika menjadi hening. Layla terpekur diam. Kata-kata itu menggantung di kepalanya, berulang-ulang, tapi sulit diterima. Seolah otaknya menolak untuk percaya pada kenyataan yang baru saja dijatuhkan begitu saja. "Ayo!" Sang ibu kembali menariknya, lebih kuat dari sebelumnya. Tubuh Layla hampir terhuyung ke depan. "Lalu kita mau ke mana sekarang?" Ia bertanya lagi. "Kabur. Sejauh mungkin dari para tentara." Sang ibu menjawab sekenanya. "Lalu ayah?" "Anggap saja ayahmu sudah tewas sekarang." Mendengar jawaban sang ibu, tentu saja membuat Layla refleks menghentikan langkahnya. Ia menarik paksa pergelangan tangannya hingga ibunya terkejut dan langsung berbalik menatapnya. "Ada apa Layla?" "Bu, kita harus kembali." "Kembali?" Sang ibu menatapnya tak percaya. "Apa kau ingin mati?" "Lalu apa ibu tega membiarkan ayah meninggal karena kesalahan yang bahkan tidak ia lakukan?" Suara Layla terdengar bergetar—bukan karena takut, tapi karena emosi yang mulai meluap. Sang ibu seketika menggigit bibir bawahnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Namun sejurus kemudian, ia memaksakan diri untuk tetap tegar. "Kita tidak punya bukti Layla. Mereka tidak akan mendengarkan kita. Kita ini—hanya orang biasa!" "Tapi dengan kabur seperti ini sama saja kita mengakui kesalahan yang tidak pernah kita lakukan!" "Layla!" Nada suara sang ibu mulai meninggi, penuh tekanan dan keputusasaan. "Kau masih terlalu muda untuk paham situasinya. Jadi—" "Memang aku tidak paham situasinya," potong Layla cepat, matanya mulai memerah. "Tapi aku tidak bisa kabur seperti ini dan meninggalkan ayah." "Layla, tolong dengarkan ibu! Ayahmu sudah pasti tidak akan selamat. Jadi kembali ke area desa juga percuma." "Aku yakin ayah masih hidup!" "Layla—" panggil ibunya lagi, kali ini dengan suara yang hampir pecah. Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. "Tolong dengarkan ibu, Layla! Ini demi kebaikanmu." "Hidup sebagai pelarian menurut ibu adalah hal yang baik?" balasnya keras kepala. Suaranya meninggi, penuh luka yang belum sempat dipahami. "Lebih baik aku mati dengan keadaan terhormat dan berpegang teguh pada kebenaran daripada harus kabur seperti ini." "LAYLA!" Bentakan keras sang ibu menggema di area hutan yang hanya ada mereka berdua saja. PLAK! Satu tamparan keras menghantam pipi Layla. Suara itu terdengar nyaring di antara desiran angin malam. Tubuh Layla terhuyung sedikit. Pipi kirinya memanas, matanya membelalak, napasnya tercekat. Untuk sesaat, ia benar-benar terdiam. "Berhenti berdebat dengan ibu, Layla!" suara wanita itu bergetar, tangannya masih terangkat, seolah ia sendiri tidak percaya telah melakukannya. Matanya juga tampak berkaca-kaca. "Sekarang kita harus lari dari sini!" "Ibu—aku..." suara Layla melemah. Tangannya perlahan menyentuh pipinya yang terasa perih. "Ibu akan jelaskan semua permasalahannya dengan detail setelah kita benar-benar terbebas dari kejaran tentara." "Lalu ayah bagaimana?" "Layla!!!" Wanita 40 tahunan yang wajahnya hampir mirip dengan Layla itu belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika suara lain lebih dahulu memotong. "BERHENTI DI SANA!" Suara berat dan tegas itu tiba-tiba menggema dari balik pepohonan. Disusul suara derap kaki dan kilatan besi yang memantulkan cahaya bulan. Tentara Kesultanan akhirnya menemukan mereka. "Kalian tidak bisa kabur lagi!"Amanda tidak ingat kapan ia jatuh tertidur. Begitu bangun, suasana kamar yang gelap dan hening menyapa wanita itu. Di luar jendela, bintang bintang berpendar dengan lemah, kalah terang dari lampu jalanan kota yang menyala nyala.Ia turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Di ruang tengah lampu lampu sudah menyala dan ada sepiring nasi goreng yang telah mendingin di atas meja dapur. Sudah pasti ibunya yang melakukan semua itu. Wanita paruh baya itu pasti pulang saat Amanda masih tertidur.From Mama : mama masak nasi, jgn lupa dimakan...Ia membuka pesan dari ibunya yang belum ia notice sama sekali sejak satu jam yang lalu dan membacanya dengan perasaan campur aduk. Amanda lalu mengetikkan balasan dengan cepat. Pesan itu terkirim tak lama kemudian."Hahh.."Amanda menghela napas berat. Ia tahu kalau ibunya sangat menyayangi Amanda dan hanya menginginkan yang terbaik bagi wanita itu. Tapi terkadang cara wanita itu menunjukkan kasih sayang terlalu membebani Amanda sebagai seorang a
"Manda!"Iris menghampiri Amanda yang sedang termenung sendirian dan mengambil tempat duduk di depan sahabatnya. "Sorry lo harus jauh jauh dateng ke sini. Ada masalah apa?"Saat ini mereka tengah berada di sebuah kafe di dekat rumah Iris. Amanda menelpon wanita itu beberapa saat yang lalu untuk memintanya datang, tapi Iris sedang sibuk mengurus anaknya sehingga Amanda memutuskan untuk menghampiri dia."Anak lo gak dibawa?" Amanda bertanya saat melihat Iris datang sendirian.Iris menggeleng. "Lagi ada ibu yang jagain."Amanda seketika menjadi merasa bersalah karena telah mengganggu Iris. Tapi dia tidak punya pilihan lain, ia tidak punya tempat curhat lain yang bisa dia percaya. Semua temannya yang lain hanya sosok yang datang dan pergi di kehidupannya."Ibu lo lagi di sini?""Iya. Dia cuma mampir, bentar lagi juga balik." jawab Iris.Mereka memesan minuman ringan untuk menemani obrolan mereka. Amanda sengaja menunggu Iris sebelum memesan minuman."Sorry, gue malah ganggu." Amanda berka
Steve membawa Amanda masuk ke sebuah restoran kecil di seberang jalan yang tidak begitu ramai pengunjung. Mereka berdua duduk berhadapan di sebuah meja panjang dan menunggu seorang pelayan di sana membawakan menu untuk mereka."Pesan apa aja yang lo mau." Steve berkata.Lelaki itu menatap Amanda yang sedang menyebutkan pesanannya dengan kalem. Dia cukup terkesan dengan betapa cepatnya wanita itu berganti suasana hati. Padahal sedetik yang lalu dia bersikap seolah hendak melemparkan Steve ke jalan raya, tapi sekarang dia duduk tenang di depannya tanpa berkomentar apa-apa."Ngapain lo geleng-geleng?" Amanda bertanya heran."Nggak ada." kata Steve. Rupanya dia tidak sadar telah melamun sejak tadi.Steve mengangkat wajah saat merasakan tatapan Amanda tertuju padanya. Wanita itu menatapnya seolah sedang menunggu ia mengatakan sesuatu.Oh, tentu saja. Steve hampir saja lupa tujuan mereka ke sini."Soal pernikahan," Steve memulai. Dia dapat melihat Amanda sedikit berjengit saat mendengar kat
"Ayo kita menikah,"Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Keheningan terus berlanjut begitu kalimat yang tidak pernah Amanda kira akan menjadi pembuka di antara mereka terlontar begitu mulus dari bibir tipis lelaki itu. Dia sudah melepas maskernya, namun dia tetap memakai topi. Harus Amanda akui lelaki di depannya ini cukup tampan."Lo gila?" adalah respons Amanda terhadap kalimat itu.Steve menggeleng. "Gue serius. Ayo nikah." katanya dengan sungguh-sungguh.Wajah lelaki itu terlalu serius untuk dibilang sedang melucu. Tapi kalimat itu terlalu lucu untuk ditanggapi dengan serius saat ini."Oke." Amanda berkata. "Lo beneran gila ternyata." Awalnya dia pikir telinganya telah salah menangkap maksud lelaki itu, namun ketika ternyata lelaki asing yang Amanda baru temui hari ini (dia tidak ingat apapun soal semalam, jadi baginya dia belum pernah bertemu dengan lelaki itu) hanya lah orang gila banyak gaya.Apa katanya tadi? Menikah?Sebesar apapun keinginan Amanda untuk menikah, dia tidak
Amanda terbangun keesokan harinya dalam keadaan hangover parah. Dia mengerang dan berlari ke dalam kamar mandi yang memang tersambung dengan kamar tidur. "Hoek... "Mulutnya terasa begitu pahit dan tenggorokannya panas terbakar. Bukan hanya itu, sekarang perutnya juga terasa panas melilit seiring
"Please... ""No,""Pleaseeee~""I said n-""Stevan!" Larissa melepaskan diri dari lengan sang tunangan ketika wanita itu tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan. "Cuma semalam, Steve. Ralat cuma beberapa jam aja. Dan kamu bahkan nggak mau kasih itu buat aku?"Lelaki yang dipanggil Steve itu meng
Dua hari berikutnya Amanda menjalani rutinitasnya seperti robot. Dia bangun pagi-pagi sekali, berangkat kerja satu jam lebih awal untuk menghindari Galen. Di kantor dia hanya menghabiskan sepanjang waktu di belakang meja, bersembunyi di balik tumpukan dokumen pekerjaan. Di malam hari, Amanda mendi
"What the hell are you doing?!"Gila. Amanda tidak dapat berkata-kata, otaknya kesulitan mengartikan pemandangan tidak masuk akal di depannya saat ini. "M-manda?"Dua orang lelaki yang ada di atas sofa ruang apartemen itu tersentak saat mendengar teriakan Amanda. Mereka berdua tidak kalah terkeju






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.