LOGINIngatannya terbatas tak lebih dari 5 tahun silam, 4 tahun kemudian menikah dengan sahabat pria. Darinya Helen mendapatkan perlakuan dingin, diabaikan dan dicampakkan bak sudah menjadi makanan sehari-hari. Menginjak dunia bisnis malah bertemu bos cabul yang selalu minta cium. "Boss, aku ini sudah menikah lho." "Masih bica cerai 'kan?"
View More“Jay..” suara Celline lirih, nyaris tenggelam dalam desahan.
Jayden tidak menjawab, hanya menarik pinggang Celline lebih erat. Sentuhan itu membuatnya sekali lagi kehilangan kendali. Waktu seakan berhenti ketika mereka hanyut dalam hasrat yang tak pernah berhasil mereka redam.
Beberapa menit kemudian, keheningan menyelimuti ruangan. Hanya getaran ponsel yang mengalun di sana. Jayden meraih ponselnya yang bergetar di atas nakas. Wajahnya langsung berubah. Nama “Bella” terpampang jelas di layar.
Jayden menghela napas berat. “Aku harus pergi.”
Celline meraih lengannya, matanya berkaca-kaca. “Jangan sekarang. Tinggalah sedikit lebih lama, Jay.”
Jayden menepis pelan tangan itu. “Bella mencariku. Kau tahu aku tidak bisa menolak.”
“Sebenarnya aku ini apa untukmu?” suara Celline pecah. “Kalau aku benar-benar berarti, kenapa kau selalu pergi setiap kali dia memanggilmu?”
Jayden menunduk, tidak berani menatap matanya. “Kau tahu jawabannya. Aku sudah terikat.”
Celline menggigit bibir, mencoba menahan tangis. “Tapi aku juga sudah terlalu jauh jatuh bersamamu”
Tanpa menunggu lebih lama, Jayden bangkit, mengenakan pakaiannya dengan cepat. Aroma parfumnya masih tertinggal di udara ketika ia membuka pintu.
“Jayden!” seru Celline, namun pintu sudah tertutup. Yang tersisa hanya hening.
Celline duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Dadanya terasa sesak. Kalau saja ia tidak begitu mencintai Jayden, mungkin ia tidak akan menderita separah ini.
“Andai aku punya sosok ayah…” gumamnya pelan. “Mungkin aku tidak akan sebodoh ini. tidak akan segampang itu menerima cinta semu dari seorang pria.”
Kenangan dua tahun lalu perlahan menyeruak ke benaknya.
Saat itu Celline bertemu Jayden Carter di sebuah acara amal kampus—pertemuan singkat yang berubah jadi hubungan terlarang penuh rayuan manis. Tanpa ia sadari, Jayden sudah bertunangan dengan wanita lain, sementara Celline makin larut dalam pesona dan pelukan pria itu. Hingga suatu hari, kenyataan pahit terbuka—Jayden ternyata sudah bertunangan dengan wanita lain. Dunia Celline runtuh. Ia mencoba berkali-kali mengakhiri hubungan terlarang itu, namun setiap kali ia ingin pergi, Jayden selalu tahu cara membujuknya kembali. Pertengkaran yang seharusnya menjadi akhir, justru berkali-kali berubah menjadi malam panas penuh pelukan dan ciuman. Dan sejak itu, Celline terjebak semakin dalam, antara logika yang ingin bebas dan hati yang tak sanggup melepaskan.
Kini, di kamar yang sepi, Celline menggenggam selimut erat-erat.
Air matanya jatuh, menyatu dengan kusutnya seprai, saksi bisu cintanya yang terlarang.
Keesokan harinya semua berjalan seperti biasa. Jam dinding kantor menunjuk pukul sebelas siang. Celline masih duduk di balik meja kerjanya, menatap layar komputer yang sudah buram di mata. Kelopak matanya berat, perutnya terasa mual, dan kepalanya berdenyut.
“Cell, kamu tidak apa-apa?” suara Rachel, sahabat sekaligus rekan kerjanya, terdengar khawatir.
Celline buru-buru menegakkan tubuh. “Aku baik-baik aja. Hanya kelelahan, mungkin.”
Rachel mengernyit. “Dari tadi pagi wajahmu pucat. Bagaimana jika pulang lebih awal saja?”
“Tidak, aku tahan. Lagi pula pekerjaanku masih menumpuk.” Celline memaksakan senyum.
Tapi sampai sore, rasa tak enak badan itu semakin parah. Begitu jam kerja selesai, Celline langsung bergegas keluar kantor, menolak ajakan Rachel untuk makan malam bareng. Ia hanya butuh satu hal: kepastian.
Klinik kecil di ujung jalan sepi malam itu. Celline duduk di kursi tunggu dengan tangan yang terus bergerak gelisah. Dokter yang memeriksanya menatap hasil test pack dengan ekspresi serius.
“Selamat, Miss Celline,” kata dokter dengan suara tenang. “Anda positif hamil. Usia kandungan sekitar lima minggu.”
Seolah seluruh udara di ruangan itu lenyap. Celline membeku, jari-jarinya mencengkeram tasnya erat. “H-hamil?” suaranya nyaris tak terdengar.
Dokter mengangguk. “Iya. Kalau ada keluhan, segera kontrol lagi. Saya tulis resep vitamin ya.”
Celline hanya mengangguk kaku, keluar dari ruang pemeriksaan dengan langkah yang berat.
Di luar klinik, ia duduk di kursi kayu di pinggir trotoar. Malam semakin larut, lampu jalan berpendar redup, dan lalu-lalang mobil seakan jadi latar dari kekalutannya.
Ponselnya sudah ada di tangan sejak tadi. Jempolnya berulang kali membuka kontak Jayden.
“Harusnya aku bilang… dia ayah dari anak ini,” bisiknya pada diri sendiri.
Tapi suara lain di dalam hati langsung memotong: Apa gunanya? Hubungan kalian aja udah salah sejak awal. Dia tunangan orang. Dan sekarang… kamu hamil.
Celline menghela napas panjang. Matanya memanas. “Kenapa semua harus serumit ini?”
Ia memutuskan untuk pulang. Tapi langkahnya terhenti saat melewati sebuah restoran mewah. Dari jendela kaca, matanya menangkap sosok yang begitu ia kenal. Jayden. Duduk berhadapan dengan Bella.
Mereka tampak tertawa, wajah Jayden bersinar dengan ekspresi bahagia yang tak pernah ia lihat ketika bersamanya. Tangannya meraih jemari Bella seakan dunia hanya milik mereka berdua.
Celline tercekat. Dadanya terasa sesak. “Sampai kapan aku harus hidup seperti ini? Jadi bayangan, jadi orang ketiga yang tidak punya hak apapun.”
Ia memegangi perutnya yang masih rata. “Sekarang ada kehidupan lain di dalam sini, tapi aku bahkan tidak berani minta pertanggungjawaban. Status sosial kita berbeda jauh. Dan dia… dia tunangan Wanita lain. Ironisnya. Aku sudah terjebak terlalu dalam”
Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Celline berbalik cepat, takut Jayden atau Bella melihatnya, lalu berlari menjauh dari tempat itu.
Di apartemennya, Celline duduk meringkuk di tepi ranjang. Lampu kamar tak ia nyalakan, hanya cahaya lampu jalan yang masuk dari balik tirai. Pikirannya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk.
“Kalau aku lahirin anak ini apa yang akan orang bilang? Bagaimana kalau Bella tahu? Bagaimana kalau media tahu? Bagaimana orang-orang akan menghakimiku?” Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
Di sela tangisnya, ia teringat ucapan team leader-nya beberapa minggu lalu.
“Cell, kamu punya potensi. Aku udah rekomendasiin namamu ke perusahaan induk di Milan. Mereka butuh staf administrasi yang disiplin dan cepat tanggap kayak kamu. Kalau mau, kamu bisa pindah ke sana dalam beberapa bulan ke depan.”
Saat itu Celline hanya menunda jawaban. Tapi kini, dalam keterpurukannya, kata-kata itu terasa seperti jalan keluar.
Tangannya meraih ponsel. Dengan sisa keberanian yang ia punya, ia mengetik nomor team leader-nya.
“Hallo, Celline?” suara di seberang terdengar ramah.
“Mr. Johnson, tentang tawaran kemarin… saya terima. Saya siap dipindahkan.”
Ada jeda sejenak sebelum suara itu menjawab, “Baik. Aku akan urus semua prosesnya.”
Esok hari di kamar Helen, Ken dan yang lainnya datang pagi-pagi sekali untuk membahas rencana lebih lanjutnya, dan untungnya team susulan sudah datang tepat waktu yang terdiri dari Dio, Alice, Yohan dan Mike. Mereka duduk lesehan diatas karpet dengan posisi melingkar untuk mendiskusikan rencananya."Dengarkan, hanya aku yang memiliki kartu undangan disini dan sesuai aturan bahwa aku bisa pergi dengan seorang pendamping wanita nanti. Tapi rencanaku adalah, Erwin akan pergi menggantikanku dengan Helen sebagai pendamping wanitanya," ucap Ken."A-apa? Kenapa aku?" kaget Erwin, yang lainnya hanya mengangguk-anggukan kepala mereka tanda setuju sedangkan Helen nampaknya masih linglung."Kau dan aku seperti saudara kembar, tidak ada yang mengenali apakah itu aku atau kau. Biar aku jelaskan, mereka mengetahui bahwa Jackly juga mengundangku di acara itu dan mereka pasti tidak akan tinggal diam. Mereka akan mengira kau sebagai aku dan perhatian mereka akan selalu tertuju p
Rumah Davin.Malam hari seseorang menekan bel pintu rumah Davin, Davin yang tengah terduduk di ruang tengah nampaknya memang sedang menunggu seseorang itu datang. Segera setelah itu dia pun beranjak dan membukakan pintu.Disana berdiri Annie dengan dress cantik, dia menghampiri dan langsung memeluk Davin. "Selamat malam, Davin," ucapnya. Davin terdiam, Annie kemudian mendekatkan wajahnya hendak mencium Davin namun Davin menghindar."Bukankah Helen tidak dirumah?" tanya Annie.Davin melepaskan tangan Annie yang tengah bertengger di lehernya. "Aku memintamu datang karna ada urusan kantor," ucap Davin seraya masuk ke dalam rumah."Aku tahu, tapi bukankah ini sudah terlalu lama? Kau juga baru kembali, 'kan." Annie kembali memeluk Davin dari belakang."Annie jaga sikapmu, ada orang lain dirumah ini," peringat Davin dengan nada datar, dia kembali melepaskan tangan Annie dan mereka pergi ke ruang kerja untuk membahas pekerjaan.Seperti perus
Beberapa hari kemudian, Helen akhirnya mendapatkan ijin dari Davin. Meski begitu, malam itu tidak ada hal lain yang terjadi diantara mereka. Lebih cepat lebih baik, siang nanti mereka sudah akan pergi ke negara S.Ken, Erwin dan Helen pergi ke bandara diantar oleh beberapa pekerja lainnya, mereka menaruh harapan besar pada mereka bertiga. Untuk pertama kalinya juga Helen akan pergi ke luar negeri."Suaminya memberikannya ijin untuk pergi, Davin mungkin bersikap abai pada Helen tapi jika menyangkut reputasinya dia tidak akan dengan mudah memberikan ijin pada Helen untuk pergi bersama pria lain. Itu berarti mungkinkah ...." Segera Ken menoleh ke arah Helen. Hah?" kaget Ken, dia menghentikan langkahnya.Erwin dan Helen terheran, namun Ken kemudian memegang tangan Helen dan memutar badan Helen seperti sedang memeriksa sesuatu, "Helen apakah dia menyentuhmu?" tanya Ken membuat mereka terkejut."A-apa yang kau katakan.""Katakan padaku apa dia menyentuhm
Esoknya, di kantor.Jam kerja sudah masuk 5 menit lebih namun Helen belum juga sampai di ruangan, hal itu membuat Ken kesal. Ken terus menghubungi nomor Helen namun Helen tidak mengangkat telponnya. "Wanita ini sudah berani kah?" kesalnya menggenggam erat ponselnya.Brak!Tetiba pintu terbanting dan berdiri Helen disana dengan napas terengah. "Maaf aku terlambat," ucap Helen kemudian menutup pintu lalu berjalan menuju meja kerjanya."Bonus minum 5 juta karna telat, minum 5 juta sudah membanting pintu ruangan Derektur," ucap Ken."Ya, terserah bos saja," balasnya acuh tak acuh. Ken tidak tahu apa yang terjadi pada Helen pagi itu. Biasanya jika menyangkut uang Helen akan heboh sendiri, namun kali ini dia terlihat tak acuh.Ada yang Helen lupakan, Ken berdiri dan beranjak dari tempat duduknya untuk menagih kopi paginya. Suara langkah kaki terdengar sangat jelas, namun Helen tidak menghiraukan hal itu.Brak!Ken menggeb
Malam hari, Davin turun kelantai bawah untuk menyantap makan malam. Setibanya dia tidak melihat Helen disana kemudian dia meminta menghampiri bibi dan berkata, "Panggil Nona untuk makan malam," perintahnya.Alih-alih menjalankan perintah Davin, bibi malah diam dengan raut wajah ragu sepert
"Tuan sudah pulang?" tanya bibi sesaat setelah Davin tiba dirumah siang itu. Davin tidak banyak bicara dan melangkah pergi ke lantai atas menuju kamarnya. Bibi terus menatap Davin seperti ada yang ingin dia katakan padanya, "Tuan ... Semalam Nona Helen menunggu Tuan pulang," ucap bibi.Dav
"Kau! Siapa kau?" Tanya Helen pada pria asing di depannya itu."Perkenalkan, saya Erwin Bryan, wakil Direktur RB group. Senang bertemu dengan Nona Helen, kami mendengar bahwa Uni Mada menugaskan magang bagi mahasiswanya sebagai gambaran dan percobaan bergelut di bidang perkantoran. Anda me
"Helen Aurora, mahasiswa Universitas Mada, anak bungsu dari pasangan Herles dan Ami. Apa hanya informasi seperti ini saja?" Tanya Ken dengan nada sedikit kesal dan melemparkan lembar berkas itu ke atas meja."T-tuan, saya mendapat informasi dari sebuah rumah sakit yang mengatakan bahwa dia






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.