Home / Romansa / Pesona Ayah Tiri / Hinaan Saudara Tiri

Share

Pesona Ayah Tiri
Pesona Ayah Tiri
Author: Erumanstory

Hinaan Saudara Tiri

Author: Erumanstory
last update publish date: 2026-10-22 15:11:41

Brak!

Sebuah tas mahal dijatuhkan dengan kasar ke atas meja tepat di samping laptop Mentari, membuat gelas es teh manisnya bergoyang hampir tumpah.

Mentari yang sedang duduk sendirian di meja di kantin itu tersentak. Ia mendongak dan langsung berhadapan dengan tatapan sinis Natasha.

"Pindah," kata Natasha singkat, nada suaranya sangat dingin dan penuh perintah. "Ini meja tempat biasa aku dan teman-temanku duduk."

Suara riuh kantin kampus siang itu mendadak hening begitu suara Natasha terdengar. Dengan kacamata hitam yang disangkutkan di atas kepala, gadis itu berdiri di depan meja Mentari bersama dua orang temannya. Matanya yang tajam menyapu barang-barang Mentari yang tergeletak di sana.

Di meja itu, laptop keluaran lama milik Mentari mengeluarkan suara kipas yang bising, kabel charger laptopnya sudah terkelupas, ditambal dengan selotip. Hanya benda itulah yang menjadi penopang hidup Mentari selama kuliah. Di samping laptopnya, ada kotak makan plastik sederhana berisi nasi dan lauk seadanya.

Mentari mencoba menghela napas pelan. "Natasha, masih banyak meja lain yang kosong di sebelah sana. Aku lagi ketik tugas, sebentar lagi selesai."

"Aku nggak tanya," balas Natasha, suaranya meninggi hingga memancing perhatian mahasiswa lain di kantin itu. "Kamu itu sadar diri sedikit, dong. Sudah menumpang kuliah di sini, sekarang malah belagu sok menempati meja orang lain!"

Mentari menelan ludah. Ini bukan pertama kali Natasha mempermalukannya di depan umum. Perempuan itu memang memiliki perbedaan status yang jauh di atasnya, membuatnya sering menindas Mentari di kampus. Mentari berusaha bersabar, karena ia tahu alasan Mentari menargetkannya seperti ini.

"Aku tidak menumpang, Natasha. Aku masuk kampus ini pakai jalur yang sah," balas Mentari pelan tapi berusaha tetap tegas.

"Sah dari mana?" Natasha tertawa mengejek, disusul tawa dari kedua temannya. "Semua orang di sini juga tahu siapa kamu! Kamu itu anak dari wanita yang sudah merusak keluargaku! Dasar anak pelakor!"

Hati Mentari seperti dihantam batu besar. Rasa sakit yang teramat sangat langsung menjalar ke seluruh dadanya.

Ini adalah alasan kenapa Natasha membencinya. Karena hubungan mereka sebagai saudara tiri. Setelah orang tua Natasha bercerai, ayahnya menikah dengan ibu Mentari, sehingga Natasha menganggap mereka sebagai perusak keluarganya.

Namun itu sudah terjadi lima tahun lalu. Ibunya kini sudah meninggal karena penyakit parah setahun lalu.

"Natasha, tolong jangan bawa-bawa almarhumah ibuku."

"Kenapa? Kamu takut rahasia busuk ibumu makin terbongkar?" Natasha maju satu langkah, menatap Mentari dari atas ke bawah dengan jijik. "Gara-gara ibumu yang gatal itu, mama dan papaku cerai! Ibumu itu pelakor! Wanita tidak tahu malu yang merebut Papa dari keluargaku!"

Beberapa mahasiswa di sekitar mulai berbisik-bisik. Suasana kantin terasa makin menyudutkan Mentari. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Mentari, bukan karena ia merasa bersalah, tapi karena rasa tidak terima almarhumah ibunya terus-terusan dihina.

"Itu tidak benar!" suara Mentari bergetar, menahan tangis yang hampir pecah. "Ibuku bukan pelakor. Waktu Pak Bramantyo menikah dengan ibuku, beliau sudah lama resmi bercerai dengan ibumu. Ibuku tidak pernah merusak rumah tangga siapa pun."

"Bohong!" teriak Natasha, wajahnya memerah karena emosi. "Kalau bukan karena ibumu yang menggoda papaku, papaku tidak akan pernah membuang aku dan mamaku! Kamu dan ibumu itu sama saja, cuma memanfaatkan kekayaan papaku demi bisa hidup enak!"

"Ibuku wanita baik-baik, Natasha..." Mentari berdiri dari kursinya, matanya menatap Natasha dengan tatapan memohon sekaligus terluka. "Ibuku sudah meninggal. Tolong, jangan sebut ibuku seperti itu lagi. Kasihan ibuku..."

"Peduli apa aku dengan ibumu?!" Natasha menyambar gelas es teh manis milik Mentari yang masih penuh.

Byurr!

Tanpa rasa kasihan sedikit pun, Natasha menyiramkan es teh manis itu tepat ke atas keyboard laptop dan kemeja Mentari.

Cairan dingin dan manis itu langsung membasahi baju putih Mentari hingga tembus pandang, sementara layar laptop tuanya langsung bergaris-garis, berkedip beberapa kali, lalu mati total.

"Natasha!" jerit Mentari panik. Ia langsung mendekap laptop tuanya dengan tangan gemetar. "Laptopku... ini satu-satunya laptop yang aku punya! Semua tugas dan draf skripsiku ada di sini!"

"Itu hukuman buat anak pelakor seperti kamu!" balas Natasha tanpa penyesalan sedikit pun. "Tahu rasa kamu sekarang!"

Mentari memeluk laptopnya yang kotor dan basah. Air matanya akhirnya menetes, membasahi pipinya. Rasa malu, sedih, dan terhina bercampur menjadi satu. Ia merasa sangat kecil dan tidak berdaya di hadapan Natasha yang punya segalanya.

Padahal, selama ini Mentari selalu berusaha mengalah karena ia paham betul betapa sakitnya perasaan Natasha saat orang tuanya bercerai. Tapi kenapa Natasha tidak pernah mau mendengar penjelasannya sedikit pun?

"Kenapa kamu jahat sekali sama aku, Natasha?" bisik Mentari dengan suara serak, menatap Natasha di balik bayangan air matanya. "Aku selalu diam setiap kamu hina, tapi kenapa kamu tega merusak laptop satu-satunya yang aku punya?"

Natasha hanya melipat tangan di dada dan tersenyum puas melihat Mentari yang menyedihkan di depannya. "Karena aku benci sama kamu. Selama kamu masih ada di kampus ini, aku bakal bikin hidupmu seperti neraka!"

Setelah mengucapkan kalimat itu, Natasha berbalik dan melangkah pergi bersama teman-temannya sambil tertawa gembira, meninggalkan Mentari yang berdiri sendirian di tengah kantin, menangis memeluk laptop rusaknya diiringi tatapan kasihan dari orang-orang di sekitarnya.

Insiden penyiraman laptop di kantin itu tentu saja sampai ke pihak kampus. Dosen pembimbing Mentari yang melihat kondisinya langsung melaporkan kejadian tersebut ke pihak fakultas. Karena melibatkan anak dari salah satu penyumbang dana terbesar kampus, pihak rektorat segera memanggil Bramantyo Wijaya untuk datang menghadap.

Di dalam ruangan dosen, suasana terasa sangat canggung dan tegang.

Mentari duduk di salah satu kursi kayu dengan kepala menunduk dalam-dalam. Baju kemeja putihnya masih meninggalkan noda teh kering yang samar, dan di pangkuannya, jemari Mentari terus memeluk erat laptop tuanya yang sudah mati total.

Pintu ruang dosen terbuka. Pria paruh baya dengan stelan jas rapi dan tubuh tegap melangkah masuk.

Bramantyo Wijaya… ayah tiri Mentari.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Ayah Tiri   Jangan Pergi!

    "Kalau Papa tetap kejar dia, aku beneran bakal pergi dari rumah ini selamanya! Aku serius, Pa!" teriak Natasha histeris, mencengkeram lengan ayahnya dengan kuat.Bramantyo menatap putrinya dengan napas memburu. Hati Bramantyo terasa seperti diremas kuat-kuat. Ia tahu Natasha sedang dikuasai emosi, tapi membiarkan Mentari pergi sendirian dalam kondisi hancur seperti itu adalah hal yang paling tidak mungkin ia lakukan. Mengingat kejadian buruk di klub malam beberapa hari lalu membuat dada Bramantyo sesak. "Lepaskan, Natasha," suara Bramantyo terdengar dingin."Pa! Kenapa Papa lebih milih dia?!" air mata Natasha tumpah semakin deras."Papa tidak memilih siapa-siapa. Tapi Papa tidak akan biarkan Mentari celaka di luar sana!" seru Bramantyo sambil melepaskan cengkeraman tangan putrinya dengan sekali sentakan.Tanpa membuang waktu lagi, Bramantyo langsung melangkah lebar mengejar Mentari. Ia tidak peduli lagi dengan teriakan Natasha yang semakin menjadi-jadi di belakang. Yang ada di dalam

  • Pesona Ayah Tiri   Mencari Jalan Terbaik

    "Pa... Pak Bramantyo, tolong lepaskan saya..." bisik Mentari dengan suara bergetar hebat. Rasa takut, gugup, dan bingung bercampur aduk menjadi satu di dalam kepalanya. Ini adalah posisi yang sangat tidak pantas antara seorang ayah tiri dan anak tirinya. Bramantyo tidak langsung bergerak. Matanya yang sayu akibat pengaruh alkohol menatap lekat-lekat ke dalam mata Mentari. Ada sorot penyesalan sekaligus kebingungan di sana. "Mentari..." suara serak Bramantyo terdengar sangat dekat di telinganya. "Maafkan saya... Saya benar-benar tidak sengaja..." "Iya, Pak. Saya tahu. Tolong biarkan saya bangun dulu," pinta Mentari dengan suara nyaris seperti bisikan, sementara pipinya sudah merah padam karena malu. Dengan sisa tenaganya, Mentari menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada bidang Bramantyo perlahan. Pria itu mengangguk kecil lalu melonggarkan cengkeramannya. Begitu ada celah, Mentari langsung melompat turun dari ranjang. Wajahnya menunduk, tidak berani sama sekali menatap

  • Pesona Ayah Tiri   Sentuhan Tanpa Sengaja

    Mentari menatap tulisan tangan itu, lalu beralih memandangi laptop baru yang harganya puluhan juta rupiah. Seketika, tenggorokannya terasa tercekat. Air matanya menetes begitu saja membasahi pipinya. Bukan karena ia senang mendapatkan barang mahal, melainkan karena ia tersadar betapa besar perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh ayah tirinya. Pria yang selama ini mati-matian ia coba jauhi karena merasa asing dengannya dan tidak menganggapnya keluarga. Diam-diam, Mentari sebenarnya senang mendapat perhatian seorang ayah. Tapi ia selalu merasa bersalah. Apa boleh ia menikmati fasilitas dan pemberian Bramantyo dengan statusnya sebagai anak tiri, saat ibunya sudah tidak ada? Hingga malam makin larut, suasana di penthouse terasa semakin sunyi. Natasha belum juga pulang. Mentari paham betul, Natasha pasti sengaja menginap di tempat lain karena tidak sudi berada di bawah satu atap dengannya. Dulu, saat Mentari masih tinggal di sana, Natasha juga sering bertengkar dengan ayahnya

  • Pesona Ayah Tiri   Perdebatan Sengit

    Mobil sedan mewah yang dikemudikan oleh sopir pribadi Bramantyo masuk ke basement gedung apartemen dengan mulus. Di dalam kabin belakang, suasana terasa sangat sunyi. Mentari duduk di sudut jok, masih mengenakan jas hitam besar milik Bramantyo untuk menutupi gaun pelayannya yang terbuka. Ia menunduk dalam-dalam, meremas jemarinya sendiri karena rasa gugup dan takut. Setibanya di penthouse, pintu lift pribadi terbuka langsung ke ruang tengah yang luas dan megah. Langkah kaki Bramantyo dan Mentari baru saja melangkah masuk ketika suara decakan sinis menyambut mereka dari arah sofa ruang tamu. "Wah, wah. Kemarin gak terima dibilang anak wanita murahan, tapi penampilannya malah kayak kupu-kupu malam. Sok polos," sindir Natasha. Gadis itu berdiri di dekat sofa, melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan. "Papa dari mana sama cewek ini? Kenapa dia dibawa ke rumah kita lagi? Jangan bilang dia habis lelang tubuhnya dan malah ketemu papa," ucap Natasha dengan nada meremehkan, menunjuk

  • Pesona Ayah Tiri   Rayuan Pria Hidung Belang

    Malam itu, Vanguard Club dipenuhi pengunjung yang larut dalam euforia. Mereka berjoget mengikuti irama musik. Diiringi cahaya lampu yang sengaja dibuat redup. Udara terasa hangat, bercampur aroma alkohol dan wangi parfum yang menyengat. Mentari berdiri canggung di balik konter bar. Ia mengenakan seragam pelayan berupa gaun hitam polos di atas lutut. Meski gaun itu terbilang sederhana, potongan baju yang agak terbuka di bagian bahu dan leher memperlihatkan kulit mulusnya dengan sangat jelas. Rambut hitam tebalnya dibiarkan terurai, menambah kesan alami yang jarang terlihat di tempat seperti ini. "Mentari, antar minuman ini ke meja sofa di sudut sana!" seru manajer bar sambil menyodorkan nampan berisi beberapa gelas minuman beralkohol. "Ingat ya, tamu di sana orang-orang kaya. Kalau mereka minta dituangkan, layani dengan ramah. Kalau mereka senang, tips buat kamu bisa sejuta sendiri!" Mentari menelan ludah. Rasa cemas dan takut merayapi hatinya. "Harus dilayani banget ya, Mas?" "Iya

  • Pesona Ayah Tiri   Mencoba Hidup Mandiri

    Wajah tampan lelaki berkepala empat itu terlihat tenang, tapi ada sedikit sorot mata cemas begitu matanya menangkap sosok Mentari yang duduk menyendiri di sudut ruangan. "Mentari..." panggil Bramantyo pelan, suara dalam dan tegasnya dipenuhi rasa bersalah. Meski usianya sudah memasuki kepala empat, Bramantyo memiliki garis rahangnya tegas, wajahnya tampan, dan postur tubuhnya menyiratkan pria yang penuh wibawa. Mentari mendongak pelan, lalu buru-buru menundukkan kepalanya lagi, tak sanggup menatap mata lelaki itu. Mentari selalu gelisah setiap kali bertemu dengannya. Meski statusnya adalah ayah tirinya, ia baru mengenal Bramantyo lima tahun lalu. Ia tidak tumbuh di bawah didikannya, tidak pernah merasa sedekat itu sebagai keluarga. Malahan, Mentari hanya merasa tidak enak kepada pria itu karena selalu merepotkannya, padahal tidak ada hubungan apa-apa. Dosen pembimbing Mentari berdiri dan menjabat tangan Bramantyo. "Terima kasih sudah menyempatkan datang, Pak Bramantyo. Kami meman

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status