MasukSetelah kelas selesai, aku menyuruhnya menunggu sebentar sementara aku pergi berganti pakaian. Saat keluar, dia berdiri di dekat meja resepsionis. Melihatku keluar, dia sempat tertegun."Ayo." Aku membawanya keluar lewat pintu depan. Mobil putih itu terparkir di seberang."Hari ini lewat depan?" tanyanya."Iya."Aku menuntunnya menyeberangi jalan, langsung menuju mobil putih itu. Kacanya gelap, tidak terlihat bagian dalam. Aku mengetuk kaca kursi pengemudi.Kaca perlahan turun. Mardi duduk di dalam dengan satu tangan yang diletakkan di setir."Ada apa?" tanyanya."Turun."Dia menatapku tanpa bergerak."Turun, kita bicara."Pria itu tersenyum tipis dan mematikan mesin, lalu membuka pintu dan keluar. Tingginya sedikit lebih pendek dariku, tapi badannya kekar, seperti orang yang pernah latihan tinju."Bicara apa?""Bekas di wajah Eva."Mardi melirik Eva yang berdiri di belakangku, lalu kembali menatapku."Dia yang bilang?""Aku tanya kamu. Itu ulahmu?"Mardi melangkah mendekat, jaraknya s
Hari itu, Eva datang untuk latihan. Aku baru saja mengatur tinggi tali di mesin kabel saat melihat seseorang masuk dari pintu. Pria itu berdiri di area angkat beban dan menatap ke arah sini. Eva membelakanginya, tapi punggungnya tiba-tiba menegang."Kenal?" tanyaku. Eva tidak menjawab.Orang itu berjalan mendekat sambil tersenyum. "Eva, kenapa nggak balas pesanku?"Eva menggenggam pegangan kabel dan mulai melakukan gerakan tanpa menghiraukannya. Pria itu berdiri di sisi belakangnya dalam jarak yang sangat dekat."Ibumu suruh aku untuk lihat kamu. Katanya sudah lama kamu nggak pulang." Pria itu mengulurkan tangan hendak menepuk bahunya. Eva menghindar dan gerakannya terhenti di tengah.Aku melangkah maju dan berdiri di antara dia dan Eva. "Pak, ini waktu latihan anggota. Tolong beri ruang."Pria itu menatapku, lalu melirik Eva dan tersenyum tipis. "Aku temannya.""Ini waktu latihan. Kalau ada yang mau dibicarakan, setelah kelas saja," timpalku.Senyumnya menghilang sedikit. Dia menatapk
Hanya saja, anehnya Eva belum juga datang hari ini. Bukankah kemarin sudah janji akan datang untuk latihan?Aku mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan padanya.[ Kamu di mana? Kenapa belum datang? ]Beberapa saat kemudian, Eva baru membalas.[ Oh, aku sebentar lagi sampai. ]Aku samar-samar merasa Eva sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku. Namun, aku tidak terlalu memikirkannya dan tetap melanjutkan latihan seperti biasa.Malam ini muridnya cukup banyak. Aku melatih mereka satu per satu Menyuruh mereka kuda-kuda, mendorong pinggul ke belakang, semuanya melatih bagian pinggul sampai terlihat semakin penuh.Dika yang berdiri di samping sampai terperangah. "Kak Jackie, banyak banget cewek kelas atas begini, rasanya darahku naik terus."Aku melirik para murid. Terlalu banyak, aku benar-benar kewalahan sendirian.Aku melambaikan tangan pada Dika. "Kamu bantu aku latih mereka.""Tapi aku nggak bisa," Dika agak ragu.Aku berdecak dan berkata, "Nggak apa-apa, aku ajari."Sambil berbicara, a
Aku menyeruput mi dan berkata dengan santai, "Akhir-akhir ini, aku jadi pelatih di malam hari. Gadis-gadis itu kelihatan dingin dan angkuh dari luar, tapi sebenarnya dalam hati mereka liar sekali.""Tadi malam aku hampir saja dapat satu cewek cantik. Malam ini dia masih mau datang cari aku, kali ini pasti akan kuselesaikan dia."Dika hampir menyemburkan mi dari mulutnya. Dia mengelap mulutnya dengan tisu dan menatapku tak percaya. "Kamu ngawur, Jackie. Kamu ini kebanyakan mikirin perempuan sampai gila, ya? Kalau memang nggak tahan, nanti aku ajak kamu ke tempat pijat kaki pinggir jalan. Sekali ini aku yang traktir."Harus diakui, Dika sebenarnya cukup baik padaku.Sekali ke tempat pijat itu sama saja dengan penghasilan sehari mengantar makanan, tapi dia rela mentraktirku. Jadi apa pun yang terjadi, aku juga harus mengajaknya ikut merasakan pengalaman ini.Aku mengusap mi yang menempel di wajahku dan berkata dengan tenang, "Aku serius. Aku memang jadi pelatih. Kalau nggak percaya, lihat
Sekujur tubuh Eva bergetar hebat. Dia sangat menantikan perasaan dihujam olehku. Detak jantungku berdegup kencang. Kali ini, akhirnya aku bisa menikmati apa yang disebut sebagai wanita cantik berkualitas tinggi.Wanita-wanita yang pernah dimainkan oleh pria-pria kaya itu ... aku juga harus mencobanya semua. Namun, sebelum aku mulai pertunjukan seru ini, tiba-tiba sebuah suara amarah menarikku kembali ke kenyataan.Ternyata itu adalah bos pemilik gym yang memarahiku, "Jackie! Aku izinin kamu jadi pelatih karena melihat kamu rajin dan mau belajar. Begini caramu ngajar murid? Lihat, kamu ngajarin apaan sama orang lain."Saat menoleh, aku baru melihat bahwa ternyata semua orang sedang meniru gayaku yang menghujam bokong murid perempuan. Yang lebih mencengangkan lagi, saat mereka melepaskan diri setelah dimarahi bos, kejantanan mereka masih bergelantungan di luar.'Sialan, aku aja masih belum sempat masukkin. Ternyata pelatih-pelatih lain semua sudah mulai. Ternyata memang nggak boleh ragu.
Mendengar ucapannya, hatiku langsung berbunga-bunga. Biasanya waktu mengantar makanan, aku sama sekali tidak punya kesempatan untuk melakukan hal seperti ini.Kejantananku ini masih seperti barang baru yang terawat dengan baik. Jika dibandingkan dengan pria-pria kaya yang sudah sering melakukan hal seperti ini, kemaluanku jelas lebih gahar.Dilihat dari penampilannya, Eva ini tampak seperti wanita yang memiliki hasrat yang sangat kuat. Sepertinya, dia belum pernah merasakan apa yang disebut dengan pria sejati. Kali ini, aku harus membuatnya merasakan apa yang disebut dengan mimpi indah seakan merenggut nyawa.Saat dia kembali berjongkok, aku mendorong kemaluanku ke bagian tengah bokongnya dengan sekuat tenaga. Agar dia tidak terjatuh ke depan saat didorong olehku, aku menggenggam erat kedua tangannya.Ketika terdorong olehku dengan sekuat ini, bokong Eva seakan-akan sampai melayang di udara. Sekujur tubuhnya langsung bergetar karena kenikmatan yang begitu ekstrem ini.Yang lebih mencen
Namaku Jackie. Awalnya, aku adalah seorang kurir makanan. Setiap kali aku mengantarkan pesanan ke gym, tatapanku terpaku pada sekelompok wanita seksi di sana.Semua wanita-wanita ini memiliki payudara dan bokong yang montok. Mereka mengenakan celana yoga dan tank-top berwarna putih. Saat berjongkok,







