เข้าสู่ระบบSemakin Eric menghubungkan setiap kejadian, semakin jelas pula jawaban yang muncul di benaknya.
Sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia mengangkat cangkir teh, lalu bergumam pelan dalam hati. ‘Kakek… rupanya Anda sudah melangkah lebih dulu.’ Obrolan mereka terus berlanjut hingga sore. Menjelang kepulangan Andreas dan Dominic, Robert datang membawa beberapa kotak hadiah yang telah dipersiapkan. Keduanya sempat saling berpandangan sebelum menerima hadiah tersebut dengan wajah gembira. “Kalau setiap datang selalu diberi hadiah begini, kami jadi tidak enak untuk sering-sering berkunjung,” ujar Andreas sambil tertawa. Dominic langsung memeluk kotak hadiahnya erat-erat. “Kalau kau tidak enak, biar aku saja yang sering datang.” Ketiganya pun tertawa. Tak lama kemudian, Andreas dan Dominic berpamitan. Setelah mengantar mereka sampai ke depan mansion, Eric langsung menuju ruang kerja Robert. Pria paruh baya itu segera berdiri begitu melihatnya masuk. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?” Eric duduk di sofa. “Ke mana Kakek? Sejak pagi aku belum melihatnya.” “Tuan Brown sedang mengunjungi beberapa keluarga,” jawab Robert tenang. “Sepertinya ada tiga atau empat keluarga yang akan beliau temui, termasuk Keluarga Rothwell dan Keluarga Woller.” Eric mengangguk pelan. “Untuk apa beliau menemui mereka?” “Mungkin Tuan Brown ingin mempererat hubungan dengan keluarga-keluarga tersebut. Dengan begitu, kehidupan Tuan Muda di negara ini akan jauh lebih aman ke depannya.” Eric terdiam sejenak. Ia memahami maksud Noah. Kakeknya sedang membangun perlindungan di sekelilingnya bahkan sebelum ia sempat meminta. Eric kemudian mengalihkan pembicaraan. “Bagaimana dengan obat yang kuminta?” “Paling cepat selesai dalam tiga hari.” Dahi Eric sedikit berkerut. “Tidak bisa dipercepat? Kalau masalahnya biaya, gunakan saja uang bulananku. Dua bulan ke depan tidak perlu ditransfer kepadaku.” Robert langsung menggeleng. “Saya tidak berani menggunakan uang Tuan Muda untuk keperluan seperti itu. Namun jika obatnya memang harus selesai secepat mungkin, saya akan mengusahakan agar besok siang sudah bisa diserahkan.” Raut wajah Eric sedikit melunak. “Kalau begitu, terima kasih.” Robert membungkukkan badan tipis. “Itu sudah menjadi tugas saya, Tuan Muda.” Percakapan mereka pun berakhir. Karena tak ada lagi yang perlu dilakukan, Eric kembali ke kamarnya. Ia mengangkat tangan kiri. “Legacy Intelligence.” Ding! Layar holografis biru muncul di hadapannya. Eric menatapnya beberapa saat sebelum bertanya, “Aku ingin mencari bukti kejahatan yang pernah dilakukan Jason Smith. Bisakah kau menemukannya?” Beberapa detik kemudian, deretan tulisan mulai bermunculan. [Silakan pilih.] [Penggelapan dana nasabah.] [Manipulasi laporan keuangan.] [Penyuapan pejabat.] [Hubungan terlarang dengan ibu tiri.] Tatapan Eric yang semula bergerak dari satu pilihan ke pilihan lain tiba-tiba berhenti. “Hubungan terlarang dengan ibu tirinya?” Tanpa ragu, ia langsung memilihnya. Ding! Empat berkas video muncul di layar. Eric membuka salah satunya. Rekaman CCTV berdurasi lima belas detik itu memperlihatkan Jason dan seorang wanita memasuki kamar hotel secara bergantian. Wanita tersebut tak lain adalah ibu tirinya sendiri. Alis Eric perlahan terangkat. Ia membuka video kedua, kemudian video ketiga dan keempat. Lokasinya berbeda-beda. Namun orang-orang di dalamnya tetap sama. Jason dan ibu tirinya. Eric mengusap dahinya. “Gila…” Awalnya, ia hanya ingin menguji kemampuan Legacy Intelligence. Namun Legacy Intelligence benar-benar memberikan apa yang dimintanya. Kemampuan itu jauh lebih mengerikan daripada yang pernah ia bayangkan. Tatapannya kembali tertuju pada layar. Sisa sore hingga menjelang malam dihabiskannya untuk menelusuri berbagai informasi melalui sistem. Apa pun yang dianggap berguna tak luput dari rasa penasarannya. Tanpa terasa, malam berganti pagi. Cahaya matahari kembali menyinari halaman Mansion Brown, menandai dimulainya hari baru. Meski hari telah berganti, Noah masih belum juga kembali. Eric sempat berniat menanyakan keberadaannya kepada Robert. Namun sebelum sempat melangkah jauh, pria itu muncul dari pintu masuk sambil membawa sebuah kotak kayu kecil. “Tuan Muda.” Robert menghampiri Eric dan menyerahkan kotak itu dengan kedua tangan. “Resep yang Tuan Muda berikan sudah berhasil diracik menjadi pil. Beberapa ahli farmasi bekerja sepanjang malam, dan tim laboratorium juga telah melakukan berbagai pengujian. Hasilnya, tidak ditemukan zat berbahaya di dalamnya.” Ia berhenti sejenak. “Hanya saja, mereka semua merasa penasaran. Tak seorang pun berhasil mengetahui fungsi pil ini.” Eric menatap Robert beberapa saat. “Maaf. Aku sudah banyak merepotkanmu.” Robert segera menggeleng. “Tidak sama sekali, Tuan Muda. Totalnya ada tiga puluh butir. Jika nanti habis, beri tahu saya.” Eric mengangguk lalu membuka kotak tersebut. Di dalamnya tersusun tiga puluh pil berwarna kuning pucat, masing-masing sebesar ujung jari. Tanpa ragu, ia mengambil satu butir dan langsung menelannya. Begitu melewati tenggorokan, pil itu seketika meleleh. Robert tanpa sadar menahan napas. Meski hasil laboratorium menyatakan pil tersebut aman, ia tetap tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya. Tak sampai satu menit kemudian, tubuh Eric mendadak menegang. Napasnya memburu. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, sementara wajahnya memerah seolah ada bara api yang menyebar dari dalam tubuh. Eric mengepalkan tangan. “Aneh…” Belum sempat menyelesaikan ucapannya, suara retakan pelan terdengar dari balik gips. Krek… Robert sontak menoleh. Eric segera merobek kain penyangga di lehernya, lalu melepaskan gips yang membungkus lengan kanan. Keduanya langsung membeku. Lengan yang sebelumnya patah kini kembali utuh. Eric perlahan mengepalkan tangan. Sekali. Dua kali. Kemudian ia melayangkan pukulan ke udara. Whoosh! Tak ada rasa sakit sedikit pun. Ia kembali melayangkan beberapa pukulan, kali ini semakin cepat. Sudut bibirnya perlahan bergetar. Sulit baginya untuk memercayai apa yang baru saja terjadi. Di hadapannya, Robert masih terpaku. Tatapannya bergantian berpindah antara lengan Eric dan kotak pil di atas meja. “Tuan Muda ini—” Eric segera mengangkat telunjuk, memberi isyarat agar ia diam. Robert langsung menutup mulut. Tak ada lagi yang berbicara, tetapi keduanya sama-sama mengerti bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang seharusnya mustahil. Robert akhirnya membungkukkan badan. “Saya mengerti, Tuan Muda.” Eric mengangguk lalu menutup kembali kotak pil itu. “Ada beberapa hal yang belum bisa kukatakan kepadamu sekarang. Jika waktunya tiba, aku akan menjelaskannya. Untuk sementara, jangan ceritakan hal ini kepada siapa pun.” Setelah itu, Eric segera membawa kotak pil tersebut kembali ke kamar, meninggalkan Robert yang masih berdiri terpaku dan belum sepenuhnya mencerna apa yang baru saja disaksikannya. Di dalam kamar, Eric memastikan bahwa keajaiban tersebut bukan sekadar kebetulan. Jawaban Legacy Intelligence membuatnya semakin yakin bahwa pil itu memang bekerja sesuai resep. ⸻ Waktu terus berlalu. Matahari perlahan naik tepat di atas kepala. Setelah berganti pakaian, Eric turun ke lantai bawah. Robert yang sedang memberikan arahan kepada beberapa pelayan segera menghampirinya. “Tuan Muda hendak keluar?” Eric mengangguk. “Aku ingin menjenguk seorang teman.” Robert sempat membuka mulut seolah ingin menanyakan sesuatu. Tatapannya sekilas jatuh pada lengan kanan Eric yang telah pulih. Namun pada akhirnya, ia hanya menundukkan kepala. “Baik. Saya akan segera menyiapkan mobil.” Tak lama kemudian, sebuah sedan hitam telah menunggu di depan Mansion Brown. Eric masuk ke dalam mobil, sementara sopir pribadi Keluarga Brown membawanya meninggalkan mansion. Sebelum menuju Rumah Sakit Ibu Kota, Eric singgah untuk membeli sebuket bunga. Sejak mendengar kabar tentang Jason, ia justru tak sabar melihat keadaan pria tersebut. Kali ini, ia datang untuk mengembalikan kunjungan. Sedan hitam Keluarga Brown akhirnya berhenti di depan pintu rumah sakit. Eric turun bersama seorang pengawal, lalu langsung menuju ruang perawatan Jason. Berkat pengaturan Robert, ia tak membutuhkan waktu lama untuk menemukan kamar tersebut. Sesampainya di depan pintu, sang pengawal berhenti. “Saya akan menunggu di luar, Tuan Muda.” Eric mengangguk. Dengan buket bunga di tangan, ia membuka pintu dan melangkah masuk. Jason yang sedang berbaring langsung melirik ke arah pintu. Raut wajahnya seketika berubah ketika melihat sosok yang datang. Eric. Dengan tenang, Eric meletakkan buket bunga di atas meja. Tatapannya kemudian jatuh pada lengan kanan dan kaki kiri Jason yang terbalut gips. Ia menggeleng pelan. “Aku dengar orang yang melukaimu masih belum ditemukan. Benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa ada orang sekejam itu?” Urat di pelipis Jason langsung menegang. “Diam.” Eric hanya tersenyum tipis, lalu menarik kursi dan duduk tepat di samping ranjang. Suasananya hampir sama seperti beberapa hari lalu. Bedanya, kali ini Jason yang terbaring di atas ranjang. Tatapan Jason perlahan turun pada lengan kanan Eric. Tak ada lagi gips. Wajahnya langsung menggelap. “Jadi selama ini kau cuma berpura-pura patah tulang? Kalau tahu begini, waktu itu seharusnya kupatahkan kedua lenganmu sekalian.” Eric mengangkat telunjuk, memberi isyarat agar Jason berhenti bicara. “Kurangi mengancam orang. Bicaralah sesuai kemampuanmu.” Jason mengepalkan tangan kirinya. Tatapannya semakin dingin, tetapi Eric tetap duduk dengan tenang. “Yang sudah terjadi, biarkan saja berlalu,” lanjut Eric. “Dunia ini terlalu luas untuk dihabiskan mengejar seseorang yang mungkin tidak akan pernah kau temukan.” Jason seketika membeku. Kalimat itu persis seperti yang pernah ia ucapkan kepada Eric. Eric menatap lurus ke matanya. Napas Jason mulai tak terkendali. “Dasar bajingan…” Eric hanya tersenyum tipis.Setelah keluar dari ruang rawat Vincent, Eric menyapa singkat anggota keluarga Rothwell di sana sebelum berpamitan. Tak lama kemudian, sedan hitamnya meninggalkan halaman Rumah Sakit Trinity.—Di dalam ruang rawat, Vincent masih berdiri terpaku.Ia mengepalkan kedua tangannya berulang kali, lalu menggerakkan bahu dan memutar tubuhnya.Tak ada rasa sakit. Tak ada rasa pegal. Tubuhnya benar-benar telah pulih.“Hahaha…!” tawa puas tiba-tiba memenuhi ruangan.“Luar biasa…” gumamnya pelan.Ia berusaha menenangkan diri. Namun, setiap kali merasakan tubuhnya yang telah pulih sepenuhnya, senyum di wajahnya justru semakin sulit disembunyikan.Tepat saat itu, pintu ruang rawat terbuka.Beberapa anggota keluarga Rothwell bergegas masuk setelah mendengar suara tawanya.Vincent buru-buru berdeham pelan, berusaha kembali memasang wajah tenang.“Ada apa?” tanya salah seorang dari mereka.Vincent sedikit terkejut melihat beberapa orang masuk bersamaan ke dalam ruangannya. Ia menarik napas panjang,
Terdengar keheningan beberapa saat dari seberang telepon.“Aku benar-benar sembuh. Lukaku perlahan membaik. Kau tidak akan percaya sampai kau melihatnya sendiri.”Mendengar itu, sudut bibir Eric perlahan terangkat.Benar saja. Resep obat dari Legacy Intelligence memang tidak perlu diragukan lagi.“Bagus kalau begitu,” ucap Eric singkat.Vincent langsung melanjutkan, “Kau dapat pil itu dari mana? Apa benar itu warisan keluargamu? Kenapa efeknya bisa secepat itu?”“Ya.” Eric hanya menjawab satu kata.Ia sama sekali tidak berniat menjelaskan lebih jauh. “Jadi kapan kau keluar dari rumah sakit? Bukankah kau bilang ingin meminta penjelasan dariku?”Vincent langsung tertawa kecil. “Ah, lupakan saja soal itu. Lagipula meski luka di wajahku mulai sembuh, tubuhku masih terasa pegal.”Nada suaranya perlahan berubah penuh semangat. “Nanti setelah aku keluar dari rumah sakit, temani aku memberi pelajaran pada mereka.”“Tentu.” Eric mengangguk pelan. “Nanti siang, setelah kuliahku selesai, aku aka
Tak terasa, sedan hitam itu akhirnya memasuki halaman kediaman Keluarga Jones.Eric menghentikan mobil tepat di depan gerbang. “Sudah sampai,” ucapnya pelan.“Ayo masuk dulu. Kita makan malam, baru setelah itu kamu pulang,” ajak Xavia.Eric terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu harus menerima atau menolak. “Ini…”Melihat keraguan di wajah Eric, Xavia kembali berkata, “Ini permintaan Kakekku.”“Permintaan Tuan Jones?” tanya Eric memastikan.Xavia mengangguk pelan.Eric mengembuskan napas. “Baiklah.”Sedan hitam itu pun perlahan bergerak memasuki halaman Kediaman Keluarga Jones.Tak lama kemudian, mereka berdua turun dari mobil. Eric berjalan mengikuti Xavia menuju pintu utama.Beberapa pelayan yang melihat pemandangan itu saling bertukar pandang. Meski tak seorang pun berani berkomentar, raut wajah mereka jelas menunjukkan keterkejutan.Bagaimanapun, baru kali ini mereka melihat Xavia pulang bersama seorang pria.Sesampainya di ruang jamuan, ternyata belum ada seorang pun di sana. Namun
Melihat pesan dari Xavia, sudut bibir Eric perlahan terangkat. “Kau bawa mobil sendiri atau kujemput?”balasnya.“Jemput.”“Baiklah. Kirimkan lokasimu.”Tak lama kemudian, sebuah titik lokasi masuk ke ponselnya.Eric segera mengambil kunci sedan hitam di atas meja, lalu meninggalkan Mansion Brown.Bukan tanpa alasan ia mengajak Xavia.Jika nanti pembicaraan dengan Keluarga Rothwell berkembang ke arah yang tidak diinginkan, kehadiran Xavia setidaknya dapat sedikit mencairkan suasana. Bagaimanapun, gadis itu masih memiliki hubungan dengan keluarga tersebut. ⸻Pada saat yang sama, Xavia telah selesai bersiap.Penampilannya tampak sedikit lebih rapi dibanding biasanya.Kurang dari tiga puluh menit kemudian, seorang pelayan menghampirinya.“Nona Xavia, ada seseorang yang mencari Anda di depan gerbang.” Xavia mengangguk pelan, lalu berjalan keluar.Sesampainya di gerbang, ia langsung melihat sedan hitam milik Eric terparkir di sana. Pemuda itu sedang berbincang santai dengan satpam yang b
Sementara itu, entah bagaimana, Danny, Zaki, dan Joshua juga berakhir di rumah sakit malam itu.Kondisi mereka bahkan jauh lebih parah dibanding Vincent. Beberapa tulang di tubuh mereka patah, sementara wajah mereka nyaris tak bisa dikenali.Orang tua ketiganya tentu murka melihat kondisi anak-anak mereka. Namun setelah mengetahui seluruh kronologi kejadian, amarah itu perlahan berubah menjadi keputusasaan.Mereka tahu anak-anak merekalah yang lebih dulu memulai semua ini. Terlebih lagi, pihak yang mereka hadapi adalah Keluarga Rothwell.Tak seorang pun dari mereka berani membawa masalah itu ke jalur hukum. Mereka hanya bisa menelan kepahitan sambil berharap amarah Keluarga Rothwell berhenti sampai di situ.Sementara itu, Eric dan Andreas memilih meninggalkan rumah sakit setelah memastikan Vincent telah mendapatkan penanganan dari dokter.Mereka kembali ke bar untuk mengambil mobil, lalu pulang ke mansion.Semakin malam, semakin banyak anggota Keluarga Rothwell berdatangan ke rumah sa
Tanpa sadar, bongkahan bata di tangan Danny terlepas dan jatuh ke aspal.Wajah Zaki seketika memucat. “Sial… itu mobilnya. Habislah kita.”Joshua mengernyit bingung. “Memangnya dia siapa?”Zaki menelan ludah. “Dia mahasiswa baru, Vincent Rothwell.”Danny dan Zaki memang sudah mengetahui identitas Vincent sejak awal.Begitu Joshua mendengar nama itu, wajahnya ikut memucat.Vincent melangkah mendekati Danny.Tatapannya dingin. “Apa yang kau lakukan dengan mobilku?”Danny buru-buru mengangkat kedua tangannya. “Tenang dulu. Aku akan mengganti semuanya.”Vincent mendengus. “Kau kira aku kekurangan uang? Aku bertanya, kenapa kau merusak mobilku?”Belum sempat Danny menjawab… Empat pria bertubuh kekar tiba-tiba muncul dari arah belakang.Tanpa aba-aba…Brak!Salah seorang dari mereka langsung menerjang Vincent hingga tubuhnya terhempas ke aspal.Belum sempat Vincent bangkit…Buk!Sebuah pukulan keras kembali menghantam wajahnya. Disusul tendangan demi tendangan yang menghujani tubuhnya.Dann







