공유

Bab 10

작가: mr.midi
last update 게시일: 2026-07-24 13:05:53

Dengan buket bunga di tangan, ia membuka pintu dan melangkah masuk.

Jason yang sedang berbaring langsung menoleh ke arah pintu.

Raut wajahnya seketika berubah.

Eric.

Dengan tenang, Eric meletakkan buket bunga di atas meja. Tatapannya kemudian jatuh pada lengan kanan dan kaki kiri Jason yang terbalut gips.

Ia menggeleng pelan.

“Aku dengar orang yang melukaimu masih belum ditemukan. Benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa ada orang sekejam itu?”

Urat di pelipis Jason langsung menegang.

“Diam.”

Eric hanya tersenyum tipis, lalu menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

Tatapan Jason perlahan turun pada lengan kanan Eric.

Tak ada lagi gips.

Wajahnya langsung menggelap.

“Jadi selama ini kau cuma berpura-pura patah tulang? Kalau tahu begini, waktu itu seharusnya kupatahkan kedua lenganmu sekalian.”

Eric mengangkat telunjuk, memberi isyarat agar Jason berhenti.

“Kurangi mengancam orang. Bicaralah sesuai kemampuanmu.”

Jason mengepalkan tangan kirinya. Tatapannya semakin dingin.

“Yang sudah terjadi, biarkan saja berlalu,” lanjut Eric. “Dunia ini terlalu luas untuk dihabiskan mengejar seseorang yang mungkin tidak akan pernah kau temukan.”

Napas Jason mulai memburu. “Dasar bajingan…”

Jason menatapnya penuh amarah.

“Siapa pun pelakunya, sekalipun dia kabur sampai ke ujung dunia, tetap akan kukejar. Kau harus tahu, Keluarga Smith tidak pernah takut pada siapa pun. Begitu kami mendapatkan buktinya, orang yang membuatku seperti ini akan berakhir di balik jeruji.”

Eric hanya mengetuk pelan sandaran kursinya. “Bagaimana kalau pelakunya sudah ditemukan, tapi Keluarga Smith ternyata tidak bisa berbuat apa-apa?”

Jason tersenyum penuh keyakinan.

“Mustahil. Sekalipun pelakunya berasal dari Keluarga Rothwell, keluargaku tetap akan bertindak.”

Eric tertawa kecil. “Bagaimana kalau kubilang akulah pelakunya?”

Jason menatapnya dengan pandangan menghina. “Kau? Jangan bermimpi.”

Eric mengangkat kedua tangan sambil tersenyum santai. “Tenang. Aku cuma bercanda.”

Jason mendengus kesal. “Kalau kau datang cuma untuk bicara omong kosong, sebaiknya segera pergi.”

Senyum di wajah Eric perlahan menghilang.

Tatapannya berubah tajam. “Aku datang hanya untuk memberimu satu nasihat. Tidak perlu memaksakan penyelidikan ini. Suruh keluargamu menghentikannya. Kalau tidak…”

Jason menyipitkan mata. “Kalau tidak, apa?”

Eric menatap Jason beberapa detik, lalu berjalan ke arah jendela. Jemarinya memainkan pot bunga kecil di ambang jendela.

“Aku pernah membaca cerita tentang seorang pria yang hidupnya nyaris sempurna. Kariernya cemerlang, keluarganya terpandang, dan semua orang yakin masa depannya tidak akan pernah goyah.”

Eric berhenti sejenak.

“Sayangnya, dia jatuh cinta pada perempuan yang seharusnya paling dia hormati.”

Jason hanya menatapnya dingin.

Eric melanjutkan dengan tenang.

“Awalnya mereka yakin tak seorang pun akan mengetahuinya. Mereka selalu berhati-hati. Tak pernah menggunakan tempat yang sama, tak pernah memilih waktu yang sama. Mereka bahkan merasa semua jejak sudah dihapus.”

Sudut bibir Eric perlahan terangkat.

“Lucunya, mereka tidak pernah menyadari satu hal. Sebuah rahasia jarang terbongkar karena satu kesalahan besar. Biasanya, rahasia itu hancur karena terlalu banyak kesalahan kecil yang terus menumpuk.”

Eric menoleh menatap Jason. “Menurutmu, bagaimana akhir kisah pria itu?”

Jason tanpa sadar menjawab, “Berakhir buruk.”

Eric menjentikkan jarinya pelan. “Tepat sekali. Sayangnya, pria itu baru menyadarinya setelah menerima empat video di ponselnya.”

Setelah mengatakan itu, Eric mengeluarkan ponselnya lalu menyentuh layar beberapa kali.

Ting!

Ponsel Jason yang tergeletak di samping ranjang bergetar.

Jason masih mengernyit, belum memahami maksud ucapan Eric. Dengan raut bingung, ia mengambil ponselnya lalu membuka pesan yang baru masuk.

Saat video pertama diputar… seluruh tubuhnya langsung membeku.

Wajahnya yang semula dipenuhi amarah perlahan berubah pucat.

Matanya membelalak. Napasnya seketika tertahan.

“Ini…” Suaranya tercekat.

Tangannya mulai bergetar saat membuka video kedua.

Lalu ketiga.

Dan keempat.

Semuanya memperlihatkan dirinya bersama ibu tirinya.

Di tempat yang berbeda. Pada waktu yang berbeda. Tak satu pun bisa ia bantah.

Ponsel di tangannya perlahan terlepas dan jatuh ke atas ranjang.

Untuk pertama kalinya… Jason benar-benar merasakan takut.

Melihat wajah Jason yang semakin pucat, Eric kembali membuka suara.

“Sebenarnya, masa depan pria dalam cerita itu masih bisa diselamatkan. Asalkan…”

Kalimatnya menggantung.

Ia hanya menatap lantai beberapa detik sebelum kembali mengangkat pandangan.

“Kau cukup cerdas. Seharusnya kau tahu apa yang harus dilakukan.”

Bibir Jason bergerak, tetapi sebelum sempat mengatakan sesuatu, pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Seorang gadis melangkah masuk membawa sekantong buah.

Issabel.

Langkahnya langsung terhenti saat melihat sosok Eric berdiri di dalam ruangan.

Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

Eric hanya melirik sekilas ke arahnya.

Lalu kembali menatap Jason. “Jaga kesehatanmu. Masa depanmu masih panjang.”

Setelah mengatakan itu, Eric berbalik dan berjalan keluar.

Issabel baru tersadar beberapa detik kemudian. “Eric…”

Suaranya lirih. Namun pria itu tidak menoleh. Punggungnya perlahan menghilang di balik pintu yang kembali tertutup.

Issabel menghampiri ranjang Jason. “Kak, apa yang dia lakukan di sini?”

Tatapannya masih tertuju ke arah pintu yang baru saja tertutup.

Entah mengapa… ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Eric. Namun ia tak mampu memastikan apa.

Jason yang masih terpaku buru-buru mematikan layar ponselnya, lalu menyelipkannya ke bawah selimut.

Napasnya masih belum teratur.

“Issa,” panggilnya dengan suara yang terdengar lebih berat dari biasanya. “Cepat hubungi Ayah. Suruh dia datang sekarang juga.”

Issabel mengernyit. “Ada apa?”

Jason menggeleng pelan. “Jangan banyak tanya. Bilang saja ada sesuatu yang sangat penting.”

Melihat kepanikan yang belum pernah ia lihat sebelumnya di wajah kakaknya, Issabel tak bertanya lagi.

Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ayahnya.

Kurang dari satu jam kemudian, pintu kamar kembali terbuka.

Seorang pria paruh baya berusia sekitar lima puluh lima tahun melangkah masuk dengan wajah serius, diikuti seorang wanita berusia awal tiga puluhan.

Pria itu adalah Adam Smith, ayah Jason dan Issabel.

Sementara wanita di sampingnya…

Adalah ibu tiri mereka.

Hubungan Jason dan Issabel dengan ibu tiri mereka memang tidak pernah dekat. Setidaknya… begitulah yang terlihat di mata semua orang.

Tak seorang pun mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikan Jason.

Adam menatap putranya beberapa saat. “Ada apa? Jarang sekali kau memanggilku terburu-buru seperti ini.”

Jason menarik napas panjang. “Ayah, hentikan penyelidikan kasus yang menimpaku.”

Tatapan Adam langsung berubah. “Kenapa?”

Jason sempat terdiam. “Sebenarnya, akulah yang memulai semuanya. Beberapa waktu lalu aku menggagalkan transaksi sekelompok pengedar narkoba. Salah satu dari mereka terluka. Kurasa mereka sedang membalas dendam.”

Mendengar itu, Adam tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Jason tanpa berkedip.

“Kenapa baru sekarang kau mengatakannya? Kau sadar, gara-gara penyelidikan ini, Keluarga Smith hampir menyinggung Keluarga Rothwell?”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
Amri Lock
makin menarik Eric cerdas main psikologis
goodnovel comment avatar
Muhammad Asmawi
mantapppp bagus ceritanya
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Pewaris Terlupakan    Bab 76

    Robert melirik pesan yang masih terbuka di layar ponselnya. “Robert? Memangnya apa yang sedang terjadi?” “Tidak ada.” Ia tidak berniat membuat istrinya ikut memikirkan masalah tersebut. “Aku hanya ingin memastikan.” “Baiklah.” Percakapan mereka sempat terdiam beberapa saat. “Bersabarlah sedikit lagi,” ucap Robert. “Setelah Nadine menyelesaikan SMP-nya, aku akan mengurus semuanya. Kalian pindah ke Velora dan kita akan tinggal bersama.” Hening sesaat terdengar dari seberang. “Kau serius?” “Aku sudah mempertimbangkannya.” Suara wanita itu terdengar lebih cerah. “Baiklah. Aku akan menunggu.” Robert tersenyum kecil. “Kau juga jangan terlalu memaksakan diri di sana,” lanjut wanita itu. “Pekerjaanmu memang penting, tapi jangan sampai lupa beristirahat.” “Aku tahu.” “Kau selalu mengatakan itu. Awas saja jika aku mendapat kabar kau sakit lagi.” Robert tertawa pelan. “Baiklah. Aku akan lebih memperhatikannya.” “Bagus.” Keduanya kembali berbicara sebentar sebelum a

  • Pewaris Terlupakan    Bab 75

    Eric menatapnya beberapa saat.“Memangnya setiap hubungan harus dimulai dengan mengungkapkan perasaan?”“Harus. Itu sudah menjadi hukum mutlak.”“Kenapa harus?”Andreas mengernyit seolah pertanyaan itu terdengar aneh. “Karena kalau tidak ada yang mengatakannya, bagaimana kalian tahu hubungan kalian sudah sampai mana?”“Bukankah sikap seseorang sudah cukup untuk menunjukkan perasaannya?”“Itu berbeda.” Andreas menggeleng. “Kau bisa memperlakukannya dengan baik, dia juga bisa melakukan hal yang sama kepadamu. Tapi selama tidak ada yang mengatakannya, kalian tetap tidak punya hubungan apa-apa.”Eric terdiam sejenak.“Jadi menurutmu, setelah mengungkapkan perasaan, hubungan itu otomatis menjadi resmi?”“Kalau dia menerimamu, tentu saja.” Andreas menatapnya heran. “Memangnya selama ini kau pikir orang-orang mulai berpacaran bagaimana?”Eric tertawa kecil. “Aku hanya bertanya.”Andreas menggelengkan kepala tak berdaya.“Duduk, duduk.”Eric menarik kursi dan duduk.Andreas memasang wajah ser

  • Pewaris Terlupakan    Bab 74

    Dominic terdiam.Tiga pasang mata menatapnya, menunggu jawaban. Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Eric, Dominic justru menghela napas.“Jangan melempar pertanyaan seperti itu. Bagaimana aku bisa meninggalkan pekerjaanku yang sekarang? Sumber penghasilanku cuma dari sana.”“Memangnya berapa gajimu sekarang?”“Seribu lima ratus dolar.” Dominic berhenti sejenak. “Baru-baru ini naik seratus dolar. Katanya performa kerjaku cukup baik.”Eric merapikan sendok di samping piringnya.“Apa kau ingin berkuliah atau tidak?”Dominic mengerutkan kening. “Kau menanyakan itu terus. Memangnya kau mau membiayai kuliahku?”“Kenapa tidak?”Dominic terdiam.Ia mengira Eric hanya sedang menggodanya. Namun, ekspresi Eric tidak menunjukkan sedikit pun tanda sedang bercanda.“Jangan bercanda seperti ini. Nanti aku benar-benar menganggapnya serius.”“Aku memang serius.” Eric tersenyum kecil. “Bagaimana kalau seperti ini? Kau akan mendapat beasiswa dari perusahaanku. Sebagai gantinya, setelah lulus nanti, kau

  • Pewaris Terlupakan    Bab 73

    Setelah berbicara dengan beberapa tamu, Eric akhirnya memiliki sedikit waktu untuk bernapas.Namun, belum sempat ia meninggalkan tempatnya, seseorang sudah berjalan menghampirinya.“Akhirnya kerja kerasmu selama ini terbayar lunas.”Eric menoleh.Xavia berdiri di hadapannya dengan senyum kecil.“Selamat.”“Terima kasih.”Tatapan Xavia sempat turun ke bahu Eric. Ia kemudian membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sapu tangan.“Ada noda kecil di jasmu.”Eric mengikuti arah pandangannya dan baru menyadari noda tersebut.“Oh, untung kau melihatnya.” Ia menerima sapu tangan itu dan membersihkan noda di jasnya.Xavia hanya tersenyum melihatnya.“Terima kasih.” Eric mengembalikan sapu tangan tersebut.Xavia mengangguk kecil lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.Tidak jauh dari sana, Andreas dan Dominic yang melihat keduanya mulai berbicara pelan sambil sesekali tertawa.Xavia kembali menatap Eric.“Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu mulai sekarang? Tuan Brown, Tuan Eric, atau Tuan Muda?”

  • Pewaris Terlupakan    Bab 72

    Tidak lama setelah Eric mengambil tempat di barisan depan, acara peresmian akhirnya dimulai.Seorang pembawa acara naik ke atas panggung dan menyambut seluruh tamu yang hadir. Setelah beberapa kata pembuka, Wali Kota Oxfield mendapat kesempatan memberikan sambutan singkat sebelum akhirnya giliran Robert dipanggil.Tepuk tangan kembali terdengar.Robert berdiri dari kursinya dan berjalan menuju panggung.Sebagai Presiden Direktur, dialah yang selama satu bulan terakhir menangani hampir seluruh proses pembangunan perusahaan. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, lalu menjelaskan secara singkat arah perusahaan dan rencana mereka setelah mulai beroperasi.Namun, tidak semua perhatian tertuju kepadanya.Sesekali, beberapa pasang mata beralih ke barisan depan.Eric duduk tenang bersama para pemegang saham lainnya.Di antara para pengusaha, pejabat, dan orang-orang dari industri farmasi yang memenuhi tempat itu, usianya terlihat sangat muda.“Dia Eric Brown?”“Y

  • Pewaris Terlupakan    Bab 71

    Satu bulan berlalu.Dalam waktu sesingkat itu, banyak hal telah berubah.Perusahaan farmasi yang sebulan lalu masih berupa rencana di atas meja kini telah berdiri.Kantor pusat di Oriville mulai beroperasi dua minggu lalu. Alih-alih membangun dari nol, mereka membeli sebuah gedung yang sudah berdiri dan merenovasinya sesuai kebutuhan. Sebagian besar urusan administrasi dan manajemen perusahaan kini ditangani dari sana, sementara fasilitas produksi utama berada di Oxfield.Robert menepati perkataannya.Dengan bantuan dua belas keluarga, berbagai hal yang seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan berhasil diselesaikan jauh lebih cepat. Tenaga ahli didatangkan, jaringan pemasok dibentuk, jalur distribusi dipersiapkan, sementara fasilitas yang mereka dapatkan di Oxfield direnovasi dan disesuaikan dengan kebutuhan produksi.Eric sendiri tidak banyak terlibat dalam urusan tersebut.Selama satu bulan terakhir, sebagian besar waktunya digunakan untuk menyempurnakan formula dua produk pertam

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status