Share

Bab 90

Penulis: Biee
last update Tanggal publikasi: 2026-02-25 12:03:56

Bara mencapai puncaknya dengan satu hentakan terakhir yang sangat keras. Dia mengerang rendah sambil menumpahkan seluruh cairannya ke dalam rahim Sandra. Setelah itu, dia segera menarik diri dan membiarkan tubuh Sandra jatuh tersungkur di atas lantai granit yang dingin.

Bara berdiri dengan tenang, menarik napas dalam untuk mengatur detak jantungnya. Dia merapikan ikat pinggang dan kemejanya yang sempat berantakan tanpa ada sedikit pun rasa kasihan. Di bawah kakinya, Sandra tampak san
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 247

    Bara melangkah keluar dari lobi HDK Group tepat saat langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga gelap. Angin sore yang membawa debu kota menerpa wajahnya, namun Bara tak bergeming. Tanpa disadarinya, langkah kaki yang ragu-ragu mengikutinya dari belakang.Maya berjalan cepat dengan napas memburu, menyusul Bara yang baru saja tiba di area parkir basement yang agak sepi."Bara... tunggu sebentar!" panggil Maya dengan suara berbisik, takut suaranya memantul di dinding beton.Bara menghentikan langkahnya, lalu berbalik pelan. Ia menatap sekretaris pribadi ayahnya itu dengan sebelah alis terangkat. Wajah Maya tampak pucat, tetapi ada binar gugup dan sisa-sisa rasa takut yang perlahan berubah menjadi nekat."Ada apa lagi, Mbak Maya? Takut rahasia Anda bocor?" tanya Bara datar, sengaja menekan nada suaranya agar terdengar dingin.Maya menggigit bibir bawahnya. Ia melangkah mendekat, sengaja merapatkan tubuhnya hingga aroma parfum mahal bercampur keringat dingin menyeruak ke penciuman

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 246

    Sandra mematung di kursinya. Bola matanya membesar, menatap Bara tanpa berkedip. Jari-jemari lentiknya yang putih meremas ujung kardigan rajutnya kuat-kuat."L-lo serius, Bar?" cicit Sandra dengan suara bergetar. "HDK Group itu perusahaan gede banget. Masa bisa bangkrut?"Bara bersandar santai ke kursi. Ia meraih cangkir kopinya, menyesap cairan hitam itu perlahan, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.Tuk."Kelihatannya saja megah, Sandra. Isinya sudah habis," sahut Bara datar. "Papamu cuma dijadikan tameng. Begitu ada masalah keuangan, perusahaan papamu yang bakal dikorbankan pertama kali oleh Handoko."Sandra menelan ludah.Glek.Kardigan rajut tipis yang dikenakannya sedikit melorot, memperlihatkan bahu mulusnya yang putih bersih. Dua gundukan dadanya yang padat naik-turun cepat seiring napasnya yang memburu. Aroma manis vanila dari tubuhnya menguar makin kuat saat ia memajukan badannya ke arah Bara."Tapi, Bar... Papa mana mau dengar omongan gue?" rengek Sandra manja bercampur

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 245

    Bara bangkit dari kursinya dengan tenang. Ia menatap Maya yang masih terduduk lemas di balik meja kerjanya. Tubuh wanita itu tampak kaku, riasan wajahnya yang tebal tak mampu menyembunyikan pucat pasi di pipi."Rapatkan kancing blazermu, Mbak. Hapus keringatmu sebelum Bapak datang," ucap Bara datar sambil menunjuk kerah blazer Maya yang melorot.Sret!Dengan tangan gemetar, Maya buru-buru menarik kerah blazernya dan merapikan kancing atas kemejanya. Napasnya masih tersengal pendek, membuat belahan dadanya naik-turun kencang di balik kain sutra tipis itu."I-iya, Bar... saya nurut," cicit Maya dengan suara nyaris berbisik. Matanya memandang Bara dengan tatapan takut bercampur tunduk.Tuk! Tuk!Bara melangkah santai menuju lorong lift lantai lima. Di tempat yang sepi, ia mengeluarkan ponselnya yang masih bergetar di saku celana.Bzzzt...Ia menggeser tombol hijau ke kanan, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga."Halo," sapa Bara dengan suara berat dan tenang."Bara! Lo ke mana aja

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 244

    Bara duduk di tepi ranjang. Kamar belakang itu remang. Jarum jam di dinding menunjuk pukul 23.30.Bara membuka laci meja kecil di samping kasur. Sebuah flashdisk hitam dan map tipis salinan laporan keuangan ia letakkan di pangkuan.Tok! Tok! Tok!Pintu diketuk tiga kali dari luar.Bara memasukkan map kembali ke laci, lalu melangkah dan memutar kunci pintu.Kriet.Marissa berdiri di lorong gelap. Gaun tidur sutra krem yang tipis itu hanya ditutupi kardigan rajut pendek. Lekuk buah dadanya yang padat terlihat jelas menonjol di balik kain sutra saat wanita itu menarik napas cepat."Bara..." bisik Marissa gemetar.Marissa melangkah maju satu jengkal. Bau wangi melati dari leher mulusnya langsung menusuk hidung Bara."Ada apa, Tante?" tanya Bara datar."Bapakmu baru tidur setelah minum obat penenang," cicit Marissa pelan. Matanya yang bulat tampak basah dan gelisah. "Tapi tadi dia sempat telepon pengacaranya.""Mau apa Bapak?""Bapak mau alihkan sebagian sisa saham kantor atas nama Keyla s

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 243

    Bara menatap lurus ke arah Sandra. Matanya mengunci pandangan gadis di depannya tanpa berkedip."Aku serius, Sandra," ucap Bara dengan nada rendah dan mantap. "Kalau kamu mau aku bantu, ikuti instruksiku. Jangan gegabah."Sandra menelan ludah. Wajahnya yang memerah masih basah oleh keringat tipis. Ia mengangguk pelan."O-oke... gue dengerin omongan lo," cicit Sandra. Bibirnya yang dipoles lip balm merah muda mengerucut. "Tapi lo janji ya, Bar... jangan sampai nenek sihir itu rebut peninggalan Nyokap gue.""Dia tidak akan berhasil," jawab Bara singkat.Tangan besar Bara terangkat, menepuk bahu mulus Sandra yang terbuka di balik crop top putihnya. Kulit lehernya yang mulus bergetar halus saat bersentuhan dengan jari-jari Bara."Sekarang kamu pulang. Bersihkan badan, lalu bersikap biasa saja di depan papamu," kata Bara. "Jangan tunjukkan kalau kamu tahu rencana Monica.""Gue pulang duluan, Bar," pamit Sandra pelan.Sandra meraih tas mewahnya dari sofa, lalu berjalan menuju pintu keluar.

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 242

    "Lo pikir gue mesin, hah?!" bentak Sandra melotot.Gadis itu berdiri tegak di depan cermin, menghentikan posisi squat-nya. Kaos crop top putih ketatnya makin tertarik ke atas, memamerkan perut mulusnya yang kencang. Dua gundukan dadanya yang montok menonjol menantang, naik-turun cepat seiring napasnya yang terengah-engah. Celana pendek abu-abu ketatnya mencekik paha mulusnya yang tampak lelah.Bara berdiri di sampingnya dengan jarak aman, memperhatikan postur Sandra dengan teliti. Matanya bergerak menilai paha dan lutut gadis itu agar tidak terkilir. Anak kota yang dulu selalu merundungnya di sekolah ini sekarang menurut di bawah bimbingannya. Rasa puas merayap pelan di dada Bara."Lanjut sepuluh kali, Sandra. Gerakannya dijaga, lututnya jangan melebihi ujung kaki," ucap Bara sopan namun tegas.Whuush!Sandra memutar tubuhnya cepat menghadap Bara. Rambut panjang kuncir kudanya mengibas udara, menyebarkan aroma parfum vanila yang manis dan pekat ke hidung Bara."Bara! Lo bener-bener ga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status