MasukBAGAIMANA KALAU KITA MEMBELI BRA BERSAMA?☘️☘️☘️Pagi baru saja melewati pukul tujuh ketika Rai berdiri di sudut rumah yang paling sunyi- area mesin cuci. Cahaya matahari masuk miring lewat ventilasi, memantul pada lantai yang masih lembap. Dengan gerakan otomatis, ia meraih kaos pendek yang ia kenakan semalam, hendak memasukkannya ke dalam mesin.Namun tangannya terhenti.Di antara pakaian yang menumpuk, selembar pakaian dalam milik Helena tampak mencolok. Ada noda darah yang sudah mengering. Rai mengerutkan dahi, lalu tanpa sadar meraih pakaian itu dan memperhatikannya lebih saksama. Dadanya mengeras oleh campuran kaget dan cemas-rasa yang hanya dimiliki orang tua ketika sesuatu terasa tak beres."Yah—"Suara Helena terdengar dari belakang. Gadis itu datang sambil membawa segenggam kaus kaki. Langkahnya terhenti begitu melihat apa yang ada di tangan ayahnya.Rai menoleh. "Helena," katanya pelan namun serius. "Ini kenapa berdarah?" Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada ya
HATI YANG MULAI MENGHANGAT ☘️☘️☘️ Anasera merapikan selimut kecil yang menutupi tubuh putranya. Bocah lima tahun itu telah terlelap, napasnya teratur, satu tangan masih menggenggam ujung bantal seolah takut kehilangan mimpi. Anasera duduk di tepi ranjang beberapa detik lebih lama, menyingkirkan anak rambut dari kening sang anak, lalu mengecup pelan dahinya. Di kamar itu, lampu temaram menjaga keheningan, menyisakan rasa aman yang selalu ia upayakan sendirian. Ia berdiri perlahan, mematikan lampu kamar, dan menutup pintu tanpa suara. Langkahnya menyusuri lorong rumah terasa lebih berat dari biasanya. Di dapur, ia menyalakan kompor kecil, menuang air panas ke dalam cangkir. Teh celup itu dibiarkannya terendam sejenak, uapnya naik tipis- hangat, sederhana, seperti hal-hal yang ingin ia pertahankan malam ini. Ia tahu Rai menunggu di ruang tamu, sama seperti sejak mereka pulang dari restoran Jepang tadi, setelah Rai mengantar mereka tanpa banyak tanya. Cangkir itu digenggamnya erat
APA ITU PERNIKAHAN? ☘️☘️☘️ Pernikahan bukanlah tentang pesta yang meriah atau gaun yang menjuntai anggun di lantai. Ia adalah perjanjian sunyi antara dua jiwa yang berani tinggal, bahkan ketika cinta tak selalu berbunyi nyaring. Ia tentang pagi-pagi yang dimulai dengan mata sembab dan secangkir kopi yang dingin, tentang percakapan pendek yang kadang berakhir diam. Tentang belajar memahami jeda, menerima perbedaan, dan memilih untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa terlalu gaduh. Pernikahan adalah keberanian untuk pulang- berulang kali-pada orang yang sama. Menjadi saksi atas perubahan, kegagalan, dan mimpi yang tumbuh pelan-pelan. Di dalamnya, cinta tidak selalu berwujud kata manis, melainkan kesetiaan yang bertahan dalam rutinitas, serta doa-doa yang diam-diam disematkan sebelum tidur. Dan pada akhirnya, pernikahan adalah tentang dua orang yang sepakat untuk menua bersama: saling memaafkan, saling menjaga, dan saling memilih- setiap hari, tanpa perlu janji yang
KEDEKATAN YANG TAK DISADARI ☘️☘️☘️ Rai berhenti tepat di balik pintu kaca rooftop. Ia tidak perlu bertanya siapa perempuan itu. Dari cara berdirinya, dari bahasa tubuh yang tenang namun penuh perhatian, Rai langsung mengenalinya. Anasera. Dokter anak yang beberapa kali berpapasan dengannya di koridor rumah sakit, yang namanya tak asing di papan jadwal jaga, dan yang pagi ini berdiri di dekat putrinya seolah mereka telah saling mengenal lama. Pemandangan itu membuat Rai terdiam lebih lama dari yang ia rencanakan. Helena duduk di bangku besi, tubuhnya condong sedikit ke depan- posisi yang jarang ia ambil saat bersama orang baru. Di antara mereka ada seorang anak laki-laki kecil, lima tahunan, sibuk membuka kotak makan. Rai menebak itu pasti putra Anasera. Tebakan yang entah kenapa terasa tepat. Rai menyandarkan bahunya ke dinding, memilih untuk tetap di tempat. Ia memperhatikan detail kecil yang biasanya luput dari pandangan orang lain: cara Helena mengangguk sambil menahan senyu
STIKER DI CASE PONSEL ☘️☘️☘️ Rumah sakit berdiri seperti janji yang tak pernah diucapkan dengan suara keras. Dinding-dindingnya menyimpan napas yang ditahan, doa yang lirih, dan langkah-langkah tergesa yang belajar untuk tenang. Di sini, waktu tak berlari- ia berjalan tegak, memaksa siapa pun untuk sabar. Aroma antiseptik bukan sekadar bau, melainkan tanda kesiapan. Bahwa setiap luka akan ditangani dengan kepala dingin, bahwa setiap nyeri diberi nama, lalu dicari jalan pulangnya. Lampu-lampu putih menyala tanpa ragu, menegaskan bahwa gelap tak pernah diberi ruang terlalu lama. Monitor berdetak seperti jam kehidupan- tegas, konsisten, tak bisa diajak berkompromi. Para tenaga medis bergerak dengan sunyi yang terlatih, tatapan mereka lembut, tetapi keputusan di tangan mereka kokoh. Di balik masker dan jas putih, ada keberanian yang tak perlu diumumkan. Rumah sakit bukan hanya tempat sembuh, ia adalah ruang belajar tentang bertahan. Tentang menerima kenyataan dengan dada
PESAN YANG MULAI DI BALAS ☘️☘️☘️ Hujan datang tanpa mengetuk, menyapu sore yang letih dengan suara jatuh yang berulang. Ia menimpa atap-atap tua, jendela yang setengah terbuka, dan kenangan yang tak sempat disusun rapi. ~~~ Uap tipis mengepul dari semangkuk bakmi di hadapan Rai, mengaburkan sedikit pandangannya. Ia duduk berhadapan dengan Anasera, sendoknya baru saja menyentuh kuah panas ketika suara langkah kaki berhenti tepat di samping meja mereka. Di bawahnya, jalanan berubah menjadi cermin "Lho, dokter ternyata disini?" sapa salah satu kolega Rai Adhinatha yang menatapnya penuh tanya karena saat ini Rai tengah duduk berhadapan dengan seorang perempuan. Suara itu membuat tubuh Rai menegang seketika. Ia mendongak, lalu refleks berdiri, kursinya bergeser pelan ke belakang. Wajahnya berubah kaku-seperti seseorang yang terpergok melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan, meski tak ada yang benar-benar salah. Tangannya masih menggenggam sendok, menggantung c







