เข้าสู่ระบบ“Sayaaaaaaang,” panggilan itu benar-benar dirindukan oleh Salsa. Ia tak pernah menyangka akan kembali menjadi wanita simpanan pria yang sama. Wanita yang katanya paling dicintai tetapi justru tidak pernah diketahui oleh publik. Wanita yang katanya selalu memberikan kenikmatan tiada tara tapi belum pernah digandeng saat mereka pergi ke pusat perbelanjaan ataupun butik perhiasan. Salsa ingin sekali di akui oleh pria ini seperti saat Nathan menggandeng Clara di tempat umum. Akankah itu akan terjadi? Atau justru mereka akan selamanya seperti ini? Semua pertanyaan itu terus berputar-putar di dalam benak Salsa. Tak ada satupun dari pertanyaannya yang menemukan jawaban. Mungkin Salsa adalah perempuan paling bodoh di dunia ini yang dengan sukarela menyerahkan tubuhnya pada pria yang dulu membelinya. Mungkin Salsa adalah perempuan yang paling tidak tahu diri karena mau berduaan saja di tempat ini bersama pria yang sudah sah menjadi tunangan wanita lain. Entah kenapa rasa cemburu itu kembali
“Harusnya kita gak boleh seperti ini,” ucap Salsa. Dia masih ingin menyadarkan Nathan kalau yang mereka lakukan ini tidak benar. Tapi tubuhnya merespon baik sentuhan pria itu. Harusnya Salsa langsung pergi atau menolak pertemuan ini, tapi logikanya dikalahkan oleh sentuhan panas Nathan. Pria itu mulai menghisap dada Salsa membuat tubuh wanita itu melengkung ke depan seakan memberi akses penuh buat Nathan melakukan lebih. Posisi mereka masih berdiri dan tubuh Salsa menempel di pintu kamar apartemen. Nathan mulai melepaskan baju Salsa tanpa pedulikan rengekan wanita itu. Menurutnya kalau nanti Salsa sudah merasakan senjatanya bersarang di bagian intimnya, Nathan yakin penolakan halus ini akan berubah menjadi desahan hebat yang Nathan rindukan.TiiiingKancing baju Salsa terlepas karena pria itu membukanya dengan buru-buru. Decakan halus keluar dari mulut Salsa membuat Nathan hanya nyengir menyadari kesalahannya. Kini, pakaian bagian atas Salsa sudah terlepas dan tubuh bagian atas wan
“Jangan bikin kami malu!” seru mamanya Clara, menatap Nathan dengan penuh tuntutan agar calon menantunya ini tidak mengulur-ngulur waktu lagi.Nathan membuang napas kasar. Ia tidak kehilangan kendali sedikit pun. Dengan sangat tenang, ia tetap menyerahkan cek fantastis itu ke tangan Pak Darmawan.“Tolong simpan ini, Om,” ujarnya sedikit memaksa.Karena sejak awal sudah termakan oleh logika bernilai puluhan triliun yang disusun Nathan, Pak Darmawan tanpa ragu menyambut cek tersebut. Pria itu langsung memasukkan cek tersebut ke dalam dompet kecil yang dibawanya setelah memastikan kalau cek itu asli. Senyum puas langsung terbit di wajahnya.“Kalau suatu saat nanti kamu membutuhkan bantuan lagi, jangan lupa kalau orang pertama yang harus kamu datangi adalah Om,” ucap Pak Darmawan sok mengayomi.Di dalam hati, Nathan menggerutu geli. Dulu, saat ia berniat baik mengembalikan uang bantuan sebesar dua puluh lima triliun, Pak Darmawan menolaknya dengan mentah-mentah. Pria itu berdalik agar Nat
Melihat gelagat Pak Darmawan yang sengaja memojokkannya di depan umum, otak bisnis Nathan bekerja cepat. Sebagai seorang pengusaha sekaligus negosiator ulung, Nathan paham betul emosi hanya akan menghancurkan posisinya dan memberi kemenangan telak untuk lawannya. Dalam hitungan detik, ia sudah menyusun taktik di dalam benaknya.Nathan melangkah, menyamai langkah Pak Darmawan lalu berbisik di samping telinga pria paruh baya itu mengabaikan sapaan dari keluarga besarnya. “Bisa kita bicara sebentar, Om?”Pak Darmawan memicingkan mata, menatap calon menantunya dengan pandangan menyelidik. Pria paruh baya itu tahu betul ada penolakan di mata Nathan. “Kita tuntaskan dulu acaranya, Nathan. Tidak enak sama tamu, sudah dari tadi menunggu,” potongnya cepat sambil terus melangkah menjauhi Nathan.Namun Nathan tidak tinggal diam. Ia tetap mengekor tepat di belakang Pak Darmawan.“Sebentar saja, Om. Cukup Om, Tante, dan Clara,” ulang Nathan. Kalimat yang terucap dari mulutnya tidak terdengar memoh
Nathan sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh dari area utama. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi tanda tanya besar yang apa yang terjadi di tempat ini. Jika memang hari ini di rumah Clara menggelar acara besar, mengapa Pak Darmawan sama sekali tidak memberi tahunya? Mengapa pria paruh baya itu justru menyetujui kedatangannya seolah-olah ini hanya pertemuan biasa untuk mengembalikan bantuan yang pernah diberikan pria itu saat Nathan terpuruk?Belum sempat Nathan mengurai kekacauan di benaknya, pintu mobil ia buka. Ia melangkah keluar hanya berbalut kemeja santai dan celana jeans. Namun penampilannya yang ala kadarnya itu sama sekali tidak melunturkan aura tampan dan wibawanya. Dari kejauhan, Clara yang melihat kedatangannya langsung berjalan menghampiri dengan senyum binar yang tak sanggup ditutupi. Kilatan lampu kamera dari wartawan seketika menyambar bertubi-tubi ke arah Nathan dan Clara, memaksa pria itu memejamkan mata berulang kali demi menghalau rasa silau yang membakar pandanga
“Kalau dia menolak lagi?” tanya Salsa penuh rasa kekhawatiran kalau semua usaha Nathan tidak akan pernah berhasil.“Aku akan berusaha terus sampai dia mau menerima uang itu lagi,” jawab Nathan. Pria itu mengulurkan tangan, lalu punggung tangannya mengusap lembut pipi Salsa. “Aku akan berjuang sampai aku bisa memilikimu seutuhnya, sayang.”Untuk beberapa detik tatapan mereka saling mengunci. Ada keraguan di mata Salsa, tapi kehangatan di ibu jari pria itu saat mengusap pipinya perlahan mengikis rasa takut di dalam hatinya. Salsa tahu perjuangan ini sama sekali tidak mudah. Jalan di depan mereka penuh kerikil tajam, tapi di dalam hati kecilnya Salsa sudah mantap untuk terus berdiri di samping pria ini, mendukung setiap langkahnya tanpa harus melukai perasaan wanita lain. Walau jujur saja, rasa cemburu sesekali masih saja mencubit hatinya setiap kali teringat pengumuman hubungan pria itu dengan Clara beberapa tahun lalu.Salsa menunduk sebentar, menatap jemarinya yang bertaut di atas mej
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya
Di sisi lain, layar ponsel di genggaman Zara mendadak terasa panas saat sebuah unggahan video di media sosial menampilkan sosok Aditya. Di dalam rekaman video itu, Aditya berjalan menunduk dengan tangan terborgol, dikelilingi beberapa petugas kepolisian yang menggiringnya masuk ke mobil tahanan. T







