เข้าสู่ระบบNana sudah terlelap sejak satu jam yang lalu, gadis itu kelelahan menangis dan berakhir tertidur di atas lantai. Tidak memerlukan tenaga ekstra untuk Agnira memangku Nana, karena Nana sangatlah ringan.
Agnira mengusap pelan surai hitam yang terlihat berantakan itu. Kasih sayang Agnira untuk Nana sudah ada sejak lama, sayangnya kondisi yang membuat segalanya menjadi rumit. Tatapan Agnira beralih pada kalender di dinding kamar, tersisa dua minggu lagi dan semua akan selesai.MMakan malam terasa hening di antara keduanya. Tidak ada satu pun yang memulai percakapan, hanya suara denting sendok dan garpu yang sesekali terdengar memecah kesunyian.Agnira terlihat begitu lahap menghabiskan makan malamnya. Berkali-kali wanita itu menambah nasi dan mengambil ayam di depannya, sampai-sampai ia sudah tidak lagi memedulikan keberadaan Sambara yang duduk di sampingnya.Entah kenapa, akhir-akhir ini nafsu makan Agnira meningkat drastis. Ia jadi lebih mudah lapar, sering merasa pusing, cepat lelah, dan suasana hatinya pun berubah-ubah tanpa alasan yang jelas."Bi ... Bi Nurma!" panggil Agnira tiba-tiba dengan suara cukup nyaring.Bi Nurma yang mendengar panggilan itu segera datang tergopoh-gopoh. Wanita paruh baya itu langsung menunduk hormat begitu sampai di depan meja makan."Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nurma sopan.Agnira terdiam sejenak. Pipi wanita itu masih menggembung penuh oleh suapan nasi di mulutnya."Tolong buatkan cireng," ucapnya polos.Pe
Raungan tangis terdengar nyaring memenuhi kediaman utama Lakeswara. Dini tampak bersimpuh lemas di depan jasad putrinya yang telah terbujur kaku, tangis wanita itu pecah tanpa bisa dibendung lagi, memecahkan sunyi malam yang terasa begitu muram.Beberapa pelayat datang silih berganti. Suara lantunan doa terdengar samar bercampur isak tangis yang sesekali kembali pecah di dalam rumah besar itu.Di sisi lain, beberapa anggota polisi terlihat berdiri menjelaskan kronologi kecelakaan yang menimpa Ajeng.Menurut keterangan yang mereka terima, Ajeng mengemudi dalam keadaan mabuk berat dengan kadar alkohol yang sangat tinggi di dalam darahnya. Saat lampu lalu lintas berubah merah, gadis itu justru menerobos jalan tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun.Nahas, dari arah berlawanan sebuah truk melaju kencang dan tabrakan itu tidak dapat dihindari lagi. Mobil Ajeng hancur cukup parah di bagian depan, membuat gadis itu mengalami pendarahan hebat sebelum akhirnya kehilangan nyawanya di rumah saki
Agnira menjadi orang pertama yang tersadar setelah kejadian panjang yang mereka lewati. Wanita itu menggeliat pelan di dalam dekapan Sambara, tubuhnya terasa pegal karena tertidur dalam posisi duduk di ruang sempit mobil.Kelopak matanya mengerjap perlahan saat merasakan sesuatu yang keras dan hangat berada dalam pelukannya. Agnira mendongak pelan, matanya langsung membulat sempurna saat menyadari Sambara tertidur tepat di sampingnya.Napas Agnira tercekat. Terlebih saat ia sadar tidak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuh mereka, selain jas Sambara yang tersampir berantakan di paha wanita itu.“Sial ... kenapa bisa aku semurah ini?” bisiknya pelan sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, merutuki dirinya sendiri.Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian Agnira menjauh dari dekapan Sambara. Cahaya matahari senja mulai meredup di balik gedung-gedung tinggi, menandakan waktu sudah hampir malam saat Agnira akhirnya terbangun.Agnira menelan ludah pelan. Wajahnya masih terasa panas
"Aaah ...,"desah halus itu terdengar samar di dalam ruang sempit mobil.Kepala Agnira perlahan mendongak saat bibir Sambara mulai menelusuri lehernya dengan kecupan-kecupan hangat. Jemari wanita itu tanpa sadar meremas pelan rambut Sambara, sementara tubuhnya bergetar samar setiap kali pria itu kembali menyentuhkan bibirnya di sana.Napas mereka saling bertabrakan. Udara di dalam mobil terasa semakin panas, dipenuhi suara desahan kecil dan detak jantung yang sejak tadi berdentum tidak karuan.Sambara mengangkat wajahnya perlahan, menatap Agnira yang masih berada di atas pangkuannya dengan napas memburu. Wajah wanita itu memerah, sementara jemarinya masih mencengkeram pelan bahu suaminya."Apa kau menginginkannya?" tanya Sambara di sela-sela aktivitasnya. Jemarinya terus bergerak perlahan menyusuri tubuh Agnira, menghadirkan sentuhan hangat yang membuat wanita itu tanpa sadar memejamkan mata, larut dalam setiap sentuhan Sambara.Tangan pria itu turun perlahan hingga berhenti di paha A
Sirine ambulans terdengar nyaring saat kendaraan itu perlahan meninggalkan area rumah sakit. Setelahnya, keheningan yang sejak tadi menggantung kembali menyelimuti suasana. Agnira masih menatap lurus ke arah Ambulance yang kian menjauh, pandangannya kosong dengan dada yang terasa sesak."Kita harus bicara." Sambara berucap serius dan menarik lengan Agnira. Wanita itu berusaha memberontak, namun cekalan pada lengannya terlalu erat untuk dilepaskan. Agnira terseret mengikuti langkah lebar Sambara, hingga tubuhnya terdorong pelan ke sisi pintu mobil."Tidak cukup dengan mulut jahatmu aku tersiksa, sekarang kau ingin menambah dengan fisik juga!" hardik Agnira sambil mengusap lengannya yang memerah.Sambara memijat pelan pangkal hidungnya. Agnira benar-benar sedang sensitif hari ini, dan itu cukup membuat Sambara kewalahan."Dengarkan saya dulu!" pinta Sambara sedikit meninggikan suaranya."Mau apa? Hah!" bentak Agnira tak kalah murk
Seseorang yang duduk di seberang Agnira terus menatap tajam ke arahnya, tatapan itu membuat Agnira merasa tidak nyaman bahkan untuk sekadar bergerak. Cukup lama keduanya terdiam dalam hening yang menyesakkan, tidak ada satu pun yang berani membuka suara terlebih dulu.Agnira masih dengan ego tingginya. Sementara itu, Sambara masih mempertahankan harga dirinya, mereka sama-sama bungkam, sampai waktu berlalu cepat dan ruang IGD terbuka lebar. Satu dokter keluar, wajahnya menunjukkan lelah dan sendu secara bersamaan."Bagaimana keadaan adik kami, dok?" tanya Agnira cepat, wajahnya menunjukkan raut cemas.Dokter menunduk sekilas. "Maaf, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin." Mata Agnira membulat sempurna, kepalanya berdenging tatkala mendengar berita yang cukup menghantam dirinya. Kakinya limbung dan dengan cepat di tangkap oleh Sambara, pria itu mendekapnya hangat dan menahan tubuh istrinya dengan kuat."M-maksud Dokter ...? Suara Agnira terdengar bergetar samar.Dokter itu menari







