공유

Bab 72

작가: D.N.A
last update 게시일: 2026-05-24 18:50:40

"Jadi, Bu Agnira akan tetap pada rencana awal?" tanya Kenan sekali lagi, ia harus memastikan dengan cermat.

Agnira mengangguk yakin. Ini sudah menjadi keputusannya sejak awal dan tidak bisa diganggu gugat, toh tinggal satu minggu lagi semua akan selesai.

"Setelah dari sini saya akan ke pengadilan agam untuk mengurus segalanya," beritahu Agnira dengan wajah tersenyum pahit.

Hati Kenan ikut terremas saat melihat senyum milik atasannya itu. Namun apa yang membuat Agnira begitu yakin ingin bercerai
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Elismail
Akankah Dini menyalahkan Agnira lagi.
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 282

    "Sampai kapan kita di sini?" tanya Agnira menatap dalam, pada manik mata suaminya. Mereka berdiri di pesisir pantai dengan air laut yang terasa kuat menerpa tubuh keduanya. "Mulai bosan?" tanya Sambara seraya menarik tubuh Agnira semakin merapat, melindunginya dari terpaan angin laut yang mulai dingin menusuk kulit.​Agnira menggeleng pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami seraya menikmati detak jantung Sambara yang berirama tenang. Jemarinya saling bertaut erat dengan jemari pria itu, basah oleh buih ombak yang menyapu pergelangan kaki mereka.​"Bukan bosan," bisik Agnira lembut, pandangannya tertuju pada garis cakrawala, tempat langit senja bertemu dengan laut lepas. "Hanya merasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita melarikan diri ke tempat ini, dan sekarang .... Kalandra sudah mulai menatap jalannya sendiri."​Sambara mengecup pelipis istrinya, menghirup aroma laut yang bercampur harum tubuh wanita yang menjadi poros hidupnya tersebut. Sudut bi

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 281

    Baling-baling helikopter berhenti berputar di landasan udara milik keluarga Lakeswara. Sosok pria bertubuh tinggi tegap melangkah turun dari kabin helikopter dengan mantel hitam panjang yang berkibar diterpa angin fajar. Arga Wibisono menatap sekeliling landasan helipad pribadi di puncak tebing selatan itu dengan tatapan tajam dan berwibawa, mencerminkan sosok penguasa maritim yang tak tertandingi.​Di tepi landasan, Sambara berdiri tegak menanti bersama Agnira yang merapatkan selendangnya. Di samping mereka, Arsen dan Leonard berjaga dalam posisi siaga penuh, sementara Kalandra berdiri diam dengan kedua tangan terlipat di depan dada.​"Sambara," sapa Arga dengan suara berat dan tenang, mengulurkan tangan kanannya.​Sambara menyambut jabat tangan itu dengan cengkeraman kokoh. "Empat tahun waktu yang cukup panjang, Arga. Wilayahmu sudah bersih?"​"Tuntas tanpa sisa," sahut Arga seraya tersenyum tipis penuh arti. "Terima kasih, karena sudah menjaga putriku di tempat ini." "Bukan masal

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 280

    "Belum tidur, Kalandra?" tegur Leonard pada bocah kecil yang berada di depannya."Belum ngantuk, lagipun masih sore," jawabnya singkat.Leonard mengangguk pelan, lalu melangkah mendekat dan menyandarkan tubuh tegapnya pada pilar pembatas lorong paviliun. Iris birunya menatap halaman belakang yang kini mulai menggelap, diselimuti bayang-bayang pepohonan pinus dan temaram lampu taman.​"Matahari sudah tenggelam lebih dari satu jam yang lalu," sahut Leonard datar. "Seharusnya bocah kecil sepertimu sudah masuk dan bergelung dengan selimut tebal, serta susu hangat."​Kalandra yang duduk di atas bangku batu panjang tidak menyahut. Di pangkuannya, sebuah belati kayu latihan dan kain pembersih tergeletak rapi. "Paman mengejekku," timpal Kalan sinis.Bocah tujuh tahun itu hanya mengusap permukaan kayu tersebut dengan gerakan teliti dan berulang, persis seperti kebiasaan Leonard saat membersihkan komponen senapan runduknya.​"Alula dan Meira sudah kembali ke kamar mereka masing-masing," lanjut

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 279

    Matahari perlahan tenggelam di cakrawala barat, menyisakan semburat jingga keemasan yang memantul indah di permukaan laut selatan. Hembusan angin tebing yang kian dingin membawa aroma laut bercampur harum melati dari pekarangan vila.​Di balkon kamar utama lantai dua, Agnira berdiri tenang seraya merapatkan kardigan rajut putihnya. Dari atas sini, ia bisa melihat halaman belakang yang mulai temaram. Kalandra, Alula, dan Meira telah diantar masuk oleh Nayara dan Leonard menuju ruang belajar di paviliun, meninggalkan keheningan damai yang menyelimuti seluruh area vila.​Sepasang lengan kekar tiba-tiba melingkar lembut di pinggang Agnira dari belakang. Sambara menarik tubuh ramping istrinya merapat ke dada bidangnya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Agnira seraya menghirup aroma vanila yang selalu menjadi candu penenang jiwanya.​"Kenapa kamu berada di luar? Di sini dingin, sayang," bisik Sambara rendah dan serak.​Agnira tersenyum simpul, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di p

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 278

    Sambara menatap layar laptopnya di ruang kerja pribadi, membaca surat resmi yang dikirim langsung oleh Arga. Di sampingnya, Leonard berdiri mematung seraya mengawasi dokumen yang tertera di sana.​"Empat tahun?" gumam Leonard dingin. "Arga benar-benar berniat menjadikan tempat ini taman bermain, sekaligus arena latihan bertahan hidup untuk putrinya."​"Dia butuh alibi yang sempurna untuk membersihkan faksi internal Wibisono di ibu kota," sahut Sambara datar seraya menutup laptopnya. "Menitipkan Alula di bawah naungan Lakeswara, dan memastikan tidak ada musuh politiknya yang berani menyentuh gadis itu. Sebagai gantinya, seluruh jalur maritim timur dibuka penuh untuk pengiriman logistik kita."​"Kesepakatan yang menguntungkan," balas Leonard singkat. "Empat tahun adalah waktu yang cukup bagi anak itu untuk tumbuh dan berkembang." ​Empat tahun berlalu begitu cepat di bukit selatan. Musim demi musim berganti, menempa tiga anak yang tumbuh di balik dinding benteng megah itu, menjadikan me

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 277

    Agnira mengerjap singkat. Ia menatap suami serta putranya dengan pandangan bingung, lalu menatap pada anak kecil perempuan yang bersembunyi di balik tubuh Nayara."Siapa dia?" tanya Agnira mendekat perlahan, dan menyentuh rambut kusam anak kecil itu."Anak yang di pungut putramu," sambar Leonard dingin."Pungut?" Agnira menoleh sekilas ke arah Leonard dengan tatapan menegur yang lembut namun tegas, membuat pria bermata elang itu langsung membuang muka ke arah laut.​Agnira kembali memusatkan perhatiannya pada Meira. Ia berlutut di atas lantai marmer teras depan, menyamakan tinggi badannya dengan gadis kecil bertubuh kurus itu. Tangannya yang lembut terulur menyibak helaian rambut kusam yang menutupi dahi Meira.​Merasakan sentuhan hangat yang begitu asing, Meira sempat tersentak dan berniat mundur. Namun, tatapan teduh Agnira, sebuah tatapan yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya di lorong pasar, membuat tubuh kecilnya terpaku di tempat.​"Kakimu berdarah, Nak," bisik Agnira sera

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 01

    "Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 05

    "Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 04

    Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 03

    Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status