Share

Kebahagiaan

Author: Dilla Mckz
last update Petsa ng paglalathala: 2021-11-18 09:04:51

"Ngapain kamu pagi-pagi udah nangkring di situ? Kayak pengangguran aja." Bintang terkekeh mendengar ucapan Dania, membawa gadis itu ke dalam pelukannya.

"Kangenlah sama kamu, apa lagi?" Dania tertawa mendengar ucapan Bintang. Padahal kemarin mereka sudah bertemu bahkan hingga malam.

"Aku bawa sarapan, nih. Kamu sama tante udah sarapan?" Dania langsung menggelengkan kepala.

“Tapi mama udah jalan,” ucap Dania.

“Loh, ke mana?” 

&ldq

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Rasa Penentu Segalanya   Sudahkah Bersyukur?

    "Hati-hati, Sayang." Vivi mengelus surai putrinya, lalu mengecup dahinya lama."Tante aku izin bawa Dania, ya?" Bintang menyalami Vivi, tersenyum manis kepada wanita satu anak itu."Jaga anak tante, ya? Kalau nakal cubit aja.""Mama," rengek Dania dengan wajah menekuk. Melihat itu Vivi tertawa, langsung membawa putrinya ke dalam pelukan."Bercanda Sayang. Mama malah enggak mau kamu sakit sedikit aja." Dania mengangguk dengan senyum lebar, dia sangat mengerti bagaimana rasa sangat sang ibu kepadanya."Dania pamit ya, Ma."Dania melambaikan tangan dengan wajah cerahnya, sedangkan Bintang menunduk sopan setelah itu masuk ke dalam mobil.Setelah keduanya sudah menjauh senyum Vivi seketika luntur."Semoga kamu selalu bahagia seperti ini, Nak." Vivi sangat berharap jika kebahagiaan ini bertahan lama, setidaknya untuk Dania. Biarkan putrinya merasakan bahagia cukup selama ini putrinya menderita.

  • Rasa Penentu Segalanya   Tawa yang Akan dirindukan

    Vivi mengelus kepala putrinya yang sedang terlelap dengan sayang. Dia tersenyum kecut mengingat kondisi putrinya yang belum bisa dikatakan normal. Namun, Vivi bersyukur, sekarang putrinya sudah mampu tersenyum kembali."Mama?" Lamunannya buyar saat mendengar suara serak sang putri. Dania tersenyum tipis melihat keberadaan Vivi, merasa senang karena sang ibu menemaninya."Aku telat ya bangunnya?" Vivi menggeleng, "mama yang kecepetan." Dania mengangguk, setelah itu bangkit duduk menghadap Vivi."Mama kenapa?" tanyanya saat menyadari raut tak bersahabat dari sang ibu. Vivi sontak menggeleng langsung tersenyum dan mengecup dahi sang putri."Mama cuma seneng aja lihat kamu bahagia.""Dania selalu bahagia, selagi mama bahagia." Vivi tersenyum haru. Beruntung dia diberikan putri yang cantik dan baik seperti Dania. Dia merasa menjadi seseorang yang beruntung di dunia ini."Mama udah buat sarapan. Kamu mandi terus ke bawah, oke?" Dania mengang

  • Rasa Penentu Segalanya   Kebahagiaan 2

    "Pagi Tuan Putri." Bintang menunduk sopan, seolah-olah gadis di depannya benarlah seorang putri. "Pagi, Pangeran." Dania tersenyum lebar melihat Bintang pagi-pagi sekali datang ke rumahnya. "Tumben pagi-pagi ke sini?" Bintang menyengir lebar, "mau ngajak sarapan bareng?" Dania menatap Bintang meledek. Sebenarnya dia sudah tahu apa tujuan lelaki itu datang ke rumahnya. "Kamu udah makan?" Dania menggeleng sebagai jawaban. Sejak pagi ibunya sudah pergi, dan Dania sangat malas untuk sarapan. "Ayo sarapan!" ajak Bintang antusias. Hal itu mau tak mau membuat Dania mengangguk. "Mau sarapan apa?" tanya Dania disela-sela mengunci pintu rumahnya. "Bubur ayam," jawab Bintang. Dania menganggukkan kepala paham, setelah itu menghampiri Bintang yang sedari tadi memperhatikannya. "Sini." Bintang menarik lembut gadis dengan piama biru itu. Lalu membawa tangan mungil gadis itu ke dalam genggamannya. Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Dani

  • Rasa Penentu Segalanya   Kebahagiaan

    "Ngapain kamu pagi-pagi udah nangkring di situ? Kayak pengangguran aja." Bintang terkekeh mendengar ucapan Dania, membawa gadis itu ke dalam pelukannya."Kangenlah sama kamu, apa lagi?" Dania tertawa mendengar ucapan Bintang. Padahal kemarin mereka sudah bertemu bahkan hingga malam."Aku bawa sarapan, nih. Kamu sama tante udah sarapan?" Dania langsung menggelengkan kepala.“Tapi mama udah jalan,” ucap Dania.“Loh, ke mana?”“Entah katanya sebentar doang.” Bintang ber oh ria lalu menyerahkan plastik yang berisi bubur ayam.“Kamu udah sarapan?” Bintang menggeleng sambil menyengir lebar.“Dasar modus, bilang aja mau sarapan bareng. Bintang mengacak rambut Dania gemas, apa lagi melihat gadis itu masih terbalut piama hello kitty kesukaannya.“Tau aja kamu.” Dania menyebik kesal, menatap Bintang dengan pandangan tajam.“Nyebelin.” Bintang tak m

  • Rasa Penentu Segalanya   Persiapan Untuk Perpisahan

    Setelah seharian bermain di pantai Dania benar-benar terlihat kelelahan, walau begitu gadis dengan wajah pucat itu berusaha terlihat baik-baik saja, karena tak ingin membuat Bintang merasa khawatir. Walau begitu Bintang tetap menyadari, dari tatapan gadis itu."Tidur aja kalau kamu capek." Dania menggeleng sambil tersenyum meyakinkan, karena dia sangat ingin menemani Bintang selama di perjalanan."Aku enggak apa-apa, kok. Malah jadi enggak fokus kalau kamu enggak istirahat." Mendengar itu Dania cemberut, tetapi akhirnya gadis itu tetap menurut."Selamat bobo," ucap Bintang sambil mengelus rambut Dania, hingga gadis itu benar-benar terlelap.Bintang menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu menghadap ke arah Dania. Menatap gadis itu dengan pandangan sedih."Jangan pernah pergi, ya?" pinta Bintang dengan suara serak, bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Menyadari dirinya tak boleh lemah Bintang menghapus air matanya, lalu berusaha kembali ters

  • Rasa Penentu Segalanya   Pantai Penuh Kebahagiaan

    "Udah sarapan?" tanya Bintang sambil menyelipkan rambut Dania ke belakang telinga. Dania mengangguk memberi jawaban. "Kita mau ke mana?" tanyanya. "Rahasia," balas Bintang. Dania mengerucuti bibir sebal. Lalu gadis dengan wajah pucat itu bergeser mendekat ke arah jendela mobil, menatap pemandangan luar dengan tatapan bahagia. "Aku seneng bisa jalan-jalan lagi," ungkapnya. Bintang tersenyum, meraih tangan mungil Dania dan membawa ke dalam genggamannya. Dania memejamkan mata, menikmati waktu yang menurutnya sangat spesial ini. Dia tersenyum tipis, jika nanti dia pergi Dania rasa dia tak akan pernah menyesal. Bertemu dengan Bintang, berteman, bahkan menghabiskan waktu bersama. Bagi Dania itu sudah cukup untuk kehidupannya. Mata sayu itu terbuka, menatap wajah Bintang dari samping sambil tersenyum. Bintang menyadari itu semua, hanya saja dia tak mau mengganggu Dania. Dania mengangkat tangannya, mengelus dagu Bintang hingga cowo

  • Rasa Penentu Segalanya   Kebahagiaan

    "Kata Mama ayah udah pergi duluan," jawab Dania sedikit tak yakin. Bintang mengangguk ragu, berusaha terlihat biasa saja, padahal cowok itu sudah gugup setengah mati."Gue pulang dulu," pamit Bintang sambil bangkit dari sofa. Dania mengangguk, "hati-hati," ucapnya."Jaga kesehatan."

  • Rasa Penentu Segalanya   Ayah

    Bintang tersenyum saat melihat Dania tampak bahagia. Karena keadaan gadis itu sudah baik, jadi ia sudah boleh pulang ke rumah. Vivi yang sedang mengemas pakaian menatap anaknya dan Bintang bahagia. Ternyata kehadiran cowok itu benar-benar berbuah baik untuk Dania, Vivi tak tau cara apa untuk meny

  • Rasa Penentu Segalanya   Angga Mah Gitu

    Seperti janji Bintang, cowok itu akhirnya ke rumah sakit saat keadaannya sudah mulai membaik.Saat ini bibirnya tak henti tersenyum saat mendengar cerita ke luar dari bibir gadis di hadapannya. Dia tak menyangka Dania akan secerewet ini jika mengobrol dengan seseorang yang sudah ia kenal.

  • Rasa Penentu Segalanya   Penyakit Dania

    Bintang duduk di depan koridor tempat dia dan Dania bertemu. Hari ini hari terakhir ia dirawat di rumah sakit, dan Bintang ini bertemu dengan Dania. Dia tersenyum saat beberapa orang yang lewat menyapanya, karena sering berkeliling jadi Bintang sudah tak asing lagi di sini.Dia menatap jam

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status