Share

BAB 5

-Bertengkar 

Setelah pekerjaan rumah selesai, aku masuk ke dalam kamar dan membawa semangkuk bubur beserta teh hangat untuk Mas Azka, ku bangunkan ia dengan pelan. Terlihat sangat pucat wajah tampannya. 

"Makan dulu ya Mas, baru minum obat," pintaku lembut,  Mas Azka tersenyum lalu mencoba untuk duduk dengan menyandarkan tubuhnya. 

Aku menyuapinya pelan, sedih rasanya hatiku melihat keadaannya seperti ini. Saat sakit pun keluarganya tak ada yang mencoba melihat dan bertanya kondisinya, padahal kami masih berada di atap yang sama. 

"Udah Dek, Mas mual," ucap Mas Azka lemah, ia menolak bubur yang akan ku suapkan lagi padanya. 

"Satu kali lagi ya Mas, Mas harus sehat! Kalau Mas sakit, yang jaga Ayra dan Dede siapa?" Mataku mulai berkaca, aku sedih bukan karena merasa lemah, tapi aku sedih karena merasakan penderitaan suamiku selama ini, terbayangkan bagaimana kondisinya ketika ia sakit saat masih belum menikah denganku. Kenapa keluarga ini tak pernah menganggapnya ada sama sekali. 

Setelah menyuapkan suapan terakhir, aku memberikannya teh hangat dan memintanya untuk meminum obat yang sudah ku beli di apotek saat aku membeli sayuran tadi pagi. 

"Istirahat lagi ya Mas, nggak usah bangun. Mas tidur aja," ucapku lembut, aku kembali meletakkan handuk basah di kepalanya, lalu membiarkannya tertidur. 

"Manja banget sih si Azka, makan aja pake di bawakan ke kamar segala. Biasanya juga sakit, bangun dan bikin makan sendiri." Lagi-lagi kak Lastri nyeletuk seenaknya. Aku melewatinya dengan cepat dan membawa mangkuk dan gelas untuk ku cuci, tapi alangkah terkejutnya aku ketika melihat wastafel tempat cuci piring sudah penuh dengan piring dan gelas bekas makan siang mereka sekeluarga, tak ada satu orangpun yang mencuci bekas piringnya. Hatiku sangat emosi dibuatnya, tapi aku beristighfar sekuat tenaga agar tak ku pecahkan semua piring kotor ini.

"Azka belum bangun juga Ra?" Ibu datang dan lagi-lagi menambah piring kotor di tumpukkan cucian piring mereka yang harus ku cuci. 

"Gak Ayra bolehin bangun, biar istirahat dulu. Biar cepat sehat dan bisa kerja lagi ngumpulin duit buat pindah rumah," jawabku sinis, karena hari ini emosiku sangat diuji oleh mereka sekeluarga. 

"Kamu tuh kalau ngomong yang sopan Ra," sahut Ayu yang datang dan memprotes caraku berbicara pada Ibu. 

"Emang selama ini kamu ngerti arti kata sopan?" tanyaku emosi, aku menatapnya tajam, dia hampir saja melayangkan tangannya dan ingin memukulku, tapi aku dengan sigap menahannya. 

"Jangan coba-coba sentuh aku dengan tangan malasmu ini! Karena kamu bakalan nyesel dan merutuki semuanya seumur hidupmu," kuhempaskan tangannya dengan kasar kemudian kulirik Ibu yang terdiam melihat perlawananku pada anak bungsunya. 

"Berani banget kamu ya! Heh sadar, posisimu disini itu apa," ucap Ayu tak terima, dan untuk beribu kalinya mereka lagi-lagi mengungkit masalah rumah ini, mengungkit tentang kami yang memang hanya numpang disini. 

"Tapi kami PENUMPANG yang tau diri kan?" Aku sudah selesai mencuci mangkuk dan gelas bekas suamiku. Lalu menatapnya dengan lantang. 

"Toh selama kami numpang, kerjaan rumah beres. Tagihan beres. Bahkan makan per hari pun beres. Aku rasa kalian gak dirugikan dengan adanya kami disini," jawabku tegas, aku melap tangan setelah selesai membilasnya dari sabun.

Ibu memperhatikan gerakku yang tak melanjutkan cucian piring kotor yang bertumpuk, ia menahan tanganku. 

"Mau kemana kamu? Pekerjaanmu belum selesai," ucap Ibu, ia mencengkram tanganku dengan keras, namun dengan pelan menyingkirkan tangannya. 

"Ayra sudah selesai nyuci mangkuk dan gelas yang Ayra pakai, sisanya silahkan suruh anak gadis ibu yang mengerjakan. Ayra capek mau istirahat," jawabku datar, Ibu dan Ayu nampak tak percaya melihatku yang mulai melawan, mereka saling tatap dan Ayu mulai mengejarku. 

"Maksudmu apa Hah? itu kerjaan kamu, kenapa aku yang harus ngerjain?" Dia berteriak padaku. 

"Itu bekas piring siapa? Dan kenapa selalu jadi kerjaanku? Toh aku bukan babu! Kalaupun aku babu bukannya aku harusnya digaji ya? Tapi kenapa seolah-olah aku yang gaji kalian? Sorry ya. Mulai sekarang kita kerjakan semuanya masing-masing. Kalau kamu protes mulai bulan ini, kita hitung semua pengeluaran dan kita bagi dengan adil," jawabku angkuh, aku melewatinya dengan kasar dan masuk ke kamarku lalu menguncinya. 

Terdengar Ayu menyumpah dengan kasar sambil mengadu pada Ibunya, aku mengabaikannya dan memilih untuk memijit tangan suamiku yang saat ini sedang terlelap dalam tidurnya. 

***

"Sayang," ucap Mas Azka membangunkanku. Rupanya aku tertidur tepat di lengannya saat memijitnya tadi. 

Aku terkejut melihat jam sudah hampir maghrib, lumayan lama aku tertidur. Rasanya nyenyak sekali. Sudah lama aku tak pernah merasakan tidur siang senyaman ini. 

"Mas badannya gimana? Udah enakan?" tanyaku lembut, aku memegang dahinya dan memeriksa suhu tubuhnya. Dia mengangguk lemah.

"Apaan ngangguk-ngangguk, badan Mas aja masih panas," jawabku kesal, selalu saja merasa kuat padahal nyatanya lemah kaya emping yang kemasukan angin.

"Mas udah gak apa-apa sayang, makasih sudah ngerawat Mas ya," ucapnya lemah, terlihat ketulusan dari kata-katanya. Aku memeluknya erat. 

"Jangan ngomong gitu, sudah kewajiban Ayra ngerawat dan melayani Mas," jawabku sedih.

"Tapi baru kali ini, Mas merasakan bagaimana dirawat dengan tulus oleh orang yang disayang," jawab Mas Azka, ia mengelus rambutku lembut, membuatku jadi menangis dipelukannya. 

Dug.. dug.. dug.. 

Suara pintu digedor membuatku terkejut.

"Siapa lagi kalau bukan Ibu," batinku. 

Aku menyuruh Mas Azka untuk berbaring lagi, setelah meletakkan handuk basah di kepalanya, aku membuka pintu kamar dengan pelan. 

"Seharian nggak keluar! Cukup sudah ya Ayra! Hari ini kamu ngelawan dengan kurang ajar! Kalau kamu merasa sanggup hidup di luar sana, silahkan keluar dari rumah ini," ucap Ibu yang datang dengan emosi menggebu-gebu, sedikit kaget rasanya namun saat aku menoleh ke belakang Ibu, ternyata terlihat dua kompor yang sepertinya memercikan api pada ibu. 

Aku menarik nafas pelan, lalu tersenyum pada mereka. 

"Serius nih ngusir kami?" Aku melayangkan tatapan pada mereka satu persatu. 

"Gak nyesel? beneran?" Aku bertanya sambil mengejek mereka, lalu kembali masuk ke kamar dan mengambil beberapa bukti tagihan dan nota belanja yang selama ini memang ku simpan dengan rapi. 

Mas Azka menatapku bingung, namun aku tersenyum dan meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja. 

"Liat nih berapa tagihan tiap bulan di rumah ini," ucapku santai sembari menyodorkan nota dan bukti pembayaran pada Kak Lastri. 

Dia tercengang melihat nota yang menunjukkan nominal lebih dari dua juta tiap bulan, belum nota sayuran, ikan, beras, dan bahan pokok lainnya yang memang sengaja ku pinta setiap aku membelinya. 

Aku tersenyum licik meninggalkan mereka yang terlihat bingung. Ku biarkan mereka diam mematung di depan kamarku, aku masuk dan kembali membasahi handuk yang kupakai untuk mengompres suamiku. 

"Sayang, maafin, Mas ya, karena, Mas, Ayra jadi selalu bermasalah sama keluarga di rumah ini," ucap Mas Azka sedih, ia menarik tanganku dan menciumnya dengan lembut. Aku hanya tersenyum. 

"Selama Ayra masih jadi istri, Mas, nggak akan Ayra biarin mereka ngehina, Mas. Nggak akan Ayra biarin mereka ngerendahin harga diri, Mas," ucapku yakin seraya menggenggam tangannya, aku tahu Mas Azka selama ini diam karena masih menghargai mereka yang membesarkannya walaupun tak sedikitpun kasih sayang ia dapatkan kecuali dari Ayah yang saat ini telah tiada. 

"Makasih, Sayang," ucapnya tulus, aku mengangguk dan kembali menyuruhnya untuk beristirahat.

"Cepat sembuh ya, Mas," pintaku penuh harap, Mas Azka tersenyum dan meng-aamiini doa ku. 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status