Kata orang kita semua akan menjalani kehidupan baru setelah menikah, akan banyak suka dan duka setelahnya. Aku menikah dengan seorang lelaki yang kucintai, tak peduli akan statusnya yang bukanlah anak kandung dari orang tua yang saat ini bersamanya. Karena ingin membalas budi kepada mereka, Suamiku tetap memilih tinggal di rumah Ibu Angkatnya, wanita yang sama sekali tak pernah memberikan kasih sayang padanya karena kasih sayang itu hanya didapatkan oleh Ayah yang kini sudah tiada. Dengan Mas Azka anak angkatnya saja Ibu memperlakukannya dengan penuh kebencian, tak perlu ditanya bagaimana denganku kan? Hari-hari yang kujalani begitu berat hingga akhirnya membuatku memilih untuk memaksa suamiku pergi dan menegaskan kepada Ibu dan Ipar-iparku kalau kami tak sepantasnya diperlakukan begini. Dengan penuh keberanian akhirnya aku memilih jalan untuk menyadarkan mereka, jika statusku ini adalah Menantu dan bukanlah seorang Babu. Setelah beberapa lama akhirnya semua berjalan baik-baik saja, namun cobaan kembali mengguncang rumah tanggaku, segala hal sudah kucoba, bertahan, berjuang, hingga akhirnya sampai pada titik pasrah. Orang ketiga yang memasuki istanaku mencoba untuk menyingkirkan posisiku, namun aku tetap berdiri dengan tangguh dan membuat semuanya sadar bahwa seorang Ratu tak akan pernah menjadi Babu!
View More-Selalu Salah.
"Kamu tuh jangan penyakitan! Kalau kamu sakit terus yang mengurus rumah ini siapa?" bentak Ibu mertuaku, sakit rasanya setiap aku merasa tak enak badan, selalu saja Ibu mertuaku mencerca dengan kata makian yang memekakkan telinga.Aku hanya diam tak menanggapi, tak hanya satu atau dua kali. Mungkin sudah ribuan kali aku dicerca seperti ini. Siapa yang mau sakit? Siapa yang mau badan lemah tak berdaya? Aku memang dilahirkan dengan fisik lemah seperti ini, dan Aku tak meminta Mas Azka menikahiku, dia sendiri sudah diberi tahu oleh Orang Tuaku tentang semua kondisiku sebelum menikah. "Ngomong sama kamu tuh, kaya ngomong sama tembok tahu nggak," lanjut Ibu yang kemudian berlalu meninggalkanku sendirian di dapur, tentunya dengan cucian pakaian dan piring yang bertumpuk. Tak terasa air mataku mengalir begitu saja. Waktu aku belum menikah, tak pernah sedikitpun orang tuaku menyuruhku layaknya babu seperti yang dilakukan mertuaku kini. "Assalamualaikum." Terdengar suara Mas Azka yang baru saja pulang dari kantornya. "Waalaikumussalam," jawabku lembut, bergegas aku melap tangan dan menghampirinya. Ku cium punggung tangannya, dan seperti biasa dia mencium keningku dengan lembut. "Kenapa sayang? Nangis lagi ya?" tanyanya pelan, aku hanya tersenyum, tanpa harus mengatakan apapun suamiku sudah mengerti apa yang terjadi. Mas Azka sudah pasti sangat mengerti dengan tabiat Ibunya. Tak henti pula, Mas Azka selalu berusaha menyabariku."Mas mandi aja dulu, entar Ayra siapin makan ya," ucapku lembut. Mas Azka mengangguk dan langsung ke kamar untuk membersihkan badannya. Aku menyiapkan makanan untuk Mas Azka, mengambil beberapa iris ikan yang telah aku sembunyikan sewaktu sebelum memasak. Mertuaku sangat irit bin pelit, Ikan pun dijatah untuk di goreng perharinya. Tak jarang aku harus menyimpan beberapa potong ikan untuk suamiku, tak tega rasanya melihat ia makan sesuai jatah yang diberikan mertuaku saat ia sudah lelah kerja seharian di kantor. "Pantesan aja ikan cepat habis, disimpan toh sama si penyakitan," ucap Kakak iparku sinis, ia baru saja pulang dari berbelanja dan kini sudah mulai mengoceh seperti biasanya. Suamiku baru selesai mandi, ia duduk dan akan makan bersamaku. Kami memilih untuk diam dan tak menggubris apa yang dikatakan oleh Kakak iparku. Suamiku adalah anak angkat di rumah ini, dia diambil semenjak kecil oleh ayah mertuaku. Entah dimana orang tua kandungnya sekarang, itulah yang membuatku sampai saat ini tetap bertahan dengannya. Dia sangat penyabar, dan sangat berbakti pada keluarganya, walaupun sebenarnya hanya ayah mertuaku saja yang menganggap kami keluarga di rumah ini. Aku melanjutkan pekerjaan seperti biasanya, menyelesaikan cucian piring dan pakaian yang menumpuk setiap harinya. Aku mencuci pakaianku dan mertuaku, tak jarang pula kakak ipar dan adik ipar menitipkan cuciannya padaku, lelah rasanya jika tiap hari harus seperti ini, tapi lelahku tak sebanding dengan sakit hati yang mereka torehkan."Woy, kerja tu jangan ngelamun, kalau gitu nggak bakal selesai," ucap Ayu adik iparku yang seketika membuyarkan lamunan. Jengah sudah rasanya jika terlalu lama tinggal di lingkungan yang penuh dengan kebencian ini. Sebelum melahirkan, aku harus memaksa Mas Azka untuk pindah dari rumah ini. Aku terus mengabaikan Ayu, dan memasukkan kembali cucianku ke dalam mesin pengering. "Capek dek?" tanya Mas Azka lembut, ia duduk dan memijit kakiku, aku hanya tersenyum padanya. "Sabar ya, sebentar lagi rumah kita selesai, jadi kita bisa pindah kesana," lanjutnya lagi, aku hanya mengangguk, kami memang sedang membangun rumah sederhana untuk kami tinggali. Mas Azka mungkin merasa sedih ketika harus melihatku selalu di omelin oleh keluarganya. tok tok tok….Ketukan pintu di luar kamar membuat kami berhenti mengobrol, aku bangun dan membukakan pintu kamar. "Enak ya udah mau tidur! tuh cucian kering belum pada di setrika, besok mau dipakai kerja sama Ayu," ucap Ibu sinis, ia kembali menyuruhku dengan nada yang sangat tak enak didengar, ingin sekali rasanya aku menyahut, tapi mengingat ketika nanti keberadaan Mas Azka di rumah ini akan diungkit lagi seperti dulu, aku lebih memilih diam. "Ayu kan udah besar Bu, dia bisa lah nyetrika sendiri. Kasian Ayra belum istirahat, dia juga lagi hamil muda," bela Mas Azka mewakili perasaanku."Nggak usah banyak omong kalau disini masih numpang, kamu dari kecil emang nyusahin aja tau gak, sekarang malah bawa istri lagi kesini," sahut Ibu dengan kasar, hancur sudah tembok pertahananku, aku yang berusaha sabar kini sudah tak sanggup untuk tidak menjawab, terlebih karena Mas Azka yang berkorban banyak di keluarga ini selalu dianggap tak memiliki peran apa-apa. "Bukannya yang di omongin Mas Azka bener ya Bu? Ayu sudah besar, dia bisa nyetrika sendiri, toh aku sudah cukup membantu dengan nyuciin bajunya dia selama ini," jawabku dengan halus, aku tak ingin semakin memperkeruh masalah walaupun nyatanya emosi di dada sudah menggebu."Suami Istri bisanya nyaut saja kalau dikasih tahu, ini nih yang namanya pagar makan tanaman, GAK TAHU DIRI! Sudah diasuh dari kecil, udah besar malah berani ngelawan," ucap Ibu yang mulai mengeraskan suaranya, ingin rasanya aku menjawab tapi ku lihat Mas Azka tertunduk lemah, pasti sakit hatinya dengan kata-kata ibu tadi, Ibu selalu mengungkit masa kecil Mas Azka ketika ia teramat marah. Aku memilih untuk mengunci pintu kamar, tak ku kerjakan apa yang ibu perintahkan. Badanku sudah terasa sangat lelah, belum lagi kondisi hatiku yang sedang sangat tak karuan melihat suamiku yang selalu dihina oleh keluarganya. Seandainya saja orang tuaku dekat, aku lebih memilih tinggal bersama mereka dibandingkan tinggal bersama dengan keluarga yang selalu menganggap kami tak memiliki arti apa-apa. Padahal selama ini biaya renovasi rumah, air, listrik, bahkan bayar WIFI selalu memakai gaji dari suamiku. Tapi tak sedikitpun apa yang kami lakukan dan berikan dianggap oleh mereka. "Sabar ya Mas, Insyaa Allah sabarnya kita dibalas pahala oleh Allah," ucapku penuh sayang, aku mengusap pelan punggung Mas Azka, dia hanya tersenyum dan memelukku. Sungguh sakit rasanya, apa yang harus aku lakukan? Apa aku ngontrak aja ya sementara menunggu rumah selesai? Udah gak betah rasanya tinggal disini, Aku ini menantu bukan babu. Aku menangis dalam pelukan Mas Azka, biarlah malam ini kami memecahkan keheningan dengan tangisan. Agar ketika malam ini berlalu, kami bisa lebih kuat di hari esok.Azka sampai ke rumah dengan tubuh yang menggigil, ia masuk ke dalam kamar dan melihat Keisha terbaring di lantai sambil memegangi ponselnya. Benar saja begitu banyak panggilan dan pesan yang masuk setelah ia melihat ponsel miliknya.Azka masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya lalu ia menggendong Keisha dan membaringkannya di ranjang mereka. ‘Maafin aku karena menjadi suami yang tak pernah mengerti perasaanmu,’ ucap Azka dalam hati saat melihat wajah Keisha yang masih dibalut dengan perban. ‘Aku akan mencoba membuka hati untuk mencintaimu Kei, semoga kamu bisa berubah dan menjadi wanita yang baik. Baik pada dirimu sendiri, pada keluargamu dan juga keluargaku. Karena bagaimana pun rumah tangga tak hanya kita jalani sendiri, kita juga harus mempersatukan kedua keluarga kita’ batin Azka, ia melihat Keisha yang tiba-tiba bangun dan menatapnya. “Kamu sudah pulang Mas, kapan? Kamu kehujanan? Aku telpon kamu berkali-kali tapi kamu...”Azka memeluk Keisha dan mengusap rambutny
“Astaghfirullah,” ucap Ayra, ia tersentak saat mobil Rian menabrak sebuah lubang kecil. “Kamu kebangun ya Ra? Maaf, aku nggak bisa ngindarin lubang karena ada motor yang tiba-tiba nyalip dari belakang,” ucap Rian, ia merasa tak enak karena membangunkan Ayra yang terlihat sangat kelelahan.Ayra sempat bingung karena saat ini ia berada di dalam mobil dengan posisi tidur memeluk Reyhan yang juga sedang terlelap. Bergegas ia mengambil Ponselnya dan melihat isi chatnya bersama Rian, ia sampai membuka JG untuk memastikan bahwa dia tak melakukan sesuatu yang memalukan. “Alhamdulillah,” ucapnya lega. “Alhamdulillah kenapa Ra?” tanya Rian bingung. “Nggak apa-apa Mas,” jawab Ayra dengan tersenyum, kini kesadarannya mulai pulih. Ia ingat mereka sedang dalam perjalanan pulang dari rumah orang tuanya dan ia tertidur tanpa sadar karena tubuhnya memang terasa sangat lelah. Rasa lelah itu membuat Ayra menjadi bermimpi sedikit buruk, bukan mimpi yang aneh, hanya saja ia menjadi Ayra yang tak seper
Sudah dua hari berlalu dan Azka belum juga kembali untuk menjemput Keisha, ia merasa sangat marah. “Mas Azka apa-apaan sih? Aku nggak terima diginiin!” ucapnya sambil membanting ponsel karena teleponnya tak kunjung diangkat. Keisha mengemasi pakaiannya lalu mencari kunci mobilnya. “Mi, kunci mobil Keisha mana?” teriaknya sambil terus mencari. Rita menuju ke arah Keisha dengan wajah tertunduk. “Kenapa Mi?” tanya Keisha heran. “Mobilnya sudah dijual Papi Kei,” jawab Rita dengan pelan. “Apa? kenapa? Itu kan mobil Keisha kenapa dijual?” tanya Keisha dengan sangat marah. “Siapa bilang itu mobil kamu? Itu atas nama Papi kok. Papi juga cuma kasih pinjem, nggak ngasih kamu,” jawab Papinya dengan santai. “Papi kok jahat begitu sih sama Kei,” rengeknya dengan mata yang berkaca-kaca. “Kamu sudah punya suami Kei, merengek sama dia sana kenapa apa-apa harus Mami dan Papi yang turun tangan?” tanya Papinya sambil menyalakan TV.Keisha menatap ke arah Rita dengan kesal, lalu beranjak pergi
“Ini semua gara-gara Mami, bagaimana ini?” teriak Keisha dengan tangis yang tak berhenti mengalir. “Kenapa kamu nyalahin Mami? Mami habisin sisa tabungan Mami cuma buat kamu tahu nggak?” jawab Maminya dengan kesal. “Sekarang aku harus bagaimana Mi? Pokoknya aku mau operasi lagi kalau perlu ke luar negeri,” ucap Keisha, ia tak berani berkaca bahkan cermin di kamarnya sudah ia pecahkan sejak hari pertama ia tahu kalau klinik tempatnya melaksanakan operasi adalah klinik abal-abal. “Ya kamu ngomong saja sama suamimu, Kei,” sahut Maminya dengan santai. “Mas Azka? Ya mana mungkin dia mau Mi. Mas Azka sudah ngelarang aku buat operasi,” jawab Keisha dengan putus asa. “Mau Mami yang ngomongin?” tanyanya sambil terus mengoleskan pewarna pada kukunya. “Jangan suka ikut campur urusan anakmu, Mi,” sahur Papi Keisha yang mendengar percakapan antara istri dan anaknya. “Papi….” rengek Keisha. “Kamu tahu kan keuangan keluarga kita sedang sulit sekarang?” tanya Papi Keisha dengan dingin. “Tapi
Ayu, Sandi, Ajeng, dan Lastri sedang menyiapkan acara syukuran kecil untuk Reyhan. “Yank, ambil kue di rumah Bu Pandi” teriak Ayu pada Sandi yang sedang asyik menonton televisi. “Sudah siap emangnya?” tanya Sandi, ia mengalihkan pandangannya ke arah Ayu yang sedang sibuk menata makanan di atas meja. “Kalau belum siap, ya aku nggak akan suruh kamu, Yank,” jawab Ayu kesal. “Jangan marah-marah dong, Bu negara,” bujuk Sandi, ia mencubit gemas pipi istrinya. “Makanya buru jalan, ntar keburu Kak Ayra sampai sini!” perintah Ayu, Sandi mengangkat tangannya membentuk tanda hormat dan dihadiahi cubitan pedas dari Ayu. “Aku lagi nggak bercanda ya, Yank, buru atau...” ucap Ayu sambil mengayunkan sendok yang ada di tangannya. “Siap Bos, langsung Otw!” jawab Sandi setelah mencomot satu potong ayam goreng di meja makan. “Papa katanya mau diet kok makan mulu,” sindir Aldi yang membawa gelas berisi es krim stroberi kesukaannya. “Hahahaha, Papamu mau diet?” ucap Lastri, ia tertawa dengan nyari
“Abi datang kan hari ini Mi?” tanya Reyhan dengan penuh harap. Ayra tak mampu menjawab karena ponsel Azka tak dapat dihubungi. Ia hanya tersenyum dan berusaha mengalihkan Reyhan dengan mengajaknya melihat teman-teman Reyhan yang memakai kostum menggemaskan. “Itu Robi kan? Wah lucu sekali dia dengan baju prajurit itu,” ucap Ayra, ia sangat berharap Reyhan melupakan Azka sejenak karena semenjak mereka sampai hanya Azka yang terus disebut-sebut oleh putranya itu. “Assalamualaikum, jagoan Papa,” ucap seorang lelaki yang akhirnya mampu membuat senyum Reyhan kembali mengembang. “Papa!” sapa Reyhan dengan sangat senang, ia bahkan sudah berada dalam gendongan lelaki yang terlihat sangat menyayanginya. “Mas, bukannya kamu ada operasi hari ini?” tanya Ayra heran, ia memang sudah mengatakan pada Rian bahwa hari ini adalah hari perpisahan anak TK tempat Reyhan bersekolah, Ayra bahkan berharap Rian bisa menemaninya namun Rian yang mendapatkan jadwal operasi dadakan mengatakan tak bisa datang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments