LOGINAsha Nararsya dan Cakra Prastowo Kencana merupakan sepasang suami istri yang bahagia, namun belasan tahun usia pernikahan, mereka belum dikaruniai seorang anak. Tuntutan yang terus diberikan orang tua Cakra kepada Asha membuat wanita itu semakin sedih, Cakra yang selalu mendukung istrinya tidak masalah jika mereka tidak memiliki keturunan. Akan tetapi, tuntutan itu selalu Asha dengar membuat hati Asha semakin terluka, sampai pada akhirnya Asha meminta Cakra menikah lagi. Sahira Palesa, merupakan sahabat Asha yang sengaja Asha pilih sebagai madunya. Lantas, bagaimana kisah mereka selanjutnya?
View MoreBurnt sugar. That smell usually kept June Avery steady, no matter how bad things got. Today? Not so much. The air felt too thick, like a storm was just waiting to break.
She wiped her sweaty palms on her old blue apron. The bakery was dead quiet except for the low hum of the oven. She glanced at her phone. Twelve dollars and forty cents. That’s all that stood between her and nothing.
“Mommy, look! I made a flour castle!”
June looked down. There was Leo, her four-year-old, perched on a stool, face ghostly white from flour. His smile hurt to look at—same wild dark hair, same deep silver-blue eyes. Just like him.
“It’s beautiful, Leo,” she whispered, kissing his forehead. “Go play with your cars in the back, okay? Mommy has to finish working.”
Leo ran off, and right then the front door didn’t just open—it slammed open, hard, so the bell above it shattered against the wall. June jumped, heart pounding. Three men in dark suits marched in, blocking the exit, looking like hired muscle straight out of some mob movie.
Then a fourth man stepped inside.
The whole room seemed to freeze. June couldn’t breathe. Dante Romano.
Five years ago, he’d promised her forever. Now, he looked massive in a suit worth more than everything she owned. His face was stone. His eyes, once soft, now cold enough to make her shiver.
“Dante,” she breathed. Her voice barely came out.
“Mr. Romano,” he said, voice like gravel. No warmth. He looked at her like she was something to scrape off his shoe.
“What do you want?” June pressed herself back until the oven’s heat burned her spine. “You told me to disappear. You gave me a check and said never show my face. That’s exactly what I did!”
He laughed, low and mean. He stepped closer, shoes clicking on the filthy tile. “I changed my mind, June. Letting you run was too easy. I want you to pay.”
He tossed a thick black folder onto the counter. Flour puffed up in the air.
“Open it,” he said.
Her hands shook so much she could barely flip through the pages. Legal documents. Her father’s signature everywhere.
“Your father’s a real idiot, June,” Dante said, leaning in so close she could smell his cologne. It yanked memories of better days straight out of her chest. “He owes my company five million in gambling debts. He skipped town last night. But before he left, he signed everything over to me.”
“My father doesn’t own this bakery!” June shouted. “I built this! I worked for this!”
“The land’s mine now. The building. Even the flour on your face. It’s all mine.” His eyes went dark. “You’ve got two choices. Go to jail for your father’s mess, or come with me and work it off. Clean my floors. Cook my meals. Stay by my side until I’m done with you.”
June felt the ground drop out from under her. No money. No lawyer. No way out. She looked at the door. The guards were statues.
“Please, Dante,” she begged, tears slipping down her cheeks. “Don’t do this. I have nothing left.”
“You should’ve thought of that before you left me,” he snapped.
The small door to the back creaked open.
“Mommy? Why is that man yelling? Is he a monster?”
Leo stood there, clutching his plastic truck. He stared up at Dante, eyes wide and unafraid.
The room went dead silent.
Dante froze. The folder slipped from his hands and hit the floor with a thud. He stared at Leo—at the boy’s hair, his chin, those unmistakable silver-blue eyes.
Dante said nothing. He strode across the kitchen, fast. He knelt in front of Leo. June lunged, but a guard caught her arm.
“Let me go!” she screamed, fighting. “Don’t touch him! Dante, don’t you dare!”
Dante didn’t even look at her. He reached out with a trembling hand and touched Leo’s cheek. Leo didn’t flinch. He just stared at Dante, stubborn as only a child can be.
“How old is he?” Dante’s voice shook with rage. It wasn’t cold anymore; it was dangerous.
“He’s…he’s four,” June lied, her voice barely holding together. “He’s my nephew. My sister’s boy. Please, Dante, let us go.”
Dante stood up slowly. He turned to June, and for one terrifying second, she thought he might actually kill her. The anger in his eyes burned.
“I’m a lot of things, June, but I’m not stupid,” Dante snapped. “Look at him. He’s got my eyes, my face. He’s four. You were pregnant when you took my money and disappeared.”
June broke down, choking on her sobs. “No! He isn’t yours! You told me you never wanted to see me again! You called me a mistake!”
Dante closed the space between them. His face hovered inches from hers, anger and something colder flickering in his eyes. “You kept my son here? In this dump? While I sat alone in a palace, my heir played in filth?”
He turned to his men, voice sharp as glass. “Get my lawyers on the phone. The debt’s gone. Tell the pilot to ready the jet.”
June’s heart hammered in her chest. “Where are you taking us?”
He grabbed her chin, made her meet his gaze. His hold was unyielding, but he didn’t hurt her—just made it clear she wasn’t slipping away again.
“You won’t be my servant, June,” he said, a twisted smile on his lips. “That’s way too easy. You stole five years from me—five years with my son. Now I’m taking yours.”
He reached into his pocket and pulled out a ring—massive diamond, heavy as a sentence. “We’re going to the city. By tonight, everyone will know you’re my wife. You’ll live in my house. You’ll sleep in my bed. And you’re never leaving my sight. Try to run, and you’ll never see Leo again.”
June’s eyes darted to her little boy, then back to Dante. She’d dreamed of a second chance, but this wasn’t love. It was a cage.
Dante leaned in, his voice a low threat in her ear. “Welcome to the family, June. The nightmare’s just getting started.”
Kegiatan Cakra kembali berjalan normal, hanya saja kehidupan Cakra bertambah rumit karena harus bergantian menemani Asha dan Sahira yang berbeda tempat tinggal. Seperti sore ini setelah pulang dari kerja giliran Cakra menemani Sahira yang merupakan istri keduanya. Sejauh ini Sahira tidak pernah rewel meskipun Cakra tidak selalu ada untuknya, malah Asha yang sering menuntut agar Cakra bisa lebih banyak meluangkan waktu untuknya.Sekarang Cakra baru saja sampai di rumah yang sudah dia belikan untuk Sahira. Baru saja duduk Cakra sudah disuguhkan segelas teh hangat.“Kelihatannya sangat lelah sekali, dikantor lagi banyak pekerjaan ya?” Sahira datang membawa nampan berisi teh hangat.“Terima kasih, Sahira.” Cakra memberikan senyum lelahnya.“Lumayan banyak sekali kendala. Akhir-akhir ini pekerjaanku berantakan sampai membuat beberapa klien yang membatalkan kerja sama,” kata Cakra, sambil memijat pelipisnya yang terasa pusing akibat terlalu keras memikirkan pekerjaan yang sedang berantakan.
“Duduk Cakra!” perintah Widyatma Prasista kepada menantunya. Lelaki paruh baya itu tersenyum ketika Cakra sudah duduk di depannya. Sambil memakai kembali kaca matanya, lelaki paruh baya itu mencari posisi nyaman untuk ngobrol bersama Cakra.“Nampaknya akhir-akhir ini kamu sangat sibuk sekali sehingga tidak sempat main ke rumah Mama dan Papa. Asha tadi sudah bercerita banyak tentang kamu.”Wajah Cakra langsung pucat, apa yang diceritakan Asha tentang dirinya kepada orang tuanya? begitulah hati Cakra bertanya-tanya.“Kenapa wajah kamu pucat? Kamu lagi sakit, Cakra?” Widyatma terlihat khawatir pada saat melihat wajah menantunya pucat.Cakra tersenyum lalu menggeleng dan kemudian berkata dengan suara yang dibuat setenang mungkin. “Tidak, Pah, mungkin karena terlalu lelah.”Widyatma menganggukkan kepalanya paham. “Kamu itu jangan terlalu sibuk, Papa tahu kok seperti apa pekerjaan kantor itu.”“Cakra juga sedang mengatur jadwal supaya lebih teratur lagi kok, Pah.”“Tadi Asha cerita ke Papa
Sahira sedang sibuk berada di dapur membuat lauk untuk Cakra. Setelah kejadian semalam, membuat Sahira semakin menjaga jarak dengan Cakra. Sementara lelaki itu terlihat biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.“Kapan kamu akan pulang?” tanya Sahira memecah keheningan yang terjadi.“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Cakra menatap dengan raut wajah bingung. “Apakah keberadaanku di sini sangat mengganggu kenyamananmu?” tanya Cakra.Sahira menggeleng cepat. “Tidak juga.”“Lalu kenapa kamu bertanya seolah mengusirku?”“Tidak ada yang mengusirmu,” sahut Sahira cepat.“Sedang apa kamu di sana? Kelihatannya sangat sibuk sekali.” Cakra menghampiri Sahira yang sedang berada di dapur. Sempat Sahira menghentikan kegiatannya sebentar pada saat Cakra berhenti tepat di belakangnya.“Sebentar lagi akan selesai, sebaiknya kamu kembali saja ke meja makan,” ujar Sahira, raut wajahnya nampak tidak nyaman.“Sudah, biar aku bantu saja.” Cakra mengambil alih spatula yang Sahira gunakan untuk mengaduk maka
Tengah malam Sahira dikejutkan dengan suara mobil yang memasuki garasi mobil. Buru-buru Sahira membukakan pintu karena ia tahu yang datang adalah Cakra, sebelumnya memang Sahira sudah tahu kalau Cakra mau datang ke rumah hanya saja entah kemana mampir kemana sehingga lelaki itu datang tengah malam.“Kenapa nggak sekalian pagi aja sih datangnya? Aku tadi sudah tidur tahu,” omel Sahira kesal karena tidurnya terganggu.Cakra yang baru saja keluar dari dalam mobil tidak menggubris ocehan Sahira. Lelaki itu berjalan ke arah Sahira dengan tatapan yang membuat Sahira bingung. Tatapan yang terkesan aneh dan sedikit bergairah?“Eh, kamu mau apa?” Sahira berjalan mundur berusaha menjauh.Senyum miring Cakra sanggup membuat semua bulu kuduk Sahira berdiri. Sahira yang masih berusaha menjauh dengan berjalan mundur, namun tubuhnya seperti tertahan sesuatu ternyata di belakangnya ada sebuah meja.“Mau kemana?” tanya Cakra dengan suara yang serak-serak basah.“Kamu mau apa?” Sahira berbicara dengan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.