Share

Bab 23

Author: Chana Lee
last update publish date: 2026-03-31 19:46:16

TEMBAK!”

Teriakan itu menggema keras di dalam ruangan, memecah keheningan yang sebelumnya menekan semua orang. Beberapa tamu langsung menjerit kecil, refleks mundur, sementara yang lain membeku di tempat tanpa sempat berpikir. Suara itu terlalu mendadak, terlalu tajam, dan datang di saat tidak ada yang siap. Semua mata langsung tertuju ke arah sumber suara.

Salah satu aparat berdiri dengan senjata terangkat, wajahnya tegang, tetapi tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang ia lakukan. Tangannya se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SEXY HOT OFFER    Bab 24

    Ruangan itu masih terdiam setelah kata-kata terakhir Indra menggantung di udara. Tidak ada yang berani menyela, tidak juga mencoba mencairkan suasana. Semua orang seperti menunggu sesuatu, entah keputusan, ledakan emosi, atau kehancuran yang mungkin terjadi kapan saja. Namun yang justru muncul adalah tekanan yang semakin dalam, perlahan, dan tidak terlihat.Dimas berdiri di tempatnya, rahangnya mengeras, tetapi matanya tidak lagi setegas sebelumnya. Ia menatap Indra dengan cara yang berbeda, bukan lagi sekadar merendahkan, tetapi mencoba memahami sesuatu yang tidak bisa ia jangkau. Di dalam kepalanya, perhitungan demi perhitungan berjalan cepat, namun semuanya berujung pada satu hal yang sama, ia kehilangan kendali atas situasi ini.Dina berdiri sedikit di belakangnya, tetapi posisinya terasa tidak jelas. Ia tidak lagi benar-benar berada di sisi Dimas, tetapi juga tidak berani mendekat ke arah Indra. Tubuhnya kaku, tangannya perlahan turun dari lengan Dimas, dan matanya masih terpaku

  • SEXY HOT OFFER    Bab 23

    TEMBAK!”Teriakan itu menggema keras di dalam ruangan, memecah keheningan yang sebelumnya menekan semua orang. Beberapa tamu langsung menjerit kecil, refleks mundur, sementara yang lain membeku di tempat tanpa sempat berpikir. Suara itu terlalu mendadak, terlalu tajam, dan datang di saat tidak ada yang siap. Semua mata langsung tertuju ke arah sumber suara.Salah satu aparat berdiri dengan senjata terangkat, wajahnya tegang, tetapi tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang ia lakukan. Tangannya sedikit bergetar, menunjukkan bahwa perintah yang baru saja diteriakkan bukan datang dari nalarnya sendiri. Di belakangnya, Dimas berdiri dengan wajah penuh emosi, napasnya berat, dan matanya menyala oleh amarah yang sudah tidak bisa ia kendalikan.“Lakukan!” bentak Dimas lagi dengan suara lebih keras, tangannya mengepal, tubuhnya sedikit condong ke depan. Ia tidak lagi peduli pada siapa yang ada di hadapannya, tidak juga memikirkan konsekuensi dari perintah itu. Dalam pikirannya, hanya ada satu h

  • SEXY HOT OFFER    Bab 22

    Baik, kalau kau benar-benar bisa membayarku dua puluh miliar, aku akan tinggalkan dan jauhi Dina,” ucap Dimas Bramasta dengan nada penuh tantangan, matanya menatap tajam ke arah Indra seolah sedang menikmati permainan ini. Ia kemudian melangkah sedikit lebih dekat, menunduk agar wajahnya sejajar dengan Indra, lalu melanjutkan dengan senyum sinis, “Tapi kalau kau tidak bisa, saat ini juga kau harus menjilati sepatuku di sini.” Ia mengangkat kakinya sedikit, seolah benar-benar siap mempermalukan Indra di depan semua orang. “Aku tunggu dua jam sebelum acara ini selesai,” tambahnya dengan nada santai, seolah ia sudah sangat yakin akan hasilnya. Suasana langsung berubah menjadi riuh. Para tamu saling berbisik, beberapa bahkan tidak menutupi tawa mereka. Di mata mereka, ini bukan lagi konflik biasa, melainkan tontonan yang sangat menghibur. Seorang pria tua di sudut ruangan bahkan menggelengkan kepala sambil tersenyum, seolah sudah tahu akhir dari cerita ini. Tidak ada satu pun yang benar

  • SEXY HOT OFFER    Bab 21

    Pagi itu terasa lebih tenang dari biasanya bagi Indra. Tidak ada tekanan, tidak ada rasa dikejar-kejar seperti hari-hari sebelumnya. Tapi justru di tengah semua perubahan besar yang terjadi dalam hidupnya, ada satu hal sederhana yang tiba-tiba ia rindukan.Rutinitas lamanya.Ia berdiri cukup lama di depan cermin, menatap jaket ojek online yang tergantung di kursi. Jaket itu terlihat biasa saja, bahkan sedikit kusam. Jauh berbeda dengan dunia yang sekarang mulai ia masuki. Tapi entah kenapa, ada rasa hangat saat ia menyentuhnya.Perlahan, Indra mengenakan jaket itu.Tangannya merapikan bagian depan, lalu berhenti sejenak. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, dan untuk beberapa detik, pikirannya kosong. Tidak ada sosok dewa perang, tidak ada miliaran rupiah, tidak ada kekuasaan.Hanya dirinya.“Aku cuma mau ingat… rasanya jadi orang biasa,” gumamnya pelan, suaranya rendah, lebih seperti berbicara ke dalam dirinya sendiri.Di dalam hatinya, ia sadar. Kalau ia tidak hati-hati, semua yan

  • SEXY HOT OFFER    Bab 20

    Hansen berdiri diam di depan layar yang terus berubah, tetapi kali ini ia tidak lagi mencoba memahami data secara detail. Matanya hanya menatap, namun pikirannya bergerak jauh lebih cepat dari angka-angka yang muncul. Ada satu hal yang kini terasa jelas di dalam dirinya, sesuatu yang sebelumnya hanya berupa dugaan samar.Ini bukan sekadar serangan bisnis.Ini bukan sekadar permainan uang.Ini… sesuatu yang jauh lebih besar.Ia menarik napas pelan, lalu menurunkan ponselnya dari telinga setelah panggilan terakhir berakhir tanpa jawaban yang ia harapkan. Orang-orang yang biasanya selalu siap membantunya kini mulai memberi jeda, bahkan beberapa di antaranya memilih diam. Bagi Hansen, itu adalah tanda yang lebih mengkhawatirkan dari kerugian apa pun.Di dalam ruangan, suasana tetap tegang. Beberapa staf masih sibuk mencoba menahan kerusakan yang terjadi, tetapi jelas semuanya hanya bersifat sementara. Sistem yang mereka andalkan selama ini tidak benar-benar runtuh, tetapi kendalinya mulai

  • SEXY HOT OFFER    Bab 19

    Lift itu bergerak turun dengan pelan, tetapi suasana di dalamnya terasa jauh lebih berat dari sekadar perpindahan lantai. Indra berdiri tegak di depan dinding kaca, menatap pantulan dirinya sendiri dengan sorot mata yang tidak lagi sama seperti beberapa hari lalu. Ada ketenangan di sana, tetapi bukan ketenangan orang biasa, melainkan ketenangan seseorang yang mulai memahami kekuatannya sendiri.Tangannya masih berada di saku jas, menyentuh kartu hitam itu secara refleks. Benda kecil itu bukan sekadar alat transaksi, tetapi seperti simbol dari sesuatu yang jauh lebih besar. Setiap kali ia menyentuhnya, ada sensasi aneh yang muncul, seperti pengingat bahwa hidupnya telah berbelok terlalu jauh untuk kembali.Di dalam pikirannya, suara dari panggilan sebelumnya kembali terngiang. Nada suara yang dingin, cara bicara yang tegas, dan terutama kalimat terakhir yang mereka ucapkan. Bukan sekadar informasi, tetapi seperti panggilan lama yang akhirnya menemukan jalannya kembali.Pintu lift terbu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status