INICIAR SESIÓN"Kumikislot ang alaga mo at mainit. Nilalagnat ka ba? O kaya, tulungan kita mag lulu?" "Kilala mo ba kung sino ang kausap mo?" May pagpipigil na tanong ng lalaki. Humigpit din ang pagkakahawak ng malapad niyang kamay sa aking pangupo na kanina lang ay taimtim na nakasuporta lamang dito. Ni hindi ko namalayan na tumigil na pala ito sa paglalakad. "Bakit, masarap ba Selyo?" Muli kong pinisil ang kahabaan niya at pinaglaruan ito habang nagpakawala naman ng mahinang mura ang lalaki.
Ver más"Ah, pelan-pelan, Om. A-aku... aku masih perawan!"
Desahan tertahan itu lolos dari bibir Maya yang bergetar hebat saat Anton melesakkan miliknya masuk ke dalam diri wanita itu.
Rasa perih dan penuh yang asing seketika merobek pertahanannya, membuat jemari Maya mencengkeram erat seprai ranjang king size tersebut.
Di atasnya, Anton menahan napas sejenak, urat di rahang dan lehernya menonjol menahan hasrat yang begitu menggebu.
Pria itu menghentikan gerakannya pelan, memberikan waktu agar tubuh mungil di bawahnya bisa beradaptasi.
"Oh, jadi kamu masih perawan, Maya?"
Tiga hari yang lalu, hujan turun dengan badai yang begitu ganas, seolah langit ikut mencemooh nasib malangnya.
Tubuh Maya (23 tahun) masih terasa remuk, luka memar dan goresan di lengannya akibat kecelakaan maut itu bahkan belum diobati dengan benar.
Namun, rasa sakit di fisiknya sama sekali tak sebanding dengan hancurnya hati Maya saat diusir paksa.
"Pergi kamu dari sini! Dasar perempuan pembawa sial! Gara-gara kamu, anakku mati!"
Teriakan histeris ibu mertuanya masih terngiang sangat jelas, seakan merobek gendang telinganya berkali-kali.
Maya diusir di malam pertama setelah kematian suaminya, didorong keluar tanpa ampun saat air matanya bahkan belum mengering.
Hanya berbekal pakaian basah yang melekat di badan, wanita yatim piatu itu berjalan di tengah hujan tanpa arah.
Hingga langkah kakinya yang gontai dan nyaris lumpuh itu berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam yang menjulang megah.
Ini adalah kediaman pribadi Anton, (35 tahun) paman mendiang suaminya yang sangat kaya raya dan hidup menyendiri.
Pria itu seorang duda tanpa anak, terkenal dengan sifat dinginnya yang nyaris tak tertembus oleh siapa pun.
Maya menekan bel berkali-kali, membiarkan tubuh mungilnya menggigil hebat di bawah guyuran hujan yang makin tak berbelas kasih.
Setelah penantian yang terasa seperti selamanya, pintu utama berbahan kayu jati itu akhirnya terbuka perlahan. Anton berdiri tegak di ambang pintu, menatap tajam sosok menyedihkan yang kini tersungkur di teras rumahnya.
"Ngapain kamu ke sini malam-malam, Maya?" tanya Anton dengan nada datarnya.
Maya mendongakan kepalanya menatap lirih wajah pria itu. "Om... aku mohon, tolong izinin aku masuk. Tolong tampung aku di sini," isak Maya dengan suara bergetar parah.
Bibirnya sudah membiru pucat, giginya bergemeretak menahan hawa dingin yang mulai menusuk tajam ke tulang rusuknya.
Anton tak langsung menjawab, pria itu hanya diam membatu seraya melipat kedua lengan kekarnya di depan dada.
Namun, melihat napas Maya yang mulai tersengal dan nyaris pingsan, pertahanan dingin pria itu perlahan goyah.
"Masuk. Jangan buat teras saya kotor karena kamu pingsan di situ."
Ruang tamu utama itu terasa begitu hangat, berbanding terbalik dengan neraka dingin yang baru saja Maya lalui di luar sana.
Anton duduk dengan angkuh di atas sofa kulit mahalnya, menyilangkan kaki sambil menatap keponakan menantunya lekat-lekat.
Maya sendiri hanya berani berdiri canggung di dekat pintu, membiarkan air hujan menetes bebas dari rambut panjangnya ke atas karpet mahal.
"Jadi, kenapa kamu datang ke rumah saya dan malah tiba-tiba nawarin diri jadi pelayan?"
Anton memecah keheningan yang mencekik itu, suaranya menggema pelan di dalam ruangan yang luas dan sunyi.
Tatapan pria itu mengunci rapat pergerakan Maya, membuat wanita itu merasa gelisah tak karuan.
Maya meremas jemarinya yang keriput kedinginan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
"Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi, Om. Ibu ngusir aku persis setelah Mas Riko meninggal."
Setitik air mata kembali jatuh membasahi pipi pucatnya saat rasa sesak itu kembali menyerang rongga dadanya.
"Beliau benci sama aku. Beliau anggap aku pembawa sial karena selamat dari kecelakaan maut itu," cicit Maya pelan.
Ia menundukkan kepala, tak sanggup menatap rahang tegas Anton yang terlihat mengeras mendengar ceritanya.
"Aku sebatang kara sekarang, Om. Nggak punya uang sepeser pun untuk sewa tempat tinggal di luar sana."
Anton menghela napas panjang, bersandar santai ke punggung sofa tanpa melepas tatapannya dari sosok rapuh di depannya.
"Terus? Kenapa kamu pikir saya mau nerima kamu di sini?" tanyanya dengan nada sedikit meremehkan.
Maya menelan ludahnya dengan susah payah, memberanikan diri membalas tatapan tajam sang duda.
"Waktu di jalan sebelum kecelakaan itu... Mas Riko sempat cerita soal Om Anton."
Napas Maya sedikit tercekat saat ia harus menyebut nama mendiang suaminya di hadapan pamannya langsung.
"Mas Riko bilang kalau Om lagi cari pelayan baru, karena pelayan lama Om resign karena udah terlalu tua."
Maya menatap lurus ke dalam sepasang mata kelam milik Anton.
"Jadi, aku mau melamar kerja jadi pelayan di rumah ini, Om."
Ia melangkah maju selangkah, menatap Anton dengan binar memohon yang benar-benar putus asa.
Mendengar kepolosan itu, alis tebal Anton perlahan terangkat sebelah.
Ia kembali mengamati Maya perlahan, dari ujung rambutnya yang berantakan, turun ke leher jenjangnya, hingga ke ujung kakinya.
"Kamu yakin mau kerja buat saya, Maya? Kerja di rumah saya itu nggak gampang."
"Aku bisa apa aja, Om. Aku janji bakal kerjain semua pekerjaan rumah dan nggak akan malas-malasan."
Maya kembali memohon, mencoba meyakinkan pria dingin di hadapannya ini dengan sepenuh hati.
"Aku rela digaji kecil. Nggak digaji pun nggak apa-apa, Om, asal aku dikasih tempat buat tidur dan makan setiap hari."
Keheningan yang sangat pekat perlahan menyelimuti ruangan besar itu. Hanya terdengar detak jarum jam dinding dan deru napas Maya yang tak beraturan menahan cemas.
Anton perlahan bangkit dari duduknya, melangkah pelan nyaris tanpa suara mendekati tubuh mungil Maya.
Langkah demi langkah Anton membuat dada Maya berdegup kencang hingga kakinya ingin mundur, tapi ia menahannya kuat-kuat.
Jarak di antara mereka terkikis habis, hingga Maya bisa mencium aroma maskulin yang kuat dari tubuh tegap Anton.
Pria jangkung itu menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah ketakutan Maya sambil menatapnya datar.
Jemari besar Anton terangkat perlahan, menyentuh helai rambut basah yang menempel di pipi Maya, membuat napas wanita itu tercekat.
Pria itu menatap bibir Maya sejenak sebelum menatap tepat di manik matanya.
"Bisa apa aja, hm?"
"Ah..."Nakagat ko ang aking pang-ibabang labi nang biglang kinagat ni Selio ang aking leeg.Ni hindi ko mapigil ang pananayo ng aking balahibo sa bawat sensasyon na binibigay niya.Ramdam ko ang paglandas ng kanyang mainit na dila sa aking balat. Napasabunot ako sa kanyang buhok ng bumaba ang kanyang halik. Hinuli ng lalaki ang aking dunggot at sinipsip ito. Parang sabik na sabik na pinaglalaruan niya ito. Habang ang isang kamay niya ay minamasahe ang kabila kong dibdib. Kahit na tanging isang tela lamang ang pagitan ng kanyang labi at ng aking dibdib ramdam na ramdam ko ang init na nagmumula sa kanya.Parang tinutupok ng tukso ang aking kamalayan sa bawat haplos niya. Dala ng nakaka adik na kiliti sa kaibuturan ko mas lalong idiniin ko ang suso ko sa kanya. Napaliyad na lamang ako ng salit salitan niyang sinisipsip, marahang kinakagat kagat at dinidilaan ang magkabila kong dibdib."Ughn..."Nang tuluyang magsawa muling tumaas ang kanyang mga labi at sinipsip ang labi ko. His tong
Bahagyang iniangat niya ang aking baba dahilan kung bakit magtagpo ang aming nga mata."May dalawang bakante silang kwarto. I'll take you there at 8."Under his intense eyes, my breath turned heavy as I nodded. Ni hindi ko alam kung bakit hindi ako muling umatras o itinulak ito palayo.Saglit na nag-isip ang lalaki bago isang nakakaakit na ngiti ang pinakawalan niya, "I don't mind if you stay."Mas lalong bumilis ang tibok ng puso ko at imbes na mailang ay sinalubong ko ang kanyang mapupungay at nangungusap na mga mata.Nakakaliyo. Pinilit kong kinalma ang aking puso ngunit hindi ko magawa.Natuon ang pansin ko sa kanyang labi. It was the perfect shape and shade. Naalala ko pa kung gaano kainit, kalambot at kapusok ang kanyang labi.Mga labing unti-unting lumalapit sa akin. Wala sa sariling napapikit ako. "You remembered."Sumabay ang mahina niyang tawa.Napamulat ako at napahawak sa aking tenga kung saan naramdaman ko ang bahagyang pagdampi ng kanyang mainit na hininga.It feels tin
Alas-singko imedya na ng hapon ng matapos akong mag-ayos ng mga gamit ko. Umalis ai Selio kanina matapos niyang magmeryenda kaya ngayon ay ako lang ang nasa bahay niya. Naisipan kong magluto makabawi man lang sa pang-aabala sa lalaki Napasulyap ako sa bintana."Parang masarap humigop ng sabaw ngayon."Isa-isang nagsisilaglagan ang mga butil ng ulan sa labas marahil dahil sa paparating na bagyo may panaka-nakang ihip ng hangin ang humahampas sa mga puno.Agad na inilabas ko ang karne mula sa freezer para madefrost ito. Habang hinihintay kong matunaw ang yelo, sinimulan ko nang ihanda ang mga gagamitin kong pampalasa: sibuyas, bawang, paminta, msg, luya, sili at ang mga gulay na pang-sahog. Matapos hugasan, hiniwa ko na din ito.Naisipan ko ding magluto ng adobong manok kaya inilabas ko din ito sa freezer kanina.Nang madefrost na ang karne, hinugasan ko na, pinatuyo sandali bago ko hiniwa sa tamang laki. “Anong ginagawa mo?”Awtomatikong napalingon ako sa pinagmulan ng boses ni Seli
Hi! Salamat sa pagbabasa ng storya nila Xanthiañia at Zellorion!Updates will be posted more often! English translation for this book is also posted, you may visit my profile.Xanthiañia: San-ti-yan-yaZellorion: Ze-lor-yonHappy reading!Ps. Kung naghahanap kayo ng ibang story under SPG, steamy or smut book, you can try my COMPLETED book: Seducing my Ex-husband.
Lumilipad ang diwang, agad akong binuksan ang gripo ng tubig, isinalod ang aking mga palad at ibinuhos ang malamig na likido sa namumula kong mukha. Nalipat ang atensyon ko sa aking suot ng maalalang nahulog nga pala ako sa tubig. Halos umabot ang damit sa aking tuhod sa laki at haba nito. "Siya
"Achoo!"Hindi ko maiwasang bumahing ng ilang beses dahil sa labis na pangangati ng aking ilong.Bughaw na namimilog na mga mata ang tumambad sa aking pagdilat. Napabalikwas ako ng bangon at napatili dahil sa gulat."Inaaay!"Ni hindi ko namalayang nahulog na pala ako sa kama kung hindi sumakit ang
Inisang lagok ko ang shot ng alak. Ramdam na ramdam ko ang paghaplos ng mapait na inumin sa'king lalamunan."Akala ko ba okay ka na, bakit parang hindi naman?"Hindi ko pinansin si Luis sa harapan ko, imbis ay para bang nakapako na lamang ang aking paningin sa dalawang tao na animo'y magkasintahan.
"Hubad.""Ha? Anong sabi mo? Nabingi yata ako. Pakiulit nga." Namimilog ang matang naitanong ko sa kanya bigla.Halos mamawis ang mga palad ko sa antisipasyon sa kanyang sagot."May mali ba sa pandinig mo?"Umiling-iling ako upang sagutin ang kanyang tanong ng hindi ako makapagsalita.My heart start


















Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reseñas