เข้าสู่ระบบBab. David tiba di ruang ganti lagi, ia bingung harus bagaimana. Apakah akan melanjutkan rencananya atau memilih kabur saja karena takut ketahuan oleh inspektur. Tidak ada yang bisa David lakukan saat ini selain kabur pergi dari rumah sakit. "Sudahlah, sebaiknya aku tidak usah ganti baju lagi karena sudah terlanjur ketahuan oleh inspektur sialan itu!" David mengeratkan kepalan tangannya, geram pada inspektur Andika yang sudah menghalangi rencananya. David heran mengapa inspektur Andika ada di rumah sakit, David yakin pasti ada yang sudah melaporkannya. David mengintip dari celah pintu, ia mencari keberadaan inspektur Andika. Dalam hati David berdoa agar inspektur Andika pergi dari tempat itu. Sementara itu di luar ruangan Sehan dan inspektur Andika sengaja bersembunyi agar David mau keluar. Setelah nanti keluar dan dia sudah di luar ruang ICU kedua orang itu akan langsung menangkap David. Tidak berapa lama kemudian, rencana inspektur menjebak David pun menunjukkan hasilnya
Sehan mengikuti saran dari dokter dan inspektur. Sehan memilih menunggu dan membiarkan inspektur yang bergerak menangkap David. Bukannya dia tidak mampu, akan tetapi dia harus mematuhi peraturan yang ada di rumah sakit. Salah sedikit saja maka pasien yang akan menjadi korbannya, terutama yang memiliki penyakit kronis dan juga berat. Nyawa mereka akan terancam jika sampai terjadi keributan di dalamnya. Dengan terus mengawasi pintu ruang perawat, Sehan duduk di antara keluarga pasien yang menuggu di luar ruang ICU. Sepuluh menit kemudian Seorang perawat dengan bentuk tubuh yang mencurigakan keluar dari ruangan itu. Sehan ingin berdiri hendak menangkap perawat itu, akan tetapi dicegah oleh inspektur muda itu. "Jangan, Tuan Sehan. Biar saya yang tangani, ingat apa yang dikatakan dokter tadi. Kita tidak boleh membuat keributan di rumah sakit ini," ucap si Inspektur mengingatkan Sehan akan kesepakatan yang sudah disetujuinya tadi. Dengan rasa kecewa dan tubuh yang menahan amarah,
bab. Usai mengetahui kondisi tante Zola baik-baik saja, Sehan pun menuju ke ruang administrasi untuk mengurus semua administrasi tante Zola. Hembusan napas berat terdengar dari mulut Sehan. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Dua orang wanita yang berusaha membantunya kini sama-sama terbaring di rumah sakit. "Hari ini adalah hari yang melelahkan, kenapa semua bisa barengan begini? David benar-benar kejam sekali. Wanita saja dia lawan, tidak tahu malu!" gumam Sehan merasa lelah karena siang sudah mengurus tante Raysa, malam ini harus mengurus tante Zola. Apalagi semuanya dirawat karena ulah si David. Saat hendak berjalan kembali ke IGD, Sehan sepintas melihat bayangan David. "Tunggu, bukankah itu David? Apa yang dia lakukan di sini? Astaga ... Dia menuju ke bangsal tante Raysa. Apa yang akan dia lakukan di sana? jangan-jangan dia akan menghabisi nyawa tante Raysa!" pekik Sehan tiba-tiba pikirannya mengarah pada keselamatan tante Raysa. Tante Raysa adalah
Bab. Sehan terlihat panik saat mengetahui tante Zola tidak lancar dalam bernapas. Ia pun memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan tante Zola "Denyut nadi tante Zola sangat lemah. Sebaiknya aku bawa tante Zola ke rumah sakit. Aku tidak mau mengambil resiko, mumpung masih ada waktu aku harus segera membawa tante Zola ke rumah sakit!" bathin Sehan. Ia pun mengangkat tubuh tante Zola dengan kedua tangannya dan menggendongnya ala bridestyle. Dengan setengah berlari Sehan masuk ke dalam lift. Sesampainya di lantai satu, para pegawai hotel pun membantu sehat membawa tante Zola ke rumah sakit. Sopir dari hotel itu mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi hingga tidak butuh waktu lama mobil itu sampai juga ke rumah sakit. "Dokter, bantu kami!" teriak Sehan bisa sampai dia di depan ruang IGD. Para tim dokter dan perawat dengan sigap membantu Sehan. "Syukurlah, jika sampai terlambat sedikit saja wanita ini bisa meninggal dunia," ucap dokter yang sudah men
Usai menjenguk tante Raisa Sehan pun ingin kembali ke hotelnya kebetulan dia sudah ditunggu oleh tante Zola disebut di hotel. "Tante Zola membawa berita yang penting, kata tante Zola akan memberitahu hal yang membuat statusku yang semula jadi tersangka kini menjadi saksi. Berita itu membuat aku semakin penasaran!" gumam Sehan semakin penasaran. Untung saja jalan tidak ramai dan macet, hingga Sehan sampai juga di hotel tempat ia menginap bersama tante Zola. Dengan setengah berlari, Sehan menggapai pintu lift yang hendak tertutup otomatis. "Huft, untung lah. Jalan tidak macet dan lift ini mau menungguku. Alam masih berpihak padaku hingga aku bisa pulang tepat waktu," gumam Sehan mengelus dadanya lega. Sehan tidak tahu kalau yang ia lakukan mengundang perhatian pengguna lift yang lain. Lelaki itu sibuk mengatur napas dan juga penampilannya yang terlihat kucel ia rapikan. Ting! Pintu lift terbuka. Tanpa memperhatikan sekelilingnya, Sehan keluar dari lift itu dan langsu
Bab 166 Suster itu belum menjawab apa yang ditanyakan oleh Sehan. Ia masih mencari informasi tentang asuransi yang dimiliki oleh tante Raysa. Setelah bebberpaa menit suster itu pun mengangkat kepalanya menatap Sehan. "Maaf, jika menunggu lama, Tuan. Untuk pengobatan pasien semua ditanggung oleh asuransi. Jadi keluarga aman tidak perlu bingung tentang biaya pengobatan." Suster itu menjelaskan jika pengobatan tante Raysa sepenuhnya kan ditanggung oleh asuransi yang dia miliki termasuk asuransi kecelakaan. Sehan bernapas dengan lega. "Terima kasih, Sus. Untuk formulirnya sudah saya tanda tangani dan bolehkah saya menunggu di depan ruang operasi?" tanya Sehan lagi. Ia ingin mendengar langsung dari dokter yang menangani tante Raysa. "Silakan, Tuan. Ruang operasi ada di gedung sebelah. Silakan anda mengikuti anak panah petunjuk yang ada," jawab suster itu menunjuk ke arah gedung sebelah. Sesampainya di gedung operasi, Sehan mondar-mandir di depan ruang operasi. Sehan







