MasukDua puluh lima tahun Anjeli hidup bersama keluarganya dibawah kendali keluarga besar Prajanata, akhirnya ia bisa merasakan udara bebas setelah meninggalkan kediaman Prajanata yang begitu menyesakkan. Namun bukannya menghirup udara bebas, justru Anjeli ditumpahkan segala masalah oleh keluarganya sendiri. Takdir seolah mempermainkannya, kondisi yang mendesak membuatnya harus menerima kenyataan jika ia akan menikah dengan tuan muda Prajanata demi melunasi utang keluarganya. Ghatan, pewaris tunggal Prajanata Group yang terkenal kejam. Bagaimana Anjeli menjalani hidupnya di sebuah rumah bersama pria yang tak lain adalah bosnya sendiri?
Lihat lebih banyakDinding kaca yang dingin ini terasa seperti cermin raksasa yang memantulkan kehampaanku. Aku terisolasi, terkungkung dalam kotak transparan ini, sementara dunia di luar sana berputar tanpa peduli pada nasibku. Detak jam di pergelangan tangan terasa seperti palu yang berdentum di dalam kepalaku, mengiringi irama debar jantungku yang tak menentu.
Tatapanku terpaku pada pintu kaca yang menjadi satu-satunya penghubungku dengan dunia luar. Di baliknya, koridor panjang membentang, dihiasi deretan pintu-pintu identik yang menyembunyikan nasib para kandidat lainnya. Aku membayangkan mereka, masing-masing tengah bergulat dengan kecemasan yang sama sepertiku.
Sebuah bayangan gelap melintas di balik kaca. Sosok itu semakin dekat, langkahnya pasti dan penuh kuasa. Pemimpin. Jantungku berpacu kencang. Ia adalah sosok yang selama ini menjadi idola sekaligus momok bagiku. Wajahnya yang tegas dan tatapan matanya yang tajam selalu berhasil membuatku bergidik.
Staff HRD, seorang wanita dengan tatapan datar, mengikutinya dari belakang. Ia membawa setumpuk berkas—nasib kami tertulis di sana. Mataku mengikuti setiap gerakannya, berharap ada keajaiban yang akan terjadi. Namun, harapan itu sirna seketika ketika pemimpin itu berhenti di depan salah satu berkas. Ia membolak-balik halaman demi halaman, tatapannya fokus dan tajam.
Sebuah firasat buruk mulai menyelimutiku. Aku tahu, saat itu juga, bahwa keputusan telah diambil. Detik berikutnya, ia berbisik sesuatu kepada Staff HRD. Tatapanku tak lepas dari mereka saat Staff HRD itu menoleh ke arahku. Anggukan kecilnya menjadi pertanda bahwa nasibku telah ditentukan.
Langkah kaki mendekat. Pintu kaca terbuka perlahan. Aku menarik napas dalam-dalam, bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Pintu ruang isolasi terbuka perlahan, dan staff HRD itu masuk dengan senyum tipis di wajahnya. "Selamat, kamu terpilih dari puluhan kandidat untuk langsung diwawancarai oleh Mr. Wei. Beliau sedang menanti di kantornya saat ini," katanya dengan nada resmi.
Jantungku berdebar semakin kencang. Ini adalah kesempatan yang selama ini kuimpikan. Dengan tangan sedikit gemetar, aku beranjak dari dudukku dan melangkah menuju pintu. Namun, sebelum aku sempat membuka pintu itu, Staff HRD menahanku.
"Sebentar, Sonia," katanya dengan suara yang lebih lembut namun serius. "Ada penawaran khusus dari Mr. Wei untukmu. Gaji yang ditawarkan empat kali lipat dari yang sebelumnya."
Aku mengerutkan kening, bingung namun penasaran. "Apa maksudnya?" tanyaku dengan hati-hati.
"Mr. Wei memiliki permintaan khusus," jawab Staff HRD sambil menatap mataku dengan intens.
"Apa permintaan khusus itu?" tanyaku, berusaha menahan getir di tenggorokan.
"Permintaan khusus itu," ia melanjutkan, suaranya bergetar di udara yang tegang, "adalah kamu harus bersedia menyusui."
Dunia seakan berhenti berputar. Tawaran itu begitu menggiurkan, tetapi juga sangat mengejutkan. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mencerna informasi yang baru saja kudengar. Dengan penghasilan sebesar itu, aku bisa memberikan perawatan terbaik untuk anakku yang mengidap thalasemia. Namun, harga yang harus kubayar terasa begitu mahal.
Aku teringat wajah polos anakku yang selalu ceria, meski harus berjuang melawan penyakitnya. Hatiku tercabik-cabik. Di satu sisi, aku ingin memberikan yang terbaik untuknya. Di sisi lain, aku merasa dilema dengan permintaan yang begitu tidak biasa.
"Aku butuh waktu untuk berpikir," kataku akhirnya, suara ku terdengar lirih.
Staff HRD mengangguk mengerti. "Tentu saja, Sonia. Pikirkanlah baik-baik. File ini berisi detail lengkap tentang penawaran ini. Mr. Wei menunggumu di kantornya." Ia menyerahkan file itu padaku, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan.
Aku menatap file di tanganku, perasaan campur aduk memenuhi hatiku. Keputusan ini akan mengubah hidupku selamanya. Aku harus memilih antara ambisi karirku dan kesejahteraan anakku. Jalan mana yang akan kuambil?
***
"Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan debar jantungku yang tak terkendali. Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku. Semakin dekat aku dengan ruangan Mr. Wei, semakin kuat pula rasa cemas yang menyelimutiku.
Bayangan anakku yang terbaring lemah di rumah sakit kembali menghantuiku. Penyakitnya yang langka membuatku merasa begitu kecil dan tidak berdaya. Aku pernah berjanji pada diri sendiri akan melakukan apa saja untuk menyembuhkannya, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan segalanya.
Tiba di depan pintu, aku ragu-ragu untuk mengetuk. Apa yang akan kutemukan di balik pintu ini? Apakah ini benar-benar jalan keluar dari semua masalahku? Atau justru akan menjadi awal dari penderitaan yang lebih besar? Segala macam pertanyaan berputar-putar di kepalaku.
"Hm?" Anjeli mengernyitkan keningnya begitu menyadari sesuatu. "Sepertinya ada sesuatu di wajahku," katanya seraya mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi kamera. Anjeli mengangkat ponselnya dan menatap wajahnya di sana, berlagak seakan tengah menyingkirkan sesuatu dari wajahnya. Padahal ada sesuatu yang ingin ia pastikan, semenjak keluar dari kantor akan menemui Bas, Anjeli merasa ada yang mengikutinya. "Ternyata ada sesuatu di mataku, pantas saja seperti ada yang menghalangi pandanganku." Anjeli sengaja menabrak orang yang baru saja keluar dari toko pakaian. "Maaf-maaf ... aku akan lebih berhati-hati." Anjeli menoleh ke belakang dan sesuai dugaannya, orang yang mengikutinya tampak bersembunyi dan ini kesempatan Anjeli untuk menghilangkan jejak. Ia memutuskan untuk masuk ke toko pakaian, mengambil baju dan topi lantas mengganti pakaiannya. Setelah Anjeli mengganti pakaian, orang itu tampak kebingungan dan tak lagi mengikutinya. "Siapa orang itu?" ujar Anjeli bertanya-tanya.
"Apa-apaan penampilanmu ini?" Suara kencang sang ayah membuat wanita yang kini tengah duduk di sofa itu memejamkan matanya. Ekspresinya seolah tak peduli pada respon sang ayah mengenai dirinya. "Jangan coba-coba untuk berontak, Karina." Karina memutar bola matanya malas. Dengan penampilan yang berubah 180 derajat, tentu saja membuat Tama terkejut dan tak terima. Putri yang selalu ia banggakan kini berani membangkangnya, melawan setiap ucapannya, dan bersikap tidak sopan. Jaket kulit berwarna hitam yang Karina pakai seakan membuat mata Tama sakit. Ditambah celana jeans ketat menambah kesan tomboy pada karakter Karina yang awalnya anggun bak putri kerajaan. "Kemana pakaian pink-pink mu itu, Karina?" tanya Tama dengan kedua tangan disimpan di sisi pinggangnya. "Apa kau ingin menjadi bahan perbincangan orang-orang di kantor ini?" Karina menghela napas, lantas mengeluarkan sesuatu dan berhasil meningkatkan emosi Tama saat ini juga. "KARINA! DARI MANA ROKOK ELEKTRIK ITU!?" Kar
Anjeli sudah kembali ke kantor dan sekarang ia berjalan menuju lift untuk pergi ke ruangannya. Dari jauh Anjeli dapat melihat banyak orang menunggu di depan lift membuatnya sedikit menghela napas. "Apa aku harus berdesakan di dalam lift?" keluh Anjeli. "Kenapa disaat seperti ini banyak orang yang ingin naik lift, sih?" Begitu tiba saatnya Anjeli masuk ke dalam, seseorang membuat kakinya berhenti melangkah. Tatapan pria itu membuat Anjeli diam layaknya patung, hingga pria yang tak lain adalah bosnya itu tersenyum lebih dulu kepadanya. "Apa kau tidak akan masuk?" tanyanya. "Eh?" Anjeli linglung beberapa saat. "Selamat siang, Pak." Anjeli sedikit membungkukkan tubuhnya dan tersenyum kecil. "Silakan anda masuk lebih dulu." "An—" Ghatan seakan ingin menarik tangan Anjeli dan mengajaknya berbicara, tetapi tiba-tiba banyak pegawai datang dan masuk ke dalam lift dengan terburu-buru. Dalam sekejap para pegawai itu memenuhi ruang lift. Jarak jauh diantara dirinya dengan Anjeli membua
Anjeli menatap datar ponselnya, lantas ia memasukannya ke dalam saku celana. Setelah Pak Hans datang membawakan makanan untuknya, Anjeli mendapat pesan dari Ghatan tetapi ia tak berniat membalasnya. Semua orang tampak bingung mengapa bosnya itu hanya memberi makanan kepada satu karyawannya saja, dan itu adalah karyawan baru dibandingkan dengan karyawan lain yang sudah lama bekerja di perusahaan ini. Sophia menatap paper bag yang Anjeli pegang, lalu ia menatap Pak Hans dengan sedikit kerutan di dahinya. "Sebenarnya aku penasaran tentang pertunangan pak Ghatan dengan putri CEO Perusahaan TK itu," kata Sophia terus mendekati Pak Hans. "Kapan mereka akan melakukan pesta pertunangannya?" Pak Hans diam tak langsung menjawab. Namun ketika mulutnya sudah terbuka akan menjawab pertanyaan itu, Leon yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya sedikit berseru membuat semua pasang mata beralih ke arahnya. "Wah, bagaimana bisa semua artikel tentang pertunangan itu hilang semuanya?" Leon mendec
Lagi-lagi tidak ada suara ibu yang membangunkannya pagi ini, rasanya masih sama seperti pagi kemarin. Begitu membuka mata, Anjeli hanya bisa menghela napas. "Ah, hari ini aku harus mulai bekerja." Anjeli mengusap rambutnya ke belakang. Ia baru ingat jika hari ini adalah hari Senin dan hari pertaman
Entah apa yang Ghatan pikirkan hingga dengan mudah ia menyerang Anjeli seperti ini. Mencumbu setiap inci wajah Anjeli, mengendus nafsu aroma tubuh Anjeli yang memabukkan. Hingga akhirnya ia berhenti melakukan aksi diluar kendalinya kala merasakan cakaran pada lehernya. "Hei!" Napas Anjeli terengah
"Syarat?" beo Anjeli dengan dahi berkerut dalam, ia menatap Ghatan penuh pertanyaan. Ghatan mengangguk. "Ya, syarat yang harus kau patuhi," ucapnya seraya menatap Anjeli. Namun beberapa saat kemudian Ghatan membelakangi Anjeli. "Ah, apa mungkin lebih tepat jika disebut aturan?" Merasa jika Ghatan
Anjeli terus menatap Ghatan menunggu jawabannya. Begitupun Ghatan, pria itu terus menatap Anjeli seolah akan memberikan jawaban yang jelas. Namun ditunggu seberapa lama pun, Anjeli tak kunjung mendengar suara itu. Anjeli mendecak, ia orang pertama yang memutus kontak mata. Wajah frustrasinya tak da
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan