تسجيل الدخولMendengar cerita masa lalunya kembali diungkit, Baroness yang masih ditahan oleh ksatria di lantai kembali menjerit. Ia meronta, kembali meneriakkan makian dan menyalahkan Sienna atas segala kemalangan hidupnya. Mengutuk eksistensi Sienna yang terus hidup sementara anak kesayangannya harus meregang nyawa.Namun, kali ini Sienna tidak lagi tersentak oleh makian ibunya. Ia hanya berdiri mematung di tempatnya.Perlahan, seberkas air mata bening menetes dari pelupuk matanya, mengalir turun membasahi pipinya yang pucat. Tangisan tanpa suara itu memancarkan kepedihan akan nasib seorang bayi yang dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.Sienna menunduk, menatap ibunya yang masih meronta dengan pandangan yang kabur oleh air mata. Rasa benci yang sedari tadi bersarang di hatinya perlahan tergantikan oleh rasa kasihan yang mendalam pada wanita tua yang telah ditipu seumur hidupnya ini."Ibu..." bisik Sienna pelan.Suaranya terdengar begitu rapuh dan serak, namun entah bagaimana mampu memotong
Baroness terdiam sejenak. Di bawah tatapan mata merah darah sang Kaisar yang mengintimidasi, wajah wanita paruh baya yang semula pucat pasi dan keriput itu perlahan berubah tegang. Ketakutannya seolah menguap, digantikan oleh sebuah emosi gelap yang telah berkarat selama lebih dari dua puluh tahun di dalam dadanya. Urat-urat di lehernya menonjol, dan wajahnya seketika dipenuhi oleh kemarahan yang meluap-luap."Apa maksud kalian berdua membahas itu sekarang?!"Suara Baroness menggema tajam, memecah keheningan yang mencekam di dinding-dinding batu kediaman itu. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah Lucian dan Sienna dengan dada yang naik-turun menahan emosi yang meledak.Sienna tersentak hebat. Tubuhnya secara refleks mencondongkan diri ke depan, menghancurkan postur tenangnya sebagai seorang permaisuri. Matanya membelalak lebar, mencari kebenaran di wajah wanita yang melahirkannya itu. Darahnya seakan berdesir cepat di telinganya."Ibu, apa maksud Ibu?!" panggil Sienna, suar
"Sienna, apa kau memiliki saudara?" tanya Lucian dengan suara yang teramat hati-hati, memecah keheningan yang mencekam di dalam ruang kerja. Matanya tidak lepas dari raut wajah sang istri yang masih terpaku, memandangi replika wajahnya sendiri pada lukisan Ratu Charlotte.Tidak. Itu adalah jawaban otomatis yang ingin sienna lontarkan detik itu juga. Seumur hidupnya, ia tahu bahwa ia adalah putri tunggal keluarga Borgia. Namun, dengan semua rentetan informasi kelam dan lukisan yang dibawa oleh mata-mata Lucian di hadapannya sekarang, keyakinan itu runtuh. Fakta tentang jaringan perdagangan manusia asal Rivendia belasan tahun lalu dan kemiripan yang mustahil ini membuat dadanya sesak oleh badai pertanyaan baru.Sienna perlahan meragu pada asal-usul wanita dalam lukisan yang bahkan tidak pernah ia temui itu."Aku... tidak tahu..." bisik Sienna parau. Kepalanya mendadak pening, dipenuhi teka-teki tentang siapa dirinya yang sebenarnya.Lucian mengangguk paham. Ia tidak mendesak istrinya
Philippe terhempas dan terduduk lemas bersandar pada dinding batu yang dingin. Belum sempat pria bertubuh besar itu mengatur napasnya yang putus-putus, sebuah tekanan brutal kembali menghantamnya.Raja Alexander mengangkat sebelah kakinya, menekan sol sepatu bot kulitnya yang keras dan berat tepat di atas bahu Philippe, mengunci tubuh ajudannya itu ke dinding agar tidak bisa beringsut seinci pun."Ugh... Yang Mulia..." rintih Philippe tertahan. Ia memejamkan mata, merasakan tulang selangkanya seolah akan remuk di bawah injakan sang raja.Alexander mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap ajudannya dari atas dengan sorot mata sedingin dasar lautan es. Tidak ada lagi amarah yang meledak-ledak atau teriakan histeris seperti malam sebelumnya. Tapi kemarahannya jelas telah membekukan hati dan pikirannya."Ini adalah kesempatan terakhirmu untuk menebus kebodohan fatalmu, Philippe," desis Alexander, suaranya mengalun sangat pelan. Sepatu botnya menekan bahu Philippe semakin kuat hingga ajud
Untuk sesaat, hanya hening yang mengisi ruang baca paviliun tersebut. Tidak ada kata yang terucap, hanya suara detak jarum jam yang seolah menghitung detik-detik kebimbangan di dalam dada Alice.Gadis itu tidak bisa segera menjawab. Lidahnya terasa kelu oleh beban realitas yang menghimpitnya. Di sisi lain meja, Caesar menolak untuk mendesak, memberikan Alice seluruh waktu dan ruang yang ia butuhkan untuk mencerna segalanya.Hingga akhirnya, sebuah helaan napas panjang meluncur dari celah bibir Alice.Gadis itu perlahan mengangkat wajahnya. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk kini menatap lurus ke arah pria di hadapannya. Akal sehatnya mulai mengambil alih, menamparnya dengan kenyataan yang lebih besar. Alice sadar, ia tidak bisa terus bersikap egois dengan hanya memikirkan kenyamanan, waktu kesiapan, dan traumanya sendiri.Kekaisaran saat ini sedang berada di ambang krisis yang tak kasat mata. Raja Alexander berkeliaran membawa ancaman, keselamatan Permaisuri Sienna sedang menjadi
Begitu punggung Raja Alexander dan ajudannya benar-benar menghilang di balik belokan lorong batu, ketegangan tak kasat mata yang mengunci area taman itu perlahan mengendur. Para Ksatria Bayangan yang bersembunyi di atas pohon dan di balik tembok perlahan menurunkan senjata mereka, meski tetap bersiaga.Dari balik pilar, Rowan segera keluar dari persembunyiannya. Sang Marquess baru itu melangkah setengah tertatih, menumpukan sebagian berat badannya pada tongkat penyangga, dan berjalan tergesa-gesa untuk memangkas jarak yang memisahkannya dari Elizabeth."Elizabeth!" panggil Rowan dengan suara parau yang sarat akan kekhawatiran. Ia berhenti tepat di hadapan gadis itu, matanya yang tajam menelusuri wajah dan tubuh Elizabeth, memastikan tidak ada satu pun goresan padanya. "Apa kau tidak apa-apa?"Elizabeth menarik napas panjang yang sedari tadi tertahan di dadanya. Ia mengangkat tangannya yang sedikit gemetar, melepaskan topi lebar yang menutupi wajahnya."Aku baik-baik saja, Rowan," jaw
Alexandria menggeram tertahan. Harga dirinya terkoyak habis. Menyadari bahwa ia tidak akan bisa memenangkan perdebatan ini tanpa merusak citranya sendiri di depan publik, ia akhirnya menyerah.Dengan napas memburu dan kaki yang dihentakkan keras ke tanah berbatu, Alexandria berbalik arah."Kita kem
Sosok pria yang membelah kerumunan itu adalah Damien.Ajudan terpercaya Duke Lorraine itu berjalan tenang, namun auranya memancarkan ketegasan. Jubah hitam dengan lambang Duchy Lorraine yang melekat di bahunya menjadi bukti posisinya di Duchy.Damien berjalan lurus ke arah Sienna yang masih berlutu
"Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Alexandria dingin, membelah kebisingan jalanan di sore hari itu. Tatapannya menyapu gaun katun lusuh yang dikenakan Sienna dengan sorot mata penuh penghinaan.Sienna menelan ludah, berusaha mempertahankan ketenangannya di hadapan wanita bangsawan itu. Ia meneku
Tubuh Sienna membeku, jantungnya kini seolah berhenti berdetak sesaat.Apa yang baru saja dikatakan pria itu? Wanitanya? Mata Sienna mengerjap cepat. Tidak. Pasti ia salah dengar. Mungkin Lucian bermaksud mengatakan "wanita di kastilku" atau "tamu wanitaku". Kata-kata itu terdengar terlalu tidak m







