Se connecterSinar mentari pagi menyinari rumah yang berdiri kokoh. Bi Asni sudah berjalan kesana kemari karena disibukkan dengan pekerjaan rumah.
Ting... tong.... ting... tong Dengan tergopoh-gopoh wanita itu menuju pintu depan. Awalnya Bi Asni mengira yang datang adalah Hendra. "Pagi Bi." "Pagi Den. Tumben sekali Den Firza datang pagi-pagi sekali.” Bi Asni membuka pintu itu semakin lebar. "Saya mau ambil sampel parfum dari kakak." "Oh, langsung ke kamar saja Den. Sepertinya Nyonya masih tidur.” Firza mengangguk ragu, tapi ia tetap menuju kamar kakak perempuannya. Tanpa mengetuk pintu, Firza masuk begitu saja. Tamara yang masih bersantai diatas kasur terjingkat kecil. "Firza! Nakal kamu ya, udah kakak bilang kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu!” omel Tamara. "Kelamaan Kak, Kak Rara kok nggak ke kantor sih? Biasanya jam segini udah nggak kelihatan batang hidungnya." Rara adalah panggilan kesayangan dari Firza. Lelaki berusia 24 tahun itu memang memilih bahasa santai ketika berbicara dengan sang kakak. "Males." Jawab Tamara singkat, wanita itu kembali memainkan gadgetnya. "Mentang-mentang pemilik sah-" "Ssttt... diam Firza!" Tamara langsung memotong perkataan adiknya, ia melirik kearah pintu yang terbuka. Tamara segera turun dari atas ranjang dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Firza menatap Tamara dengan pandangan aneh. "Kakak kenapa sih?" "Kamu kan tahu sendiri nggak ada yang tahu identitas kakak selain keluarga kita. Tadi kamu malah hampir keceplosan. Kalau ada yang tahu gimana?" Tamara berkacak pinggang. Firza meringis lalu menepuk mulutnya sebanyak 3 kali. "Maaf kak, nggak sengaja. Eh iya, Kak Hendra kemana?" Tanya Firza setelah menyadari bahwa ia tak melihat kakak iparnya sejak tadi. "Nggak pulang, sedang menikmati waktu sama ani-aninya kali." jawab Tamara. "Hah?" Firza mengambil tempat duduk disebelah Tamara. Ia memandang kakaknya itu sangat dalam. "Kak, coba jelasin sama aku pelan-pelan. Pemikiran Firza ini nggak benar kan?" Tamara menghela napas kasar, lalu membalas tatapan mata Firza. "Kakak nggak tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Tapi mungkin itu benar. Mas Hendra selingkuh, Za.... sama Kalina. Sahabat kakak sendiri. Awalnya kakak nggak percaya, tapi kemarin kakak mergokin Kalina sedang telfonan sama mas Hendra. Dan dari yang kakak dengar, hubungan mereka sudah jauh. " Firza terdiam, tidak ada air mata dari Tamara saat menceritakan semuanya. Tapi Firza tahu, ada luka yang disembunyikan oleh Tamara. Wanita itu hanya berpura-pura menjadi sosok yang kuat. "Kakak mau apa? Biar Firza hajar lelaki itu!" ucapnya dengan bersungguh-sungguh. "Jangan Za! Kakak udah punya rencana untuk menyiksa mereka. Apa kamu rela kalau mereka hanya sakit setelah kamu hajar? Sedangkan setelah sembuh nanti, mereka akan kembali hidup bahagia?" Firza menggeleng. "Biarkan kakak membalas ini, Za. Kakak mau mereka menderita untuk selamanya." Tamara menegakkan tubuhnya dan memutar badan Firza agar menghadap kearahnya. "Jangan bilang Mama sama Papa. Kakak takut mereka akan menggagalkan rencana ini. Kamu mau kan bantuin kakak?" "Iya, tapi... apa rencana yang sudah kakak susun?" tanyanya penasaran. Tamara mendekatkan bibirnya ketelinga sang adik dan membisikkan sesuatu. Perlahan-lahan Firza tersenyum sinis. "Rencana bagus, jika uang bisa merubah sifat seseorang... maka uang juga bisa bertindak untuk menyiksa orang itu." Ada sebuah makna dari ucapan Firza. Kini ia akan ikut dalam permainan kakaknya. Ting..... Tamara membuka ponselnya, ternyata pesan itu dari Hendra yang memberikan kabar. (Sayang, maaf aku tidak pulang semalam. Karena kelelahan aku tidur di rumah teman, ini aku langsung pergi ke kantor. Kamu jangan marah ya, love you.) "Iyuhh..." Tamara spontan menjauhkan ponselnya dan memberikannya kepada Firza. Firza tertawa terbahak-bahak setelah membaca pesan kakak iparnya. "Jadi sebenarnya dia yang bodoh atau kakak?" Firza memegang perutnya yang terasa kram. "Jelas dia lah, berakting seolah-olah kakak nggak tahu apapun. Padahal semua kelakuan busuknya udah ketahuan." Tamara menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga. Dua saudara itu terus mengolok-olok Hendra. Bahkan Firza melupakan niatnya yang datang untuk mengambil sampel parfum. Karena Tamara memang menyisihkan waktunya untuk membantu sang adik dalam menjalankan bisnis. Keahliannya untuk menciptakan aroma-aroma baru sangat disukai oleh pelanggan-pelanggan Firza. •••• Baru sampai di Kantor, Hendra berniat untuk segera mentransfer uang yang diminta oleh Kalina. Ia bisa dengan bebas mengakses keuangan kantor juga karena Tamara. "Enak sekali punya istri yang bekerja dibagian keuangan. Aku jadi bisa mengambil uang dengan mudah." Hendra bersiul senang. Namun, kesenangannya itu hanya berlaku untuk sesaat. "Kok tidak bisa? Padahal kemarin masih baik-baik saja.... sial! siapa yang membatasi aku untuk mengakses uang kantor!" Hendra menggebrak meja kerjanya. Dengan kesal ia mengambil telepon kantor dan meminta sekretarisnya untuk masuk. Tok... tok... tok "Masuk!” Sekretaris wanita itu membuka pintu dan membungkuk ramah. "Ada yang bisa saya bantu pak?" "Kenapa saya tidak bisa mengakses keuangan kantor, Celine?" "Maaf pak, untuk masalah keuangan saya tidak tahu. Karena Ibu Tamara yang mengurusnya." Celine menunduk, ia khawatir malah dirinya sendiri yang mendapat kemarahan Hendra. "Mana Tamara! Panggil dia kesini!" titahnya. "Sekali lagi maaf pak, Ibu Tamara izin tidak masuk hari ini." Tatapan Hendra semakin menajam, Kalina sudah menerornya sejak tadi agar segera mentransfer uang. Namun nasibnya malah seperti ini. "Keluar! tidak berguna saya memanggil kamu!” Celine pergi tanpa sepatah katapun. Bukan sekali dua kali Hendra berkata kasar kepadanya. "Halo Tamara!" Hendra menghubungi Tamara untuk meminta kejelasan. Disana, Tamara mengaktifkan loud-speaker agar Firza bisa ikut mendengar. "Halo Mas, ada apa? Suara Mas Hendra terdengar sedang kesal.” "Kamu membatasi suamimu sendiri untuk mengakses keuangan kantor? Kenapa Tamara? Kamu ini tidak sopan! Buka sekarang!" Hendra meledak-ledak, sedangkan Tamara memainkan kuku-kuku cantiknya dengan santai. "Masalah kah mas? Soalnya kemarin aku lihat ada dana keluar 100 juta, dan itu atas nama kamu. Kira-kira uang itu kemana?” Hendra tercekat, ia memikirkan alasan ke seribu yang akan ia berikan kepada istrinya. "Itu.... untuk dana tambahan proyek." "Dana proyek? Kenapa tidak menginformasikannya dulu denganku? Aku juga bagian dari kantor loh mas." "Untuk apa? Harusnya kamu juga paham Tamara! Aku ini suamimu!" "Suami ya suami, kalau rekan ya rekan. Kamu ini tidak profesional sama sekali. Walaupun aku sering pulang duluan, tapi aku tidak pernah selancang dirimu Mas Hendra!" "Terserah apa katamu Tamara, aku akan mengadukan semua kelakuanmu sama Papa. Biar Papa tahu bagaimana cara anaknya bekerja di kantor suaminya!" Hendra meremas ponselnya, ia memencet ikon berwarna merah. Tamara menaikkan alisnya karena telepon dimatikan secara sepihak. "Laki-laki kok ngadu." cibirnya. "Pffftt.... kantor suaminya, katanya. Dia belum tahu siapa orang dibalik kantor itu yang sebenarnya." sambung Firza.Saat jam istirahat, Hendra langsung keluar dari area kantor untuk menemui Kalina. Bahkan lelaki itu tidak berniat untuk makan siang terlebih dahulu. Didalam pikirannya, pasti Kalina ingin makan siang bersama. Namun, raut wajah Hendra seketika menggelap saat Tamara berjalan menyalipnya. Wanita itu bahkan tidak meliriknya sama sekali. “Tamara.” Panggilnya pelan. Kaki jenjang wanita itu berhenti lalu menoleh untuk melihat siapa yang memanggil namanya. Tamara menyunggingkan senyum remeh, bukan karena Hendra yang memanggilnya tanpa embel-embel bu atau semacamnya. Tapi karena Hendra masih memiliki niat untuk berinteraksi dengannya. “Ya? Kenapa Hen? Ada yang ingin kamu sampaikan kepada saya?” tanya Tamara dengan postur tubuh sangat formal. “Tidak, aku hanya tahu tentang perceraian kita.”“Oh itu, tenang saja. Semuanya sudah selesai, kita hanya perlu menunggu sidang pertama. Tapi saran saya…kamu tidak perlu membuat drama agar persidangan cepat selesai. Dengan begitu kamu bisa cepat-cepat
Ruang rapat di Astana Corp sangat sunyi, hanya terdengar suara detik jarum jam. Padahal di dalam ruangan itu terdapat para komisaris. Hendra pun ada disana, ia duduk dihadapan komisaris dengan wajah tegang. Ketua komisaris, Harry, membuka berkas-berkas yang ada di depannya. Amri menunjuk Harry untuk membacakan apa saja yang tertulis disana secara ringkas. Sedangkan Amri sendiri, menyandarkan tubuhnya dengan tatapan tegas. “Saudara Hendra, dalam rapat ini kami akan menyampaikan keputusan akhir terkait pelanggaran kode etik yang telah anda lakukan. Meskipun anda sendiri pasti sudah mengetahui apa keputusan itu.” Suara Harry menggema. “Kami telah melakukan investigasi internal, dan semua bukti-bukti juga sudah kami terima. Oleh karena itu, jabatan anda sebagai direktur utama akan dicabut pada hari ini.”Hendra hanya bisa terdiam, napasnya tertahan selama beberapa detik. Ada sebuah rasa sesak dan marah yang ia rasakan. “Dan untuk tetap menjaga citra perusahaan…anda akan tetap bekerja,
Kalina berjalan dengan membawa banyak paperbag ditangannya. Ditengah keterpurukan Hendra, wanita itu masih bisa shopping, makan enak, dan menikmati seperti tidak memiliki masalah apapun. Sayangnya, Kalina belum mengetahui kalau Hendra sudah lepas jabatan. “Huh! Ini taksi online pada kemana sih? Kenapa orderanku dicancel terus?”Kalina menekan ponselnya geram, sudah 5 kali ia mencari taksi online, dan 5 kali itulah ia selalu ditolak. Karena lelah berdiri, Kalina pun memilih berjalan sembari mencoba taksi lain. “Aduhhh sial sekali aku, sudah mobilku tidak segera dikembalikan sama si Shinta. Sekarang malah tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Mas Hendra juga susah dihubungi, kemana sih dia?”Kalina mengibaskan rambutnya kesal, saat menoleh ke kanan, wanita itu mengernyit saat melihat seorang pria berbadan besar sedang memainkan ponsel. “Perasaan tadi disana tidak ada orang, apa dia ngikutin aku ya? Rasanya juga seperti ada yang membuntutiku sejak dari mall.” Gumamnya lirih. Pria i
“Sial! Sial! Sial! Aku tidak mau ini semua! ARGHHH!”“Ssttt! Pak Hendra kenapa sih itu?” bisik salah satu orang divisi yang melintas di depan ruang direktur. “Frustasi mungkin, jabatannya kan terjun bebas. Bayangin saja Shel, dari direktur utama jadi OB. Apa nggak shock tuh mentalnya.”“Serius lo? Jangan bohong! Kalau kabar ini hoax, karir lo bisa hancur loh.”“Dih nggak percaya, lo tunggu saja besok. Kalau benar…lo harus traktir gue selama seminggu.”“Okelah, gue terima!”“Tapi ingat! Kabar ini jangan sampai kedengeran sama orang luar. Semua anak-anak harus diberitahu. Kalau nggak, bukan cuma perusahaan ini yang kena imbasnya. Tapi kita juga, bayangin kalau kena PHK massal. Mau kerja dimana lagi kita?”“Aman, anak-anak lain juga pasti pada paham.”Desas-desus tentang penurunan jabatan Hendra, menyebar luas ke seluruh divisi. Awalnya, ada seseorang yang tak sengaja mendengar Hendra mengumpat setelah kembali dari kantor pusat. Akhirnya orang itu memberitahu temannya sampai berakhir me
Hendra menautkan kedua tangannya gugup. Ia sedang menunggu Amri di kantor pusat. Amri, dialah orang yang Hendra tahu sebagai pemilik Astana Corp. Meski sebenarnya hanyalah orang kepercayaan Surya. Beberapa menit kemudian, Amri datang dengan gagahnya. Raut wajahnya datar, dan itulah yang membuat Hendra semakin tegang. Lelaki itu segera berdiri untuk menyambut Amri dengan sopan. “Duduk, Hendra Pratama.”Habis sudah, Amri telah menyebut nama lengkapnya. Singkat, datar, dan tentunya menjadi pertanda buruk. Lelaki itu menunduk, menunggu Amri mengatakan sesuatu kepadanya. “Kamu tahu apa yang menyebabkan saya memanggil kamu kesini?” “I-iy…Tidak. Tidak pak…”Amri terkekeh, terlihat jelas kalau Hendra gugup. Sampai-sampai menjawab pertanyaan sesederhana itu dengan jawaban yang tidak jelas. “Seorang direktur utama, menjawab pertanyaan seperti itu? Kamu tidak mempunyai pendirian Hendra.”“Maaf pak.” Hendra menunduk dalam. Bruk! Amri menyerahkan sebuah berkas kepada Hendra. Tidak dibanting
Siang itu juga setelah jam istirahat, Tamara bergegas pergi ke pengadilan agama. Langkah untuk bercerai tidak semudah itu, sehingga ia tak mau menunda-nunda waktu lebih lama lagi. “Tamara, kamu yakin mau pergi ke pengadilan agama?” Hendra menarik tangan Tamara yang hendak menuju parkiran. “Ck! Jelas iya. Buat apa aku harus ragu?” Tamara melepas cekalan tangan itu dengan kasar. Hendra menarik napasnya dalam. “Kalau kamu yang mengurusnya, itu berarti semua biaya ditanggung oleh kamu. Aku tidak akan membantu sepeser pun.” Seringainya. “Ya ampun, jangan khawatir begitu dong Hen. Aku tidak semiskin itu, uangku banyak.” Wanita itu tertawa kecil, tawa yang membuat Hendra insecure sebagai lelaki. “MAS!” pekikan manja terdengar dari seberang. Dua insan itu menoleh, mereka melihat Kalina berjalan berlenggak-lenggok. Wanita itu langsung merangkul lengan Hendra. Sangat terlihat mesra, tapi bagi Tamara, hal itu sangatlah menjijikan. “Benar-benar tidak tahu malu.” Cibir Tamara di dalam hati.







