MasukBab 151
Pandangan Hongwu beralih perlahan dari wajahku ke arah Xiwu. Udara di ruangan itu seketika terasa mendingin tajam. Dia tidak berteriak — tak perlu. Keheningan yang menyelimuti kehadirannya jauh lebih menakutkan daripada amarah mana pun."Sebuah bayangan..." ulangnya pelan, setiap kata terucap berat dan tegas seakan terukir di batu. "Dan kau berani masuk ke kamarnya, menghinanya, dan merasa berhak atas apa yang dikirimkan kepadanya hanya karena kedudukan yang kau baBab 156 Cahaya fajar yang pucat perlahan menyelinap masuk melalui celah jendela, menyentuh permukaan lantai kayu yang dingin. Ruangan itu masih hening, namun keheningannya berbeda dari malam sebelumnya — kini terisi oleh ketenangan yang baru, bukan lagi kesepian yang panjang. Aku terbangun perlahan, dan hal pertama yang kulihat adalah Hongwu yang masih tertidur di sampingku. Wajahnya yang biasanya kaku dan berwibawa kini tampak begitu tenang, jauh dari beban takhta dan segala intrik istana. Cahaya pagi yang lembut menyentuh wajahnya, menonjolkan garis-garis lelah yang tersembunyi di antara rahang dan matanya yang tertutup. Untuk sesaat, ia bukan Kaisar yang ditakuti oleh ribuan orang — ia hanyalah seorang pria yang akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat. Aku bergerak pelan, berusaha tidak membangunkannya, namun tangannya yang terulur di pinggangku seketika mengerat lembut, seakan naluriah takut kehilangan. Matanya perlahan terbuka, dan sejenak ia
Bab 155 Kami masih berpelukan di bawah cahaya matahari terakhir yang perlahan memudar menjadi ungu lembut di langit. Angin malam mulai berhembus pelan melalui celah jendela, membawa aroma bunga melati yang tumbuh di taman bawah — aroma yang begitu akrab, begitu menenangkan, seakan menjadi saksi bisu perjalanan panjang kami yang akhirnya sampai di titik ini. Hongwu melepaskan pelukannya perlahan, namun tangannya tetap bertumpu di bahuku, matanya menatapku lekat-lekat seakan takut jika ia berpaling sedetik pun, aku akan lenyap seperti bayangan yang selama ini ia kejar. "Makanan seharusnya sudah tiba," katanya pelan, suaranya kembali lembut dan hangat. "Tadi aku perintahkan dapur untuk menyiapkannya sendiri. Bukan hidangan mewah yang biasa disajikan di jamuan istana, melainkan makanan yang kau suka — makanan yang pernah kau sebutkan dulu, saat kita masih berbicara di taman tanpa siapa pun yang tahu." Aku tersenyum mendengarnya. "Kau ingat?"
Bab 154 Hongwu menghela napas panjang, napas yang seakan mengeluarkan segala beban yang dipikulnya selama bertahun-tahun. Dia berdiri perlahan dan berjalan menuju jendela yang terbuka, membiarkan cahaya matahari terbenam yang berwarna keemasan menyinari siluet tubuhnya yang tegap namun kini tampak begitu lelah dan manusiawi. Angin sore yang lembut menerpa jubahnya, menggerakkan kain itu pelan seakan ikut merasakan ketenangan yang perlahan menyelimuti ruangan itu. "Aku tahu kau takut..." katanya pelan tanpa menoleh ke arahku, suaranya terbawa angin sore yang lembut. "Kau takut aku akan kembali menjadi Kaisar yang dingin, jauh, dan tak tersentuh. Kau takut sisi lain dari diriku — sisi yang harus kubangun untuk memerintah kekaisaran ini — suatu hari akan menguasai segalanya dan menjauhkannya darimu. Dan kau punya alasan yang kuat untuk takut. Karena memang benar... aku punya sisi gelap yang tak pernah kau lihat. Sisi yang harus kugunakan untuk menghadapi dunia yang
Bab 153 Hongwu menatapku lekat-lekat, dan perlahan sebuah senyum tipis terukir di bibirnya — senyum yang dingin namun indah, penuh keyakinan yang tak tergoyahkan. "Mereka tidak akan bisa menyakitimu tanpa menyentuhku terlebih dahulu," ucapnya pelan namun setiap kata terasa berat dan mantap, seakan sumpah yang tak bisa dibatalkan. "Dan tidak ada seorang pun di seluruh kekaisaran ini yang selamat setelah menyentuh apa yang menjadi milikku." Dia menatapku, matanya yang gelap memancarkan perlindungan yang begitu dalam, namun di balik itu ada peringatan lembut yang tak boleh diabaikan. "Jangan takut padaku, Lianhua. Takutlah pada mereka." Aku menggeleng pelan, tanganku yang gemetar perlahan terangkat hingga menyentuh punggung tangannya yang masih bertumpu di tepi tempat dudukku. Aku menatapnya lurus-lurus, tanpa ragu, tanpa gentar. "Aku tidak takut padamu," suaraku terdengar jelas meski hati berdebar kencang. "Aku hanya... aku h
Bab 152 Aku tersenyum lembut. "Maka aku pun akan menjadikan duniamu... sebagai duniaku juga." Hongwu tertawa pelan dan rendah — suara tulus yang baru pertama kali kudengar darinya setelah sekian lama. Bunyinya hangat dan menenangkan, seakan memenuhi setiap sudut ruangan kecil ini. "Kalau begitu... kita berdua bakal kena masalah besar," katanya, sudut matanya berkerut menahan senyum. Dia berdiri namun tak melepaskan genggamanku. Sebaliknya, dia menarikku ikut berdiri pelan hingga aku berdiri persis di antara kedua lengannya. Tingginya menjulang jauh di atasku, membuatku harus mendongakkan kepala sepenuhnya untuk menatap wajahnya. "Besok pagi istana pasti bakal gempar," ucapnya santai seolah sedang membahas cuaca, bukan badai politik yang siap meledak. "Xiwu pasti akan mengamuk minta keadilan, para menteri akan menumpuk petisi protes, dan Chuntao bakal mengawasi kita berdua setajam elang." Dia membungkuk perlahan, bibirnya me
Bab 151 Pandangan Hongwu beralih perlahan dari wajahku ke arah Xiwu. Udara di ruangan itu seketika terasa mendingin tajam. Dia tidak berteriak — tak perlu. Keheningan yang menyelimuti kehadirannya jauh lebih menakutkan daripada amarah mana pun. "Sebuah bayangan..." ulangnya pelan, setiap kata terucap berat dan tegas seakan terukir di batu. "Dan kau berani masuk ke kamarnya, menghinanya, dan merasa berhak atas apa yang dikirimkan kepadanya hanya karena kedudukan yang kau banggakan?" Xiwu seketika berlutut di lantai, dahinya membentur batu hingga terdengar bunyi nyaring. "Yang Mulia! Ampunkan hamba! Hamba hanya khawatir... hamba tidak bermaksud—" "Kau bermaksud persis seperti yang kaukatakan," potong Hongwu dingin sambil melangkah masuk sepenuhnya. Tubuhnya yang tegap seakan memenuhi ruangan itu, membuat sosok Xiwu di lantai tampak semakin kecil dan tak berarti. "Kau datang ke sini hanya untuk menegaskan kekuasaanmu atas seseorang yang kauanggap







