Teilen

25. Siapa Sebenarnya

last update Veröffentlichungsdatum: 07.08.2025 07:33:06

Doni segera masuk ke dalam apartemen Sylvi. Nampak di depannya, perempuan itu terluka cukup parah dibagian muka. Baik kening, pipi, dagu hampir seluruh wajah.

"Kamu udah gilak ya? habis ngapain sih, bisa berdarah separah ini. " Dia sekonyong-konyong menggendong tubuh ramping Sylvi ke ranjang.

Bau alkohol tercium sangat kuat dari jarak yang hanya beberapa centimeter itu.

"Kamu habis dari bar? mabuk dan nabrak? " Doni seperti bermonolog. Orang di depannya itu tidak bereaksi sama sekali.

Melih
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   146. Presentasi Doni

    Malam itu seharusnya menjadi waktu istirahat setelah presentasi yang melelahkan. Namun bagi Doni, malam itu justru menjadi awal dari kekacauan baru.Sylvi memencet pintu kamar hotel, sejak kejadian sebelumnya Doni memang sengaja mengunci pintu.Setelah membuka pintu, Doni kembali ke dalam dengan wajah tegang sambil membawa laptop.“Don, kita harus revisi materi untuk besok. Investor yang datang beda dari rundown awal. Kita perlu menyesuaikan beberapa poin.”Doni melihat ke jari Sylvi, tidak ada cincin. Lalu dia segera mengangguk lemas. “Oke, Bu Sylvi, Sini.”Mereka duduk di meja kecil dekat jendela, laptop terbuka, suara ombak Bali terdengar jauh. Membuat suasana khas yang sangat nyaman untuk berpikir dan mencari ketenangan. Baik sekadar liburan atau bekerja. Namun ketenangan alam itu tidak mampu menjinakkan badai di kepala Doni.Ketika Sylvi membuka draft materi yang Doni kerjakan sore tadi, ia langsung mengerutkan dahi.“Don… ini salah semua. Bagian data keuangan tidak jeli. ”Doni

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   145. Mira Menghilang

    Venue itu mewah, tempat perusahaan besar dan pemilik modal berkumpul. Bisa sekadar untuk mendengar proposal kerja sama baru, ataupun guna menggugurkan kewajiban undangan wajib dari pemerintah.Sylvi tampil rapi, rambut terikat, seragam kantor menyatu dengan aura profesionalismenya. Sementara Doni… hanya berusaha terlihat seperti orang yang tidak sedang hancur.“Don,” panggil Sylvi pelan begitu mereka masuk lift. “Kamu baik-baik aja? Sejak tadi diam banget.”“Oh, iya. Aku… cuma kurang tidur.”Sylvi menatapnya dalam, seolah mencari celah dari kebohongan kecilnya.“Kamu yakin?”Doni mengangguk cepat.Tapi bagaimanapun, ketidaktenangan itu tidak bisa ditutupi. Matanya sembab, konsentrasinya buyar, bahkan ia salah menekan tombol lift.Juga berbagai kesalahan kecil lain. Apakah itu semua pertanda akan kejadian lain hari?Ruangan besar itu dipenuhi para petinggi perusahaan. Projector menyala. Slide pertama muncul. Sylvi berdiri di samping Doni dan memberi anggukan kecil.“Tenang ya, Don. Kit

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   144. Video Perusak Suasana

    Lampu lalu lintas berubah hijau. Nadia mundur sambil menatap Doni.“Mas… jangan hilang lagi, ya.”Doni mengangguk lemah.Mobil melaju, meninggalkan Nadia yang berdiri di trotoar dengan bahu bergetar, mencoba menahan air mata yang sudah terlalu lelah untuk jatuh.“ Maafkan aku ya Nad. Kamu pasti bisa melalui ini semua. “Gumam Doni pelan. Sesampainya di bandara, panggilan terakhir penumpang pesawat sudah didengungkan. Dengan tergesa-gesa Doni segera melakukan prosedur awal pendaftaran penerbangan dan langsung masuk pesawat. … . Doni tiba di Bali sore hari. Di pintu kedatangan, Sylvi sudah menunggunya.“Doni! Akhirnya kamu datang.”Sylvi tersenyum cerah, langit Bali tampak memantulkan cahaya di matanya.“Aku akan selalu menemani bidadari perusahaan kita kemanapun dibutuhkan, bukanlah begitu tuan putri? “ Ucap Doni berusaha menghibur Sylvi. “Itu yang aku suka darimu. Selalu cepat dan bisa diandalkan. ““Dan aku akan selalu suka menemanimu kemanapun. Akan kemana kita? Langsung kerja?

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   143. Silih Berganti

    “Apalagi ini, Tuhan? apa semua balasan dari akumulasi dosaku selama ini?” ucap Doni pelan.Perlahan, para peserta yang sebelumnya berniat menjadi audience seminar hasil Doni menjauhi ruangan. Donipun berjalan pelan keluar ruangan.Doni berdiri mematung di depan ruang sidang seminar hasil. Ruangan itu kini juga telah kosong, hanya tersisa papan tulis yang masih ada sisa-sisa coretan metodologi miliknya. Peluh dingin membasahi tengkuknya. Hatinya terasa retak, nyaris remuk. Hasil akhir sidangnya hanya berujung pada satu kalimat dari Prof. Anas yang terus terngiang:"Tidak layak. Metode yang kau pakai tidak sesuai kaidah ilmiah yang saya arahkan."Prof.Anas yang terkenal kalem dan pembimbing yang tenang, itu menjadi seperti singa podium yang langsung menghancurkan semua perjuangan Doni selama tiga bulan ini.Doni tidak bisa berkata apa-apa. Ia tahu sudah berusaha, ia tahu Bu Dyah yang selama lima bulan menggantikan pembimbing utama sudah memoles semuanya semampu mungkin. Tentu dengan pen

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   142. Ternyata Tidak Mudah

    Dikejar para perempuan juga disandera para wanita. Banyak wanita juga banyak masalah yang muncul begitu saja. Begitu mudah Doni berada, begitu pula tantangan hidup berasal. Dan itulah Doni dan hidup. Hidup, bagi Doni, terasa seperti rangkaian ujian yang anehnya begitu rapi, begitu terstruktur, seakan-akan ada tangan tak terlihat yang mengatur agar semuanya jatuh menimpanya dalam waktu yang sama. Mira yang tetap tak bisa dihubungi. Nadia yang terus mencarinya lewat pesan dan panggilan, namun harus ia abaikan demi syarat Rani yang entah apa maksudnya. Ditambah kejadian di kampus yang menguras energinya, membuatnya seperti berjalan dengan tas ransel berisi batu.“Cobaan apa gak bosan kamu mengikuti ku? Pindahlah ke orang lain. Aku saja sudah bosan denganmu! “ lirih Doni bermonolog. Gr.. Gr… gr… Beberapa saat kemudian sebuah pesan masuk. Dari orang yang baru saja dia pikirkan. Rani: [Jangan sampai melanggar janji. ]Doni : [ Iya. Aku tahu]Beberapa detik kemudianRani: [Dan jangan lup

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   141. Kebingungan Doni

    Doni berjalan mondar-mandir di depan IGD, langkahnya tidak teratur. Setiap beberapa detik ia berhenti, menatap pintu itu seperti ingin menembusnya dengan tatapan—seolah jika ia cukup kuat, pintu itu akan terbuka dan membiarkan dia masuk.Tapi tidak.Pintu itu tetap menjadi tembok antara Doni dan kenyataan pahit yang sedang terjadi pada Nadia.Rika duduk di kursi tunggu, memeluk tas kecilnya. Suaranya masih serak ketika ia memanggil Doni.“Mas Doni… duduk sebentar. Mas kelihatan lelah sekali, seperti mau pingsan.”Doni menggeleng keras. “Aku nggak bisa duduk, Rika. Kalau aku duduk… pikiran aku makin kacau.”Rika menatapnya lama, wajahnya dipenuhi rasa iba.“Mas… Bu Nadia itu kuat. Dia pasti berjuang di dalam. Tapi Mas juga harus tenang…”“Tenang?!” Doni mengangkat suaranya, lalu cepat-cepat menurunkannya karena sadar mereka berada di rumah sakit.“Rik, aku hampir saja nabrak anak kecil di jalan. Aku hampir bikin orang mati! Karena kepalaku kacau, karena aku panik… terus sekarang aku ha

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   13. Ada Syarat Baru

    Doni tiba dia kampus lebih awal dari jam yang ditentukan oleh dosen pembimbing kedua. Suasana kampus mulai terlihat ramai. Hari ini memang jadwal daftar ulang mahasiswa baru gelombang 2. Adik-adik tingkat dari segala penjuru kota akan mengisi kelas dan parkiran kampus yang selalu penuh saat menjelan

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   10. Apa Dia Melihatku?

    Nadia segera menyingkarkan tangan Doni dari mulutnya. Dia mendekatkan bibir ke telinga Doni, “Abis kuda-kudaan yah?”Doni menggerakan tangan ke kanan dan kiri. Berusaha menyanggah pertanyaan Nadia dengan jawaban terbaik. Dia segera menarik tangan Nadia untuk menjauh dari pintu tersebut.“Bukan mbak

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   9. Mimpi Apa Semalam?

    “Mas Doni, sembunyi dulu disini ya,” kata Sandra yang langsung dituruti Doni. Tidak ada jalan keluar memang, kecuali hanya sembunyi sementara. Dia juga tidak akan bisa dengan mudah menjelaskan keberadaannya ke suami Sandra tersebut.Sandra segera mengenakan handuk kembali, lalu merapikan rambut dan

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   8. Tragedi Wadah Sayuran

    Tok..tok..tok“Permisi mas, saya sudah selesai. Mana Syakilanya?” Tanya Sandra. Buliran air masih menetes dari rambutnya.Doni segera menunduk. Dia tidak bisa membayangkan kalau handuk itu sampai jatuh. Lagian, untuk sampai ke atas juga harus melewati anak tangga yang lumayan banyak. Mengapa Sandra

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status