/ Romansa / Sentuhan Lembut Om Duda / CHAPTER 220: Berhati-Hati

공유

CHAPTER 220: Berhati-Hati

작가: Heiho
last update 게시일: 2026-05-08 19:00:20

“Om masih curiga sama Tuan Merphilus?”

Leo tidak segera menjawab. Tapi, cengkramannya di kemudi semakin erat. Ia melirik Hani dari kaca spion tengah.

“Apa maksud Nona?” tanyanya pelan.

Hani menelan ludah. Apa Leo sekarang sedang berpura-pura tidak paham? Hani menarik napas sejenak.

“Tadi aku melihat tatapan om menyeramkan saat aku mengobrol dengan Tuan Merphilus,” jawab Hani hati-hati, “Jadi, aku berpikir om masih curiga dan was-was tiap Tuan Merphilus be
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 220: Berhati-Hati

    “Om masih curiga sama Tuan Merphilus?”Leo tidak segera menjawab. Tapi, cengkramannya di kemudi semakin erat. Ia melirik Hani dari kaca spion tengah. “Apa maksud Nona?” tanyanya pelan. Hani menelan ludah. Apa Leo sekarang sedang berpura-pura tidak paham? Hani menarik napas sejenak.“Tadi aku melihat tatapan om menyeramkan saat aku mengobrol dengan Tuan Merphilus,” jawab Hani hati-hati, “Jadi, aku berpikir om masih curiga dan was-was tiap Tuan Merphilus bersamaku karena kejadian aku menangis waktu itu.”Leo menghela napas pelan. Sepertinya ucapan Hani tepat sasaran melihat reaksi Leo seperti ini. “Maafkan saya, Nona. Saya benar-benar menyesal sudah bersikap tidak sopan,” desah Leo, “Tapi, entah kenapa, saya memang tidak bisa berhenti was-was. Tiap melihat Nona bersama Tuan Merphilus, saya langsung teringat dengan kejadian Nona menangis itu.”“Saya benar-benar minta maaf,” ucap Leo lagi dengan nada menyesal.Ha

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 219: Sia-Sia

    “Jadi, tugas utama kita sekarang adalah presentasi di acara pesta itu?” tanya Merphilus yang dijawab anggukan Hani. “Baiklah. Catat itu, Liam,” suruh Merphilus sambil melirik Liam di sampingnya.“Baik, pak,”Merphilus menatap kembali dokumen di tangannya. “Lalu, kapan dilaksanakan meeting besar itu?” tanyanya lagi tanpa mengangkat wajahnya. “Jadwalnya akan menyusul. Tapi, kemungkinan akan dilaksanakan dalam 2-3 hari lagi,” balas Hani. Merphilus mengangguk. Ia lanjut membaca isi dokumen itu. Hani menghela napas pelan. Pertemuan hari ini berjalan lancar lagi. Sepertinya, ia sudah mulai cukup terbiasa melakukan pertemuan seperti ini. Ia bisa menjelaskan lebih baik dari terakhir kali. Meski sesekali masih kebingungan menjelaskan.Mungkin, ini karena Merphilus juga sudah memberikan ruang yang nyaman untuknya. Sama seperti awal pertemuan, pria itu juga sekarang tidak menertawakan atau mengejeknya tiap dia salah bicara. Pria itu bahkan terkesan menghormatinya, seolah mereka adalah rek

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 218: Kalian Dekat, kan?

    “Hah?! Kenapa tiba-tiba begitu?!” seru Hani tak terima, “Lagian, bukannya pesta itu tidak ada?”Jefri mendengus, “Mana mungkin tidak ada. Itu kan pesta penting. Kamu tidak lupa kalau pesta itu juga bertujuan untuk mengetahui proyek setahun ke depannya?”“Tentu saja aku ingat,” dengus Hani.Pertanyaan Hani itu sebenarnya berdasarkan rumor para staf juga. Ia sempat mendengar para staf saling bergosip tentang keberlangsungan pesta itu.Hal yang dimaklumi mengingat sekarang sudah jauh dari agenda pesta awal tahun biasanya.“Pestanya hanya diundur, nona,” jelas Leo yang membuat Hani menoleh padanya, “Pak direktur sengaja mengundurnya karena kemarin ingin fokus dengan pernikahannya bersama Nona Rara.”Hani mendengus. Memang enak ya jadi direktur. Bisa mengatur seenaknya saja. . “Tapi, tetap saja ayah lagi-lagi bicara mendadak seperti ini,” desah Hani. Ia bersedekap. “Tuan Merphilus juga pasti protes kalau tiba-tiba begini.”“Karena itu, sudah jadi tugasmu untuk membuatnya tidak marah,” uca

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 217: Sekali Saja

    “Selamat pagi, Rara.” Rara melenguh pelan saat merasakan kecupan di sekujur wajahnya. Ia perlahan membuka mata dan melihat Jefri tersenyum di depannya. “Pagi, mas,” sapanya dengan suara serak. Ia berdehem sejenak karena merasakan tenggorokannya tidak enak. Jefri melebarkan senyumnya. “Biar mas ambilkan minum,” ucapnya lalu mengambil gelas di atas nakas. Pria itu lalu membantu Rara untuk duduk. Tangannya yang lain menopang punggung Rara. Setelah posisi Rara pas, Jefri segera mengarahkan gelas itu ke mulut Rara. Membantunya untuk minum perlahan. “Kamu berteriak terlalu keras semalam,” ucap Jefri geli. Wajah Rara memerah. Kembali teringat dengan kejadian semalam. Ia menggeleng-geleng. “Jangan dibahas,” ucapnya malu. Jefri tertawa geli. Ia menyenderkan wajahnya ke kepala Rara. “Tapi, semalam kamu memang berteriak lebih kencang dari biasanya,” ucap Jefri melanjutkan, tidak memedulikan peringatan Rara barusan. “Apa semalam lebih enak dari biasanya?” “A-aku nggak mau bahas,”

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 216: Mas Ahli

    “Bukan apa-apa!” bantah Rara sambil mengalihkan pandangannya. “Kamu membuat mas semakin penasaran.”Rara mengaduh pelan saat Jefri kembali mengarahkan wajahnya ke hadapannya. Ia mengerut melihat tatapan menggebu Jefri. “Katakan,” ucap Jefri tegas sambil sedikit meremas wajah Rara.Rara menelan ludah. Ia menggulirkan bola matanya ke arah lain lalu berkata gagap, “A-aku kira, hal baru tadi maksudnya …. Ga-gaya bercinta baru …. Atau pakai alat-alat aneh ...”“Alat aneh?” Jefri mengerutkan alisnya, terlihat berpikir sejenak. Ia kemudian tersadar. “Maksudmu sex toy?”“Jangan diucapin!”Jefri menyeringai. Tatapannya terlihat geli ke Rara yang memerah padam. “Kita bisa lakukan kalau kamu mau–”“Nggak!”Jefri tertawa. Istrinya ini cepat sekali membantahnya. “Padahal itu ide kamu sendiri,” ucap Jefri ringan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Meski mas sedikit kaget kamu memiliki ide tersebut.”Ucapan itu membuat Rara semakin malu. Ia benar-benar merasa seperti orang mesum sekarang. A

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 215: Hal Baru

    ‘Bagaimana bisa dia berbicara seperti itu?’ batin Rara malu mengingat ucapan Jefri tadi. Meski ucapan Jefri tidak salah, tapi tetap saja atmosfer malam ini terasa berbeda dari malam-malam bersama mereka biasanya!Rara mengubah lagi posisi duduknya di atas kasur. Kakinya bergerak gelisah. Di belakangnya, ia mendengar suara kucuran air. Jefri sedang mandi di dalam sana. Rara menghela napas, berusaha menghilangkan kegugupannya meski tidak berhasil. Hal ini membuat Rara merasa deja vu. Ia teringat dengan momen ‘kelas’ pertama bersama Jefri. Sayangnya, ia tidak bisa mengingat bagaimana cara menghilangkan kegugupannya itu. Rara hanya ingat semua dimulai dengan kecupan dan sentuhan pelan dari Jefri, lalu mereka—“Kamu belum berganti baju?”Rara tersentak dari lamunannya. Ia segera mendongak dan wajahnya memerah padam.Jefri menggunakan baju handuk yang memperlihatkan dada bidangnya. Tetes air mengalir di badannya, begitu juga dengan ujung-ujung rambutnya. Pria itu segera mengusap rambutnya

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 70: Kelas Terakhir

    ‘Bukannya efek bir tidak separah ini?!’ batin Rara bingung. Bagian intinya sekarang terasa gatal seperti ingin disentuh, membuat Rara menurunkan pinggangnya hingga bagian intinya bertemu dengan milik Jefri.

    last update최신 업데이트 : 2026-03-24
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 58: Jangan Tinggalin Di Sana

    Beberapa hari berlalu seperti biasa. Meski begitu, Rara menemukan ada hal yang tidak biasa dalam diri Septa. Ia tidak tahu apa bedanya, tapi terasa ada yang mengganjal hatinya ketika bersama Septa akhir-akhir ini. Padahal, pria itu tetap suka bercanda receh dengannya. Masih juga suka mengoceh dan

    last update최신 업데이트 : 2026-03-23
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 55: Hutang

    “Jangan salah posisi tidur lagi, nanti lehernya malah jadi miring,”“Iya, iya,” balas Rara sambil tertawa ketika mendengar candaan rekannya itu. Septa mendengus. Ia menerima helm yang diberikan Rara kemudian menaruhnya di cantolan depan. “Makasih banyak, ya,” ucap Rar

    last update최신 업데이트 : 2026-03-23
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 57: Mau Bekerjasama?

    Septa mengerutkan alis bingung ketika melihat Rachel di depan pintu penthousenya. Sudah hampir tengah malam, apa yang diinginkan wanita ini dengan muncul tiba-tiba?“Kenapa tiba-tiba dateng, Tan?” tanya Septa, “Untung aja aku belum tidur,” lanjut Septa berkelakar. Rachel hanya

    last update최신 업데이트 : 2026-03-23
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status