ログイン"Pagi, Pak," sapa salah satu karyawan kepada pria gagah, tampan, berwajah ketat dan tidak ada senyum sedikitpun. Di belakang pria tersebut seorang pria tampan yang ikut dengan wajah yang sama dengan pria yang satunya. "Marcel, apakah hari ini aku sudah dapat sekretaris baru? Kamu harus ingat Marcel aku ingin sekretaris yang gesit dan sekretaris yang tidak membuatku darah tinggi. Apa kamu sudah mendapatkan apa yang aku inginkan itu?" tanya pria tampan tersebut yang tidak lain adalah Cakra. Cakra kembali ke Indonesia untuk membangun perusahaan milik ayahnya Lintang. Sedangkan Lintang dan Hana sudah tidak lagi bekerja. Mereka menikmati waktu mereka berdua perusahaan biar Cakra yang urus. Cakra baru saja pulang dari luar negeri. Hampir 25 tahun Cakra berada di luar negeri dan kini saatnya dia kembali. Tujuannya satu untuk mencari anak kecil yang waktu itu. Anak kecil yang bisa membuatnya tersenyum. "Sudah saya temukan dan dia saat ini sudah berada di mejanya," jawab Marcel dengan teg
Paman Bob menganggukkan kepala. Mengambil apa yang Cakra berikan padanya. Arum masih diingat oleh anak kecil ini pikir Paman Bob kepadanya. Paman Bob mengiyakan apa yang dikatakan oleh Cakra. "Baik, paman akan kasih ini. Jangan khawatir ya. Paman harap kamu jangan sedih masih bisa ketemu lagi nanti."Paman Bob tahu anak majikannya ini baru kenal dekat dengan wanita. Walaupun masih kecil tapi anak majikannya ini sudah mau dekat dengan wanita tidak ada yang tahu hanya dia saja. "Kasihan dia. Baru juga dekat dengan wanita itu eh sudah harus pergi dari sini. Semoga kalian bisa ditemukan kembali," gumam Paman Bob melihat Cakra berjalan masuk dengan aura dingin. Sejak hari itu, Cakra tidak pernah lagi senyum. Dan dia pergi jauh dari Indonesia ke negara luar untuk mengikuti ayah dan ibunya. Paman Bob melakukan apa yang Cakra minta. Dia menemui anak kecil yang dikatakan oleh Cakra. Dan benar saja anak kecil berbaju tk duduk sambil membawa bekal. Beberapa hari ini dia tidak masuk dan sekar
Sejak saat itu mereka tidak pernah ganggu Arum dan sahabatnya. Cakra pun tidak pernah lagi melihat Arum diganggu. Senyum terukir jelas di bibir Cakra walaupun samar tetap tidak terlihat. Cakra duduk di bangku batu dan memandang ke depan dimana ada danau. Arum datang dan duduk di sebelah Cakra. "Alau edih, idak oleh angis. Anak owok itu ega. Idak alu ya au angis," tanya Arum ke Cakra. Cakra yang tahu itu Arum menoleh ke kanan dan menatap Arum yang tersenyum. Arum tidak melihat ke arah dia tapi ke arah depan. "Kenapa kamu tersenyum?? " tanya Cakra yang heran Arum ini selalu tersenyum dan tidak ada sedikitpun dia menangis, sedih atau yang lainnya.Arum menoleh ke Cakra dan masih tersenyum memperlihatkan giginya yang putih terawat. "Atu itu idak iseh alena atu celalu ingat engan mama tu yang udah meninggal. Ata Papa, alau atu edih ingat Mama. Kacian mama alau atu ideh," jawabnya lagi. Cakra terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Arum. Dia punya mama tapi Arum tidak. Walaupun dia
Adi segera memakamkan Mala. Rasa kasihan diawal kini tumbuh menjadi cinta. Dan Adi menerima Mala dengan segala kekurangannya dan beruntung orang tua Adi mendukung dan menerima pernikahan Adi juga Mala. Mala yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tua mendapatkan dari Adi. Tapi, sayangnya dia harus meninggalkan keluarga yang hangat itu dan dia juga meninggalkan buah hatinya untuk selamanya. Rahasia siapa ayah anaknya terkubur dalam bersama jasad Mala. "Adi, rawatlah anak ini. Kamu harus bisa mendidik anak ini sebaik-baiknya. Jangan pernah kamu perlakuan dia tidak baik. Dia piatu dan ayahnya juga. Mama harap kamu paham dengan apa yang Mama katakan ini," ucap Ibu kandung Adi bernama Via. Bu Via menggendong putri kecil yang tertidur pulas. Sekar Arum nama anak Mala yang diberikan oleh Mala ke anaknya. Dia ingin anaknya selalu harum namanya dan tidak berbuat kesalahan seperti dirinya. "Baik, Ma. Saya akan jaga Arum dengan baik dan memperlakukan Arum dengan baik," jawab Adi menatap
Ibu Rasti terdiam. Dia sempat mengutuk Hana dalam hatinya kalau Hana tidak memiliki anak dan anaknya cacat kalau lahir. Sekarang, malah sebaliknya. Dia mendengar dari suaminya anak Hana sehat tidak kurang satupun dan tampan seperti suaminya. "Mama bersalah, Pa. Mama sudah mengatakan hal yang tidak baik. Mama tidak tahu harus apa sekarang. Mama mengutuk anak Hana. Padahal, dia tidak salah. Hana juga tidak salah dengan kita. Dia menghindari anak kita. Malahan anak kita yang mendekati dia," ucap Bu Rasti dengan ekspresi bersalah mengingat apa yang dia katakan ke Hana waktu itu. Dia marah dan kesal karena Hana anaknya membangkang. Untuk itulah kalimat itu keluar. Dan kini karma itu berbalik padanya. Anaknya bersama wanita itu dan entah apa yang anaknya lakukan di belakang dia dan suaminya. "Kamu harus minta maaf. Ini teguran bagi kita. Kita sudah menyakiti Hana. Sekarang, anak kita yang menanggungnya. Entah sampai kapan Arya bangun dari komanya. Dan wanita itu juga hamil. Kemungkinan i
"Lelaki. Bayinya sehat. Itu dia. Tapi, harus di bawa ruang bayi dulu ya. Nanti baru dibawa ke kamar ibunya." Dokter menunjuk ke arah box bayi di mana anak Lintang dan Hana berada. Bu Ami bahagia melihat cucu pertamanya. Tidak menyangka kalau Lintang memiliki anak lelaki. Dan saat dekat dengan bok bayi, Bu Ami dan Pak Irwandi terharu mereka melihat bayi lelaki tersebut mirip Lintang. "Pa, mirip Lintang. Duh, Mama senang banget lihatnya. Lihat itu, cakep dan gemesin," ujarnya yang melihat anak Lintang begitu tampan seperti Lintang. "Benar. Seperti Lintang. Papa senang anak Lintang mirip seperti dia. Papa harap bukan seperti Lintang kelakuan dia. Karena, Papa tidak mau mencarikan dia kekasih lagi. Mama tahu sendiri dia seperti apa. Kalau kita tidak nikahi dia pasti tidak dapat cucu kita," sahut Pak Lintang yang mengingat bagaimana Lintang dulu menikahi Hana. "Benar itu. Mama senang Hana menjadi istri Lintang. Lintang berubah dan sekarang dia sudah jadi ayah. Dokter kapan Hana dan ana
Hana menganggukkan kepala mengiyakan apa yang ditanyakan oleh Lintang padanya. Lintang pun segera memberikan perintah kepada Mario untuk ke tempat penjual. "Pinggirkan mobil di tempat penjual itu. Ayo cepat," perintah Lintang. Mario pun menganggukkan kepala. Mobil harus berbelok terlebih dahulu b
"Apa maksudmu berkata seperti itu. Aku tidak mengerti kenapa sampai bisa berbicara rumah siapa?" tanya Lintang yang menahan amarah saat mendengar Hana mengatakan pulang ke mana.Marco hanya bisa diam dia tidak ingin ikut campur karena dia tahu istri dari majikannya ini pasti kecewa dengan apa yang
Mario segera berlari dia ingin melihat siapa yang berteriak dari arah toilet. Saat pintu toilet dibuka Mario terkejut melihat istri dari bosnya sudah tergeletak di bawah. "Nona Hana! Ya, Tuhan. Nana Hana ada apa denganmu, Nona? Bangun Nona ... Nona. Aku harus beritahukan kepada Pak Lintang kalau
"Hana, ikut aku ke ruangan," ucap pria tersebut yang tidak lain adalah Lintang. Mendengar namanya di panggil dan Lintang meminta dia ikut ke ruangan Hana terpaksa pergi. Hana tidak ingin membuat kegaduhan jadi dia memilih untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Lintang. Azizah memandang ke ara







