Se connecter"Mau?" tanya Bastian lagi. "Boleh di coba," jawab Siska, akhirnya. Bastian menatap Siska sejenak, memastikan anggukan dan jawabannya itu benar-benar datang dari keinginannya, bukan sekadar ingin memuaskan hasrat pribadinya. Tangan Bastian bergerak mengambil pelumas dan membubuhkannya ke bagian inti miliknya. Setelah itu, ia mulai memasukkan bagian intinya ke dalam lubang bagian belakang Siska secara perlahan. "Kalau sakit, bilang ya Beb.." ucapnya pelan.Siska hanya mengangguk lagi, napasnya mulai tidak teratur. Ada gugup yang belum sepenuhnya hilang, tapi juga rasa penasaran yang membuatnya bertahan.Bastian tidak terburu-buru. Ia melakukannya perlahan, sangat hati-hati, seolah setiap gerakan adalah pertanyaan. Dan tubuh Siska yang menjawab semuanya.Untuk membuat rileks, tangan kanan Bastian juga memainkan klitoris Siska. Namun, Siska refleks menegang saat sensasi itu mulai terasa. Jemarinya mencengkeram pinggiran wastafel lebih kuat. "Beb…" lirihnya, antara kaget dan belum ter
"Bagus kalo kamu tau..," ucap Siska, sambil menahan geli karena deru nafas Bastian yang masih terasa di telinganya."Udah ah, aku mau mandi dulu," lanjutnya, sambil berusaha melepas diri dari dekapan Bastian. Bastian tersenyum tipis. Bibirnya yang tadi berada di telinga Siska, kini mundur perlahan. Wajahnya kini berhadapan dengan wajah Siska. "Aku mandiin ya..," kata Bastian, menawarkan. Siska mengerutkan kening. Sejak tadi, ia sudah mengendus aroma sabun dan parfum yang khas milik Bastian. "Ngapain? Kamu kan udah mandi. Nanti kamu basah, Beb..," tanya Siska. Seolah ia tidak mengerti maksud Bastian. "Yakin nanya gitu? Nggak jadi pengen aku?!" tanya Bastian, sambil menarik lembut hidung Siska yang mancung. "Tentu aja aku mau. Kamu tau kan aku ke sini untuk apa," ucap Siska dengan senyum nakalnya yang khas. . "Kalo gitu, ayok!" ajak Bastian. Ia menggendong Siska dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Senyuman tak lepas dari wajahnya saat memandang wajah cantik Siska. Siska
"Di kantor, Beb. Kenapa?" tanya Bastian dari balik ponselnya. Siska berdecak pelan. "Bukannya sekarang udah jam pulang kantor, ya?" tanyanya. Pandangan Siska fokus ke jalan, tapi ekspresi wajahnya terlihat kesal karena ternyata kekasihnya itu belum ada di apartemen. "Iya. Cuma karena ada kerjaan yang deadlinenya besok pagi Beb, jadi aku harus selesaikan pekerjaan itu hari ini," ucap Bastian. Ia sangat tidak nyaman jika Siska mengatakan hal tersebut. Karena ia tau hal itu yang akan menjadi awal mulai percikan pertengkaran antara mereka berdua. Pertengkaran yang bagi Bastian sebenarnya tidak penting dan bisa ditanggulangi hanya dengan sedikit pengertian. Tapi kadang hal tersebut tidak dipahami oleh Siska dan membuatnya kepikiran. Sehingga ia jadi kurang fokus dan menghambat pekerjaannya karena pikirannya terpecah menjadi dua. "Uhm.. Masih lama nggak? Aku lagi pengen banget nih.."Bastian tersenyum tipis. Ucapan Siska tadi membuatnya sedikit merasa lega. Karena jika Siska mengatak
"Bu..," panggil Siska. Ia merasakan sesuatu yang berbeda setelah ke luar dari kamar mandi. Ia berjalan mendekat ke sisi Zaskia. Zaskia menghapus air mata yang tersisa di pipinya. Setelah itu, ia menoleh ke arah Siska. "Iya sayang..""Apa ada sesuatu, Bu? Kenapa Ibu nangis?" tanya Siska, dengan wajah penuh kekhawatiran. Zaskia menganggukkan kepalanya. "Iya, sayang. Perempuan yang udah mencelakai Ibu, udah ditangkap polisi sore tadi.""Bagus. Tapi, prosesnya cepet juga ya, Bu. Padahal kejadiannya baru kemarin, tapi hari ini orangnya bisa langsung ditangkap," ucap Siska, wajahnya menyiratkan kecurigaan. Rasa khawatir dan takut menjalar ke tubuh Siska. Ia khawatir Bob ikut andil dalam kecelakaan tersebut. Ia pun melihat ke arah Bob, seolah meminta penjelasan. Bob yang sadar akan perasaan Siska mulai membuka suara. "Buktinya sangat kuat. Rekaman CCTVnya sangat jelas. Selain itu, ada saksi mata yang mendukung saat kejadian berlangsung, Sis."Mendengar ucapan Bob membuat Siska menghembu
"Apa?" tanya perempuan yang sudah menyandang status mantan istrinya itu. Salah satu petugas maju."Selamat siang, Bu. Kami dari kepolisian. Kami ingin meminta Anda ikut ke kantor untuk pemeriksaan terkait dugaan tindak kriminal."Wajah perempuan itu sudah sangat pucat. "Apa maksudnya? Saya nggak melakukan apa-apa! Ini pasti salah paham!" ucapnya, suaranya meninggi. Bob memperlihatkan kembali ponselnya, lalu memutar potongan rekaman tadi. Hanya beberapa detik.Cukup untuk membuat semuanya semakin hancur.Wajah perempuan itu makin kehilangan warna. Matanya membesar, napasnya pun mulai tercekat."I - itu.. Itu bukan..""Semua udah terekam jelas," potong Bob tanpa emosi. "Kamu yang udah dorong Zaskia."Sunyi sesaat. Perempuan itu tidak bisa lagi membantah. Ia hanya diam dan berfikir bagaimana nasibnya nanti. Petugas itu kembali bersuara, kali ini lebih tegas dari sebelumnya. "Mohon kerja samanya, Bu. Silakan ikut kami."Perempuan itu mundur satu langkah, tubuhnya gemetar. Tapi ia tidak
"Rio, aku boleh minta salinannya?" tanya Bob. "Tentu saja boleh, Bob."Bob menggenggam flashdisk kecil di tangannya erat-erat, seolah benda itu adalah satu-satunya harapan yang tersisa. Di dalamnya, tersimpan sesuatu yang bisa mengubah segalanya. Kebenaran yang belum terungkap. Selesai menyalin rekaman CCTV, Bob langsung pamit pulang."Saya nggak nyangka bakal ada kejadian seperti ini, Bob. Saya udah kasih semua rekamannya dan jikalau dibutuhkan, saya siap untuk menjadi saksi," ucap Rio. Bob mengangguk pelan. Rahangnya mengeras."Terima kasih, Rio. Ini semua sangat berarti.""Sama-sama Bob."Bob tidak banyak bicara lagi. Ia idak ada energi lebih untuk basa-basi. Ia bergegas pulang ke rumah, mengambil kunci mobil, dan berjalan menuju tempat parkir. Begitu masuk ke dalam mobil, Bob langsung mengenakan sabuk pengaman, menyalakan mesin, dan melajukan mobilnya. Nafasnya terasa sangat berat.Tiga puluh menit kemudian, Bob sudah berdiri di dalam ruangan laporan. Aroma khas ruangan antara
"Halo, Sis?" tanya Andini. Ia sengaja menelpon Siska karena rasa penasaran yang terus memintanya untuk mencari tahu. Selain itu, ia juga ingin memastikan alasan status yang dibuat oleh Siska 20 menit lalu. "Iya, An.. Kenapa?" tanya Siska di seberang sana. "Maaf ya untuk hari ini.. Gue benar
"Om!" panggil Andini, nyaris seperti orang yang sedang teriak di tengah lapangan. Satria yang belum lama kembali dari ruang rapat dan saat ini sedang duduk sambil menyandarkan kepalanya di bangku, sontak membuka matanya yang belum lama terpejam. Ia terpaksa harus melihat ke arah Andini. Padahal ta
"U-udah... Tante." jawab Andini, pelan. Tapi masih bisa terdengar di telinga Serena. Serena tersenyum tipis. "Yah, sayang ya.. Padahal, Tante punya anak laki-laki ganteng banget loh, An!" "Oh gitu ya, Tante." jawab Andini. Ia sengaja berpura-pura tidak tau tentang Dion. Agar pembicaraan mereka ti
"Pulang?"Satria mengangguk. "Iya, saya lupa ada janji dengan Siska. Dia kan hari ini ulang tahun." Satria mencoba mengingatkan. "Apa kamu lupa?" Ia mengerutkan kening. "Nggak dong sayang... Untuk ultah kamu dan Siska, aku selalu ingat." ucap Andini, bangga. "Tadi pagi, aku juga udah kirim kado







