مشاركة

BAB 66

مؤلف: Pipit Chie
last update تاريخ النشر: 2026-07-04 22:55:37

Markas Eagle Eyes terasa lebih sunyi dari biasanya saat Xavier melangkah masuk. Beberapa prajurit yang melihatnya menegang, mungkin sudah mendengar rumor bahwa dia kembali untuk mencari masalah. Tapi Xavier tidak peduli. Pria itu hanya ingin bicara pada Jagar. Dia menemukannya di ruang latihan, tengah meninju samsak dengan ekspresi dingin. Xavier melangkah tanpa ragu, langsung berdiri di hadapan pria itu.

“Aku akan merebut Divya,” kata Xavier tanpa basa-basi.

Jagar menghentikan pukulannya, mena
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 75

    Divya tidak mau menunggu lagi, Xavier harus memasukinya sekarang atau dia akan mati. Tangan Xavier membelai payudaranya, mencubit putingnya yang menegang. Sementara vibrator masih mengguncang vagina Divya di bawah sana, Xavier mengangkangi Divya dan menyelipkan kejantanannya di antara payudara wanita itu, pria itu mulai menggerakkan pinggulnya.Divya tidak pernah membiarkan seorang pria melakukan ini padanya tapi—astaga, melihat kejantanan itu terselip di antara payudaranya, membuatnya semakin terangsang. Napasnya terengah-engah ketika Xavier menambah kecepatannya, bercinta dengan kedua payudara Divya lebih cepat hingga kepala kejantanan itu sesekali mengenai dagu Divya.”Sialan, Sayang, payudaramu begitu lembut,” erangnya. Xavier terus menggerakkan kejantanannya sampai sperma pria itu tumpah membasahi dada Divya.Divya hampir tidak dapat mengatur napasnya ketika orgasme membuatnya terbakar, belum cukup itu semua, Xavier mendorong kejantanannya yang masih mengeluarkan sp

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 74

    Jagar ikut berdiri dan mengulurkan tangan pada istrinya, tanpa berkata-kata dia menyusul Kivandra menuju pintu keluar.Abhimanyu berdiri, menarik istrinya dengan lembut, kemudian menatap eyang, ayah dan ibunya. “Kalau ada dari kalian yang berani mengusik Divya, akan saya hancurkan kalian tanpa sisa. Saya diam karena Divya lah yang bersikeras ingin menerima perjodohan meskipun dia tidak menginginkannya. Sekarang dia sudah bebas. Jadi jangan pernah usik adik saya lagi atau saya akan dengan senang hati mengurus tiga pemakaman sekaligus untuk kalian.” Sambil memeluk pinggang istrinya, Abhimanyu membawa Sabhira meninggalkan rumah mewah yang terasa begitu dingin dan kelam. “Aku baru pertama kali ini melihat Kivandra mengamuk,” bisik Sabhira saat berjalan menuju mobil.”Dia berhak melakukannya. Dia sudah dewasa,” Abhimanyu tersenyum, melihat Kivandra menunggunya di mobil. Pria itu memegangi tangan istrinya yang masuk ke mobil lebih dulu dan dia masuk ke dalamnya. Satu mobil la

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 73

    Di rumah keluarga Mahesa terjadi keributan besar setelah Divya ‘diculik paksa’ oleh Xavier, Killa dan Sabhira hanya duduk sambil menikmati potongan buah, menonton Dahayu dan Arya Mahesa berteriak-teriak marah. Keduanya saling berpandangan lalu tertawa geli tanpa suara.”Kenapa kalian malah di sini dan bukannya mengejar adik kalian?!”Jagar mencomot potongan buah dari piring istrinya sementara Abhimanyu menerima suapan dari Sabhira. Kivandra duduk paling jauh sambil makan roti.”Well, menurutku—“‘Tidak ada yang meminta pendapat kamu, Kivandra. Jadi diam!” bentak sang ibu.Kivandra melotot. “Fuck!” makinya dengan lantang hingga para tetua menoleh dengan tatapan tajam, terlebih Arya Mahesa yang menggenggam erat tongkatnya seakan ingin melayangkan tongkat itu ke kepala Kivandra, anak bungsu keluarga Mahesa itu melempar rotinya ke lantai. “Kalian semua idiot! Bodoh! Egois! Tidak tahu diri! Manusia biadab! Jahanam—“”KIVANDRA!””Apa?!” Untuk pertama kalinya Ki

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 72

    Divya terdiam sesaat, menatap Xavier yang kini berdiri di depannya tanpa alas kaki, tangannya memegang payung yang melindungi mereka berdua dari hujan. Sepatu hitam pria itu kini melindungi kakinya, meskipun terasa kebesaran dan sedikit sulit untuk berjalan. Ia menunduk, menatap sepatunya yang patah di tangan Xavier. Perasaan aneh menjalar di dadanya—sesuatu yang ia coba tahan, sesuatu yang seharusnya sudah tidak ada lagi tapi ternyata rasa itu masih sama besarnya.Xavier hanya tersenyum kecil, seolah tidak peduli bahwa dirinya sekarang bertelanjang kaki di tengah jalan yang basah. “Ayo,” katanya ringan, melangkah lebih dulu dengan sepatu Divya masih tergenggam di satu tangan, sementara tangan lainnya tetap memegang payung. Divya mengikutinya dalam diam, mencoba berjalan sebaik mungkin dengan sepatu yang kebesaran. Sesekali, Divya melirik ke bawah, melihat kaki telanjang pria itu melangkah di aspal yang basah. Hatinya terasa sesak, tapi ia tetap membisu.Mereka terus berjala

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 71

    Sudah beberapa hari lamanya Xavier terus mengikuti Divya ke mana-mana meskipun wanita itu mengabaikannya. Hari ini Divya lembur di kantornya, belum makan malam dan tidak menyentuh sedikit pun makanan yang Xavier bawakan untuknya. Usaha Xavier untuk mendapatkan maaf dari wanita itu belum membuahkan hasil meskipun Xavier tidak akan menyerah.”Princess, kamu belum makan malam, makanlah.”Divya tidak menjawab, hanya terus menatap layar laptop dan sibuk bekerja. Divya bersikap seolah-olah keberadaan Xavier tidak pernah ada.Xavier menghela napas pelan, duduk di sofa dengan tatapan lekat pada wanita yang tak kunjung menoleh ke arahnya. Kopi dan makan malam yang dia bawa masih tergeletak di meja, tak tersentuh. Tapi Xavier tahu lebih baik dari siapa pun—Divya tidak sekuat itu meskipun Divya berusaha berakting bahwa wanita itu tidak terpengaruh dengan keberadaan Xavier. Dia melihat bagaimana bahu wanita itu menegang saat pertama kali menyadari kehadiran malam ini, bagaimana

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 70

    Divya menggigit bibirnya, menahan perasaan yang mengancam untuk pecah. Dengan tangan gemetar, dia berjalan lebih dalam, menuju dapur. Tempat di mana dulu Xavier selalu duduk setiap malam begitu sibuk dengan laptop dan pekerjaannya. Dia bisa membayangkan dengan jelas bagaimana pria itu menatapnya saat Divya tidak bisa tidur dan masuk ke dapur, membuatkannya secangkir teh chamomile dan mereka akan berbicara tentang apa saja, tentang trauma Divya, tentang masa lalu bahkan tentang hal-hal remeh lainnya. Percakapan yang sangat disukai Divya karena pada saat itu Divya merasa memiliki seseorang yang benar-benar mau mendengarkan seluruh ceritanya. Memiliki seseorang yang akan selalu berkata ‘Ya, Princess, aku setuju denganmu’ dan kini—meskipun Divya tidak mau mengakuinya—tapi dia merindukan panggilan itu, merindukan cara pria itu memanggilnya, cara pria itu menatapnya dan cara pria itu bicara padanya. Semua hal di rumah ini mengingatkan Divya kepada Xavier meskipun pria itu hanya sepuluh bu

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 7

    Litera cukup ramai malam ini—sepertinya memang selalu ramai setiap malam. Xavier duduk di meja bar sendirian, matanya tidak lepas dari sepasang manusia yang menari di arena dansa. Tangan Divya berada di leher kekasihnya sementara si rambut coklat memeluk pinggang seksi itu. Xavier memicing pada pak

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 6

    ”Aku tidak peduli pada misimu, aku juga tidak butuh pengawal tapi sialnya kakakku berpikir yang sebaliknya. Jadi jangan bersikap seolah-olah aku ini anak buahmu. Meskipun kamu pengawalku, kamu tidak berhak mencampuri urusan pribadiku. Mengerti, Bajingan?”Keduanya saling bertatapan dengan mengirimk

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 5

    Sepanjang perjalanan menuju kantor Divya, Xavier bernapas dengan perlahan-lahan, berusaha untuk tidak memasukkan terlalu banyak oksigen ke dalam paru-parunya karena oksigen itu telah tercemar oleh parfum Divya. Setiap kali dia menarik napas, rasanya seperti tercekik dan itu membuat Xavier merasa ba

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 4

    ”Tembok di belakang harus dipasang kawat pelindung,” ucap Xavier saat masuk ke dalam ruang makan. Divya sedang sarapan dan Bu Ani melayaninya. Kepala pelayan rumah itu juga menyiapkan sarapan dan secangkir kopi untuk Xavier. Namun Xavier hanya berdiri dan bersandar di dekat meja hias. Bersedekap me

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status