LOGINเวสเปอร์ มอนต์ทีร่า ผู้อเวคแรงค์ F ผู้ครอบครองพลังควบคุมเวลา แต่กลับถูกมองว่าไร้ค่าในโลกที่เต็มไปด้วยมอนสเตอร์และดันเจี้ยนอันตราย เธอเลือกใช้ชีวิตธรรมดาเป็นพนักงานร้านสะดวกซื้อจนกระทั่งวันหนึ่ง ดันเจี้ยนเล็กๆ ปรากฏใกล้ร้านของเธอ เหตุการณ์นั้นเปลี่ยนเส้นทางชีวิตของเธอไปตลอดกาล เมื่อเอซ แมวพูดได้ผู้ลึกลับที่สามารถแปลงร่างเป็นมนุษย์ได้ เข้ามาเป็นทั้งครูและผู้ชี้แนะ เวสเปอร์เริ่มต้นเส้นทางแห่งการเป็นผู้อเวคที่แท้จริง แม้จะต้องเผชิญหน้ากับความเสี่ยง ความท้าทาย และมอนสเตอร์สุดโหด แต่ไม่ใช่แค่มอนสเตอร์ที่เวสเปอร์ต้องต่อกร เมื่อเธอพบกับแคลร์ คาเซลิน ประธานสมาพันธ์อเวค ผู้ทรงอำนาจและลึกลับ ความสนใจของแคลร์ในตัวเวสเปอร์อาจกลายเป็นทั้งโอกาสและอุปสรรค ในโลกที่ผู้อเวคต้องดิ้นรนเพื่อพิสูจน์คุณค่า เวสเปอร์จะสามารถใช้พลังที่ถูกมองว่าไร้ประโยชน์นี้ก้าวข้ามความเป็นไปไม่ได้ และเปิดเผยความลับของโลกที่เธออาศัยอยู่ได้หรือไม่? การต่อสู้ เติบโต และความลึกลับครั้งใหม่กำลังรอเธออยู่!
View More"Celia!" Teriak seorang gadis di koridor sekolah menengah atas.
Gadis berambut sepinggang itu menepuk pundak sahabatnya begitu tiba di dekat gadis bernama Celia tersebut. "Kemana aja sih? Aku cari dari tadi malah ketemu di sini." "Toilet, emang ada apa?" Celia merangkul bahu Siska, sahabatnya. "Aku butuh bantuan kamu, Cel." Kening Celia mengkerut. "Bantuan?" Siska mengangguk. "Aku bikin novel baru, dan niatnya mau aku terbitin bulan ini. Cuma aku butuh pendapat kamu sebagai pembaca." Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari sekolah, saat tiba di parkiran Siska mendadak berhenti dan membuka ranselnya kemudian mengeluarkan sebuah tumpukan kertas berisi novel yang akan dia cetak bulan depan. "Nih, tolong di baca, ya." Ujarnya sambil menyerahkan tumpukan kertas itu. Celia menatap horor tumpukan kertas yang ada di tangan sahabatnya. "Serius? Kamu mau aku baca sebanyak ini?" "Cuma dikit kok, paling dua ratus halaman." "Cuma?" Celia tertawa hambar. "Halaman segitu bisa ngabisin waktu satu minggu, Sis. Yang benar aja dong, ini namanya bukan minta tolong lagi tapi maksa." Tanpa ada niat mengelak, Siska tersenyum ceria. "Emang, makanya bantuin aku biar bisa lolos pas terbit cetak. Nanti kalo ada komisi aku traktir kamu makan sepuasnya deh." Celia memicingkan mata, menatap Siska penuh curiga. "Sejak kapan kamu dermawan gini?" Siska terkekeh pelan, lalu menyenggol lengan Celia. "Sejak aku butuh kamu." "Enak aja," balas Celia cepat, tapi sudut bibirnya mulai terangkat. "Traktir doang? Nggak ada bonus lain?" Siska berpura-pura berpikir, jari telunjuknya menyentuh dagu. "Hmm... aku tambahin minuman bebas refill." Celia menghela napas panjang, lalu menatap tumpukan kertas di tangannya lagi. "Ini bukan novel, ini skripsi berkedok cerita cinta." "Hei! Jangan ngerendahin karyaku dong," protes Siska. "Aku serius kali ini. Aku pengen ini bener-bener bagus sebelum diterbitin." Ekspresi Celia perlahan berubah. Candaan di wajahnya memudar, digantikan dengan tatapan yang lebih lembut. Dia tahu betul, di balik sikap santai Siska, sahabatnya itu sedang mengejar sesuatu yang penting. "Ada deadline?" tanya Celia akhirnya. Siska mengangguk cepat. "Minggu depan harus masuk ke percetakan." "Minggu depan?!" Celia hampir menjatuhkan kertas itu. "Kamu gila, ya? Dua ratus halaman dalam seminggu?" "Aku yakin kamu bisa," sahut Siska tanpa ragu. Celia mendengus pelan. "Kamu terlalu percaya sama aku." "Bukan terlalu percaya," Siska tersenyum, menatapnya lurus. "Aku cuma tahu kamu nggak pernah setengah-setengah kalau udah bantuin orang." Kalimat itu membuat Celia terdiam sejenak. Dia menatap tumpukan naskah di tangannya sekali lagi, lalu menghela napas panjang seolah sedang membuat keputusan besar dalam hidupnya. "Oke," ucapnya akhirnya. Mata Siska langsung berbinar. "Serius?!" "Tapi ada syaratnya," lanjut Celia cepat sebelum Siska terlalu senang. "Apa aja! Mau aku jadi pembantu kamu seminggu juga oke!" Celia tersenyum tipis. "Nggak usah lebay. Cuma satu." "Apa?" Celia mengangkat naskah itu sedikit. "Kalau ceritanya jelek, aku bakal jujur. Kamu nggak boleh marah." Siska terdiam sebentar, lalu mengangkat kedua tangannya. "Deal." "Dan satu lagi," tambah Celia. Siska mengernyit. "Lah, katanya cuma satu?" "Ini bonus," jawab Celia santai. "Aku mau tahu... cerita kamu ini tentang apa?" Siska tersenyum pelan. Kali ini bukan senyum ceria seperti biasanya, melainkan senyum yang sedikit misterius. "Tentang seorang cewek," ujarnya pelan, "yang hidupnya berubah gara-gara satu cowok yang nggak bisa dia dapatin." Celia mengangguk pelan. "Oke, tunggu seminggu lagi nanti aku ke rumahmu." "Makasih, Cel." *** Brak! Celia membanting naskah ke atas meja belajarnya, seminggu telah berlalu dan dia baru saja membaca setengah dari naskah tersebut. Bukan tanpa alasan, tapi Celia tidak menyukai karakter ciptaan sahabatnya yang berperan sebagai antagonis dan memiliki hidup tragis. "Kenapa Siska bikin karakter antagonisnya naas begini sih? Apa nggak kasihan dia sama karakter itu sendiri?" Lelah dengan semua kekesalan yang ingin di luapkan, Celia meraih ransel biru dan memasukan naskah tersebut ke dalam ransel itu. "Aku harus minta Siska revisi beberapa bab, biar si antagonis nggak terlalu tersiksa hidupnya." Setelah memasukan semua naskah ke dalam ransel, Celia bergegas keluar dari kamar. Saat dia membuka pintu, Celia terkejut melihat sosok kakaknya yang baru pulang kerja berdiri di depannya. "Loh, tumben jam segini sudah pulang, Bang?" Tanya Celia heran. Samuel mengangguk. "Kamu mau ke mana bawa tas segala?" "Aku mau ke rumah Siska." "Jangan lama-lama, kalau lewat jam sebelas kamu belum pulang... Kamu tahu sendiri akibatnya." Ancam Samuel. Celia mengangguk patuh, di dalam rumah itu hanya ada dua hal yang Celia takutkan. Pertama adalah orang tuanya, dan kedua Samuel. Pria itu terlalu protektif tapi Celia paham sebab Samuel menyayanginya. "Aku pergi dulu, Bang." Pamit Celia. Samuel mengangguk. "Hati-hati, jangan ngebut." Celia mengangkat jempolnya sebagai tanda setuju, lalu berlari keluar dari kediaman tersebut. Celia mengambil kunci motor dan bergegas meninggalkan rumah tersebut setelah menyalakan kendaraannya. *** Semilir angin malam menerpa wajah Celia di balik helm full face yang dia kenakan, dalam pikirannya berbagai omelan sudah dia siapkan untuk membuat Siska merevisi naskahnya. Hingga, tanpa di duga dari arah berlawanan tampak sebuah mobil sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Celia tersadar dari lamunannya, saat dia hendak menghindar jarak mobil itu dengan motornya sudah tidak jauh. Celia memelototi kendaraan roda empat itu, hanya dalam hitungan detik tabrakan tak bisa di hindari. Brak! Tubuh Celia terlempar cukup jauh dan menghantam aspal yang keras, helm yang dia kenakan retak dan darah merembes keluar dari sela-sela helm tersebut. "Ugh... sakit," rintih Celia di sela-sela kesadarannya yang tersisa. Saat dia hendak meminta tolong, suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Celia menatap langit malam yang gelap gulita tanpa ada bulan sebagai penerang. "Apa akhirnya aku mati seperti...i-ini?" Gumam Celia sebelum kegelapan menelan seluruh kesadarannya.หลังจากกลับมาถึงห้องพัก เวสเปอร์และเอซต่างปล่อยตัวเองลงบนโซฟา ร่างกายของเธอยังคงเหนื่อยล้าจากการฝึกที่หนักหน่วงในวันนั้น ขณะที่เอซนั่งอยู่บนพนักโซฟา เขายังคงใช้ดวงตาสีทองอันแหลมคมจับจ้องเธอเหมือนกำลังครุ่นคิดอะไรบางอย่างเวสเปอร์หันไปมองเขาด้วยความสงสัย “นายมีอะไรอยากพูดหรือเปล่า”“ฉันกำลังคิดว่า…การฝึกในลานฝึกอย่างเดียวมันไม่พอ” เอซตอบ“นายคิดว่าไม่พอเหรอ แต่ฉันรู้สึกเหมือนจะตายอยู่แล้วนะ” เวสเปอร์พูดพลางหัวเราะเบาๆ“เธออยากจะเป็นแค่ผู้อเวคแรงค์ F ไปตลอดชีวิตไหมล่ะ” เอซถามเสียงเย็นคำพูดของเขาทำให้เธอนิ่งไปครู่หนึ่ง ความจริงที่เจ็บปวดทำให้เธอไม่มีคำตอบ“ถ้าเธออยากพัฒนา เธอต้องก้าวออกจากเขตปลอดภัย และเผชิญหน้ากับความเป็นจริง” เอซพูดต่อ “ดันเจี้ยนคือสถานที่เดียวที่จะทำให้เธอเข้าใจถึงศักยภาพที่แท้จริงของตัวเอง”เวสเปอร์ถอนหายใจ เธอรู้ว่าเอซพูดถูก แม้ความคิดที่จะกลับไปเผชิญหน้ากับดันเจี้ยนอีกครั้งจะทำให้เธอหวั่นใจ แต่ลึกๆแล้วเธอรู้ว่านี่คือสิ่งที่เธอต้องทำ“ก็ได้…งั้นเราจะไปดันเจี้ยนกัน” เวสเปอร์ตอบในช่วงบ่ายของวันถัดมา เวสเปอร์และเอซใช้เวลาจัดเตรียมสิ่งที่จำเป็นสำหรับการเดินทาง พวกเขาเ
แสงอ่อนๆจากดวงอาทิตย์ในยามเช้าส่องผ่านหน้าต่างห้องพัก เสียงนกร้องคลอเคล้าสายลมเย็นๆที่พัดผ่านม่าน เวสเปอร์ลืมตาขึ้นพร้อมความรู้สึกที่เต็มไปด้วยพลังใหม่ ร่างกายของเธอยังคงรู้สึกตึงเล็กน้อยจากการฝึกหนักและการต่อสู้ในดันเจี้ยนเมื่อวันก่อน แต่ในใจของเธอกลับเปี่ยมด้วยความมุ่งมั่นเอซที่เปลี่ยนไปเป็นร่างแมวนั่งขดตัวอยู่บนเก้าอี้ข้างเตียง ดวงตาสีทองของมันจ้องมองเธอพร้อมรอยยิ้มเล็กๆ“ตื่นแล้วสินะ” เอซพูดด้วยน้ำเสียงกวนๆ “ฉันคิดว่าเธอคงจะนอนยาวไปทั้งวัน”เวสเปอร์หัวเราะเบาๆ “นายก็รู้ว่าฉันนอนไม่ได้นานขนาดนั้น ยังมีอะไรอีกเยอะที่ต้องทำ”“งั้นก่อนจะเริ่มวันใหม่ ลองเปิดระบบดูสิ” เอซพูดขึ้น “ฉันอยากเห็นว่าพลังของเธอเปลี่ยนไปมากแค่ไหน”เวสเปอร์พยักหน้าและยกมือขึ้นเรียกหน้าต่างระบบ ข้อมูลที่ปรากฏบนหน้าจอทำให้เธอรู้สึกได้ถึงความก้าวหน้าที่เห็นได้ชัด[ข้อมูลผู้อเวค]ชื่อ: เวสเปอร์ มอนต์ทีร่าแรงค์: Fพลังหลัก: การควบคุมเวลา (Chronokinesis) ค่าประสบการณ์ (EXP) : 0/500พลังชีวิต (HP) : 160/160 (+20 จาก Crystal of Timeflow) พลังเวท (MP) : 400/400 (+40 จาก Crystal of Timeflow) พลังโจมตี (ATK) : 22 (+4
หลังจากที่เวสเปอร์และเอซเดินออกมาจากสนามต่อสู้อันโหดร้าย ร่างกายของเธอยังคงเหนื่อยล้าจากการเผชิญหน้ากับมอนสเตอร์และบอสในดันเจี้ยน แม้พวกเขาจะออกจากพื้นที่ได้อย่างปลอดภัย แต่ความตึงเครียดยังคงลอยอยู่ในอากาศเสียงฝีเท้าหนักๆดังขึ้นจากระยะไกล เงาของกลุ่มคนที่กำลังเดินเข้ามาใกล้ปรากฏขึ้นภายใต้แสงจันทร์ โลโก้สีทองของ กิลด์เซเลสเทียร์ ซึ่งเป็นหนึ่งในกิลด์ใหญ่ที่สุดในโลกแห่งผู้อเวคสะท้อนกับแสงจางๆ“ให้ตายเถอะ ดันมาเจอจนได้” เอซพูดพร้อมรอยยิ้มเยาะเวสเปอร์หันไปมองกลุ่มคนที่กำลังใกล้เข้ามา ท่าทางของพวกเขาดูจริงจังและเต็มไปด้วยความเป็นมืออาชีพท่ามกลางกลุ่มผู้อเวคที่มากับกิลด์เซเลสเทียร์ หญิงสาวคนหนึ่งดึงดูดสายตาของทุกคน เธอก้าวเดินอย่างมั่นคงด้วยท่าทางที่เต็มไปด้วยอำนาจและเสน่ห์ที่ไม่อาจละสายตาได้เธอคือ แคลร์ คาเซลิน ประธานของ สมาพันธ์อเวคสมาพันธ์ที่คอยควบคุมดูแลกิลด์ต่างๆทั่วโลก ความสง่างามของเธอทำให้ทุกคนที่อยู่รอบข้างต้องหลบสายตาด้วยความเกรงขามแคลร์มีเรือนผมสีแดงสดที่ยาวสยายถึงกลางหลัง มันเปล่งประกายเหมือนเปลวไฟที่ไม่อาจดับได้ ดวงตาสีฟ้าสดใสของเธอเย็นชาราวกับน้ำแข็ง ทำให้ผู้ที่จ้องมองรู้ส
ยามเย็นที่เงียบสงบพัดผ่านร่างของเวสเปอร์และเอซขณะที่พวกเขาเดินทางกลับห้องพัก แสงสีส้มอ่อนของดวงอาทิตย์ที่กำลังลับขอบฟ้าให้ความรู้สึกอบอุ่น แต่ก็ซ่อนเร้นความลึกลับบางอย่างในเงามืด“วันนี้ฉันทำได้ดีไหม” เวสเปอร์เอ่ยถาม ขณะที่ขยับแขนที่รู้สึกเมื่อยล้าจากการฝึกหนัก“ก็ดี…ในแบบของมือใหม่” เอซตอบด้วยน้ำเสียงกึ่งล้อเลียนกึ่งจริงจัง“ขอบคุณสำหรับคำชมที่เหมือนกำลังเหน็บแนม” เวสเปอร์พูดพร้อมกลอกตาทั้งสองเดินผ่านพื้นที่เปิดโล่งที่เป็นทางลัดกลับห้องพัก บรรยากาศดูเงียบสงบจนผิดปกติ ทันใดนั้น ลมแรงกว่าปกติพัดผ่าน ทำให้ต้นไม้รอบๆโยกไหว เสียงแหลมแปลกประหลาดดังขึ้นจากท้องฟ้ารอยแยกสีดำสนิทปรากฏขึ้นกลางอากาศ ท้องฟ้าที่เคยอบอุ่นกลับกลายเป็นมืดมน เงามืดที่แผ่ออกมาจากรอยแยกนั้นดูเหมือนจะกลืนกินทุกสิ่ง เวสเปอร์หยุดเดิน หัวใจของเธอเต้นรัวด้วยความตื่นตระหนก“เอซ…นั่นมัน…”“ดันเจี้ยน” เอซตอบ ดวงตาสีทองของมันจับจ้องไปยังรอยแยกโดยไม่แสดงอารมณ์ใดๆจากรอยแยกนั้น มอนสเตอร์ตัวแรกปรากฏออกมา มันมีรูปร่างคล้ายหมาป่า ผิวหนังเป็นเงามืดที่เหมือนกับควัน ดวงตาสีแดงสดของมันจับจ้องไปที่เวสเปอร์“ครั้งแรกของฉันกับมอนสเตอร์…ดู





