LOGINCamelia Zahra adalah seorang violinist yang sangat popular dikalangan masyarakat, Selain dia begitu piawai menggesek biolanya dengan sangat indah, wajahnya pun begitu rupawan. Diluaran sana dia memiliki banyak penggemar dan pengagum rahasia baik tua maupun muda. Suatu hari Camelia kabur setelah selesai menyelenggarakan konser tunggalnya, hanya untuk menikmati beberapa menit kebebasan dari penatnya pertanyaan para wartawan, cahaya kamera, bodyguard dan manager cerewetnya. Namun dalam pelariannya secara tak sengaja dia bertemu dengan seorang pemuda bernama Giovanni Curtis. Giovanni adalah seorang pianis amatir yang bekerja paruh waktu di Cafe Hotel dimana itu adalah tempat konser sang pemain Biola tersebut digelar. Cita-cita terbesarnya adalah bisa bertemu dan berkolaborasi dengan violinist idolanya itu. Meskipun khayalanya itu bak bumi merindukan matahari, tetapi sang pencipta beberapa kali mempertemukan mereka secara tak sengaja, hingga akhirnya hubungan mereka pun menjadi hubungan rahasia dan hanya mereka berdua yang mengetahuinya. Tetapi semua itu tidak berlangsung lama karena hubungan mereka akhirnya terkuak hingga media gempar dibuatnya. Lalu, bisakah mereka tetap bersama? Meskipun hubungan mereka terhalang oleh status? *** Mohon maaf apabila penulisannya masih banyak kekurangan, tapi jangan berhenti untuk mendukung juga karya saya ini. Terima kasih reader :) Follow saya disini juga di IG @authorparadista
View MoreSeorang gadis tiba-tiba masuk, menyelinap dan menyuruh Gio berhenti memainkan pianonya dengan menempelkan jari dibibirnya.
Si gadis terlihat memakai gaun malam berwarna emas yang menjuntai begitu elegant, wajahnya tak begitu terlihat jelas karena bersembunyi dibalik pintu ruangan yang setengah gelap, hanya pakaian yang berwarna emasnya saja berkerlap kerlip terlihat di bawah lampu cahaya yang remang-remang.
Gio menghentikan permainan pianonya, Gio segera menghampiri si gadis.
"Diem dulu yah, jangan main piano dulu" ucap gadis tersebut, terdengar sangat merdu, kemudian menarik tangan Gio agar lebih dekat denganya.
Gio tak berani memandang kearah wajah gadis didepanya, suara orang-orang berlarian di luar terdengar begitu gaduh, kemudian ada teriakan dari suara seorang perempuan di luar ruangan itu "cepat cari sampai ketemu!"
Setelah suara teriakan itu, suara gaduh orang berlarian kesana kemari semakin ramai seperti sedang mencari seseorang.
"Di luar itu, yang lagi nyariin kamu?" Tanya Gio memberanikan diri berbisik
"Sttttt! Iya" jawab gadis itu begitu terdengar syahdu, membuat Gio penasaran dengan wajah asli si gadis.
"Ayo kita cari keruangan ini" ajak seseorang di luar, terdengar akan memasuki ruangan cafe yang pintunya setengah terbuka itu.
Si gadis terlihat khawatir, kemudian dengan spontan memeluk dan bersembunyi di dada Gio menutupi kepalanya dengan Jas yang Gio pakai.
Gio merasa gugup, ini pertama kalinya ada seorang gadis memeluknya, gadis ini begitu wangi dan kulitnya terasa lembut saat bersentuhan denganya.
Krikkkkk!
Terdengar suara rollingdorr yang akan dibuka, karena sebelumnya rollingdorr tersebut sudah terbuka setengahnya, Gio terpaksa memeluk dan menarik gadis itu, untuk bersembunyi di dalam gudang sempit ruangan tersebut.
☆ ☆ ☆
Dug! dug! dug!
Suara detak jantung Gio terdengar keras, Dia sangat gugup dengan posisi merapat berhadapan dengan gadis di depanya, wajahnya masih terlihat samar karena gelap.
"Kamu gugup?" Tanya gadis di depanya dengan suara pelan
"Iya" jawab Gio datar.
"Terimakasih yah" bisik gadis itu lagi
"Apakah mereka penculik?" Tanya Gio polos.
"Iya,hiks" jawab si gadis kemudian tertawa tetapi dia mencoba menahanya.
"Perlukah kita lapor polisi?" Tanya Gio lagi
Si gadis malah menjadi-jadi,dia menahan tawanya dan menekankan wajahnya di dada Gio
"Kenapa ketawa?" Tanya Gio keheranan lalu menunduk melihat kearah wajah si gadis yang juga mendongakan wajahnya melihat ke arah Gio.
"Kamu lucu" jawab si gadis itu.
"Tampaknya mereka sudah pergi" ucap Gio lagi.
"Iya,sepertinya mereka tidak menemukanku,baiklah akupun akan pergi,aku fikir sudah cukup main petak umpetnya,terimakasih yah,nama kamu siapa?" Tanya si gadis.
"Giovanni,pa-pa-nggil aku Gio" jawab Gio terbata-bata.
Si gadis tersenyum setelah mendengar nama Giovanni,kemudian dia berjinjit lalu mengecup pipi pemuda itu dengan lembut,Gio tak berkutik,hanya mematung,sigadis lalu pergi berlari keluar dari ruangan sempit itu.
Gio meraba pipinya,kecupan lembut baru saja menempel di wajahnya dan masih terasa hangat,ini kecupan pertama Gio dari gadis yang wajahnyapun tidak bisa dia lihat karena gelap dan hanya meninggalkan wangi parfum yang sangat khas,semerbak seperti wangi bunga lavender,memenuhi ruangan sempit itu seakan menempel juga di pakaianya.
Gio lupa tidak menanyakan nama gadis itu,dia begitu penasaran,kemudian bergegas keluar dari ruang sempit tadi,tetapi diluar sudah tidak ada siapa-siapa,gadis misterius itu menghilang hanya dengan sekejap mata,meninggalkan wangi tubuhnya yang semerbak memenuhi ruangan cafe itu.
Setelah selesai membasuh wajahnya dan ia merasa kembali segar, Aurora pun mengelap wajahnya menggunakan tisu yang tersedia di toilet tersebut. Setelah wajahnya kering, barulah Aurora mengambil make up di tasnya dan membubuhi bedak ke permukaan wajahnya karena riasan wajahnya tadi sudah menghilang. Aurora tidak peduli lagi jika riasan pada wajahnya menghilang, karena saat ini Aurora benar-benar tidak tahan untuk membasuh wajahnya yang telah lengket akibat keringat selama Aurora memakai masker tadi. Setelah selesai membasuh wajahnya dan ia merasa kembali segar, Aurora pun mengelap wajahnya menggunakan tisu yang tersedia di toilet tersebut. Setelah wajahnya kering, barulah Aurora mengambil make up di tasnya dan membubuhi bedak ke permukaan wajahnya karena riasan wajahnya tadi sudah menghilang. "Tujuanku ke sini memang hanya untuk meminta maaf kepada Justin, tapi jika diberi kesempatan untuk bisa lebih dari itu, aku sangat bersyukur. Tapi tidak begini juga dong, teman Justin sanga
Justin memalingkan wajahnya lebih dulu. Kali ini dia yang tertangkap basah sedang salah tingkah oleh Aurora. Dan lekas saja rona merah pun menjalar hingga seluruh pipinya yang buru-buru Justin sembunyikan dengan cara menundukkan kepala. Lalu kepala Justin itu mendongak saat mendengar derit kursi dari arah Aurora. Tak hanya Justin yang terinterupsi oleh derit kursi itu, tapi juga dengan Samuel, Alice dan Richie juga. Sementara Aurora yang sebagai oknum yang membuat empat kepala di sana menoleh padanya jadi tersenyum kikuk. Namun, senyuman kikuk itu tersembunyi di balik masker yang Aurora pakai. "Ah, maaf. Aku pergi ke toilet sebentar," ucap Aurora berpamitan. "Justin, aku ke toilet sebentar." Aurora pun beralih pada Justin. Seolah dia harus berpamitan secara khusus dengan laki-laki itu. "Tapi kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Justin, ia khawatir terjadi sesuatu terhadap Aurora dan Aurora tidak mau mengatakannya padanya. Aurora menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan penuh p
Justin terkekeh menanggapinya. "Jangan bicara seperti itu karena bisa saja Richie berubah pikiran dan kembali mengoceh." Setelah mengatakan itu, Justin menoleh pada Aurora. Sebenarnya dia khawatir karena mengira Aurora sudah tidak betah berlama-lama di sana, atau ada sesuatu yang mengganggunya sehingga Aurora tidak baik-baik saja. Sebab sejak tadi Aurora tidak banyak bereaksi apa lagi berbicara, meskipun Justin tahu jika bukan karena kedatangan Richie dan Alice, kini Aurora dan dirinya sudah berada di luar. "Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Justin. Melihat Aurora kebingungan mengenai pertanyaannya, Justin pun mencoba untuk mengoreksi pertanyaannya tadi. "Kamu baik-baik saja, kan, tidak ada sesuatu yang membuatmu sakit atau apa?" tanya Justin lagi. Aurora menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak ada kok." "Oh syukurlah kalau tidak ada. Sejak tadi kamu diam saja, aku pikir terjadi sesuatu denganmu, jadi hanya murni karena sikap Richie ya?" Dengan ragu dan tidak enak, Au
Masih di situasi yang sama, yaitu Aurora yang terjebak dengan teman Justin. Si Richie yang tak henti-hentinya menggoda Aurora. Dan Aurora hanya mampu terdiam sampai akhirnya ia menanggapi dengan kalimat penolakan ajakan kencan Richie tadi. Jujur saja Aurora tidak betah berlama-lama disana, tapi pengecualian jika hanya ada dirinya dan Justin saja, maka Aurora akan lebih dari betah. Aurora hanya merasa gerah saja dengan teman Justin itu. Dan ia sudah lelah serta sangat ingin bebas untuk berekspresi juga bergerak. Dia juga ingin mengobrol dengan Justin tanpa khawatir hal buruk akan terjadi, sebab Aurora takut akan ada yang mengenali suaranya dan itu tentu saja berbahaya. Sementara itu Richie terus saja menggodanya, dan Aurora melirik Justin yang sudah tampak lelah memperingati Richie. Sedangkan Alice, wanita itu sedang duduk bersandar di kursi dengan gaya malas, serta lelah seakan dia sudah pasrah dengan kelakuan Richie. "Maaf ya, Richie memang usil orangnya. Dia tidak bermaksud
Camellia dan Carol keluar dari rumahnya untuk kembali melakukan pertemuan di Hotel semalam. Terlihat para bodiguard dan staf lain sudah berbaris rapih menunggu kehadiran Camellia. Pagi ini Camellia memakai gaun berwarna softblue yang ngepas dibadan, t
Camellia berbaring dipangkuan Ibunya, sedangkan Ayahnya memijati kaki Anak gadisnya itu, perlakuan mereka terlihat begitu memanjakan Anak gadisnya itu."Tidurlah sayang, Kamu butuh istirahat" ucap Ibunya Milla sambil mengelus-elus rambut putrinya itu."Mu
Di tempat berbeda Camellia duduk diam sambil menutup matanya, Carol yang melihat Adiknya seperti orang yang sedang bersemedi itu, kemudian perlahan memegang tangan Adiknya."Dingin?" Tanya Carol."Tidak kak" jawab Camellia pelan dengan mata masih tertutup
"Hei siapa disitu?" Tiba-tiba seseorang memergoki keberadaan Gio digedung tersebut.Gio terdiam, berlaripun tak mungkin lagi tiba-tiba lampu gedung tersebut menyala, sehingga jika dia kabur akan fatal akibatnya karena camera CCTV terletak diberbagai sudut disana. 






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore