MasukNadira harus balas dendam karena ulah manipulatif dari mantan suami dan istri barunya. Setelah empat tahun menghabiskan waktu didalam penjara akibat tuduhan pembunuhan yang dilayangkan kepadanya, membuat Nadira harus kehilangan momen indah dengan bayi kecilnya. Ia tidak terima akan hal itu dan berencana untuk balas dendam pada orang-orang yang sudah menjebaknya. Untungnya Nadira masih memiliki orang-orang baik yang mengenalnya dengan baik. Misi balas dendam dan misi membersihkan nama baiknya didukung oleh Davin, pria yang selalu dengan setia membelanya dalam situasi apapun. Mari lihat bagaimana taktik Nadira dalam menjalankan misinya demi membalas dendam dan membersihkan nama baiknya.
Lihat lebih banyakSejak sinar matahari mulai mencuri masuk dari sela-sela bangunan kantor itu, ada sepasang bola mata yang sudah sejak lama terjaga. Was-was, khawatir, takut dan marah, semuanya berbaur menjadi satu didalam dirinya saat ini. Bahkan, sejak tadi malam ia tidak bisa memejamkan mata meskipun hanya sejenak.Nadira dengan wajah yang sudah kusut itu berdiri didalam sel yang dingin. Memandangi kesibukan pagi didalam kantor polisi yang baru pertama kali ia lihat seumur hidup. Bukan pengalaman yang bisa dibanggakan memang.“Permisi, Pak!” serunya pada seorang polisi yang terlihat masih cukup muda, mungkin kisaran dua puluhan.Polisi yang sepertinya baru selesai membersihkan diri, jika dilihat dari wajahnya yang segar dan juga rambut yang masih basah itu menoleh, menghentikan langkahnya.“Ya, ada apa?”“Jam besuk kira-kira dimulai dari jam berapa ya?”“Jam delapan pagi. Masih satu setengah jam lebih,” jawab Polisi itu dengan suara yang sangat khas, lantas melenggang pergi lagi.Nadira mengangguk m
Aldi pulang lebih cepat hari ini, tepatnya usai dirinya menjenguk istrinya di kantor polisi. Entah apakah ia masih bisa menyebut Nadira sebagai istrinya setelah semua yang dilakukan. Mulai dari menjatuhkan talak hingga memberi perempuan itu secarik kertas dari Kantor pengadilan agama.Meskipun, benar apa kata Clara bahwa salah satu masalah bagi mereka berdua telah teratasi. Tetapi, ada beban yang tumbuh dalam hatinya saat meyaksikan Nadira harus melalui masa sulit seperti itu. Aldi sangat yakin bahwa Nadira bukanlah orang yang berani melakukan hal keji seperti itu. Aldi tahu itu semua adalah skenario yang terlah dirancang oleh Clara pastinya.Begitu memasuki rumah, Aldi langsung disambut oleh keriuhan Rani yang memasang raut khawatir. Sepertinya kabar mengenai Nadira juga sudah sampai ke telinga keluarganya.“Kak Aldi! Apa benar mbak Nadira ada dikantor polisi sekarang?” tanya Rani penuh penasaran, tak membiarkan kakak laki-lakinya untuk lebih dulu d
Hari semakin sore ketika Nadira berdiri dengan tangan memegang besi sel tahanan. Ada banyak tanda tanya yang masih belum ia temukan jawabannya sampai saat ini. Juga, kenapa belum ada keluarga atau siapapun yang mengunjunginya dikantor polisi. Sampai akhirnya suara derap langkah kaki yang terburu-buru menarik perhatiannya. Postur tubuh yang jenjang berlari menuju kearahnya. Seulas senyuman mulai tercipta dibibir merahnya. Nadira nampak bersemangat saat lelaki itu berdiri tepat didepannya. “Mas Aldi!” seru Nadira saking senangnya melihat sang suami datang. Tatapan Aldi terlihat lesuh, memperhatikan Nadira dari ujung kaki sampai ujung kepala. Perempuan itu benar-benar tidak enak dilihat sekarang ini. “Akhirnya kamu datang, Mas. Ayo cepat keluarkan aku dari sini, Mas,” Buru-buru Nadira mengadu meminta tolong. Tapi, tujuan Aldi datang kesana bukanlah berniat untuk membebaskan atau mencoba menenangkan hati perempuan itu. Ia hanya ingin melihat kondisi Nadira saja. “Maaf, Nad. Aku tidak
Bulu kuduk Nadira meremang kala polisi memasukkannya kedalam ruangan persegi empat, berukuran cukup sempit. Hanya ada satu meja dengan dua kursi yang saling berhadapan, lampu yang tingginya tapi diatas kepala juga sangat menyilaukan mata. Nadira tidak tahu ruangan apa ini karena tempat itu benar-benar sangat pengap. Di sekelilingnya tidak ada apa-apa yang bisa dia lihat. Sampai seorang pria menggunakan kemeja masuk. Sepertinya bukan polisi karena tidak menggunakan seragam. Pria itu lalu duduk di seberang kursi, kemudian menatap Nadira dengan mata yang tajam. Sontak, Nadira langsung menundukkan pandangannya tidak berani membalas dengan matanya. “Wanita cantik terkadang tidak bisa ditebak, ya?” ucap sang detektif, tersenyum miring. Jelas sekali sedang menyindir Nadira. Namun, perempuan itu masih memilih untuk menunduk. “Baiklah. Tidak perlu banyak basa-basi lagi. Semakin cepat kamu mengaku, semua ini akan juga cepat selesai.” “Tidak ada yang perlu saya akui disini,” jawab Nadira me












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan