เข้าสู่ระบบ[ Rate : 21+ ] Fiona terpaksa menikah karena perjodohan dengan Edgar. Parahnya, ia harus tinggal serumah dengan kekasih suami nya. Suaminya bahkan tidak hadir di acara perayaan pernikahan mereka dan lebih memilih bermain-main dengan kekasihnya. Apakah Fiona akan terus bertahan dalam pernikahan ini ? Bagaimana cara Fiona membalaskan dendamnya ? Dan bagaiamana respon Edgar saat tahu Fiona bukan orang sembarang ?
ดูเพิ่มเติมLorie's POV
What the hell am I doing out here?
I stared outside the bar at the heavy downpour, it was raining cat and dogs making the night air colder. I took the shot glass of tequila in front of me and downed it, beckoning at the bartender for another shot. At this rate I was going to be stupid drunk but I didn't care, I would rather sleep in this bar tonight than return home.
“The usual, Sir?” I heard the bartender ask.
“Yes” A gruff voice answered by my side, causing me to turn to see who it was.
I was welcomed by a pair of hazel eyes with flecks of gold and green that looked emotionless and cold. He had long black and almost shiny that was tied in a man bun with a pointed nose, thin lips and sharp jawline that my hands itched to touch. His suit jacket was off, showing his sleeve shirt hugging his muscular body with three unbuttoned at the top to reveal his craved abs. He was the personification of a greek god.
“You like what you see?” He asked as his gaze turned to me. He wasn't smiling but his gaze made butterflies erupt in my stomach and my knees feel weak. He was like fire, dangerous and hot.
“Y..yes” I blurted out. No, that wasn't what I was supposed to say. The alcohol was kicking in, I was drunk.
The bartender brought a glass of alcohol and handed it to him. He nodded and took a sip from it. “If you keep staring then I will be tempted to find out what's beneath that dress of yours” His voice was deep, inviting and suggestions. Somehow my legs clamped together unconsciously in anticipation.
Something at the back of my mind kept nudging at me not to do it but I pushed it aside and smiled at the dangerous man before me, “You like what you see?” I repeated what he had asked me.
“I do” he replied without missing a bit, his eyes raked down my body giving me chills, it felt like he was undressing me with his eyes.
“So what are you going to do about it?” I slurred out.
He gulped down the last drink in his glass and stood up, then he walked closer to me leaning towards my face. His masculine cologne and proximity made my heart beat anxiously, I had to grip the stool I was sitting on to steady myself. Damn! Who is he?
“Follow me to find out” he brought his mouth to my ear and said. Then he turned and began walking out the bar. I got up from the stool almost immediately and follow him with new found excitement. For the past two years I have not felt this type of excitement for any man, funny enough I had a boyfriend at home passed out on the cough from too many alcohol. This excitement, I wanted more and was too drunk to think of the consequences.
The rain had calmed down as if giving us a chance to do we want. We arrived at a Red Ferrari and with a botton the car door opened.
“After you” he gestured with his hands to the back seat.
I had one last chance to stop everything and walk away but instead I blushed and entered the car. He entered and shut the door before saying, “Strip” his voice was commanding and the sexiest thing I have ever heard.
I immediately began to take off everything on me and my naked body was opened to me. My heart was beating wildly as his eyes raked through you. “Just as I imagined” he muttered and smirked. He came closer and just when I thought he was going to kiss me, he went for my neck and placed small kisses on them. I moaned at the tingling feeling from his lips and instinctively bent my neck for more access. One of his hands grabbed my full firm breast and he began massaging it gently. I felt hot from his touch, I wanted him, craved him but he was taking his precious time.
“Please…” I pleaded.
He trailed kisses from my neck down to my breasts then took one in his hot wet mouth. He sucked one and kneaded the other with his hands, my moans got even louder. I felt so many unexplainable things at the same time, in-between my legs throbbed and ached for him.
“You want more?” he asked as he pulled his mouth from my hard nipples and stared directly into my eyes.
Instead of answering, I reached for his pants and unbuckled his belt while keeping eye contact. His hard member sprung up immediately I pulled the fabric down and it was looking very appetizing. I began stroking down his length slowly earning a grunt from him. I brought my mouth in, lubricating it with my saliva and resuming my hand job. He didn't let me go, he reached for my core and massaged my entrance with his two fingers. I moaned in delight while struggling to focus on my service but he soon increased the pace and I became a moaning mess.
“ahh… hmm…” I didn't know if the car was soundproof but I didn't care either. I was so wet that my juices was sliding down my legs, I wanted him inside me, I wanted him now.
“What do you want, love?” he asked as if he could read my mind. Before I could answer he pinched my clit slightly making me scream in ecstasy.
“I can't hear you, love” he said and smirked, his beautiful eyes clouded with lust. That sly bastard!
I raised myself from my lying position and brought my lip to his ears, then I said in my most seductive voice, “I want you to fuck me senseless with your junior down there”
He growled and replied, “Anything you want, love” and oh my he didn't disappoint me.
Begitu mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota, Putra menggelengkan kepalanya dengan heran. "Aku masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin orang sebodoh Edgar bisa menjadi pimpinan perusahaan sebesar itu?" tanyanya, nada suaranya dipenuhi oleh campuran ketidakpercayaan dan ejekan. Fiona mendengus, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Kau lihat sendiri bagaimana ia terus menerus mempertahankan wanita tak bermoral itu di sisinya. Bukankah itu sudah cukup membuktikan betapa bodoh dan naifnya dia?" sindirnya dengan nada mencemooh. Putra mengangguk setuju, lalu mengeluarkan sebuah map berisi dokumen-dokumen penting. Dengan teliti, ia memeriksa setiap detail angka yang tertera di sana. "Setelah pembelian saham ini, total kepemilikan saham kita di perusahaan Edgar menjadi lima puluh lima persen. Ditambah dengan lima persen saham milik Mingle, itu artinya kita memiliki kendali penuh atas segala keputusan perusahaan," jelasnya, matanya berkilat penuh kemenanga
Setelah pertemuan yang menghancurkan itu, Edgar menemukan dirinya terduduk lemas di ruang kerjanya. Kepalanya tertunduk dalam, jemarinya meremas rambutnya dengan penuh rasa frustasi yang menggerogoti jiwanya. Ia masih tidak dapat mempercayai bahwa peristiwa memalukan yang baru saja terjadi benar-benar nyata, menghancurkan reputasi dan kredibilitasnya dalam sekejap mata, seperti sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. "Sa... sayang. Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Diana dengan suara tergagap, tubuhnya gemetar saat ia mondar-mandir di depan meja kerja Edgar. Kecemasan dan ketakutan terpancar jelas di matanya. Edgar mengangkat kepalanya, matanya menatap Diana dengan tajam. "Diamlah dan duduklah. Kegelisahanmu hanya membuatku semakin pusing," ucapnya dengan nada dingin sambil memijit pelipisnya, berusaha menahan emosi yang bergejolak di dalam dirinya. Diana terduduk dengan lemas, jemarinya gemetar saat ia menggigit ujung kukunya. "Ini semua pasti ulah wanita itu. Ini pasti perbua
Pintu ruang kerja Edgar tiba-tiba terbuka, mengejutkan Diana dan Edgar yang masih terengah-engah dalam pusaran gairah. Namun, alih-alih sosok Fiona yang muncul sendirian seperti yang diharapkan Diana, mereka justru disambut oleh sekelompok orang yang terdiri dari beberapa petinggi perusahaan. Fiona melangkah masuk dengan anggun, diikuti oleh tiga orang pria paruh baya dalam setelan jas mahal, seorang wanita paruh baya, Putra dan juga Aris. Mereka adalah dewan direksi dan investor utama perusahaan tempat Edgar bekerja, dan beberapa karyawan dari perusahaan milik Edgar. Suasana dalam ruangan seketika membeku, udara dipenuhi oleh ketegangan yang mencekam dan terasa sedikit canggung. Mata Fiona seketika tertuju pada Edgar dan Diana yang masih setengah telanjang, pakaian mereka berserakan di lantai. Ekspresi terkejut dan jijik terukir jelas di wajahnya, namun dengan cepat ia menutupinya dengan topeng profesionalitas yang dingin. "Maaf mengganggu, Pak Edgar. Kami ke sini untuk mendiskusi
"Sayang, bolehkah aku ikut ke tempat kerjamu hari ini?" tanya Diana dengan nada manja, sembari meringkuk dalam pelukan Edgar yang matanya masih setengah terpejam. "Untuk apa?" gumam Edgar, suaranya masih serak oleh kantuk. "Wanita itu, istrimu, katanya sudah mulai bekerja, bukan? Aku juga ingin merasakan pengalaman bekerja, meski aku sadar kemampuanku terbatas. Setidaknya, izinkan aku melihat seperti apa suasana kantor, bagaimana kesibukan orang-orang di dalamnya," rengek Diana, berusaha membujuk Edgar dengan suaranya yang mendayu-dayu. Edgar menghela napas, lalu berkata dengan lembut namun tegas, "Sayang, kantor bukanlah tempat untuk bermain-main. Kau mungkin akan merasa bosan dan tidak nyaman di sana. Lagipula, hari ini agendaku sangat padat. Ada pertemuan penting dengan rekan bisnis yang harus kuhadiri." Mendengar kata 'rekan bisnis', Diana menegang. Dengan ragu, ia bertanya, "Apakah rekan bisnis yang kau maksud adalah orang yang sangat penting?" Edgar mengangguk. "Ya, rekan b
Restoran yang dipilih Aris terletak tidak jauh dari kafe tempat mereka bertemu sebelumnya. Dengan desain minimalis yang elegan, restoran ini memancarkan aura keanggunan dan kehangatan. Dinding-dinding kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit memberikan pemandangan menakjubkan ke arah k
"Ah maaf, apa saya terlambat ?" tanya Fiona ketika melihat pemuda dengan setelan jas berwarna hitam duduk di salah bangku paling ujung."Tidak, saya datang lebih cepat. Ada keperluan di sekitar sini" jelasnya, Fiona melihat jam kulit yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih sekitar t
Dalam sekejap, media sosial dihebohkan dengan munculnya sebuah video yang mempertontonkan tindakan tak bermoral seorang wanita. Deskripsi singkat di video itu menyebutkan dengan gamblang, "Wanita simpanan pemilik perusahaan ekspedisi X memberikan uang bulanan kepada istri sahnya hanya sebesar ser
“Kamu datang lagi malam ini ?" tanya Diana sambil menatap Edgar memasuki kamar mereka."Tentu saja, ini kamar kita," jawabnya sambil melangkah dan merangkul Diana."Tapi kau sudah memiliki istri," ucap Diana dengan raut wajah yang cemberut."Tapi hatiku milikmu. Biarkan aku hanya bersamamu," ucap E












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.