LOGIN[ Rate : 21+ ] Fiona terpaksa menikah karena perjodohan dengan Edgar. Parahnya, ia harus tinggal serumah dengan kekasih suami nya. Suaminya bahkan tidak hadir di acara perayaan pernikahan mereka dan lebih memilih bermain-main dengan kekasihnya. Apakah Fiona akan terus bertahan dalam pernikahan ini ? Bagaimana cara Fiona membalaskan dendamnya ? Dan bagaiamana respon Edgar saat tahu Fiona bukan orang sembarang ?
View MoreKara walked out of the hospital with a smile on her face, she had just been told by the doctor that she was two months pregnant, this was what she and her husband Carlos had always wanted, this could finally make them happy and also change the heart of her mother-in-law who didn’t like her.
She held the test result and smiled down on it. “Mrs. Rita won’t be angry with me anymore after she learns I will be giving her a grandchild.” Tears of joy clustered in her eyes.
Carlos's mother despised her and had made things difficult for her ever since she got married to her son, Carlos loved her so much, but Kara couldn’t understand the reason her mother-in-law hated her.
She has tried to find reasons, she had done everything in her power to please Mrs Rita, but she was still treated the same way as when Mrs. Rita found out she was now married to Carlos because Carlos secretly married her.
Kara and Carlos were in love with each other, but Rita wouldn’t accept her precious son marrying her, Carlos loved her so much and decided to get married behind his mother’s back, but loving someone shouldn’t be a crime, but Mrs Rita has made things difficult for her everywhere.
“This news would certainly please mother-in-law.” Kara sniffled, wiping off her tears, she made her way out of the hospital.
Getting into a taxi she hailed over, she got in and took out her phone, immediately dialling Carlos's number, she couldn’t wait to share the news with him.
The call rang at the other side of the line but there was no answer which was weird as Carlos never ignored her call, Carlos was the CEO of the largest real estate company in New York and was always busy, but not for her, even when he is having an important meeting, he always picked up to tell her what he was up to.
She put down her phone and sighed softly. “Well, since it’s a weekend, he would be at home, whereas, it will be great to see the reaction on his face when I tell him of this news.” She giggled to herself,
The taxi driver saw her smiling from the rearview mirror and commented. “Something good must have happened today, because you look so happy.”
Kara looked at him and grinned. “Is it that obvious?” She asked and the driver nodded. “That’s because something good really happened.” She glanced down at the test result and smiled,
The taxi pulled over at the entrance of her apartment building, she paid the driver and he drove off, drawing a sharp breath, she tried to calm her smile, she wanted to give him the news as a surprise if she was too excited, he would catch on quickly.
She blew air from her mouth and reached for the door, she put in the passcode and pushed the door open, but her eyes dilated when she saw her mother-in-law in the living room.
“Mother, what are you doing here?” The words came out before she could greet her, she didn’t expect Mrs Rita to be here today, she usually came by on Sundays, or her husband would inform her when she was coming so that they could prepare for his mother’s arrival, so her visit was a surprise.
“Do I have a reason to come to my son’s house?” Rita scorned her.
“I am sorry mother, I am just surprised to see you.” Kara intertwined her hand and placed it in her front as she lowered her gaze.
Daughters-in-law shouldn’t be scared of their mother-in-law, but Mrs Rita always made her nervous.
“And where are your manners?” Rita’s voice out again, this time, she tsk her tongue with disdain.
Kara quickly paid her respect, but Rita did not acknowledge her greeting. “This is why my son should never marry just anyone, a child who doesn’t even know her manners, how can she be suitable for my perfect son.” She groaned and gave Kara a once-over.
Kara clenched the hem of her dress, and she held it in perfectly well, she knew how much her husband adored his mother because Mrs Rita was Carlos's mother, but she decided to tolerate all her insults, whereas, she knew it could stop when she reveals the truth about being pregnant.
Kara was too excited to let Rita ruin her happiness, first, she had to find her husband, and she looked at Rita with a smile. “I will go up to my room now and ask Carlos to come keep you company.” She turned to head upstairs but Rita quickly blocked her path.
Kara looked at her mother-in-law and blinked since she was acting strange right now. “Is there something you need?” She asked and Rita cleared her throat.
“Yes, get me some water,” Rita told her, but Kara glanced at the table in the living room to see a glass of water already there, she glanced towards the stairs, wondering what Rita was probably protecting.
Kara drew a sharp breath. “Mother, there is a glass of water already on the table, help yourself with it, I have to see Carlos, I will be right back.” She wanted to leave again but Rita held her hand.
“Pour the water for me!” She said with a frown on her face, her grip was tight on Kara’s arm and Kara couldn’t take it anymore, just then she heard a sound from upstairs, she pushed Rita’s hand away and went upstairs despite her mother-in-law’s obstruction.
“Honey!” She called out with a smile as she approached their room door, glad to finally be rid of her mother-in-law, all she had to do now was tell Carlos of the news.
“Honey, I have good news to---“ Just as she pushed the door open, her voice was immediately caught up in her throat and her eyes dilated at the sight of her husband in bed with another woman.
Begitu mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota, Putra menggelengkan kepalanya dengan heran. "Aku masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin orang sebodoh Edgar bisa menjadi pimpinan perusahaan sebesar itu?" tanyanya, nada suaranya dipenuhi oleh campuran ketidakpercayaan dan ejekan. Fiona mendengus, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Kau lihat sendiri bagaimana ia terus menerus mempertahankan wanita tak bermoral itu di sisinya. Bukankah itu sudah cukup membuktikan betapa bodoh dan naifnya dia?" sindirnya dengan nada mencemooh. Putra mengangguk setuju, lalu mengeluarkan sebuah map berisi dokumen-dokumen penting. Dengan teliti, ia memeriksa setiap detail angka yang tertera di sana. "Setelah pembelian saham ini, total kepemilikan saham kita di perusahaan Edgar menjadi lima puluh lima persen. Ditambah dengan lima persen saham milik Mingle, itu artinya kita memiliki kendali penuh atas segala keputusan perusahaan," jelasnya, matanya berkilat penuh kemenanga
Setelah pertemuan yang menghancurkan itu, Edgar menemukan dirinya terduduk lemas di ruang kerjanya. Kepalanya tertunduk dalam, jemarinya meremas rambutnya dengan penuh rasa frustasi yang menggerogoti jiwanya. Ia masih tidak dapat mempercayai bahwa peristiwa memalukan yang baru saja terjadi benar-benar nyata, menghancurkan reputasi dan kredibilitasnya dalam sekejap mata, seperti sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. "Sa... sayang. Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Diana dengan suara tergagap, tubuhnya gemetar saat ia mondar-mandir di depan meja kerja Edgar. Kecemasan dan ketakutan terpancar jelas di matanya. Edgar mengangkat kepalanya, matanya menatap Diana dengan tajam. "Diamlah dan duduklah. Kegelisahanmu hanya membuatku semakin pusing," ucapnya dengan nada dingin sambil memijit pelipisnya, berusaha menahan emosi yang bergejolak di dalam dirinya. Diana terduduk dengan lemas, jemarinya gemetar saat ia menggigit ujung kukunya. "Ini semua pasti ulah wanita itu. Ini pasti perbua
Pintu ruang kerja Edgar tiba-tiba terbuka, mengejutkan Diana dan Edgar yang masih terengah-engah dalam pusaran gairah. Namun, alih-alih sosok Fiona yang muncul sendirian seperti yang diharapkan Diana, mereka justru disambut oleh sekelompok orang yang terdiri dari beberapa petinggi perusahaan. Fiona melangkah masuk dengan anggun, diikuti oleh tiga orang pria paruh baya dalam setelan jas mahal, seorang wanita paruh baya, Putra dan juga Aris. Mereka adalah dewan direksi dan investor utama perusahaan tempat Edgar bekerja, dan beberapa karyawan dari perusahaan milik Edgar. Suasana dalam ruangan seketika membeku, udara dipenuhi oleh ketegangan yang mencekam dan terasa sedikit canggung. Mata Fiona seketika tertuju pada Edgar dan Diana yang masih setengah telanjang, pakaian mereka berserakan di lantai. Ekspresi terkejut dan jijik terukir jelas di wajahnya, namun dengan cepat ia menutupinya dengan topeng profesionalitas yang dingin. "Maaf mengganggu, Pak Edgar. Kami ke sini untuk mendiskusi
"Sayang, bolehkah aku ikut ke tempat kerjamu hari ini?" tanya Diana dengan nada manja, sembari meringkuk dalam pelukan Edgar yang matanya masih setengah terpejam. "Untuk apa?" gumam Edgar, suaranya masih serak oleh kantuk. "Wanita itu, istrimu, katanya sudah mulai bekerja, bukan? Aku juga ingin merasakan pengalaman bekerja, meski aku sadar kemampuanku terbatas. Setidaknya, izinkan aku melihat seperti apa suasana kantor, bagaimana kesibukan orang-orang di dalamnya," rengek Diana, berusaha membujuk Edgar dengan suaranya yang mendayu-dayu. Edgar menghela napas, lalu berkata dengan lembut namun tegas, "Sayang, kantor bukanlah tempat untuk bermain-main. Kau mungkin akan merasa bosan dan tidak nyaman di sana. Lagipula, hari ini agendaku sangat padat. Ada pertemuan penting dengan rekan bisnis yang harus kuhadiri." Mendengar kata 'rekan bisnis', Diana menegang. Dengan ragu, ia bertanya, "Apakah rekan bisnis yang kau maksud adalah orang yang sangat penting?" Edgar mengangguk. "Ya, rekan b
"Apa yang bisa kamu lakukan ? Kamu berharap keluargamu membantumu ?" Desis Edgar dengan wajah merah padam."Kenapa aku butuh keluargaku ? Aku bisa menghancurkanmu dengan kekuatanku sendiri" Edgar tertawa terbahak-bahak mendengarnya."Kamu kira aku tidak tahu ? Kamu disini karena di buang oleh kelua
Acara resepsi pernikahan yang memuakan itu akhirnya selesai. Fiona langsung masuk ke kamar, menghapus make-up, dan mengganti pakaiannya. Ia tidak peduli dengan keributan di luar.Ia sudah terlalu capek, capek fisik dan batin. Jadi tidak butuh waktu lama, matanya pun terpejam. Ia tertidur.“Mana wan
Fiona duduk sendirian di atas pelaminan yang megah, bagaikan seorang putri yang terlupakan dalam dongeng yang kelam. Gaun pengantin putih bersih yang membalut tubuhnya terlihat kontras dengan suasana hatinya yang penuh kegelapan. Manik matanya menatap nanar ke arah pintu masuk, berharap sosok suam
"Mana suami saya?" tanya Fiona dengan nada dingin yang menusuk. Ia menatap pelayan tua di hadapannya dengan sorot mata yang tajam, menuntut jawaban. Pernikahan ini hanyalah sebuah formalitas belaka, tanpa cinta dan hanya untuk kepentingan bisnis semata. Pelayan itu gemetar di bawah tatapan intens












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.