Masuk"Alingga?” Lelaki itu memanggil namanya dengan wajah terperangah. “Benar kan kamu Alingga?" ulangnya memastikan.
“Mas Huki ...?” sapa Alingga setelah mengangguk membenarkan. "Benar, Ling! Ck, tanpa make up manten, kamu jadi susah dikenali,” ucap lelaki bernama Huki sambil tersenyum lebar. Alingga juga tersenyum lebar-lebar dengan perasaan heran dan setengah tidak percaya. Siapa yang menyangka jika di rumah itu akan bertemu dengan asisten pribadi yang kemarin mengurusi pernikahannya di kampung halaman? Tapi tunggu, kenapa pria itu ada di sini? Apakah Zoerendra yang dimaksud tadi adalah.... “Tidak kusangka kamu nekat datang. Kenapa tidak menelponku? Apa kamu tiba-tiba berubah pikiran?” Huki memberondongkan pertanyaan. “Masuk dulu, Ling. Mau minum apa? Cuaca lagi panas-panasnya, lama nggak hujan di kota ini.” Tanpa menunggu jawaban, Huki membawa Alingga ke arah teras rumah. Alingga menurut saat dipersilakan masuk rumah besar, meski otaknya masih berputar. Mencoba mencerna apa yang sebetulnya sedang terjadi. “Kamu naik apa, Ling? Baru saja sampai langsung ke sini, kan?” tanya Huki lagi. Ia mengambil minuman dingin sejenis larutan penyegar dan menyodorkan pada Alingga sebelum membawanya duduk di ruang tamu. “Kalau dari Kota M ke sini, total perjalanan kan lebih dari 6 jam jika naik pesawat. Kayaknya kamu capek. Minum dulu, nanti kalau sudah siap baru kamu....” “Mas.” Alingga bersuara, memotong ucapan Huki dengan ekspresi tidak sabar. “Bilang dengan benar, kenapa kamu ada di sini?” desak Alingga serius. Huki lantas tertawa. “Tentu saja aku di sini. Aku pun sering menginap di sini, dan bekerja mengikuti atasan di mana saja berada saat jam kerja, Alingga.” “Bosmu masih Pak Zoe, Mas?” sambar Alingga cepat. Pertanyaan itu membuat Huki tampak terdiam sebelum mengangguk. “Memang siapa lagi, Ling?” tanyanya. Namun, kemudian ia menyadari ada yang janggal dari ekspresi gadis di depannya. “Kenapa, Ling?” “Aku ke sini bukan sebab ingin nyari Pak Zoe atau kamu, Mas,” ucap Alingga kemudian. Ia sudah mengambil keputusan untuk jujur soal kedatangannya di sini. “Aku mencari pria bernama Julin. Dia siapanya Pak Zoe? Kenapa alamatnya di sini?” Ekspresi Alingga sungguh-sungguh. Huki mengernyit. “Kamu tahu dari mana nama itu?” “Dia adik tirinya suami ibuku,” jawab Alingga. “Suami kedua, sih. Ibuku menikah lagi. Tapi ....” “Astaga, Alingga! Mati aku!” Huki mengeluh. Pria itu tiba-tiba tampak kalut. “Julin itu nama kecil Pak Zoe. Keluarganya memanggil dia begitu. Sebab saat kecil, Pak Zoerendra gagal menyebut namanya, tetapi menyebut dirinya Julin. Ah, Ling, akan tamat riwayatku!” Alingga berkedip-kedip. “Jadi, maksudnya, Pak Zoe itu afik ipar ibuku ….” gumam Alingga, seperti mimpi rasanya. “Aduh, beliau pasti ma rah besar!” Huki mengusap wajahnya kasar dengan kalut . Huki adalah orang yang mengurus pernikahan Zoerendra dan Alingga waktu itu. Seharusnya, ia mengecek ulang asal usul Alingga dan memastikan latar belakang gadis itu aman, tidak ada sangkut pautnya dengan Zoerendra dan tidak akan menyusahkan bosnya di masa mendatang. Namun, ternyata dirinya lalai. Huki berpikir bahwa jarak kota B dan kota M demikian jauh, tidak mungkin si bos memiliki saudara di sana. Tidak tahu menahu juga tentang abang tirinya si bos yang telah menikah lagi di luar kota. Si bos pasti kecewa besar padanya! “Terus bagaimana, Mas?” Alingga bertanya. Dirinya pun gelisah. Perkembangan fakta ini jelas di luar perkiraan. *** “Bapak minta tamunya ikut makan bersama keluarga, Mas.” Ucapan bibi asisten rumah pada Huki, membuat Alingga masuk lebih dalam ke bangunan megah ini. Otaknya tanpa sadar berpikir, menghitung berapa jumlah kamar yang ada dalam rumah di sepanjang yang dilalui nya. Namun, ujung-ujungnya sama rasa, pahit. Jika memang keluarga suami baru ibunya sekaya ini, kenapa harus Alingga yang melunasi beban hutang tersebut? Apa lelaki yang menikahi sang ibu tidak mendapat warisan? Alingga masuk ke ruang makan yang luas. Beberapa orang telah duduk menghadap meja dan menatap Alingga dengan ekspresi menyelidik. “Maaf, di mana Pak Julin?” tanya Huki setelah menyapa dengan salam. Tidak tampak lelaki itu di meja makan. Hanya ada dua orang wanita dan seorang laki-laki saja yang duduk di sana. Sedang menatap Alingga penuh selidik. “Salat Zuhur di mushola. Siapa dia, Mas?” tanya perempuan muda pada Huki dengan tatapan menelisik dan tajam. “Kenalkan, Kak. Nama saya Alin dari Kota M. Datang ke sini ingin bertemu dengan Pak Julin.” Alingga menjelaskan sendiri dengan tegas sebab Huki justru termangu dan tidak lekas menyahut. “Menemui Paman Julin ... untuk apa?” sahut perempuan muda tadi. “Em ... begini, ibu saya telah menikah dengan abang tirinya Pak Julin. Saya ingin bicara hal penting dengan orang yang bernama Pak Julin.” Alingga lebih memperjelasnya lagi. Tidak ingin dituduh sebagai pendatang gelap yang tanpa asal usul. "Apa?!" Kedua perempuan yang ada di sana terkejut. “Jadi, kamu anak dari wanita pelakor itu, hah?!” seru wanita setengah baya dengan mata melotot. Alingga terkejut, dia pun menoleh pada si wanita dengan tatapan yang setajam belati. 🍒 🍒 🍒 Dearest Readers, tinggalkan jejakmu yaaa.... Love you!“Sudah, tidak usah bimbang. Malam ini, pulang ke rumah opamu saja ya, Alin.” Oma Sari juga ikut menimpali. Berbicara pada Alingga dengan lembut tetapi tegas. Tanpa menunggu jawaban atau anggukan bahkan gelengan, kini bergeser lebih dekat pada Hanan. “Mas Hanan pulang duluan tidak apa-apa. Jangan khawatir, nanti biar aku telpon ibunya. Fahri pun meminta agar kami membawa anak sambungnya ini pulang ke rumah keluarga. Tidak apa ya, Mas Hanan …,” ucap Oma Sari dengan lembut tetapi cenderung pemaksaan. Rahang Hanan tampak mengeras sesaat. Memberi sedikit senyum sebelum menatap Alingga. “Bagaimana, Alingga? Pulang sekarang, atau menginap di rumah mereka semalam?” tanyanya coba terus bersabar. Melihat gadis itu diam, Hanan mengerti jika dirinya harus mengalah. Bagaimanapun, mereka memang adalah keluarga Alingga saat ini. “Baiklah, jika ingin menginap di rumah mereka, aku pun tidak akan menyeberang malam ini. Menginaplah, tetapi besok kita pulang bersama pagi-pagi.” Hanan memutusk
"Kenapa kamu tidak merasa senang saja agar perasaan kita sama, Alin?" tanya Zoe dengan santai. Namun, suara khasnya terasa menggema di ruang makan keluarga. Namun, Alingga sungguh kaget sekaligus bingung dengan kalimat 'perasaan yang sama'. Apa maksud pertanyaan Zoerendra? Apakah itu semacam ungkapan perasaan? Jadi, apa perasaan Zoe sebenarnya? Pura-pura tidak mendengar ucapan Zoe, Alingga meneruskan makannya. Meski rasa beef steak itu jadi hambar saja di mulutnya. Namun, perih yang sangat terasa dari area perut, adalah pelancar perjalanan beef steak di mulut hingga terperosok jatuh ke dalam lambung. “Alin, kenapa saat datang dulu kamu tidak langsung saja berkerudung? Kenapa baru sekarang, tiba-tiba saja … apa sengaja ingin membuka identitasmu?” tanya Zoe kembali mengungkit. Memang ingin tahu alasan Alingga memakai kerudung di acara tunangan nya dengan Sandra. Gadis itu menggigit bibir. “Acara tunanganmu itu lebih mirip seperti kondangan. Ramai dan mewah. Di kampungku, sudah
“Bagaimana, Jul?” Pak Zulias menegur, terlihat tidak sabar lagi. Anak lelaki tidak juga menjawab pertanyaannya. “Masih sama dengan jawabanku semula, Pa. Aku akan menikahi Sandra tidak dengan status duda. Tetapi masih suami wanita lain. Itu bukan masalah sebab Alingga tidak keberatan aku menikah lagi.” Zoe menjawab sungguh-sungguh. Alingga semakin menunduk. Dirinya memang terkesan bimbang, pasif dan pasrah. Merasa menjadi dari bagian manusia egois. Dalam hal ini kasihan juga Sandra. Namun, salah sendiri wanita itu, sudah resiko mencintai suami orang. Terobsesi konon, tetapi tidak memakai logika dan akal sehat. Hanya obsesi memiliki…. “Untuk Mas Hanan. Ternyata cerita sesungguhnya adalah seperti ini. Bagaimana sikap Anda kedepannya? Apakah tidak merasa kecewa pada Alingga, dalam kata lain, dia adalah calon istrimu?” tanya Pak Zulias. Pandangannya kali ini beralih pada Hananta. Lelaki itu terlihat kaget. Mungkin tidak menyangka akan dilibatkan dengan cepat. Bagaimanapun juga,
“Permisi, sebagai layaknya tamu, kami juga ingin mengambil makanan. Mohon izin sebentar.” Hanan sengaja menengahi. Merasa iba dengan ekspresi Alingga yang pucat pasi dan seperti sedang tersudut oleh orang-orang yang tidak terlalu dikenalnya. Melihat foto pengantin perempuan yang tersimpan di galeri mertuanya Sandra, Hanan sendiri pun setuju jika itu adalah Alingga, tidak diragukan lagi. Menjadi sebuah tamparan keras seperti menghantam jiwa raga, saat Zoerendra pun mengakui kebenaran tuduhan Oma Sari dengan sangat terus terang. Hanan lekas ingat cerita Sandra jika calon suaminya sudah beristri. Tetapi umur pernikahan hanya seumur jagung sebab keduanya tidak mendapat kecocokan. Namun, dirinya, Sandra, dan semua orang pasti sama-sama tidak menyangka jika itu adalah Alingga. Notabene keluarga Zoerendra sendiri. Apakah lelaki itu seorang bangsat? Meski terkejut, tidak habis pikir, dan benar-benar ingin tahu bagaimana mereka bisa menikah, Hanan bersabar dan membawa Alingga duduk di
Langkah Alingga seperti membawa batu gunung dengan berat berton-ton di kakinya. Jika tidak digandeng Hanan, mungkin dirinya sudah diam tegak saja di tempat. Atau memilih berbalik jalan dan keluar dari acara. Berpikir tidak masalah, ternyata melihat Zoe berdiri serasi dengan Sandra di sana, hati merasa berat melihatnya. Tidak tahu lagi jika dirinya tanpa Hanan yang sedang menggandeng tangannya. Sandra dan Zoe tampak sudah menoleh dan memandang ke arahnya dan Hanan. Senyum yang tadi ada di bibir Zoe untuk orang-orang yang datang, perlahan pudar saat Alingga mendekat. Hanya Sandra yang senyumnya makin lebar. Hanan tidak langsung menghampiri mereka, tetapi menyalami dua orang tua, yang tak lain adalah walinya Sandra. Mereka berbicara dengan akrab dan santai. Ucapan jika Hanan mewakili orang tua, hanyalah formalitas. “Siapa, Han?” tanya wanita yang mirip Sandra dan tentu saja ibunya. Bertanya sambil melirik Alingga. Senyumnya samar, wajah wanita itu terlihat muram. Seperti sedi
Faldian masih menatap diam meski sudah bersalaman dengan Hanan. Tidak menyangka kekasih Alingga adalah sepupu lelakinya Sandra. Dokter muda, tampan, dan sopan itu adalah pilihan Alingga hingga mengabaikan sang paman. Tidak bisa disalahkan, namanya juga sudah kekasih bahkan akan menikah, tentu ikatan perasaan mereka sudah dekat dan tidak bisa dipaksakan. Andai boleh egois, jika Alingga menolak Paman Julin, ingin hati mengambilnya. Tapi apa daya, Alingga bukan barang yang bisa disesuaikan hak kepemilikannya. Dia adalah perempuan yang memiliki sejuta rasa. Sama jugalah dengan dirinya. “Fal, apa Jihan masih di tempat rehab?” tegur Alingga pada Faldian yang terdiam cukup lama. Lelaki itu menatapnya sejenak kemudian mengangguk. “Iya, Ling. Papa sudah sign formulir masuk rehab. Setidaknya enam bulan percobaan. Biarlah, demi kebaikannya.” Bibir Faldian tampak tersenyum getir. “Kapan dia mengurusnya? Maksudku… papamu kan?” Alingga memastikan orang yang dimaksud Faldian. “Benar,







