แชร์

2. Julin adalah ....

ผู้เขียน: kamiya san
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-06 14:49:57

"Alingga?” Lelaki itu memanggil namanya dengan wajah terperangah. “Benar kan kamu Alingga?" ulangnya memastikan.

“Ish, Mas Huki ... kamu lebay!” ucap Alingga dan justru sambil mencibir.

"Benar, Ling! Ck, tanpa make up manten, kamu jadi susah dikenali,” ucap lelaki bernama Huki sambil tersenyum lebar-lebar dan menahan tawa.

Alingga juga tersenyum lebar dengan perasaan heran dan setengah tidak percaya. Siapa yang menyangka jika di rumah itu akan bertemu dengan asisten pribadi yang kemarin mengurusi pernikahannya di kampung halaman?

Memang wajar jika Huki sedikit pangling. Mereka hanya bertemu untuk urusan penting pra-nikah. Itu pun, Alingga selalu tampil bagus dengan kerudungnya. Sekarang, justru seadanya dengan rambut berkibar tanpa ditutup. Tentu saja saat itu penampilannya lebih bagus, agar usahanya mendapat uang berjalan mulus!

Tapi tunggu, kenapa pria itu ada di sini? Apakah Zoerendra yang dimaksud tadi adalah....

“Tidak kusangka kamu nekat datang. Kenapa tidak menelponku? Apa kamu tiba-tiba berubah pikiran?” Huki memberondongkan pertanyaan. “Masuk dulu, Ling. Mau minum apa? Cuaca lagi panas-panasnya, lama nggak hujan di kota ini.” Tanpa menunggu jawaban, Huki membawa Alingga ke arah teras rumah.

Alingga menurut saat dipersilakan masuk rumah besar, meski otaknya masih berputar. Mencoba mencerna apa yang sebetulnya sedang terjadi.

“Kamu naik apa, Ling? Baru saja sampai langsung ke sini, kan?” tanya Huki lagi. Ia mengambil minuman dingin sejenis larutan penyegar dan menyodorkan pada Alingga sebelum membawanya duduk di ruang tamu. “Kalau dari Kota M ke sini, total perjalanan kan lebih dari 6 jam jika naik pesawat. Kayaknya kamu capek. Minum dulu, nanti kalau sudah siap baru kamu....”

“Mas.” Alingga bersuara, memotong ucapan Huki dengan ekspresi tidak sabar. “Bilang dengan benar, kenapa kamu ada di sini?” desak Alingga serius.

Huki lantas tertawa. “Tentu saja aku di sini. Aku pun sering menginap di sini, dan bekerja mengikuti atasan di mana saja berada saat jam kerja, Alingga.”

“Bosmu masih Pak Zoe, Mas?” sambar Alingga cepat.

Pertanyaan itu membuat Huki tampak terdiam sebelum mengangguk. “Memang siapa lagi, Ling?” tanyanya. Namun, kemudian ia menyadari ada yang janggal dari ekspresi gadis di depannya. “Kenapa, Ling?”

“Aku ke sini bukan sebab ingin nyari Pak Zoe atau kamu, Mas,” ucap Alingga kemudian. Ia sudah mengambil keputusan untuk jujur soal kedatangannya di sini. “Aku mencari pria bernama Julin. Dia siapanya Pak Zoe? Kenapa alamatnya di sini?” Ekspresi Alingga sungguh-sungguh.

Huki mengernyit. “Kamu tahu dari mana nama itu?”

“Dia adik tirinya suami ibuku,” jawab Alingga. “Suami kedua, sih. Ibuku menikah lagi. Tapi ....”

“Astaga, Alingga! Mati aku!” Huki mengeluh. Pria itu tiba-tiba tampak kalut. “Julin itu nama kecil Pak Zoe. Keluarganya memanggil dia begitu. Sebab saat kecil, Pak Zoerendra gagal menyebut namanya, tetapi menyebut dirinya Julin. Ah, Ling, akan tamat riwayatku!”

Alingga berkedip-kedip. “Jadi, maksudnya, Pak Zoe itu afik ipar ibuku ….” gumam Alingga, seperti mimpi rasanya.

“Aduh, beliau pasti ma rah besar!” Huki mengusap wajahnya kasar dengan kalut .

Huki adalah orang yang mengurus pernikahan Zoerendra dan Alingga waktu itu. Seharusnya, ia mengecek ulang asal usul Alingga dan memastikan latar belakang gadis itu aman, tidak ada sangkut pautnya dengan Zoerendra dan tidak akan menyusahkan bosnya di masa mendatang.

Namun, ternyata dirinya lalai. Huki berpikir bahwa jarak kota B dan kota M demikian jauh, tidak mungkin si bos memiliki saudara di sana. Tidak tahu menahu juga tentang abang tirinya si bos yang telah menikah lagi di luar kota.

Si bos pasti kecewa besar padanya!

“Terus bagaimana, Mas?” Alingga bertanya. Dirinya pun gelisah. Perkembangan fakta ini jelas di luar perkiraan.

"Ling, bukankah Pak Zoe hanya pernah melihatmu sekali saat menikah? Itu pun kamu sedang cosplay wajah pengantin dengan kostum berhijab." Huki berkata dengan pandangan penuh maksud.

"Memang iya ... kenapa, Mas?" tanya Alingga dengan ekspresi kepo-nya.

Huki pun menjelaskan dengan suara lirih dan setengah bisik-bisik

***

“Bapak minta tamunya ikut makan bersama keluarga, Mas.”

Ucapan bibi asisten rumah pada Huki, membuat Alingga masuk lebih dalam ke bangunan megah ini. Otaknya tanpa sadar berpikir, menghitung berapa jumlah kamar yang ada dalam rumah di sepanjang yang dilalui nya.

Namun, ujung-ujungnya sama rasa, pahit. Jika memang keluarga suami baru ibunya sekaya ini, kenapa harus Alingga yang melunasi beban hutang tersebut? Apa lelaki yang menikahi sang ibu tidak mendapat warisan?

Alingga masuk ke ruang makan yang luas. Beberapa orang telah duduk menghadap meja dan menatap Alingga dengan ekspresi menyelidik.

“Maaf, di mana Pak Julin?” tanya Huki setelah menyapa dengan salam. Tidak tampak lelaki itu di meja makan. Hanya ada dua orang wanita dan seorang laki-laki saja yang duduk di sana. Sedang menatap Alingga penuh selidik.

“Salat Zuhur di mushola. Siapa dia, Mas?” tanya perempuan muda pada Huki dengan tatapan menelisik dan tajam.

“Kenalkan, Kak. Nama saya Alin dari Kota M. Datang ke sini ingin bertemu dengan Pak Julin.” Alingga menjelaskan sendiri dengan tegas sebab Huki justru termangu dan tidak lekas menyahut.

“Menemui Paman Julin ... untuk apa?” sahut perempuan muda tadi.

“Em ... begini, ibu saya telah menikah dengan abang tirinya Pak Julin. Saya ingin bicara hal penting dengan orang yang bernama Pak Julin.” Alingga lebih memperjelasnya lagi. Tidak ingin dituduh sebagai pendatang gelap yang tanpa asal usul.

"Apa?!" Kedua perempuan yang ada di sana terkejut. “Jadi, kamu anak dari wanita pelakor itu, hah?!” seru wanita setengah baya dengan mata melotot.

Alingga terkejut, dia pun menoleh pada si wanita dengan tatapan yang setajam belati.

🍒

🍒

🍒

Dearest Readers,

tinggalkan jejakmu yaaa....

Love you!

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (3)
goodnovel comment avatar
Imamah Nur
Waduh ini lebih gawat dari yang kuduga. Kupikir hanya karena kakak pak Zoe bukanlah orang baik tapi justru punya istri, hah!
goodnovel comment avatar
Otty A
waduh! Mak nya Alingga baceman tempe ternyata. ... pantas aja banyak hutangnya.
goodnovel comment avatar
Wee Daevii
boleh komentar jujur nggak?
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   133. Menikah dengan Siapa?

    Alingga merasa kesal sekaligus ingin tertawa. Sudah berapa kali dirinya gagal berbusana. Lebih tepatnya digagalkan. Meski dengan memejam, tetapi tangan lelaki itu seperti kerasukan dan terus memenjara tubuhnya. “Pak Zoe, katakan segalanya mengenai pernikahanmu dengan Mbak Sandra.” Alingga mengungkitnya. Kesalnya kembali berserabut. “Ck, itu nanti dulu. Penuhi dulu tugasmu, senangkan aku dulu, Alingga.” Zoe mempererat dekapannya. “Ish, sengaja ngulur-ngulur. Sudah ah, main-mainnya, Pak zoe! Segan, nanti kedengaran Mak Tini!” seru Alingga dengan suara lirih. Namun, Zoe justru menghentak tubuhnya dan memeluk erat. “Mak Tini nggak akan ada di rumah ini. Sudah kusuruh pergi dan jangan kembali sementara.” Zoe berkata santai dengan suaranya yang menggema. “Pergi sementara, dia ke mana?!” tanya Alingga histeris. Zoe segera melonggarkan pelukan, khawatir istrinya jadi sesak napas sebab kaget. “Dia check in,” sahut Zoe dengan tersenyum. Sudah diduganya, Alingga pasti keheranan

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   132.

    “Tunggu, Pak Zoe!” sentak Alingga sedikit keras dengan ekspresi serius. Tatapannya lebar dan tidak berkedip pada lelaki yang membuatnya sedikit mendongak. “Ada apa, Ling?” Zoe terkejut dan memandang saksama. Mereka berhenti tepat di depan pintu kamar. Tangan yang akan mendorong handle pintu ditarik lagi dan tidak jadi membukanya. “Memangnya, Ini kamar siapa …?” Alingga berusaha terus serius tetapi tidak mampu menahan senyumnya. Merasa puas dengan ekspresi Zoe yang benar-benar tampak bingung. “Kamu ingin mengerjaiku, Ling? Jelas jika kata asisten rumahmu, ini kamarmu!” Namun, Zoe menyadari ulah Alingga dengan cepat. Tanpa menunggu lagi, pintu kamar sudah dibukanya. Alingga kembali ditariknya untuk masuk. Tidak peduli Alingga keberatan dan berusaha menolak. “Pak Zoe, kenapa kamu tiba-tiba datang?” Alingga bertanya saat Zoe menutup pintu kamar. Coba bertahan dengan diam di depan pintu. Lelaki yang ditanya tidak menjawab dengan kata-kata tetapi langsung dengan pelukan era

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   131. Perempuan Nakal!

    Jantung Alingga seperti meledak. Apa yang dilihat terasa kejutan luar biasa dan mendadak. Sosok yang membujur di sofa dan terlihat kakinya bersarung itu ternyata Pak Zoerendra! “Siapa, Ling?” tanya Danu juga ikut mendekati sofa untuk melihatnya. Setelah diamati, dia adalah pria dewasa. Kulitnya terlihat bersih dengan hidung yang mancung. Rambut tampak berkilat dan lebat. Fix, dia pria berkharisma dan tampan. “Dia … adik ipar ibuku,” jawab Alingga lirih. Simalakama rasanya. Antara menduga Zoe sedang kelelahan, juga khawatir akan berburuk sangka jika lelaki itu melihatnya dengan Danu berdua dalam rumah. “Apa dia orang baik?” tanya Danu terus terang. Merasa khawatir dengan keamanan Alingga di rumahnya. Tidak ingin kejadian buruk dulu terulang kembali. “Aman, jangan khawatir, Mas. Dia baik banget.” Alingga tidak tahu lagi harus bilang apa. Namun, segera menyadari bahwa kesalahannya adalah membawa lelaki ke dalam rumah. Bagaimana cara bilang pada Danu untuk segera pulang s

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   130. Tamu Gelap

    Sajadah dan mukena telah dilipat begitu cepat dengan sedikit tidak rapi. Namun, sempat diletak semula di atas kursi di pojok kamar. “Ada apa dia, tumben. Nggak salah kirim, kan …?” gumam Alingga. Menyambar ponsel dan duduk di atas sisi pembaringan. Tidak sabar membaca isi pesan yang dikirim Zoe setelah memilih mengabaikannya. Bagaimana lagi, subuhnya hampir lewat. Ternyata bukan hanya pesan. Tetapi beberapa panggilan masuk dari lelaki itu saat dirinya mandi. Hati pun berubah lebih keras berdebar. Ini sangat mengejutkan. Kenapa mendadak lelaki itu seperti jadi rempong?! “Dia … dia ingin datang? Kapan? Apa dengan Mbak Sandra?” gumam Alingga. Terkejut luar biasa dengan isi pesan dari Zoerendra yang mengatakan akan datang. Menanyakan di mana Alingga berada. Tapi pesan itu malam tadi. Pagi ini, lelaki itu meminta dikirim share lokasi. Lantas, di mana Pak Zoe saat ini? Sempat bingung, Alingga memutuskan mengirim lokasi dirinya. Barangkali Zoe memang sudah di Kota Malang dari semalam. M

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   129.

    Dua minggu berlalu. Alingga tidak lagi sesibuk belakangan. Urusan Dinda telah sukses dibereskan. Danu begitu baik, bertanggung jawab, dan sangat ringan tangan. Meskipun tidak sampai pelaminan, tetapi kasus mereka telah dikawalnya hingga penghulu di KUA. Meski Dinda sudah tidak lagi ada, tetapi masih peduli pada Alingga yang ternyata tanpa keluarga di rumahnya. Meski ada Mak Tini yang tetap menemani sebagai asisten rumah tangga. Perhatian anak Pak RT tidak lantas selesai."Yah, ini kan hujan, Mas? Dari mana?" sapa Alingga setelah menemui Danu di teras pukul delapan malam. "Aku kepikiran nganter durian buat kamu!" tegas Danu. Tampak sedikit basah, dia sedang mengelap mukanya dengan telapak tangan. “Mas Danu repot-repot banget! Bawa durian lagi!” ucap Alingga meresponnya. “Banyak orang jual di pinggir jalan. Sekalian, kalo beli beberapa kan diskon.” Danu tersenyum. Rambutnya pun basah. Lelaki itu dari mobil di trotoar berlari ke teras tanpa payung. “Satu saja sih cukup, Mas. C

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   128.

    Mak Tini bahkan sudah menyongsong dengan wajah bantal. Kini duduk semua di ruang tamu. Danu telah berbicara dan memulai interogasi. Nadanya tegas dengan tatapan tajam. Anak Pak RT rupanya sudah mulai menunjukkan bakat. “Saya hanya ingin menikahinya, Mas. Tidak ada maksud jahat. Mohon maaf.” Lelaki penyusup bernama Andri itu ternyata adalah mantan pacarnya Dinda. “Tetapi untuk apa menyusup ke rumah orang, itu perbuatan tidak terpuji sekaligus meresahkan. Anda bisa dituntut banyak pasal. Lagipula, kenapa memaksa jika dia tidak mau?” Danu kembali mendesak. Dia juga melirik pada Dinda. Tampak tegas dan garang, ingin terang benderang malam ini juga. “Saya sangat khawatir, Mas. Soalnya, Dinda pernah akan bunuh diri dan berniat aborsi.” Andri menunduk. Namun, ucapannya membuat Alingga terkejut bukan main. “Maksudmu ... Dinda hamil?” tanyanya dengan perasaan shock dan menahan napas. “Benar, Mbak. Kehamilan Dinda sudah masuk ke tiga bulan. Tetapi tidak pernah mau saya nikahin

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status