Mag-log inMereka berdua saling menatap seperti bara panas yang membakar. Seolah ada kobaran api yang menyala-nyala dan menyambar. Alingga tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Ibu saya sama sekali bukan pelakor!” seru Alingga menyanggah sengit. Sama sekali tidak terima dengan tuduhan jahat itu. “Justru lelaki yang menikahi ibuku yang brengsek. Sudah merayunya dan membawa lari, masih juga menguras harta kami. Sungguh tidak tahu malu.” Ucapannya membuat semua orang di sana terkejut, termasuk Huki yang sudah lebih dulu mengenal Alingga. Namun, tetap saja tidak menyangka Alingga bisa berkata sepedas dan sekeras itu tanpa gentar. Buru-buru Huki menghubungi Zoerendra. Melaporkan ketegangan di ruang makan. “Tidak ada tempatmu di sini! Jika punya harga diri, sebaiknya kau cepat pergi!” Setelah pulih dari keterkejutan, perempuan yang muda membalas menghardik Alingga. “Silahkan sesuka kalian mengusirku .... Tetapi bukan kalian yang ingin saya temui,” balas Alingga dengan sinis. “Saya hanya ingin berbicara dengan lelaki bernama Julin. Mohon dipahami!” tegas Alingga dan masih berusaha menghormati. “Untuk apa mencari Julin?! Kau juga ingin merayunya?! Tidak emaknya, tidak anaknya, mengandalkan paras untuk menggaet pria kaya!” Wanita setengah baya berbicara kasar dengan menatap remeh pada Alingga. “Siapa pria kaya?! Lelaki penguras harta yang sudah merayu ibuku, maksudmu?!” Alingga membalas tidak kalah sengit pada orang-orang yang ia duga sebagai keluarga dari suami baru ibunya. "Kalian bisa mikir bener gak?! Jika kaya, dia akan bawa harta. Nyatanya, justru membuat hutang di mana-mana. Sampai aku yang harus melunasi semuanya!” seru Alingga penuh amarah. “Jangan mengada-ada! Kamu–” “Ada apa?” Pertanyaan dengan suara dalam dan tenang terdengar di belakang Alingga dengan tiba-tiba. Terkejut, Alingga langsung berbalik. Jantung Alingga seperti bergeser rasanya, sosok yang tiba-tiba datang tanpa langkah bising itu benar-benar Zoerendra Ishaq! Lelaki yang sudah membayar dan menikahinya tiga bulan lalu, dan masih sah suaminya! “Untuk apa mencariku?” tanya Zoerendra setelah menatap Alingga sesaat. Mata tajamnya terus lekat pada gadis yang telah membawa kebisingan di meja makan rumahnya. Tiba-tiba kening Zoe tampak berkerut-merut. Seperti sedang mengingat sesuatu pada wajah Alingga yang tanpa riasan dan lelah akibat menempuh perjalanan jauh. “Kamu…,” gumam Zoerendra dengan ekspresi heran. “Namanya Alin, Pak. Sengaja datang ke sini untuk mencari Anda. Dia adalah putri wanita yang menikah dengan kakak Anda, Pak,” ucap Huki. Ia sengaja memperkenalkan Alingga dengan buru-buru. Mengambil kesempatan sebab Zoerendra tampak bingung. Sangat khawati jika si bos sampai mengenali siapa Alingga sebetulnya. “Bukankah begitu, Mbak?” Huki menegur Alingga. Meski sempat ragu, Alingga pun mengikuti isyarat Huki dengan mengangguk. Dirinya telah sepakat untuk pura-pura tidak mengenali Zoerendra. Huki belum siap mendapat resiko luar biasa jika bos tahu bahwa istrinya–meski cuma di atas kertas ini–ternyata adalah keponakan tiri Zoerendra sendiri. Sebab Huki yang dipercaya untuk menguruskan segala syarat menikah waktu itu. “Duduk,” titah Zoe singkat. Tidak ingin mengulur waktu, Alingga memutari meja dan duduk di samping wanita muda. Di sisi yang lain adalah bangku kosong dan berhadapan dengan Zoerendra. Mulut-mulut yang tadi mencela tanpa aturan, kini tidak lagi terdengar suaranya. Orang-orang itu tampak segan pada Zoerendra. Alingga menarik napas dalam-dalam. “Maaf, apakah benar bahwa Anda adalah orang bernama Julin?” tanyanya kemudian. "Hm." Lelaki itu hanya berdehem. Meski begitu, Alingga menganggapnya sebagai konfirmasi. “Begini, Pak Julin. Perkenalkan, nama saya Alin. Mendapat alamat rumah ini dari suami baru ibuku, Fahri. Jadi, Saya berinisiatif datang ke sini untuk segera bertemu dan berbicara denganmu mengenai masalah sangat penting.” Alingga berbicara dengan jantung berdetak kencang yang berusaha ditenangkannya sendiri. “Jadi, kamu anak tiri Mas Fahri?” tanya Zoerendra dengan tatapan menelisik wajah tamu bisingnya yang tak lain adalah keponakan tirinya sendiri. Alingga merespon dengan menegakkan punggung. “Maaf, saya tidak punya ayah tiri. Tetapi saya adalah anak perempuan dari wanita yang dinikahi oleh lelaki bernama Fahri,” ucapnya tegas. Zoerendra mengernyit dahi dan terus menyimak. “Kakak Anda meminjam uang atas nama ibu saya dan meninggalkan hutang di mana-mana. Bahkan sampai menggadaikan rumah peninggalan mendiang ayah saya,” ujar Alingga. Nada bicaranya tegas meski wajahnya tampak lelah. “Kakak Anda kemudian kabur membawa lari ibu saya, membuat saya menjadi satu-satunya orang yang harus melunasi semua tumpukan hu tang yang ditinggal.” “Dih, banyak gaya! Aslinya bangga!” cerca wanita muda yang duduk tepat di samping Alingga menyela. Bahkan dengan menyikut keras bahunya hingga terasa ngilu. “Kamu suka kan, dapat ayah kaya?!” Darah Alingga seperti bergolak. “Bagian mana dari penjelasanku yang tidak kamu pahami?” Alingga membalas dingin. Teramat kesal, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak membalas dengan menyikut keras perempuan itu. “Aduh!” pekik wanita muda itu tertahan. “Fahri itu ngutang di mana-mana. Karena semua sudah aku lunasi, jadi ... laki-laki itu berarti hutang padaku. Paham?!” terang Alingga garang. Kesal, tidak peduli yang perempuan itu sedang meringis kesakitan. “Hutang ... kamu tuh sudah menyerangku secara fisik! Perempuan miskin! Badan tinggal tulang saja berani nyerang! Kurasa kamu nggak pernah makan enak!” tuding wanita muda bernada penuh api. “Aku tidak pernah makan enak, katamu?! Mungkin .... Karena apa?! Karena uangku habis dicuri oleh Fahri!” tukas Alingga sengit dengan nada tinggi. Rasanya sudah sangat kesal setengah mati. “Dan... aku ke sini untuk menuntut ganti rugi agar seluruh uangku bisa kembali! Paham?” ucap Alingga dingin. “Kurang ajar, fitnah kamu!” Wanita itu tampak marah dengan menuding wajah Alingga hingga hampir menyentuh mata. “Cukup!” Zeorendra menegur keras saat Alingga akan membuka mulut. Suasana hening sesaat. Semua bungkam dan saling memandang kesal. “Kalian sebaiknya saling kenal. Alin, dia itu adalah mantan istri dari ayah tirimu. Mereka berdua adalah saudara tirimu. Kalian salinglah berkenalan!” Zoe menyuruh tegas dengan tatapan tajam bergantian pada Alingga dan mereka bertiga. Alingga tidak ingin mengulurkan tangan lebih dulu pada mereka. Namun, tidak menyangka, wanita setengah baya mengulur telapak tangan padanya. “Herawati, istri sah Mas Fahri.” Dia mengenalkan dirinya dengan angkuh. Meski begitu, Alingga salut pada pengaruh Zeorendra yang meluluhkan. “Alin.” Sambutnya singkat. Tidak ingin menyulut debat dan ribut. Padahal status wanita itu sudah bukan lagi istri tetapi telah jadi mantan. Alingga pernah meminta dokumen asli Fahri sebelum menikah sah dengan ibunya. “Faldian …!” sebut Lelaki di samping Herawati dengan singkat. Alingga menyambut baik ulur tangannya dengan cepat. Namun, genggaman lelaki itu begitu kuat. “Alin …,” sahutnya lembut dan berusaha tetap tenang. Meskipun tatapan Faldian padanya seperti seekor rubah lapar yang membuatnya merasa was-was dan semakin tidak nyaman! 🍒 🍒 Vote...“Tutup pintunya Huki!” seru Zoe keras dengan gelisah. Tidak ingin keduluan Sandra masuk ke dalam ruangan. “Bilang pada Dewi agar menahan Sandra di luar!” serunya lagi dengan keras. Blak Demi suara yang menggema itu, Huki segera menutup pintu, menelepon dan berbicara cepat pada seseorang di seberang. Lalu buru-buru masuk lagi dan mendekati Zoe yang melambaikan tangan padanya. “Huki, kamu ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahu siapa model ini?” tanya Zoe tajam sambil membanting map terbuka ke meja. Lembar data calon model endorse itu bergeser dan terlihat jelas siapa. Huki menunduk, membaca sekilas, lalu segera mengangkat kepala. “Saya sudah tahu, Pak Zoe,” jawabnya pelan, disertai senyum tipis yang sulit ditebak. Zoe menyipitkan mata, pertanda kesal hatinya memuncak. “Brengsek kau Huki. Ingin membuatku mati jantungan lebih cepat dari papaku, hah?!” maki Zoe sambil menyambar map kembali dan membukanya pun dengan kasar. Huki hanya garuk-garuk kepala yang tidak gatal be
Kerudung yang sedari tadi dikenakan akhirnya ditanggalkan sepenuhnya. Alingga menyisir rambut lebat dan lembut miliknya dengan jemari, perlahan dan berulang. Di sela gerakan itu, pikirannya melayang pada Amira yang malang — wajah pucat dengan kepala tanpa sehelai rambut pun. Hatinya tercekat. Rasa syukur bercampur iba mengendap dalam nurani, meninggalkan getir yang sulit dijelaskan. Rambut yang kini ia sentuh terasa seperti pengingat, betapa nasib bisa berubah kapan saja, dan tanpa permisi. “Apa sebelumnya dia berkerudung? Apa karena sakit saja?” gumam Alingga. Lalu senyum masam yang sedih. Juga merasa malu sendiri. Jika Amira menutupi kepala sebab sakit, dirinya parah lagi. Menutupi aib sebab ulah lelaki. Meski lelaki itu suami sendiri, rasanya tetap memalukan. “Kasihan sekali Amira…,” ucapnya lagi. Kini sambil mengusap alisnya dengan lekuk indah dan alami. Turun lagi jarinya, memelintir dan menarik bulu matanya yang melengkung, banyak, dan lentik. “Nggak ada yang rontok, s
Alingga begitu iba dan trenyuh hingga ikut menangis seperti Amira yang sedang terisak. Merasa luruh melihat sengsaranya raga Amira. Mungkin selama menjadi istri seorang Dokter Hanan, dia banyak mendapat tekanan dari keluarga suami. Atau merasa tekanan batin sendiri sebab tidak mendapat restu. Ya, restu orang tua memang penting. Konon, stres dan tekanan adalah pemicu bangkitnya sel kanker dalam tubuh menjadi sangat liar. “Ling, bagaimana? Mau ya, besok lusa kita ke Surabaya. Orang tuaku menunggu. Jangan khawatir, mereka tidak seburuk prasangkamu meskipun wataknya memang keras. Yah, kebanyakan orang Surabaya pada umumnya. Nanti aku sekalian mengunjungi keluargamu di Malang. Apa kamu tidak ingin menjenguk suami budemu?” Hanan membujuk dengan lembut. Dia tidak lupa akan kondisi suami bude Alingga yang lumpuh. Alingga terdiam. Jujur, tawaran Hanan terasa menggoda. Dirinya memang kangen dengan keluarga bude. Merasa bersalah, selama ini lalai tidak berusaha keras menghubungi mereka.
Alingga menahan napas saat matanya menancap tajam pada Perempuan penarik handle pintu. Senyuman manis yang ramah itu tidak mampu dibalas sebab rasa terkejut dan heran. “Salahkan masuk, Alingga.” Amira begitu ramah dengan senyumnya. Seperti sudah tahu jika gadis di depan pintu akan datang. Bahkan Hanan yang juga di depan pintu seperti tidak dipedulikan, membuat kecurigaan Alingga menebal. Mereka satu atap! “Ayo masuk, Ling. Jangan segan,” ucap Hanan. Tetapi semakin menghindar dari tatapan Alingga. Justru lelaki itu yang terlihat kikuk. Alingga bukan merasa segan. Tetapi seketika sudah enggan dan merasa malas. Kecewa berat dengan kelakuan Hanan yang seatap dengan Amira. Meski ini masih prasangkanya. Namun, sebab ingin segera pergi, Alingga bergegas masuk dan duduk perlahan di sofa yang baru saja ditunjuk oleh Amira. Dirinya dipersilakan untuk duduk. Berharap pembicaraan Hanan segera dimulai tanpa banyak basa-basi. Rasanya ingin cepat cepat pergi. “Mas, bisa langsung ngomong, g
Hanan mengajaknya makan memang bertujuan untuk mengisi perut saja. Sedikit khayalan romantis mendapat cincin indah sebagai simbol lamaran, kemungkinan hanya mimpi belaka untuknya. “Makanlah yang banyak, Ling. Habis ini, aku ingin kita bicara hal penting. Dengan makan cukup, kuharap kamu akan tenang.” Hanan terlihat gelisah saat berbicara. Di akhir suaranya terdengar desah seperti menahan sesak jiwa. “Mas, kamu bikin aku penasaran. Kenapa nggak bicara sekarang saja, sambil makan. Lagian bicaranya sama aku aja, kan? Justru sambil makan, pasti bisa lebih tenang.” Alingga berbicara dengan pelan. Coba membujuk Hanan agar segera bicara. “Kita berbincang bukan di sini, Ling,” Hanan menegaskan, nadanya mantap seolah tak memberi ruang tawar. Alingga menatapnya sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Iya, Mas. Baiklah.” Ia paham, keputusan lelaki itu sudah bulat. Tak ada lagi celah untuk mengguncang tekad Hanan yang kini kembali lanjut fokus pada makanannya. Lagipula, rasanya tid
Bu Riana ternyata hanya pergi ke warung sebelah, sementara Fahri masih disibukkan urusan kafenya. Kini semuanya sudah kembali ke rumah dan bersiap menikmati makan malam sederhana oleh asisten rumah. Alingga baru keluar dari kamar lalu ikut duduk di meja makan. Kemudian mengambil makanan dengan wajah tenang. Saat itu Fahri berdehem-membuka suara, nadanya terdengar biasa. Ia menatap Alingga sejenak sebelum bertanya, “Apa nomor Zoe kamu blokir? Dia tadi menghubungiku dan menanyakan keberadaanmu.” Pertanyaan itu membuat sendok Alingga terhenti sesaat dari menciduk nasi. Seolah tak ingin menjawab, gadis itu kembali menyuap makanannya dengan gerak pelan. Sendoknya bergerak ragu, nyaris tanpa selera. Bu Riana memperhatikan piring itu cukup lama, lalu mengernyit. “Kenapa ambil sangat sedikit nasi?” tanyanya lembut, namun sarat kekhawatiran. Alingga menghela napas pelan, lalu menjawab singkat, “Aku akan keluar sebentar, Buk. Mau makan malam dengan Hanan.” Ucapannya terdengar tenang,







