เข้าสู่ระบบRumah kaca itu kembali sunyi. Yuniver hanya menatap Vincent, merasa pria itu mulai menunjukkan sifat aslinya.Selama ini Vincent selalu berbicara seolah semua yang ia lakukan demi tujuan besar. Ia membuat Yuniver percaya bahwa mereka sedang bekerja sama dan harus tetap berada di sisi yang sama. Namun sekarang Yuniver sadar, semua itu hanyalah alasan agar Vincent bisa terus menemuinya. Memikirkan hal itu membuat perutnya terasa tidak nyaman.Ia kembali teringat pada Ditrian. Pria itu selalu berkata apa adanya. Bahkan ketika mencintainya, Ditrian mengakuinya tanpa mencoba menyembunyikan sedikit pun. Sedangkan Vincent setiap kali satu kebohongan terbongkar, selalu muncul kebohongan lain yang menutupinya.Yuniver mengembuskan napas panjang. Rasanya percakapan itu sudah cukup. Semakin lama ia berada di hadapan Vincent, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya, sementara jawaban yang ia peroleh justru semakin sedikit.Ia perlahan berdiri dari kursinya, merapikan lipatan gaun yang
Senyum di wajah Vincent perlahan memudar. Sorot matanya berubah sesaat sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangan ke luar rumah kaca, seolah mencari jawaban yang paling tepat.Keheningan yang muncul sesudah pertanyaan itu justru terasa lebih mencurigakan daripada jawaban apa pun.Yuniver tidak mendesaknya. Ia hanya menunggu. Karena dari diam seseorang, sering kali kebenaran jauh lebih mudah terbaca daripada dari kata-kata yang diucapkan.Vincent menghela napas panjang. Tangannya yang sejak tadi berada di atas meja perlahan mengepal, seolah sedang menahan kesabaran. Tatapannya kembali bertemu dengan Yuniver, tetapi kali ini ada sedikit kegelisahan yang tidak berhasil ia sembunyikan."Yuni," ucapnya pelan, "jangan mempersulitku."Nada suaranya terdengar lebih berat daripada sebelumnya."Aku tidak mungkin menjelaskan semua hal kepadamu."Yuniver tidak mengalihkan pandangan. Ia tetap menatap Vincent dengan wajah tenang, meski di dalam kepalanya berbagai dugaan mulai bermunculan."Kenapa ti
Perubahan di wajah Yuniver tidak luput dari perhatian Vincent. Hanya dalam hitungan detik, senyum tipis yang semula menghiasi bibir wanita itu menghilang begitu saja. Tatapannya berubah lebih dingin, sementara alisnya sedikit berkerut, jelas tidak menyukai cara Vincent menyebut Ditrian.Yuniver menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata dengan nada yang jauh lebih tenang daripada yang ia rasakan."Perhatikan cara bicaramu."Vincent mengangkat sebelah alisnya, seolah tidak mengerti mengapa Yuniver tiba-tiba menegurnya."Kita masih berada di dalam kastil Duke," lanjut Yuniver sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah kaca. "Bagaimana kalau ada yang mendengar? Apa kau benar-benar ingin orang lain mengetahui bahwa kau berbicara tidak sopan tentang Duke di rumahnya sendiri?"Bukannya merasa bersalah, Vincent justru terkekeh pelan. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu memandang Yuniver dengan sorot mata yang sulit diartikan."Yuni," katanya sambil tersenyum tipis, "bukankah
Yuniver terdiam cukup lama. Jemarinya yang semula memainkan garpu kini berhenti bergerak. Pikirannya kembali dipenuhi berbagai kemungkinan yang sejak tadi berputar tanpa henti. Jika dipikirkan baik-baik, menghindari Vincent bukanlah pilihan yang tepat. Justru dengan menemuinya, ia mungkin bisa mengetahui apa sebenarnya hubungan antara pria itu, Count Vernois, dan berbagai rencana yang selama ini disembunyikan dari Ditrian.Yang paling membuatnya penasaran adalah satu hal. Apa sebenarnya yang diinginkan Vincent sampai-sampai dalam alur novel ia tega membuat Ditrian kehilangan nyawanya?Semakin lama dipikirkan, semakin banyak pertanyaan yang bermunculan. Dan semua jawaban itu tampaknya hanya bisa ia dapatkan jika kembali berhadapan dengan pria tersebut.Yuniver akhirnya menghela napas pelan sebelum mengangkat kepalanya."Baiklah," ucapnya pelan. "Nanti saya akan menemuinya."Mendengar jawaban itu, raut wajah Ditrian sedikit melunak. Meski matanya yang kosong tidak mampu memperlihatkan p
Yuniver kembali ke ruang kerjanya dengan langkah pelan. Pikirannya masih dipenuhi ucapan Ditrian di aula beberapa saat yang lalu. Ia bahkan belum sempat duduk ketika pintu di belakangnya kembali terbuka.Suara tongkat yang menyentuh lantai marmer terdengar pelan, disusul langkah kaki yang sudah sangat dikenalnya.Yuniver menoleh.Ditrian memasuki ruangan bersama Kael dan Enrique. Kael berjalan setengah langkah di belakang tuannya, sementara Enrique terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat terakhir kali Yuniver melihatnya. Rupanya, kejadian di aula barusan sudah cukup membuat seluruh penghuni kastil kembali mengingat siapa sebenarnya penguasa tempat ini.Yuniver memandang Ditrian beberapa saat sebelum akhirnya bertanya dengan nada heran.“Apa yang Anda lakukan di sini?”Ditrian menghentikan langkahnya ketika suara Yuniver terdengar. Wajahnya menghadap tepat ke arah istrinya, seolah ia dapat melihat keberadaan wanita itu dengan jelas meski ia buta.“Aku mendengar dari Enrique,” ucap
Ditrian mengeluarkan suara pelan setelah beberapa detik hening, seolah mencoba mengingat kembali percakapan mereka sebelumnya.“Bukankah kita sudah pernah membahasnya, istriku?”Yuniver terdiam sesaat. Jawaban itu tidak mengejutkannya, tetapi tetap saja ada sesuatu yang terasa mengganggu di dadanya.“Aku hanya ingin memastikan saja,” jawabnya akhirnya, dibuat setenang mungkin.Ruangan kembali sunyi.Ditrian tidak langsung berbicara lagi, tetapi kepalanya sedikit menoleh ke arah sumber suara Yuniver, seperti biasanya ia selalu melakukan itu, mengikuti setiap gerak kecilnya tanpa kesalahan sedikit pun.Yuniver menghela napas pelan, lalu melangkah lebih dekat.“Karena sepertinya ada seseorang yang lebih pantas menjadi Duchess di kastil ini.”Kalimat itu baru saja jatuh ketika Ditrian langsung berdiri. Gerakannya cepat, jauh lebih tegas dari biasanya hingga membuat udara di ruangan ikut terasa berubah.“Siapa yang berani mengatakan hal tidak masuk akal seperti itu?” Suara itu tidak keras,
Ditrian tidak langsung menjawab.Keheningan yang muncul setelah permintaan Yuniver terasa panjang. Ditrian hanya duduk di tempatnya dengan punggung tegak seperti biasa, sementara jemarinya yang semula memegang gelas perlahan terdiam di udara.Mata abu-abunya yang kosong mengarah lurus ke depan, tida
Yuniver menatap Erin cukup lama, bukan karena tidak mendengar, tapi karena ia sedang berusaha keras memastikan dirinya tidak salah paham. Namun wajah pelayan itu tidak menunjukkan tanda-tanda bercanda sedikit pun.“Apa maksudmu?” suara Yuniver akhirnya keluar, pelan tapi jelas.Erin tampak ragu sesa
Yuniver tertegun mendengar ucapan Ditrian dan merasa seolah-olah dirinya selalu terbaca olehnya. Padahal mata abu-abu itu tidak bisa melihat, tetapi setiap kali Ditrian menoleh ke arahnya, Yuniver merasa seperti tidak bisa menyembunyikan apa pun. Ia mencoba menganggap itu hanya karena Ditrian adala
Yuniver tertegun mendengar ucapan Vincent, ia benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Pria di hadapannya itu baru saja mengatakan sesuatu yang ia takutkan.Tapi yang membuatnya lebih terkejut bukanlah pernyataannya, melainkan ekspresi Vincent saat mengucapkannya. Pria itu tidak tersenyum







