เข้าสู่ระบบSatu minggu kemudian,Isabella menikmati sarapannya tanpa nikmat. Sejak lima menit di meja makan, hanya dua potong daging yang masuk ke dalam mulutnya. Pikirannya saling beradu. Di hadapannya, Aldrich menatap istrinya yang masih tidak selera makan. "Hari ini aku punya banyak waktu luang. Apa kau ingin jalan-jalan, Sayang?" Aldrich menatap Isabella. Isabella meletakkan sendok dan garpunya. Membalas tatapan Aldrich tanpa riak di sepasang matanya. "Aku dengar dari Marmara, kau juga menolak untuk lanjut berobat." Aldrich kembali berkata. "Tetapi, Marmara bilang sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Sayang." "Em." Isabella hanya bergumam. Sendok dan garpu yang dia pegang pun diletakkan di atas piring. Isabella menatap Aldrich yang kini memandangnya. "Aku ingin pergi ke rumah Nenek," ujar Isabella sambil tertunduk. "Kalau begitu kita pergi bersama." Aldrich memutuskan. "Aku bisa ke sana sendiri, Al." Baru pertama kali ini sabella menolak penawaran Aldrich. Pria itu lantas
Empat jam Aldrich menenangkan Isabella sampai istrinya tertidur. Aldrich membaringkan Isabella di atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan hangat. Aldrich menatap wajah Isabella, mengusapnya lembut. Hatinya perih saat mendengar ungkapan Isabella. Wanita itu terus bertanya di mana letak kesalahannya untuk hidup saja ia tidak pernah ada benarnya di manapun ia berada. Aldrich mengecup kening Isabella dengan mesra, sebelum Aldrich memilih untuk meninggalkan kamar dan berjalan ke lantai satu. "Pangeran." Sein menatap Aldrich yang berjalan ke arahnya. Sein menyerahkan tiga surat kabar padanya. "Baru dicetak, tiga jam yang lalu. Sumber pencetakannya tidak jelas. Disebarkan secara acak tanpa penawaran." Aldrich membaca berita yang ditulis di surat kabar itu dengan teliti. 'Berita Helenster terkini. Grand Duchess Isabella, sengaja menggugurkan kandungannya. Kabarnya, sebelum menikah dengan Grand Duke, beliau dikabarkan pernah keguguran dua kali dan rumornya keguguran itu murni disen
Isabella bersembunyi di taman, di balik semak-semak tanaman bunga mawar. Ia menangis memegangi dadanya yang terasa penuh dan sesak. Isak tangisnya bisa saja terdengar oleh orang-orang di sekitar sana. Ia duduk di atas rumput karena kakinya tersandung hingga ia terjatuh di sana. "Padahal aku menganggapmu berbeda dari semua orang yang ada di dalam hidupku, Aldrich..." Isabella menutup mulutnya. "Mengapa, kau justru bertanya apa yang sudah aku lakukan pada Viviene seolah-olah kau begitu khawatir pada gadis bermulut jahat itu! Mengapa?" Isabella menangis memukul tanah dengan kepalan tangannya. Baru kali ini Isabella tidak bisa mengontrol emosinya. Ia baru saja keguguran, kehilangan sosok anak yang sangat ia nantikan kehadirannya untuk Aldrich. Tapi saat mendengar pertanyaan Aldrich padanya tadi, Isabella bisa sangat marah dan kecewa. "Isabell..." Lembut suara itu memanggil Isabella. Suara itu bukanlah suara Aldrich, melainkan Ratu Lovita yang kini berdiri di hadapannya.Isabella dia
Tamparan keras yang Isabella berikan pada Viviene berhasil menyita perhatian semua orang. Para bangsawan-bangsawan lain melotot ke arah Isabella. "Grand Duchess, apa yang Anda lakukan?!" teriak Lady Margareta, sahabat baik Viviene. Napas Isabella naik turun menatap Viviene yang diam memegangi pipinya yang kini memar memerah. Isabella tidak peduli dengan protes mereka semua. Ia pernah lebih gila daripada hal kecil seperti ini. "Anda adalah istri Grand Duke, menantu keluarga kerajaan, tapi sikap Anda menunjukkan bahwa Anda wanita yang sangat tidak terdidik!" Viscountess Joana berteriak di hadapan wajah Isabella. Isabella membalas sengak. "Aku hanya memberikan pelajaran untuk orang yang berbicara sembarangan tentangku, dan untuk orang yang selalu berusaha merebut suamiku!" Viviene tiba-tiba menangis dan memulai dramanya. "Kapan saya mengatakan hal itu? Saya hanya merasa tidak percaya bahwa Anda mengalami keguguran. Mengapa Anda menumpahkan emosi Anda pada saya?" "Grand Duchess, t
Surat dari Salatine masih terus berdatangan. Isabella padahal sudah meminta pada Aldrich agar mencari cara untuk tidak menerima surat-surat itu lagi. Akan tetapi hari ini yang dikirim adalah surat dengan sampul berwarna merah cerah. Berbeda dengan biasanya. Isabella penasaran, ia membuka isi surat itu. 'Kabarnya kau baru saja keguguran saat aku pulang, Isabella? Bagus. Itulah akibatnya kalau anak tidak tahu diri sepertimu terlalu belagak pada orang yang tua. Ingatlah baik-baik kalau kau di Salatine hanya ikut dengan keluarga suamimu, tanpa mereka ... kau tetap saja sampah! Aku merayakan keguguran bayimu atas keangkuhanmu.' Isabella meremas surat itu dan ia kembali duduk di sebuah sofa di dalam ruangan itu. Rasanya gini kesabarannya sudah benar-benar habis. "Kenapa Kakek tidak pernah membiarkan aku hidup tenang?" lirihnya. "Apa yang dia inginkan? Aku harus pergi ke mana lagi untuk menghindarinya?" Isabella menundukkan kepalanya dan mengusap keningnya. Kepalanya terasa pusing da
"Sayang, kau marah padaku?" Aldrich mendekati istrinya yang duduk setengah berbaring di sebuah sofa di dalam ruang baca. Wanita itu diam, fokus pada buku ia baca. Aldrich sudah ketiga kalinya bertanya dan tidak ada jawaban yang Isabella berikan padanya. "Sayang..." Aldrich kembali memanggilnya. "Aku tidak marah," jawab Isabella. "Tolong jangan ganggu aku, Aldrich. Aku ingin membaca buku. Pergilah... bahas lagi proyekmu dengan Lady Viviene. " "Kau cemburu melihat aku dan Viviene berbincang?" tanya Aldrich menebak cepat."Tidak sama sekali. Aku langsung berhenti menyapamu bilang aku merasa cemburu," jawab Isabella. "Aku pergi karena memang keperluan Lady Viviane itu hanya denganmu, bukan denganku. Dia hanya mengucapkan bela sungkawa padaku, atas kematian anak kita, disertai dengan senyumannya yang tidak enak itu." Aldrich duduk di samping Isabella. Walaupun Isabella tidak mengaku secara gamblang, namun rasa kesal itu terlihat jelas di wajahnya. Hanya Aldrich yang bisa melihat kem







